Batin Melya kini tengah tertawa miris. Dia melihat ke arah sosok tampan, macho, tetapi begitu bodoh dalam melakukan hal percintaan. Haruskah dia bangga? Atau, dia yang seharusnya malu karena merasa menjadi wanita berengsek di dalam hidup ini?
“Aku tau, kamu pasti sekarang sedang menertawakanku, ‘kan?” Pangeran berkata dengan terbata dan wajah memerah. Jujur, jika dia tidak sedang dalam keadaan terdesak, mana mungkin ia mau melakukan hal bodoh yang jelas-jelas merusak nama baiknya.
Melya sendiri langsung menarik napas panjang. Dia kemudian menggeser duduknya agar lebih dekat dengan sang suami. “Kenapa kamu malah mundur?” tanya wanita itu heran.
“K-kamu mau ngapain?”
Melya merotasikan kedua bola matanya jengah akan sifat dan sikap Pangeran yang begitu jijik padanya. Dia kemudian menarik tangan pria itu kasar dan menaruhnya di bahu. “Suamiku! Bukannya kamu mau belajar cara membuat tanda cinta, eoh?” Ditiupnya daun telinga pria itu.
Pria itu menggelinjang geli akan sikap Melya. “Tapi, gak usah deket-dekat juga kali! Modus, yah, kamu!”
“Astaga!” Melya menggeram tertahan kala menemui sifat laki-laki yang begitu anti kepadanya. Selama ini, laki-laki justru begitu senang jika didekati olehnya. Akan tetapi, kini harga dirinya merasa tercoreng karena ditolak oleh pria di amatir di depannya. “Jadi, gak, sih!”
Pangeran pun memalingkan wajahnya. Dia mengepalkan kedua tangan di sisi tubuhnya. Jujur, dia sudah ingin mendorong tubuh wanita itu, tetapi jika Melya tidak membantunya sekarang, pasti mereka akan mati membeku di ruangan. Ratu memang sangat mencintai anaknya sehingga tidak menyisakan baju yang benar dan hanya memberikan lingerie dan celana dalam untuk Pangeran.
“T-tapi kamu janji tidak akan mencuri kesempatan dalam kesempitan, kan!” todong Pangeran.
“Iya, Bawel!”
Akhirnya, Melya pun kini mulai mengajari si amatir untuk membuat sebuah tanda cinta, alias cupang. Ketika pertama kali diajari, dirinya harus menjerit. Bukan karena keenakan, melainkan kesakitan. Bagaimana tidak? Pangeran justru menggigit lengannya –yang dipakai buat praktek– hingga membekas.
“Sorry, gak sengaja,” ucap Pangeran tidak mau melihat ke arah wajah Melya yang sudah hampir menangis.
“Pokoknya kamu harus membayar mahal atas semua ini!”
Pangeran pun mengangguk. Dia mengalah karena memang merasa bertanggung jawab. Lantas, setelah percobaan ketiga barulah pria itu bisa membuat sebuah tanda cinta. “Aku ini emang jenius. Jadi, kamu gak perlu mengajariku terlalu lama,” ucapnya sambil menepuk bagian dadanya bangga.
“Cih, sombong sekali Anda!” balasnya mencibir.
Setelah itu, Pangeran pun melihat kepergian Melya dengan senyum jumawa. Dia akhirnya berhasil dan bisa terselamatkan dari hawa dingin yang sedari tadi menyiksa karena tidak mengenakan pakaian yang layak. “Kalau begitu aku hubungi bunda dulu untuk mengantarkan baju untuk kita. Kamu nanti jangan lupa buka pintu dan perlihatkan tanda itu!”
Melya hanya mengibaskan tangannya bosan. Dia memilih untuk melihat ke arah kaca besar yang ada di wastafel dan dirinya mengernyit kala melihat beberapa tanda merah di leher dan bagian bahunya. “Katanya jijik, tapi kok doyan,” cibirnya heran.
*
Acara makan siang pertama bagi Melya di negeri orang dan dia cukup mengalami culture shock. Gaya dia yang selama ini adalah kaum menengah ke bawah, sedangkan sajian di depannya adalah milik kaum elit dan lidahnya tidak cocok akan makanan khas negeri itu sendiri.
“Kamu kenapa, Sayang? Apa makanannya gak enak?” Ratu yang bingung melihat piring Melya yang masih utuh segera bertanya.
“Bunda, Ayah, Mbak Sher, apa aku boleh jujur?” Wajah Melya menatap ketiga orang di depannya dengan bibir menahan tangis.
Sementara itu, Pangeran sendiri sedang menerima telepon dari sekretarisnya di indonesia.
“Boleh, dong. Katakan saja, Mel!” Kali ini Sherina memberikan perhatian kepada adik iparnya.
Melya menggigit bibirnya ragu, tetapi jika tidak jujur dia akan mati kelaparan dan itu bukan pilihan yang bagus. “Apa disini tidak menyediakan makanan indonesia?” tanyanya polos dan sedikit takut.
Ketiga orang tersebut saling melempar tatapan satu sama lain, kemudian mengulum senyum.
“Jadi, kamu gak suka sama makanan di depan kamu?” Raja bertanya.
“Maaf, Yah!” sesal Melya. Baru kali ini dia menjadi orang bodoh di depan orang lain. Jika dalam kondisi seperti ini, Senja pasti sibuk menertawakan dirinya dan hal itu membuatnya rindu akan sang sahabat.
“Kenapa tidak bilang dari tadi, Sayang?” Tangan Ratu kini sudah memegang bahu sang menantu. Walaupun mereka baru kenal sebentar, tetapi dia sudah menyayangi sang menantu.
“Maaf, Bun. Melya pikir lidah ini bisa menerima semua rasa makanan. Tapi, ternyata lidah ini tidak mau dipaksa,” jawabnya dengan rasa bersalah.
“Astaga, kamu ini lucu banget, sih, Nak.” Ratu yang gemas akan tingkah Melya langsung memeluk sang menantu. “Ini suami kamu kenapa lama sekali ngobrolnya, sih? Apa dia gak tau, kalau istrinya sudah menahan lapar!” Sekarang si ibu justru balik mengomel kepada Pangeran yang tidak balik-balik.
“Itu dia!” Sherina berseru sambil mengedikkan dagu saat melihat kedatangan adiknya.
“Ada apa ini?” tanya Pangeran. Dia seolah lupa jika dirinya ini adalah seorang suami hingga sama sekali tidak menggubris akan keberadaan Melya yang tengah menunduk di kursi samping.
“Kamu ajak jalan-jalan istri kamu, Ran! Oh, iya. Ajak dia buat makan di tempat yang menyediakan makanan indonesia!” ujar Raja.
Pangeran lalu melirik ke arah Melya yang kini tengah menunduk sambil memilin bagian kemeja miliknya. “Lah, ini perempuan sejak kapan megangin bajuku? Dan, kenapa ayah malah nyuruh aku buat ngajak dia jalan-jalan dan makan di luar?” Dalam hatinya bertanya. “Tapi, bukankah kita sedang makan?” tanyanya bingung.
“Melmel kurang cocok dengan makanannya, Ran. Jadi, kamu sekalian bisa ajak istrimu buat jalan-jalan ke tempat yang romantis dan juga menyenangkan,” usul Sherina semangat. “Kyyaa! Andai saja Mas Bram ada di sini, pasti bakalan seru, deh!” sambungnya dengan kedua tangan ditangkupkan dan mata berbinar.
Pangeran yang baru saja menyuapkan dua suapan daging ke dalam mulutnya segera menoleh tajam pada istrinya. “Ini orang nyusahin banget, sih! Makan tinggal makan juga, kok, malah pilih-pilih!” omelnya dalam hati.
“Maaf, yah, Mas!” Melya menatap wajah Pangeran dengan penuh rasa bersalah. “Kalau gak mikirin dosa gue yang bejibun, gue juga gak bakalan mau makan! Mending gue mati kelaparan daripada nyusahin elo! Jadi, situ gak usah natap gue kayak gitu!” batinnya ngedumel.
Dengan berat hati, Pangeran meletakkan sendok dan juga mengelap bibirnya dengan serbet. Tangannya dengan cepat terulur ke arah sang istri. “Ayok!” ajaknya.
“Ke mana?” tanya Melya bingung.
“Katanya kamu mau nyari makanan Indo?”
Senyum Melya seketika langsung melebar dan dengan penuh semangat langsung menggenggam tangan pria tersebut. “Ayo, Mas!” serunya riang yang tidak dibuat-buat.
Pangeran hanya mendengkus, kemudian dia pamit kepada keluarga untuk membawa istri gadungannya pergi jalan-jalan. Setelah memastikan keluarganya tidak terlihat lagi, dengan cepat, dia melepaskan tautan tangan mereka dan berhenti tepat di depan sebuah cafe yang memang menyediakan makanan khas indonesia.
“Loh, kok?” Wajah Melya terlihat bingung akan sikap Pangeran yang mulai berubah.
“Kamu bisa makan sendiri, kan?”
Melya menunjuk pada dirinya sendiri, lalu ke arah cafe di sampingnya. “Sendiri? Kamu serius nyuruh aku buat makan di tempat asing ini sendirian?” tanyanya tak habis pikir.
“Emang kenapa? Bukankah kamu ini seorang petualang? Jadi, bukankah hal yang mudah bagimu untuk bisa bersosialisasi dengan tempat baru?” Bibir pria itu menyeringai dan setelahnya pergi meninggalkan Melya seorang diri di negeri orang tanpa memberikan uang.