Bab 10. Bibir Berkedut

1067 Words
"Emang suami aku mau duain aku?" "Gak usah ngaco!" Pangeran langsung melepaskan lengan Laura yang tadi memeluknya, kemudian menarik tangan Melya untuk dibawa menuju lift yang terbuka. "My Prince!" Diabaikan teriakan Laura yang terus saja memanggil Pangeran. Melya sendiri memilih untuk diam sambil melipat kedua tangan di depan d**a di ujung lift. Matanya sudah sepet, mengantuk ingin dipejamkan. Pangeran melirik ke arah Melya yang terus saja terdiam. Kota besi itu padahal kosong, tetapi mereka justru berdiri saling memberi jarak. Wajah Melya yang cuek membuat pria tersebut berpikiran yang tidak-tidak. "K-ka-mu gak usah khawatir. Dia itu cuma temen. Kamu gak perlu mengadu pertemuan in–" "Sorry, aku bukanlah wanita pengadu. Lagian," jedanya dengan mata tertuju tepat ke dalam manik kelam sang suami. "Aku gak peduli dengan siapa Anda bersama. Toh, aku juga bukan istri yang kamu inginkan. Jadi, lakukan semau Anda saja." Tepat setelah itu, lift terbuka di lantai tempat mereka menginap. Melya menunduk sedikit untuk pamit. Namun, ketika baru beberapa langkah dia berhenti mendadak sehingga membuat Pangeran yang berjalan tepat di belakangnya menubruk tubuh wanita tersebut. "Apa kamu tidak bisa berjalan dengan benar? Terus,kalau memang mau berhenti bilang dulu. Jangan main asal stop! Kita kan tidak tahu siapa saja orang yang ada di belakang kita–" Tangan Melya segera terangkat, mencoba menghentikan ucapan Pangeran yang menurutnya sangat-sangat tidak penting. Matanya kemudian menyorot ke arah pria tersebut. "Tuan PangPang, aku ada satu permintaan!" "Apa itu?" Pria itu berdiri sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana. Sikap yang siap untuk mengintimidasi. Melya menatap pria itu datar. "Jika kamu memang sedang tidak mau, atau tidak berniat untuk membantuku, tolong!" jedanya menatap penuh permohonan. "Kamu tidak perlu berpura-pura, walaupun itu di depan orang tuamu! Karena aku ini bukanlah barang yang bisa diturunkan dan ditaruh di mana pun kamu inginkan! Aku ini manusia, wanita yang mempunyai hati dan juga perasaan!" Pangeran terdiam. Sikap yang penuh intimidasi itu kini mulai berganti menjadi merasa bersalah. Dia akui salah karena sudah meninggalkan wanita itu di sebuah kedai makanan tadi. Perbuatan tersebut dilakukan juga karena merasa jengkel kepada orang tuanya yang terus memerintah. "Sudahlah! Gak usah lebay gitu, deh! Lagian, kamu juga gak pantas buat pasang muka mellow begitu. Yang ada jatuhnya malah kek pengemis di jalan yang minta sumbangan!" sarkasnya. Melya menatap pria itu dengan tatapan tak percaya. Bibirnya berkedut atas ucapan Pangeran yang begitu menyebalkan. "Pengemis? Gue?" Tangannya menunjuk dirinya sendiri dengan shock. "Wah! Gue gak tahu kalau di dunia ini ada cowok lemes banget mulutnya seperti dia. Njir! Pengin gue tampol pakai sedotan WC! Biar makin monyong itu bibir!" lanjutnya dalam hati karena Pangeran sudah lebih dulu meninggalkannya. "Kamu mau sampai kapan di situ? Masuk!" Sifat dan sikap dingin Pangeran kini sudah kembali lagi, bahkan rasa bersalah yang sempat menguasai sudah lenyap, hilang tak bersisa. Mood swing si laki benar-benar di luar prediksi BMKG. "Dalam hitungan ketiga kamu–" "Gak usah sok ngajarin ngitung sama aku! Karena aku udah bosan berurusan dengan angka, apalagi sama laki modelan kek situ. Cih!" Sebelum selesai pria itu bicara, Melya sudah lebih dulu memotongnya. Dia masuk ke dalam kamar yang sempat menjadi saksi bisu Pangeran kehilangan keperjakaannya. Pangeran mengernyit melihat kelakuan Melya yang menurutnya sangat berani. Sebelum masuk, pria itu sempat menoleh ke arah lorong yang sepi. Setelahnya, dia pun masuk bergabung dengan sang istri. Bulan madu yang direncanakan dua minggu itu ternyata harus di cancel. Tiba-tiba ada masalah di Perusahaan Mahija sehingga membuat Melya dan keluarga sudah berada di Indonesia sekarang. Kini, mereka sedang berada di kediaman, kecuali Pangeran serta Raja yang langsung menuju tempat mereka memimpin. Selama satu minggu itu pun, Melya benar-benar tersiksa karena harus menahan kesal. Bagaimana tidak? Pangeran menguasai tempat tidur dan menyuruhnya untuk tidur di atas sofa. Tanpa curiga, sang mertua justru mengira jika si penganten baru itu begitu gencar melakukan ritual setiap malam. Walaupun kenyataannya, justru salah. "Sayang, kamu besok temani Bunda dan Mbak Ser buat ke butik, yuk!" Ratu yang baru saja bergabung dengan Melya dan Sherina segera angkat bicara. "Betul itu. Kamu mau, 'kan?" Sherina menimpali tak kalah semangat. "Aduh, gimana, yah? Besok saya harus udah balik kerja, Bun, Mbak. Gak enak saya harus cuti lama-lama sama atasan," jawab Melya dengan senyum kecut. Dalam hati dia berkata, "udah gak usah pedulikan gue di sini! Anggap saja gue ini gak ada, sama seperti yang dilakukan oleh Pangeran. Please!" Dua wanita itu pun saling melempar pandangan kemudian mengangguk. Sherina kemudian merangkul bahu Melya di sisinya. "Apa kamu yakin akan tetap bekerja? Apa Pangeran tidak menyuruhmu untuk berhenti?" tanyanya penasaran. Melya menunduk, menggigit bibir bagian dalamnya. Dia bingung harus menjawab apa. Jujur, dalam surat perjanjian kontrak tidak menyebutkan masalah pekerjaan dan dirinya mengira jika suami abal-abalnya juga tidak akan mau berusaha payah membujuknya untuk berhenti bekerja. "MelMel!" Sherina menatap sang adik ipar dengan pandangan bertanya. Melya tersenyum. "Bukan gitu, Mbak. Sebenarnya untuk masalah ini belum dibahas oleh kami. Lagian, saya ini kan udah terbiasa bekerja, berangkat pagi pulang malam. Jadi, jika pun saya harus berhenti, mungkin akan secara perlahan," jelasnya dengan tutur kata yang lembut. Beruntung ilmu marketing dan seringnya bertemu dengan klien membuat Melya tidak terlalu bingung ketika berdiskusi. "Bunda harap, Pangeran mengizinkanmu untuk berhenti bekerja, Mel. Kasihan Bunda liat kamu berangkat pagi dan pulang malam. Apa kata dunia jika melihat istri dari seorang CEO justru sibuk banting tulang di luar sana," ucap Ratu penuh harap. Sedikit banyak dia menginginkan istri putranya untuk tidak sibuk di luar dan fokus mengurus keluarga saja. Melya tersenyum kaku. Dia merasa mulai gila akan tuntutan keluarga suami abal-abalnya. Wanita itu tahu jika keinginan Ratu itu sangatlah wajar untuk seorang mertua. Namun, akan terdengar tidak masuk akal bagi Meya yang terbiasa bekerja keras dan dituntut hanya diam di rumah sambil nunggu suami pulang kerja. Itu tidak bisa. Setelah pembicaraan yang cukup membuat kepala Melya pusing, akhirnya pada pukul setengah 6 sore, dua pria gagah di usianya masing-masing sudah bergabung dengan mereka di meja makan. "Makan yang banyak ya, Mas. Biar kamu kuat!" celetuk Melya sambil mengambilkan nasi, lauk, dan pauk di atas piring sang suami. Pangeran sendiri hanya memilih diam dan menerima piring itu. Tidak diindahkan tatapan menggoda dari Bunda dan Sherina. "Makasih, Sayang." Melya tersenyum, lalu memilih untuk bungkam. "Pangeran, apa gak sebaiknya kamu minta Melya untuk berhenti bekerja? Kan, kalian udah nikah dan tentunya untuk semua kebutuhan juga sudah dipenuhi oleh kamu, 'kan? Jadi, tolong izinkan Melya untuk berhenti bekerja!" Permintaan Ratu mampu membuat suasana ruang makan menjadi hening.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD