“My Prince, kamu di sini?” Seorang perempuan cantik bertubuh seksi kini tiba-tiba menubruk tubuh Pangeran, bahkan ia tak sungkan mencium pipi kanan dan kiri pria tersebut. Seolah-olah, mereka dekat.
“Laura.” Pangeran menggumamkan nama wanita itu dengan pandangan kosong. Perempuan yang ternyata adalah teman di masa lalunya kini kembali hadir di depan mata pria itu sendiri.
“Wah, udah lama banget kita nggak ketemu, My Prince. Aku gak nyangka jika kamu bakalan makin ganteng dan juga makin macho,” puji wanita itu dengan wajah yang riang gembira. “I miss you,” sambungnya dengan senyum secerah matahari.
Pangeran hanya diam tanpa membalas ucapan dari Laura. Pikiran pria itu seolah tengah berada di tempat lain. Tujuan awalnya keluar dari kamar adalah menjemput istri kontaknya. Akan tetapi, dia justru dia terjebak dengan sosok wanita masa lalunya.
“Oh, ya. Gimana kabar bunda? Apa dia masih suka shopping?" tanya Laura sambil bergelayut manja di lengan kekar pria tersebut.
“Tolong jangan bersikap seperti ini, Laura!” Pangeran mencoba melepaskan gelayutan wanita itu. Dia merasa risih dan juga tidak suka, apalagi di depan orang lain. Jika sampa Ratu, atau mbak Sherina tahu, bisa habis dia. "Lepas!"
“Ish, kamu kok kayak gitu, sih? Aku, kan, kangen sama kamu. Emang My Prince gak rindu dengan kebersamaan kita?” Mata wanita itu terlihat berkaca-kaca seperti anak kucing yang butuh belaian dari sang majikan.
“Lepas, Lau!” sentak Pangeran yang sudah mulai muak. “Dan untuk pertanyaan kamu tentang ibuku. Beliau baik. Maaf saya ada urusan!”
“My Prince! Kok, kamu buru-buru banget, sih? Emang kamu mau ke mana? Kenapa kita nggak lunch dulu bareng aku?"
Ajakan Laura sempat membuat langkah kaki Pangeran berhenti sejenak, tetapi kemudian dia memberikan diri menatap wanita itu. "Tolong, Lalu! Jika suatu saat nanti kita bertemu lagi, jaga sikap kamu!"
"Kenapa?" tanya Laura bingung.
Pangeran mengangkat tangan saat melihat Laura hendak menyentuh lengannya. "Karena aku akan menjemput istriku. Jadi, tolong jaga hati istriku!”
Tubuh Laura membeku. Matanya melebar dengan pandangan tak percaya. “Menikah? Dua orang saling mencinta dan saling mengucap janji cinta di depan banyak orang? Apa itu yang baru saja kalian lakukan?” tanyanya dengan tatapan kosong. “Are you seriously? Bukankah kamu begitu mencintaiku bahkan mengejar-ngejar ku dulu?”
Pangeran memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana, lalu menatap wanita itu dengan pandangan datar. “Kenapa aku tidak boleh menikah dengan wanita lain? Ini hidupku. Dan tadi kamu bilang apa? Mengejarmu?” Pria itu mendengkus. “Itu dulu, Lau.”
“Gak, Prince! Kamu gak boleh melakukan ini padaku!” Laura terlihat panik.
“Maaf, aku harus pergi!” Pangeran segera pergi meninggalkan lobi hotel dengan buru-buru. Dia langsung mengambil mobil yang memang sudah disewa ketika sedang berada di Korea. Meninggalkan Laura yang kini tengah berteriak memanggil namanya. “Kamu gak boleh melakukan kesalahan yang sama, Ran! Ingat! Dulu dia yang menolakmu!”
Sementara itu, Melya sudah terlalu bosan menunggu sosok suaminya untuk datang menjemput. Namun, hingga satu jam kemudian Pangeran tak jua terlihat batang hidungnya. "Ckckck, ternyata dia hanya janji palsu doang. Dasar bego! Ngapain juga gue nungguin dia yang gak peduli sama perempuan. Dahlah, cukup sekali aku melakukan hal bodoh ini," ujarnya yang baru saja mengangkat pantatnya.
“Ayo, pulang!”
“Eh!” Sebuah tarikan membuat wanita itu seketika sadar jika orang yang kini tengah menyeretnya adalah Pangeran. "Situ kalau emang datangnya telat itu ngomong dulu, Tuan! Jadi, gak bikin ane yg cantik ini nunggu terlalu lama. Untung–"
"Gak usah berisik bisa!"
Melya menelan ludah gugup saat mata Pangeran menatapnya dingin. Tak tahan, dia pun menatap ke arah lain.
Pangeran sendiri langsung menutup pintu setelah Melya sudah masuk ke dalam mobil. Dia berjalan setengah memutar mobil dan kini sudah duduk dengan aman di depan kemudi. Kakinya menginjak pedal gas untuk masuk ke area jalanan bergabung dengan kendaraan lain.
“Ini orang kenapa, sih? Kok, kayak habis ketemu tukang penagih pinjol. Atau, jangan-jangan semua aset kekayaan yang dimilikinya sekarang sudah bangkrut? Lah, kasihan amat. Untung gue belum gembar-gembor punya laki hedong di akun sosial media. Kan, malu anjir kalau sampai ada yang tahu!" Melya membatin.
Selama dalam perjalanan menuju hotel, dua orang itu tidak ada yang membuka percakapan. Melya sendiri memilih diam sambil menatap keluar jendela. Menikmati pemandangan baru yang pastinya akan dirindukan ketika sudah tiba di tanah air.
"Turun!"
"Eoh? Eh, udah nyampe?" Melya sempat bingung karena disuruh turun. Akan tetapi, saat sadar jika ternyata mereka sudah ada di depan lobi hotel tempat mereka tinggal, dia pun segera menyambar ponselnya yang memang ditaruh di atas dasbor. Keluar dengan mata mengedar. "Iya, ini memang tempat gue nginep semalam," gumamnya.
"Kamu pikir?"
Melya hampir melepaskan ponselnya ke kepala Pangeran yang terus saja bersikap dingin padanya. "Gue servis juga lo nanti malam biar nurut sama gue!" ancamnya sambil menatap sang suami dengan penuh kesal. "Dasar Kanebo!"
Akhirnya, Melya pun berjalan mengikuti Pangeran yang sudah lebih dulu berjalan di depan sana. Sepanjang jalan, dia terus saja mendumel, bahkan mengumpati punggung sang suami. Namun, kening wanita tersebut mengerut saat tiba-tiba ada seorang wanita berpakaian seksi yang menghambur memeluk suaminya. "Loh-loh-loh, siapa itu? Kenapa meluk laki gue?"
Pangeran yang baru saja berada di tengah lobi kembali dikejutkan oleh pelukan Laura. Tangannya tetap diam di sisi tubuhnya tanpa berniat membalas pelukan erat wanita yang kini tengah menangis sesenggukan. Kini, dia yakin kalau mereka pasti sedang menjadi tontonan pengunjung lain.
"Siapa dia, Wahai Suamiku?" Dari belakang, Melya datang dengan senyum manisnya. Dia menatap kedua orang yang kini tengah berdiri begitu dekat. "Sayang, dia siapa?" Lagi, wanita itu terus bertanya seolah telinga mereka tidak mendengar pertanyaannya.
"Apa kamu istri dari My Prince?" Laura menatap Melya dari atas hingga bawah.
Untuk penampilan, Melya adalah wanita yang mempunyai body yang ideal. Dia bahkan tidak perlu diet untuk mendapatkan tubuh proporsionalnya. Hanya nge-gym rutin bersama Senja. Jadi, ketika dikenalkan kepada wanita seperti di depannya, dijamin tidak membuat malu. Yang ada di lawan akan merasa insecure.
"My Prince?" Melya bertanya dengan sorot mata bingung. Dia kemudian menatap Pangeran yang kini hanya diam saja. "Sayang, apa panggilan itu tidak berlebihan untuk ukuran seorang teman? Atau, kalian ini … ." Sengaja wanita itu menjedanya untuk melihat reaksi dari pria tersebut.
"Dia–"
"Iya! Kami ini memang punya hubungan spesial. Jadi, apa kamu keberatan dengan hubungan kami?" Laura dengan berani langsung menggandeng lengan Pangeran dan menatap Melya dengan pandangan menantang.
Melya menatap dua orang di depannya dengan pandangan sulit diartikan.