Dua malam Melya tak pulang ke rumah suaminya. Pangeran sendiri juga tidak ada niatan untuk menjemputnya. Jadi, wanita itu merasa bebas. Dia berbohong saat mengatakan akan tidur di apartemen Senja karena nyatanya, wanita itu kini tengah berada di dalam kamar miliknya.
"Ternyata nikah gak nikah itu sama aja. Gak ngefek apa pun buat gue," gumamnya lalu mengembuskan napas ke udara kosong.
Suara pin pintu apartemen tengah diotak-atik dari luar oleh seseorang, tetapi Melya masih terlihat begitu santai karena dia tahu siapa pelakunya. "Jangan sampaijitu orang bikin mood gue tambah ancur!"
Akan tetapi, harapan itu sepertinya tidak terlaksana karena tiba-tiba sebuah tarikan di rambut membuat cangkir kopi yang tengah digenggam oleh Melya terlepas hingga benda tersebut jatuh di atas lantai. "Arghhh! Lepas, Anjrut!" teriak wanita itu sambil memegang rambutnya.
"Gak! Lo udah bikin gue kesel hari ini. Pokoknya lo harus mati di tangan gue!" Shella, adalah istri dari kakaknya Andri. Dia datang dengan emosi yang memuncak. Karena menurutnya, Melya sudah mengacaukan rencana yang sudah dibuat matang olehnya.
"Lepas dulu, Bangsul! Lo, sama adek ipar gak usah kasar, Bege!" Melya yang sudah kesal langsung mendorong tubuh wanita itu keras hingga Shella jatuh. Matanya menatap tajam si kakak ipar tak tahu diri. Dia merapikan rambutnya dengan mata memicing. "Lo tuh harusnya berterima kasih sama gue, malah nyalahin gue. Punya otak gak lo, hah?"
Shella bangun. Emosinya masih berada di puncak. "Buat apa punya otak, kalau tubuh ini masih bisa dipakai, kenapa harus berusaha payah buat mikir. Lagian, udah ada elo. Jadi, kenapa gue harus capek-capek makai otak gue? Sayang, Mel. Mending dipakai buat ngibulin kakak lo yang bodoh itu!" ucapnya sambil tersenyum meremehkan.
Melya merapikan rambutnya dan mengabaikan rasa sakit di bagian kulit kepala. Pasti ada beberapa kuku jari Shella yang sudah melukainya. Mata itu pun menatap penuh benci ke arah sang kakak ipar. "Abang gue emang bege karena udah mau diperdaya sama nenek lampir kayak elo. Tapi, gue sebagai adek gak akan pernah tinggal diam. Jadi, sebelum gue bongkar semua keburukan elo ke depan Abang gue, mending lo cabut dari hidup gue!" ancamnya.
Shella mengepalkan kedua tangannya. "Berani sekali lo ngancem gue, hah? Apa lo lupa kalau selama ini gue punya bukti tentang video lo yang lagi bareng sama cowok di kamar hotel, eoh?" Wanita itu menyeringai. "Dan gue yakin, kalau mertua lo yang tajir itu tah, pasti bakalan malu pakai banget karena punya menantu busuk kayak elo!" lanjutnya penuh tipu muslihat.
Melya sedikit terkejut akan hal itu. Selama ini, Shella memang sering memerasnya dengan video tersebut dan mengancam akan menyebarluaskan ke media sosial dan boom! Nama baiknya pasti akan hancur. Parahnya, Andri justru sama sekali tidak bisa membantu dan ikut diperbudak oleh sang istri. "Bangsul! Dasar wanita sinting!" teriaknya.
Keluarganya juga juga sama sekali tidak bisa diharapkan. Orang tuanya pun sama sekali tidak bisa membantu Melya karena mereka sudah tidak peduli dengan kehidupan anak-anaknya. Jadi, selama ini yang dilakukan oleh Melya pun tak ada campur tangan dari ibu dan ayah nya.
"Takut lo?" Shella menyeringai sinis, lalu berjalan mendekat ke arah Melya. Dijenggut rambut wanita itu lagi hingga kini mendongak menatap dirinya. "Lo itu cuma boneka gue, Mel. Jadi, gak usah banyak tingkah, deh. Sekarang lo kirim duit itu, atau video lo bakalan gue kasih ke mereka, hm?"
Melya menggertakkan giginya saat lagi-lagi dirinya tidak berdaya. Dia lalu memenepis tangan Shella kasar dan mendorongnya pergi dari apartemen. Wanita itu lalu mengamuk, membanting semua yang ada di dekatnya.
Setelah membuat rumahnya berantakan, kini Melya hanya terduduk diam di sofa panjang. Dia mengabaikan pecahan kaca, dan mengabaikan kakinya yang juga berdarah. Mungkin, luka itu didapat saat dirinya melangkah. Matanya terlihat kosong seolah tak ada nyawa di sana. Wanita itu benar-benar muak akan hidupnya. Dia bosan dan ingin terbebas dari ancaman wanita sinting itu. Namun, apa dia bisa?
“Tuhan, apa hamba benar-benar tidak bisa lepas dari jerat kegilaan ini? Aku lelah, Tuhan. Lelah dengan kepura-puraan yang selama ini ku tutup-tutupi. Bahagia? Apa itu bahagia? Aku bahkan lupa untuk bahagia." Wanita itu tersenyum miris.
Deringan ponsel membuat wanita itu tersadar. “Siapa, sih? Ganggu banget, deh!” Awalnya, dia hanya diam dan membiarkan. Namun, setelah sekian menit didiamkan, ternyata si penelpon justru tidak menyerah hingga membuatnya mau tidak mau mencari di mana keberadaan gawai tersebut.
“Auw, s**t!” umpat Melya ketika telapak kakinya kembali menginjak pecahan kaca. Dia kemudian menarik kaca tersebut tanpa beban dan membuangnya asal. Tak dipedulikan darah yang mengotori lantai. Keningnya mengernyit kala melihat nama orang yang tidak diinginkan memanggil. “Apa?” tanyanya ketus saat panggilan mereka tersambung.
“Kamu di mana? Bunda sedang on the way ke rumah. Jadi, kamu balik sekarang juga!”
Melya menatap gawainya ngeri akan sikap dari pria di seberang telepon. Tak ada sapaan, tetapi langsung mencecarnya. Dia pun mengabaikan panggilan itu dan berniat kembali ke kamar untuk istirahat. Namun, sebuah pesan masuk membuatnya mau tidak mau membukanya.
Kanebo Kusut: PULANG!
"Cih! Apa manusia itu tidak pernah diajarkan sopan santun atau bagaimana? Selalu saja bertindak seenaknya," omelnya pada gawai seolah barang itu adalah sang suami. Ketika dia ingin menaruh gawainya lagi-lagi sebuah pesan masuk dan dari nomor yang sama
Kanebo Kusut: PULANG SEKARANG JUGA!
"Wah, dasar kutu kupret!” Melya mengumpat membaca tiga kalimat terakhir yang dikirimkan oleh Pangeran. Niat hati ingin mengabaikan, tetapi teringat akan wajah kecewa Ratu hingga membuatnya mendengkus. “Kenapa gue bisa terjebak di permainan gila ini, sih!” Tangannya meraup wajah frustasi.
Lalu, di sinilah Melya berada. Penampilannya sudah lebih baik, bahkan luka di kaki sudah dibersihkan dan di plester oleh dokter. Ya, wanita itu memilih untuk pergi ke klinik terdekat untuk mengobati lukanya. “Bunda!” serunya sambil merentangkan kedua tangan.
“Sayang, menantuku yang paling cantik!” Wanita paruh baya itu tak kalah heboh saat melihat menantunya baru saja turun dari mobil. Mereka cipika-cipiki dan mengabaikan Pangeran yang hanya berdiri diam karena tidak dianggap.
"Loh, kaki kamu kenapa, sayang?" Ratu yang menyadari sang menantu berjalan terpincang langsung bertanya khawatir. "Ran, istri kamu kenapa? Ini baru dua hari loh kalian tinggal terpisah dengan Bunda. Masa kaki istri kamu sudah seperti ini."
"Gak apa-apa, kok, Bun. Ini tadi Mel gak sengaja menginjak pecahan kaca di kantor. Makanya begini. Jadi, Bunda gak perlu marahi Mas Pangeran," ucap Melya sambil menggelayut manja pada Ratu. Diabaikan tatapan menusuk dari sang suami karena dia tidak sedang mood untuk berbasa-basi dengan manusia kutub.
"Maaf, Bun. Itu semua diluar kendaliku. Tapi, mungkin besok aku akan meminta Mel untuk cuti."
"Tapi, Mas–"
"Mel!" Mata pria itu menatap wanitanya dalam. "Aku akan marah jika kamu membangkang padaku! Lagipula, aku hanya khawatir pada istriku. Apa itu salah?"