Bab 2. Gay?

1042 Words
"Bunda!" Pangeran yang melihat kehadiran dari wanita –yang sudah melahirkannya– itu pun segera mendorong wajah Melya. Namun, karena terlalu kencang hingga membuat si klien justru terjengkang. "Yakh! Kenapa mendorongku?" protes Melya sambil merintih kesakitan. Pantatnya yang seksi harus rela menyentuh lantai dingin karena kelakuan Pangeran. "Sakit tahu!" omelnya kemudian sambil mengusap bagian yang sakit Pangeran mengabaikan suara rintihan dari Melya dan fokusnya justru jatuh ke arah ibunda tercinta yang tengah terkikik penuh godaan. "Apa yang dilihat ini tidak seperti yang ada di dalam pikiran Bunda. Pangeran bisa jelasin, Bun. Tolong jangan salah paham dulu!" sambungnya mencoba untuk menjelaskan. Apa wanita itu peduli? Tidak. Ratu Diana adalah ibu dari Pangeran yang sudah berusia lebih dari kepala 5. Namun, di usia senjanya wanita itu masih terlihat begitu cantik dan juga terawat hingga membuat Melya sendiri tidak menyangka jika wanita itu sudah berumur. "Apa kamu baik-baik saja, Nak?" Suara wanita paruh baya itu kini tiba-tiba sudah berada di samping Melya sambil mengulurkan tangan. "Kamu kok, jahat, sih, Nak!" sambung Ratu sambil melotot ke arah putra tercintanya. Melya mencoba membaca situasi, kemudian dia menyeringai kala menangkap kegelisahan dari Pangeran. Entah kenapa otaknya yang memang jahil bisa langsung mempunyai ide. "Auw, sakit, Tante," rintihnya seraya berakting. Ratu tentu saja langsung merasa bersalah. Dia melayangkan tatapan membunuh dan juga penuh perhitungan kepada putra tercinta. Netranya kembali melihat ke arah Melya. "Aduh, maaf, yah! Anak Tante emang suka gitu … malu-malu buaya kalau deket sama perempuan," ujarnya sambil menatap Pangeran. "Bunda." Pangeran menggaruk belakang kepalanya panik dengan reaksi dari sang ibu. "Apa, sih, Boy? Kamu ini jangan kasar dong sama perempuan! Kasihan loh Mbak … ," ujar Ratu bingung sambil melihat ke arah perempuan di depannya. "Melya, Tante," balasnya masih berakting. "Iya, Mbak Melya. Apa kamu tidak liat jika dirinya ini sedang kesakitan? Ckckck, kamu tuh sama aja kayak bapak kamu … kaku, kayak kanebo kering!" celetuk Ratu. Melya menahan diri untuk tidak tertawa. "Bun!" Pangeran memejamkan mata saat ada rasa tidak terima jika disamakan dengan sang ayah, Altezza Mahija. "Kami jelas berbeda, Bun," protesnya kemudian. "Beda apanya? Orang kalian itu sama, kok!" Melya melirik ke arah Pangeran dan juga wanita paruh baya itu dengan senyum menyeringai. Namun, dia juga sebenarnya kesal, bahkan sudah muak ingin segera pergi. Akan tetapi, otaknya teringat jika pulpennya belum diambil. "Ah, itu dia." "Loh, Nak Melya mau ke mana?" Suara Ratu membuat pergerakan Melya yang hendak membungkuk mengambil pulpen menjadi urung. "Kamu kenapa? Apa pinggang kamu masih sakit?" Melya menatap wanita itu, kemudian ke arah Pangeran secara bergantian. Namun, karena keadaan kerah bajunya yang sedikit melorot saat membungkuk membuat mata jeli Ratu menemukan sesuatu yang ganjil. Pangeran mengedikkan dagu seolah bertanya dengan arti tatapan ibunya, lalu wanita paruh baya itu dengan sukarela mengarahkan pandangan ke Melya yang tengah berusaha mengambil sesuatu. Pria itu pun semakin dibuat tidak mengerti. "Bunda kenapa, sih? Apa lagi itu arti tatapannya? Gak jelas banget, deh," batinnya. "Ini, Tante. Saya mau ambil pulpen." Diperlihatkan benda panjang kecil itu kepada Ratu. "Sebentar, Nak!" Ratu merotasikan kedua bola matanya malas akan reaksi dari Pangeran. Dengan cepat dirinya menarik lengan Melya sudah berdiri tegak. "Maaf, sebentar, ya!" izinnya sambil menarik sedikit kerah baju Melya. "Tante!" Melya langsung melangkah mundur dan hal itu diartikan sebagai perlindungan diri oleh Ratu. "Apa itu perbuatan anak saya?" "Bun!" "Emmm ...." Melya bingung harus mengatakan apa hingga yang dia lakukan hanya mengusap bagian lehernya. Menutupi bekas cupang yang baru saja tadi pagi diberikan oleh brondongnya. Namun, mana mungkin dia jujur. Reaksi yang berbeda pada dua insan itu justru membuat seringai Ratu semakin tinggi. "Ternyata, kamu bukan gay, Nak! Kyaaa, Bunda seneng banget dengernya!" Sorakan bahagia itu tentu saja membuat Pangeran dan juga Melya menjatuhkan rahangnya. Shock, sekaligus bingung kini tengah dirasakan oleh dua insan muda di sana. "G-gay?" Melya tidak bisa menutupi rasa terkejutnya hingga berkata dengan terbata. Pandangannya segera beralih kepada Pangeran, lalu melihat dari atas hingga bawah sosok di depan dengan penuh penilaian. "Jadi, dia itu penyuka sesama jenis? Wah … gak sangka gue!" Suara itu hanya bisa terucap dalam hati sambil tetap menatap sosok pria tampan di sana dengan tak percaya. "Bunda ini ngomong apa, sih?" Pangeran bisa melihat bahwa Melya kini tengah menatapnya dengan pandangan terkejut. Namun, bukan itu masalahnya sekarang, justru ada hal yang lebih ditakutkan dari sang ibunda. Sebuah pukulan langsung mendarat di bahu pria lebar itu gemas. Ada sedikit rasa bahagia yang tidak diketahui oleh orang lain karena selama ini, banyak yang menganggap jika Pangeran adalah seorang gay karena tidak pernah dekat, bahkan selalu menolak jika dijodohkan dengan wanita mana pun. "Cie, yang udah punya cewek," godanya. "Cewek?" Mata Melya segera bergerilya mencari sosok lain di sekitar. Namun, Ratu seolah menegaskan jika dirinya adalah cewek yang dimaksud membuatnya tidak bisa menahan diri untuk membuka mulut lebar. "Saya?" "Iya, kamu, Nak! Kamu calon istri dari anak saya, 'kan?" Ratu langsung gas. "T-tapi –" Pangeran langsung membekap mulut Melya saat mendengar wanita itu hendak berbicara. Mengabaikan pelototan dari wanita di samping, dia pun mulai tersenyum lebar di hadapan Ratu. Sambil merangkul pinggang, dia pun berkata, "Benar, Bun. Dia ini cewek Pangeran. Namanya MelMel." "What? Sejak kapan gue jadi ceweknya dia. Terus, apa tadi … MelMel? Wah, berani banget ini orang ganteng manggil gue kayak gitu. Mau gue bantai apa gimana itu benda pusaka, Hah?" Suara batin Melya kini tengah meronta-ronta, apalagi mulutnya yang sekarang masih dibekap oleh Pangeran membuatnya semakin tidak bisa mengelak. Ratu langsung memukul bahu Pangeran. Dia bahagia bercampur senang karena melihat putranya sudah memiliki pendamping. Sekaligus, mematahkan jika omongan orang tidaklah benar bahwa putra tercintanya masih lurus, tidak belok. "Kalau gitu, bawa dia besok ke rumah. Ayah pasti bakalan senang banget ngeliat kamu bawa MelMel ke rumah!" ujarnya sambil mengerling. "Bunda!" "Untuk kamu, Nak!" Kini, tatapan Ratu beralih ke arah Melya. Ditariknya wanita itu ke dalam pelukan hangat. Ada perasaan haru yang kini tengah menyusup. "Terima kasih, Sayang. Karena kamu sudah mau menerima putra Tante. Tante gak tahu harus berkata apa. Tapi, Tante yakin kamu bisa jadi istri yang baik untuk anak saya!" "Istri?" Melya berteriak. "Loh, kok, kamu berteriak, Nak?" "Maaf, Bun. Sepertinya, Melya hanya kaget saja. Soalnya kami belum membicarakan apa-apa tentang pernikahan selama ini. Makanya dia jadi shock gitu," jelas Pangeran sambil tersenyum ke arah Melya. "Bukankah begitu, Sayang? Kita akan menikah, 'kan?"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD