Bab 13. Di atas ranjang

1063 Words
"Tolong sadarkan diri ini, Tuhan! Jika pria itu hanya sedang berpura-pura! Mana mungkin dia peduli sama gue. Ingat, Mel! PangPang itu cuma mau manfaatin elo doang. Jadi, gak usah baper!" Melya mewanti-wanti dirinya sendiri agar tidak kebablasan dalam mendalami peran sebagai istri kontrak. Istri yang hanya tercatat di sebuah selembar kertas tentu saja tidak boleh menuntut perasaan lebih dari pasangan, apalagi Melya membubuhkan tanda tangannya dengan sadar sesadar-sadarnya, tanpa paksaan. "Tuh, Sayang. Kamu dengarkan apa kata suami kamu?" Ratu menyenggol bahu Melya, menggoda si menantu yang terlihat menunduk. Dia pasti mengira jika hal tersebut karena salah tingkah, padahal aslinya Melya kini tengah merenungi nasib hidupnya. Pengaran datang dan menyambut tangan Melya layaknya suami yang benar-benar mencintai istrinya. Dia bahkan tak ragu menepuk puncak kepala si istri. "Lain kali kalau ada apa-apa di kantor, sebaiknya kamu telpon aku, Sayang! Kalau kayak gini aku menjadi merasa sebagai suami yang tidak becus mengurus istrinya. Kamu mengerti kan, Sayang?" Melya mendongak. Menatap mata Pangeran yang kini tengah menatapnya balik. Dia lalu mengangguk kecil. Membiarkan sang suami menarik tangannya untuk ditaruh di atas pundak hingga dirinya kini merasa terkejut saat tubuhnya digendong ala bridal style. "Yakh!" "Udah, biar aku bantu kamu buat jalan ke dalam, Sayang! Anggap saja, ini adalah penebusan dosaku karena sudah membiarkanmu seperti ini!" ucap Pangeran lembut. Melya melengos. Ratu diam-diam mengulum senyum melihat kemesraan pasangan suami-istri di depannya. Dia kira jika akan melihat Pangeran yang bersikap kaku, atau bahkan keras ketika tinggal berdua saja dengan sang istri. Namun, sepertinya kekhawatiran itu tidaklah benar. Wanita paruh baya itu pun berjalan mengikuti pasutri itu untuk masuk ke dalam rumah mereka. Sesampainya di ruang makan, Ratu menaruh Bawaannya di atas meja. Dia memilah makanan mana saja yang bisa langsung dimakan sekarang dan nanti untuk kemudian akan disimpan di kulkas. "Mel, Bunda bawa rendang dan juga masakan lainnya. Ini bisa loh buat dimakan kalian waktu gak sempat masak. Jadi, tinggal dipanaskan di microwave jika kalian ingin makan," ucap Ratu semangat. Namun, tatapannya menyipit kala melihat isi kulkas yang masih kosong. "Apa kalian belum belanja?" Wanita paruh baya itu menatap Pangeran dan Melya. Pangeran terlihat gelagapan. Dia paling tidak bisa berbohong. "Maaf, Bun. Kami terlalu sibuk berduaan sampai lupa belum belanja," celetuk Melya salah tingkah. Ratu yang tadinya menatap Pangeran dan Melya curiga segera merubah rautnya menjadi berseri. Dia menepuk dahinya sendiri. "Maaf, Sayang. Aduh, Bunda ini kok ya lupa, kalau kalian ini masih pengantin baru," kikiknya. "Gak apa-apa, Sayang. Maklum, kok. Bunda ngerti," lanjutnya sambil memeluk menantunya senang. "Kalian pasti berusaha banget yah buat mewujudkan impian bunda dan ayah untuk mendapatkan cucu." Ratu masih terus berceloteh sendiri tanpa melihat bagaimana ekspresi kecut Melya dalam pelukannya. "Gimana mau mewujudkan impian kalian, Bun. Orang anak situ aja udah ngusir gue waktu pertama kali datang ke rumah ini," batin Melya. "Makanya Bunda jangan main mulu ke sini! Nanti, impian kalian tak terwujud gimana?" Pangeran segera meletakkan segelas air putih di hadapan Melya. "Minum, Sayang!" Bibir Melya berkedut samar akan perhatian yang diberikan oleh Pangeran. Namun, demi menyempurnakan aktingnya tentu saja dia harus masuk ke dalam alur. "Jangan begitu dong, Mas! Masa ngelarang Bunda buat datang ke sini, sih?" Dia lalu memeluk Ratu sambil mendongak menatap wanita paruh baya itu. "Bunda boleh, kok, main ke sini terus. Menginap pun boleh," sambungnya manis. Ratu yang tahu diri tentu saja menggeleng. "Gak, Mel. Ini memang salah Bunda. Habis ini Bunda janji gak akan ganggu waktu kalian. Tapi, kalian juga harus menyempatkan buat mengabari kami sesekali. Apa bisa, Sayang?" Melya mengangguk walau dengan wajah yang sendu. "Maaf ya, Bun!" Pangeran benar-benar muak melihat wajah Melya yang terlihat begitu sok drama di depan ibunya. Jika dirinya tidak nge-gap kelakuan asli Melya dua hari yang lalu, pasti dia akan ikut tertipu dengan wajah polos istri kontraknya. Setelah beberapa waktu, kini akhirnya Melya dan juga Pangeran berada di rumah berdua saja. Ratu yang dijemput oleh supir sudah meninggalkan mereka 5 menit yang lalu. Diam, tidak ada satu pun di antara pasutri itu yang mau membuka suara. Sampai sebuah derit kursi menyadarkan pria itu. Pangeran mengernyit kala melihat Melya yang berjalan menuju lantai atas dengan terpincang. "Mau ke mana kamu?" Melya yang sudah berada di anak tangga ketiga segera berhenti. Tanpa menoleh, dia pun berkata, "apa kamu pikir aku akan pergi? Sayangnya nggak. Badanku terlalu lelah untuk bolak-balik. Jadi, gak usah protes, kalau malam ini aku tidur di sini!" ujarnya datar. Pangeran mendengkus. "Terserah apa kata kamu. Kalau mau nginap silakan, pergi juga aku gak bakalan menghalangi!" Dia kemudian berjalan mendahului sang istri menuju lantai dua. Melya yang melihat itu hanya mengerutkan kening. "Dasar, Kanebo Kusut! Bisanya cuma bikin gue esmosi doang. Kalau mau bikin baper itu jangan ke gue, gak bakalan mempan, Njir!" omel wanita itu kesal. Keesokan paginya, Melya kini sudah berada di meja makan. Dia sarapan rendang buatan mertuanya dan juga dua centong nasi yang ditaruh di piringnya. Wanita itu mengabaikan derit kursi yang ada di depannya dan tetap slay makan tanpa ada niatan buat melayani si suami. "Aku kan udah bilang semalam buat gak usah kerja dulu. Kenapa kamu malah ngeyel, sih?" Melya menatap Pangeran dengan kening mengernyit. "Apaan, sih? Gak usah sok care, deh!" Pangeran menggebrak meja. Matanya menatap tajam Melya. "Aku melakukan ini bukan karena care, tapi aku hanya tidak ingin Bunda tahu jika menantunya adalah wanita yang suka bermain dengan lelaki lain!" tandasnya tajam. Kedua mata Melya bergerilya ke arah lain. Dia sempat bingung dengan maksud pertanyaan pria itu. Namun, setelah tahu maksud dari ucapan Pangeran, senyum mengejek pun langsung tersungging. "Terus, ada masalah kalau aku seperti itu? Kamu malu? Gampang, sih! Kamu tinggal batalkan surat kontrak kita dan gak usah usik kehidupanku!" ucapnya, kemudian berlalu pergi meninggalkan sang suami. Pangeran langsung menarik lengan Melya hingga kini wanita itu jatuh di pangkuannya. Dia menatap wajah istrinya dengan tatapan dingin. "Aku menikahimu bukan untuk membuatku malu. Jadi, jaga sikap kamu ketika berada di luar!" Melya tersenyum sinis. Dia menepuk wajah Pangeran dengan santai, tidak takut akan tatapan membunuh dari pria tersebut. "Tuan, bukankah kamu sudah membaca syarat yang aku ajukan? Apa perlu aku mengingatkannya padamu, hm?" Pangeran menepis tangan Melya yang kini tengah mengusap bagian rahangnya. "Kenapa? Apa kamu jijik dengan sentuhanku, Sayang? Hei, aku ini adalah seorang jalang. Jadi, bagaimana mungkin aku hidup tanpa belaian seorang lelaki," bisiknya berani di telinga Pangeran. "Jika kamu ingin aku berhenti ... maka kamu bisa gantikan mereka menemaniku di atas ranjang setiap malam. Apa kamu bisa?"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD