Pangeran mengunyah makanan yang ada di dalam mulutnya dengan lamat. Pembahasan soal pekerjaan memang belum sempat, atau memang tidak pernah dibahas. Bukan karena ingin, atau tidak, melainkan ada ranah yang perlu dibatasi dalam surat perjanjian. Walaupun Melya hanya mengajukan satu syarat, itu sudah mewakili semuanya bahwa wanita itu tidak mau diatur oleh dia.
"Selama istri aku enjoy dan tidak membuatnya melupakan kewajibannya sebagai seorang istri, aku tidak masalah, Bun," jawab Pangeran pada akhirnya.
Diam-diam Melya tersenyum. "Iya, Mas. MelMel janji gak akan lupa, kalau sekarang udah punya suami, kok. Sebisa mungkin, aku akan minta kepada atasanku untuk tidak memberikanku jam lembur. I'm promise!" Senyumnya langsung lebar.
Pangeran langsung mengusak rambut bagian depan Melya hingga membuat Sherina dan Ratu memekik senang. "Gue tau lo itu normal. Karena jelas, mana mungkin ada laki yang bisa melakukan adegan uwu, bahkan dia turn on liat gue kemarin. Tapi, terserahlah. Lagian gue jeritnyajuga gak mungkin duduk doang di rumah, sementara jiwa gue yang modelan kuli disuruh diam, oh no! Gue gak bisa!" dalam hati.
"Ehm, kalau begitu. Apa aku besok sudah boleh berangkat kerja, Mas? Kasihan Senja, dia keteteran ngurus usahanya sendiri!" Melya menggelayut manja di bahu sang suami dengan mata mengedip-ngedip lucu.
Pangeran tersenyum, lalu mengecup puncak kepala sang istri. "Asal kamu tidak capek, Sayang. Aku izinin kamu buat kerja lagi," ucapnya kemudian.
"Makasih, Mas! Saranghaeyo!" Melya berteriak kegirangan dan tak lupa memeluk sang suami.
"Duh, jadi gak sabar liat anak-anak kalian, deh. Pasti lucu banget!" Celetukan Ratu mampu membuat dua orang yang sedang saling mengumpat di dalam hati tersedak ludahnya sendiri.
"Bunda, ih. Kenapa bahas itu, sih? Kan, Melmel jadi kaget," omel Pangeran tak selamanya benar. Dia kemudian mengangsurkan gelas ke depan mulut Melya, membantu si istri untuk minum. "Apa sudah lebih baik?"
"Makasih, Mas." Melya tersenyum.
"Oh, iya, Bun, Yah. Mungkin besok aku sama MelMel akan mulai tinggal di rumah kami sendiri," ucap Pangeran santai. Dia tidak tahu saja jika perkataan itu mampu membuat kedua wanita di sana langsung menatapnya horor, termasuk si istri –Melya.
"Loh, kok, cepet banget? MelMel aja belum ada sehari loh nginep di rumah ini? Apa gak sebaiknya kalian tinggal di sini saja?" Ratu yang paling keberatan di antara yang lain.
"Bunda sudah ada Mbak Sherina dan juga Reina di sini. Lagian, bukankah kalian ingin cepat menimang cucu lagi? Jadi–" Sengaja Pangeran memotong ucapannya sendiri agar keluarga berpikir sendiri akan kelanjutannya.
Ratu akhirnya dengan terpaksa merelakan menantu barunya hidup mandiri di rumah mereka. Tempat yang berjarak berkilo-kilo meter dari kediaman utama Mahija.
Kini, setelah mendapatkan banyak wejangan ini dan itu dari Ratu, Raden, Sherina, bahkan Reina. Melya dan juga Pangeran sudah tinggal berdua di rumah baru mereka. Sebenarnya buka baru, hanya tempat itu memang belum pernah ditinggali semenjak dibeli.
"Kamu gak masalah 'kan, kalau kita tinggal hanya berdua saja tanpa pembantu?"
Melya melihat ke arah tempat yang sedang mereka pijaki. Cukup luas dan terdiri dari dua lantai. Lantai pertama ada ruang tamu, ruang keluarga, dapur dan kamar mandi, sedangkan di lantai 2 ada dua kamar yang masing-masing memiliki kamar mandi di dalam, ruang santai, dan juga balkon. "Kamu gak maksud buat aku beresin rumah ini sendiri, 'kan?" tanyanya sanksi.
Pangeran menggeleng. "Sorry, maksudnya begini. Aku hanya meminta bibi untuk datang ketika jam 9 dan pulang jam 4 sore. Karena, jujurly. Aku gak suka liat ada orang asing di rumahku," jelasnya.
"Kenapa di lantai pertama tak ada kamar tamu? Nanti, kalau aku ngajak temenku gimana?" Melya menatap protes ke.arah sang suami.
"Kamu boleh bawa temen kamu, tapi tidak untuk menginap, Mel. Dan juga, aku tidak ingin ada tamu lelaki lain yang kamu bawa ke rumah ini. Kamu mengerti!"
Wanita itu hanya merotasikan kedua bola matanya jengah. "Santai, aku gak bakalan main di rumah ini, kok. Aku juga gak bakalan bawa temen ke sini."
"Maksud kamu?" Pangeran menatap mata Melya yang terlihat begitu biasa saja. "Apa kamu lupa jika dirimu ini sudah menikah?"
"Menikah? Maksud kamu, nikah kontrak gitu?" Melya menyeringai. "Jelas ingatlah."
"Lalu, apa kamu akan melanjutkan petualangan gilamu itu, hah?"
"Ya, gimana, yah? Itu, tuh kayak udah jadi bagian hidupku. Secara kamu nyuruh aku buat tidak tidur bareng. Sementara aku tuh paling gak bisa kalau tidur sendiri. Dingin, Bro!" Jari lentik Melya dengan sengaja menyusuri rahang suaminya.
Pangeran mengepalkan kedua tangannya. Dia langsung melengos hingga tangan Melya mengambang di udara.
Wanita itu hanya mengedikkan bahu tidak peduli. Dia lalu melirik ke arah jam tangannya. "Oh, iya. Sepertinya malam ini aku gak pulang. Aku mau nginap di apartemen bestie ku. Bye!" pamitnya dengan senyum lebar. "Ah, lupa!"
"Yakh!" teriak Pangeran protes saat dengan kurang ajarnya Melya mencium pipi pria tersebut.
Hening. Rumah yang tadi sempat ada warnanya, kini sudah kembali sepi. Pangeran merasa kesal dengan sikap Melya yang begitu berani padanya. Dia pun mendengkus, kemudian memutuskan untuk mandi terlebih dahulu.
Sementara itu, Melya sudah lebih dulu menghubungi Senja dan menanyakan keberadaan sang sahabat. Dia pun meluncur cepat menuju lokasi tersebut. Senyum pun merekah saat melihat tempat yang sudah sering sekali didatangi olehnya beberapa waktu lalu.
"Duh, pe–"
Melya langsung membekap mulut Senja yang hendak bicara. Dia tahu ke mana arah tujuan pembicaraan itu. "Hai, semua. Boleh gabung, 'kan?" tanyanya ceria.
"Boleh dong, Sayang. Sini, duduk sama gue!" Yuda langsung menepuk space kosong yang ada di sampingnya. Namun, sebelum itu mereka cipika-cipiki dulu hingga membuat yang lain berdecak bosan.
"Tiba-tiba gue mual liat dua m***m itu bersama," celetuk Komeng salah satu penghuni kos yang sedang dipijak oleh Melya.
"Hooh," sambar Dipta.
Komeng langsung menatap orang di sampingnya –Dipta dan Senja. "Kalian berdua juga, Geblek!" semburnya sengit.
Keempat manusia itu langsung tertawa terbahak melihat Komeng yang langsung pergi dari circle mereka.
"Mau ke mana, Bro? Kok, pergi, sih?" Dipta bertanya sambil menggelayut manja pada kekasihnya, Senja.
"Mau mati ajalah gue! Mata gue anti liat orang yang lagi falling in love, Kuampret!"
Seruan dan juga suara bantingan pintu membuat keempat manusia itu tertawa. Mereka begitu puas melihat teman yang selama ini sering sekali mengolok-olok, berakhir bungkam.
Melya sendiri kini duduk di samping Yuda, partner ranjangnya. Mereka memang sudah lama tak bertemu. Terakhir, ya, saat kejadian di mana dirinya harus terjebak dalam lingkaran sebuah belenggu yang nanya sebuah pernikahan.
"Ke mana aja selama ini? Senja bilang, lo lagi ada tugas dinas di luar kota." Yuda berkata sambil merapikan anak rambut Melya yang sedikit berantakan.
Melya sendiri hanya tersenyum kaku. Dia tidak mau melirik ke arah Senja yang kini tengah tertawa mengejeknya. Pernikahan ini memang tidak ada yang mengetahui, kecuali keluarga, bahkan kekasih sahabatnya –Dipta- pun tidak tahu. "Ya, gitu, deh. Biasa, Bos gue emang semenyebalkan itu. Dia yang mau melebarkan sayapnya, tapi anak buah seperti gue yang harus terjun. Kan, asem!" dustanya.
"Ekhem-ekhem! Orang yang lo maksud itu di sini, yah. Hello!"
Melya mengabaikan sindiran Senja dan tetap memilih untuk bergelayut manja di lengan Yuda. Dia bahkan membiarkan si berondong mengecup puncak kepalanya tanpa protes. "Kangen," ujarnya manja.
"Gue juga, Beb," bisik Yuda sambil tersenyum penuh arti. "Yuk!" ajaknya ambigu.
Sementara itu, seseorang yang sedari tadi mengikuti mobil Melya hanya mendengkus sinis. "Dasarnya murahan, ya, murahan aja!" Setelah itu, dia pun pergi meninggalkan kosan yang didatanginya.