Bab 6. Ternyata Ganas

1137 Words
"Argh, kepalaku!" Erangan keluar dari mulut pria yang baru saja terbangun. Sinar matahari secara malu-malu mengintip dari celah jendela hingga membuat dia merasa terganggu. Kini, dia berusaha untuk bangun, tetapi sebuah tangan dan kaki yang melilit tubuhnya seolah membuat kesadaran pria itu menjadi seratus persen. "Yakh! Menyingkir dari tubuhku!" Pangeran dengan tanpa ampun langsung mendorong tubuh wanita itu hingga terjatuh ke lantai. Namun, setelah itu dia langsung melengos kala menyadari jika Melya tidak mengenakan pakaian apa pun. “Apa yang sudah kamu lakukan padaku, hah? Kamu sengaja mencuri kesempatan buat ngambil keperjakaan aku, ‘kan?” Melya yang baru saja terbangun setelah tidur pukul 1 dini hari merasa matanya perih, bahkan kepala juga pusing karena dipaksa bangun. “Ish, seharusnya yang berteriak di sini itu aku, Pangpang. Kenapa malah jadi kamu yang kek cewek, sih?” Dengkusan tidak terelakan keluar dari mulut wanita itu. “Ish, sakit kali p****t aku,” keluhnya kemudian. “Heh! Asal lo tau, yah! Aku itu jijik sama kamu. Berarti yang cari kesempatan di sini kan kamu. Gak usah ngelak, deh!” Masih dengan nada tinggi, Pangeran mencecar Melya yang kini sudah berdiri. Melya sendiri tidak memedulikan tubuhnya yang tanpa busana, dia tetap melenggang pergi menuju ke kamar mandi tanpa memedulikan teriakan Pangeran yang menurutnya terlalu lebay. “Sakit sekali,” keluhnya ketika bagian pusat terasa perih. “Gak nyangka dia begitu perkasa ketika di ranjang,” lanjutnya terkikik geli saat membayangkan kejadian tadi malam yang penuh dengan gairah. “Sial! Dia malah nyuekin aku lagi!” Pangeran memukul selimut yang menutupi tubuh polosnya. Dia sangat kesal pada dirinya sendiri karena tidak mengingat sama sekali akan kejadian tadi malam. Pria tersebut berusaha untuk menggali ingatan, tetapi yang ada justru suara desahan suara seorang lelaki yang tengah menikmati malam pertamanya. “Arghhhhh! Kenapa aku harus merelakan tubuh ini dijajah sama dia, sih? Aku gak sudi!” Pangeran terus saja mengumpat, bahkan menyalahkan Melya. Dia menduga jika semua ini adalah ulah dari w************n tersebut. Tiba-tiba suara bel apartemennya berbunyi membuat pria itu melihat ke arah jam dinding dan semakin kesallah dia saat menyadari jika di luar sudah pukul 10 pagi. Apa benar jika mereka terlalu lelah hingga membuatnya baru terbangun? “Bagaimana ini? Itu pasti bunda, kalau gak mbak Sher,” terkanya sambil menjambak rambut frustasi. Sementara itu, Melya yang baru saja keluar dari kamar mandi dan hanya menggunakan handuk mengerutkan kening heran. Jujur, bagian intimnya masih terasa sakit, tetapi dia merasa risih saat bunyi bel dibiarkan saja berdentang tanpa ada yang membuka. “Kenapa tidak dibuka pintunya, Sayang?” “Gak usah panggil-panggil sayang!” gertak Pangeran. Melya hanya mengedikkan bahu. Dia justru dengan sengaja berjalan menuju pintu tanpa berniat menggunakan bathrobe atau apa pun yang akan melindungi tubuh bagian bahu dan kaki jenjangnya. “Yakh! Apa kamu gila, hah!” teriak Pangeran. “Apa lagi, sih, Beb? Kenapa kamu sepagian ini berisik banget, deh!” Melya merotasikan kedua bola matanya jengah saat lagi-lagi mulut pria itu begitu bawel. “Pakai bajumu!” seru pria itu sekali lagi. “Dan jangan pernah panggil gue sayang atau beb lagi! Aku jijik dengernya!” “Baju yang mana, Pangpang? Suka ngaco, deh! Emang situ lupa kalau bunda dengan begitu semangatnya ngisi koperku dengan lingerie semua?” Melya begitu santai berdiri di depan pintu kamar sambil melipat kedua tangan di depan d**a dan hal itu membuat Pangeran semakin kesal. “Sial! Kenapa bunda ngelakuin ini semua ke aku, sih? Eh, jangan-jangan koperku juga isinya sama saja!” Namun, dirinya kembali mengurungkan diri ketika melihat seringai Melya yang seolah tengah melihat sesuatu. Dia pun melihat ke arah dirinya sendiri dan matanya seketika melotot. “Yakh! Pejamkan mata kamu!” teriaknya sambil menutupi pusakanya. “Auw, ternyata Tuan Pangpang ini begitu ganas,” ucap Melya sambil meraung dengan kedua tangan seolah akan mencakar mangsa. Pangeran langsung kembali duduk dan menutupi asetnya dengan selimut. Sementara itu, Melya justru sibuk tertawa. “Harga diriku serasa diinjak-injak dan ini semua karena w************n itu. Sial! Awas saja, kamu gak akan pernah bisa hidup tenang setelah ini!” Benar saja, ketika Melya membuka pintu Ratu masuk begitu saja setelah dipersilakan oleh sang menantu. Wajahnya begitu sumringah saat menyadari si menantu hanya mengenakan handuk. Akan tetapi, keningnya mengerut saat dirinya tidak menemukan bercak merah di tubuh, atau bahkan leher jenjang sang menantu. “Bunda maaf, yah. Melya kesiangan,” sesal wanita itu sambil menunduk. Ratu yang tadi sempat kecewa segera merubah wajahnya menjadi tersenyum. Diusapnya bahu mulus Melya dengan lembut. “Gak apa-apa, Sayang. Dimaklumi, kok. Kan, pengantin baru,” ujarnya menggoda. “Tapi–” “Kenapa, Bun? Kok, mukanya sedih begitu?” Melya segera berjalan mendekat ke arah sang ibu mertua. “Sepertinya kalian belum melakukannya,” ucapnya begitu frontal. “Hah?” Melya sudah seperti orang bodoh sekarang. “Maksudnya gimana, Bun?” Ratu lalu menunjuk bagian leher dan juga area kulit lainnya yang masih bersih, tanpa ada bercak percintaan di sana. Melya yang paham langsung menggaruk rambut. “Bunda gak tau saja jika anakmu yang kalian gay itu begitu beringas semalam. Beruntung aku ini bukan amatir, jadi masih bisalah mengimbangi permainannya. Kalau tidak, mungkin sekarang aku sudah menginap di rumah sakit,” batinnya tersenyum kecut. “Bunda! Tolong kembalikan baju kami!” teriak Pangeran dari arah kamar. Ratu yang mendengar itu hanya mendengkus. “Cih! Bunda gak bakalan ngasih kalian baju sebelum aku melihat ada tanda bukti cinta kalian!” Setelahnya, wanita itu berlalu begitu saja meninggalkan kamar pengantin. “Apa? Bunda–” “Bunda sudah pergi. Udah, sih, gak usah teriak-teriak gitu. Berisik!” Melya yang kini sudah masuk kembali ke dalam kamar segera menginterupsi suara protes dari Pangeran. “Lebih baik sekarang situ ngelakuin apa yang diminta oleh bunda sebelum kita mati kedinginan di sini!” “Ogah! Gak sudi!” Melya mengembuskan napas berat. Dia sungguh merasa mulai gila. Jujur, perutnya kini sudah berteriak minta diisi. Sedari kemarin mereka belum makan apa-apa. “Situ lakuin sekarang atau aku akan mengadu kepada Ra–” “Stop! Gak usah ngancem-ngancem aku!” Pangeran langsung menginterupsi ucapan Melya. Dia kemudian menunduk. “Ta-tapi a-aku gak tau itu apa tanda cinta yang dimaksud oleh bunda,” akunya jujur. Melya sempat bingung akan yang diucapkan oleh Pangeran. Namun, detik selanjutnya dia tidak bisa menahan diri untuk tertawa. “Jadi, kamu gak tau apa itu tanda cinta sepasang pengantin baru? Wah, ternyata di dunia ini ada, yah, satu sosok laki-laki seperti ente. Gila! Salut aku!” Wanita itu lalu bertepuk tangan dengan wajah bangga. “Bukan itu maksud aku.” Pangeran menggeram tertahan saat merasa dirinya dipermalukan oleh wanita itu. “Jadi, maksud kamu yang mana, Tuan Pangpang?” Melya menggoda pria itu. Dia bahkan kini sudah duduk begitu dekat dengan sosok suami kontraknya. “Maksudnya, i-itu a-aku gak tau ca-ra b-buat merah-merah itu!” serunya cepat dan malu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD