bc

Beyond: Wajah Yang Kembali, Jiwa Yang Tak Dikenal

book_age16+
2
FOLLOW
1K
READ
dark
love-triangle
reincarnation/transmigration
time-travel
system
heir/heiress
blue collar
drama
bxg
serious
mythology
soul-swap
rebirth/reborn
love at the first sight
like
intro-logo
Blurb

Seorang gadis dari dunia nyata terlempar ke sistem dunia lain. Dunia kerajaan modern dengan wajah baru yang identik dengan pewaris keluarga terpandang yang telah tiada. Saat semua orang percaya sang putri telah kembali, ia justru terjebak dalam identitas baru, misteri kematian yang disembunyikan, dan takdir yang mengikat dua jiwa yang sama-sama tersesat. Petualangan hidup yang antimain-stream itu, membawanya mengenal seseorang yang tak pernah dibayangkannya.

chap-preview
Free preview
1. Gelap dan Terang
Aku seorang asing. Bukan karena tak memiliki tempat untuk pulang. Bukan pula karena tak mengenal dunia tempatku berpijak. Hanya saja, ada kalanya hidup terasa seperti rumah yang diam-diam berubah bentuk saat kita sedang lengah. Dan ketika aku menyadarinya, semuanya sudah terlambat. Kini ... Aku hanyalah yang dilempar dan tersesat. Jiwa yang tertimpa kemalangan. Entah bagaimana semesta memahami isi doaku. Namun jika berbicara tentang garis kehidupanku, aku cukup yakin semesta memiliki selera humor yang aneh. Atau mungkin memang gila. ‧͙⁺˚*・༓☾ ☽༓・*˚⁺‧͙ "Hoam!" Aku buru-buru melirik ke kiri dan ke kanan. Memastikan sekali lagi tidak ada orang yang melihatku menguap sebesar ini. Aku benci diperhatikan saat sedang melakukan sesuatu yang tidak penting untuk dilihat. Kalau ada yang sengaja memperhatikan, biasanya akan kubalas dengan tatapan menantang sampai orang itu merasa bersalah karena terlalu penasaran. Padahal kalau dipikir-pikir, tingkat rasa ingin tahuku sendiri mungkin sedalam Danau Toba. Bedanya, rasa penasaran itu tidak pernah kuhabiskan–untuk mengamati hal-hal receh yang dilakukan orang lain. "Nggak apa ..." Aku mengangkat pergelangan tangan kananku dan melirik jam yang melingkar di sana. "Dikit lagi tutup," monologku lirih. Rasa kantuk malam ini benar-benar sedang mengeroyokku tanpa ampun. Jam menunjukkan pukul tujuh malam lewat beberapa menit. Di luar sana, langit sudah berubah menjadi lautan gelap dengan lampu-lampu kota yang mulai menyala satu per satu. Sementara di dalam toko, suasana perlahan semakin lengang. Beberapa pelanggan terakhir sedang menyelesaikan urusan mereka. Ada yang duduk membaca sinopsis buku di sudut rak, ada yang berjalan santai sambil membawa dua atau tiga buku di pelukan. Lampu-lampu putih di langit-langit memantulkan cahaya lembut ke deretan rak yang tertata rapi. Aroma khas kertas, tinta cetak, dan pendingin ruangan bercampur menjadi bau yang sudah terlalu akrab bagiku. Tiga puluh menit lagi toko ini akan tutup, dan aku sudah menghitung mundurnya sejak satu jam yang lalu. Hari ini aku mendapat shift siang yang bekerja sampai malam di tempat kerjaku. Grabook. Salah satu toko buku yang cukup populer di kota ini. Apa membaca buku masih menjadi tren di tengah maraknya novel online? Oh, jangan ditanya! Eksistensinya tidak pernah benar-benar meredup. Generasi sekarang masih suka membaca. Hanya saja minat mereka mulai bercabang ke mana-mana. Buku nonfiksi tetap punya pasar yang kuat. Novel pun masih dicari, apalagi jika dibungkus dengan bonus, merchandise, atau berbagai benefit menarik bagi pembacanya. Grabook memiliki beberapa cabang di kota lain. Namun cabang tempatku bekerja ini tidak terlalu besar, juga tidak bisa disebut kecil. Ukurannya pas. Cukup luas untuk membuat kakiku pegal setiap akhir shift, tetapi cukup kecil untuk membuat seluruh karyawan saling mengenal dengan baik. Jumlah kami hanya enam orang. Itu pun dibagi berdasarkan shift. Jadi setiap shift biasanya hanya diisi tiga orang. Satu di kasir. Dua di area rak. Dan aku termasuk penghuni tetap area rak. Tugasku sederhana. Menyusun buku berdasarkan klasifikasi, memastikan tidak ada buku yang salah tempat, memeriksa kondisi fisik buku setiap hari. Dan menjaga agar rak-rak ini tetap terlihat rapi, serta menggoda orang untuk membeli sesuatu yang sebenarnya tidak mereka rencanakan. Klok! Sebuah bunyi notifikasi menarik perhatianku. Aku yang sejak tadi melamun sambil menatap langit malam dari balik jendela kaca, segera menoleh. Refleks, tanganku meraih smartphone kebanggaanku. Layar menyala. Sebuah pesan baru muncul di grup kerja. Entah kenapa perasaanku langsung tidak enak. Sialnya, feeling-ku sering kali terlalu akurat. Semoga bukan. Ya Tuhan! Aku kini merasa lumayan menyukai waktu yang tenang sekarang ini. Jari telunjukku bergerak menyentuh notifikasi itu. Gaes, aku izin ya. Besok pagi nggak masuk. Udah izin ke bos tadi. Mau nganter mama ku berobat 🙏 Svara maaf ya. Nanti berikutnya aku ganti shift-mu. Svara. Itu namaku. Sehabis membaca pesan itu, rasa kantuk ku langsung berkurang lima puluh persen. Karena pada detik itu juga–aku merasa hidup sedang suka mengujiku. Aku benar-benar mencintai dunia ini! Batinku pilu. "Hah..." Keluhan panjang lolos dari bibirku. Wajahku langsung mengerut. Masalahnya, selain bekerja di bagian rak, aku juga menjadi cadangan untuk posisi kasir. Kalau kasir utama berhalangan hadir, biasanya akulah yang akan ditarik untuk menggantikannya. Karena itulah reaksiku terdengar sedramatis ini. Mungkin karena aku dikenal cukup jujur dan bisa dipercaya. Sebuah kualitas yang bagus untuk urusan pekerjaan. Lumayan untuk menambah pemasukan. Sayangnya, kualitas itu juga sering menambah jam kerja. Dan percayalah, tubuhku tidak selalu menyukai bagian tersebut. Aku menyandarkan punggung ke rak terdekat. "Dunia memang melelahkan ..." Kalimat itu keluar begitu saja. Bukan karena aku membenci hidup. Aku hanya sedang lelah menjadi bagian darinya. "Berapa jam aku bisa tidur malam ini, ya?" gumamku lirih. Aku adalah manusia yang mencintai kebebasan, dan lebih mencintai waktu istirahat. Namun keduanya terpaksa ku khianati, dengan berbagi tempat dengan kebutuhan hidup. Aku kuliah sambil bekerja, karena tidak ingin sepenuhnya bergantung pada kakak perempuanku. Dia satu-satunya keluarga kandung yang masih kumiliki di dunia ini. Kedua orang tuaku sudah lebih dulu pergi. Meninggalkan kami untuk melanjutkan hidup dengan cara masing-masing. Walaupun mereka meninggalkan 'bekal' untuk kami, tapi itu adalah cara bahwa kami harus terus berjuang, karena kami masih hidup. Karena itu, aku berusaha mandiri. Meski terkadang rasanya melelahkan. Terutama saat tubuhku mulai menagih haknya untuk beristirahat. Anemia yang kumiliki tidak terlalu parah. Tetapi cukup sering mengingatkanku bahwa aku bukan manusia super. "Hah..." Aku kembali mengembuskan napas panjang. Rasanya seluruh beban hidup ikut keluar bersama embusan itu. Kalau bisa ditimbang, mungkin sudah masuk kategori kelas berat. Lalu seperti biasa, aku memasang senyum tipis yang cerah. Senyum munafik ku. Topeng yang selalu kupakai untuk menghadapi hari-hari melelahkan. Aku tidak bisa marah atau mengeluh pada temanku. Juga tidak bisa menolak. Ini tanggung-jawab ku. Karena sama sepertiku, dia sedang menjalankan perannya sebagai seorang anak. Besok mungkin adalah hari penting bagi waktu istirahatku. Tetapi bagi dirinya, besok adalah hari yang jauh lebih penting untuk kesehatan sang ibu. Jadi akhirnya aku mengetik balasan. Iya kak. Nggak apa^^ Semoga ibunya cepat sembuh, ya. Amin. Pesan terkirim. Aku kembali terdiam. Menunggu waktu bergerak menuju jam tutup. Kepalaku menoleh ke belakang. Deretan rak buku berdiri rapi dalam keheningan yang nyaman. Beberapa pelanggan terakhir masih berkeliaran di antara lorong-lorong buku. Sementara musik instrumental pelan mengalun dari speaker toko. Musim telah berganti. Waktu terus bergerak, membawa setiap orang menuju peristiwa-peristiwa baru tanpa pernah meminta izin terlebih dahulu. Bagi sebagian besar manusia, malam adalah waktu untuk beristirahat. Bagi mahasiswa, malam sering kali menjadi waktu untuk untuk begadang. Dan bagiku? Malam hanyalah jeda singkat sebelum rutinitas berikutnya kembali dimulai. Perkuliahanku sedang memasuki masa libur. Sayangnya, itu bukan jenis liburan yang bisa kusambut dengan santai. Setelan kuliahku hanya berganti fungsi. Dari mahasiswa menjadi penjaga toko buku. Lalu kembali menjadi mahasiswa. Dan begitu seterusnya. Seperti roda yang tidak pernah benar-benar berhenti berputar. ⋆ ˚。⋆˚˚ "Svara, udah mau tutup. Ayo keliling." Sebuah suara mengagetkanku dari lamunan. Aku menoleh dan mendapati seorang lelaki seumuranku berdiri tak jauh dari meja baca. Dia juga karyawan di sini. Karena terlalu sering bertemu, hubungan kami sudah berada di tahap teman yang tidak lagi canggung untuk saling mengejek atau mengeluh soal pekerjaan. Kami sama-sama mahasiswa, bedanya hanya jurusan. Aku mengangkat tubuhku yang sejak tadi bersandar malas di tepi meja baca. Tanganku bergerak mengambil jepit hologram berbentuk kupu-kupu berwarna biru pastel, yang menggantung pada rantai ID card milikku. Rambut hitam pendekku yang mulai berantakan segera kurapikan lalu kujepit ke belakang. "Ayo." Aku berdiri. Kakiku mulai menyusuri lorong-lorong rak bersama temanku, ia menuju blok lain. Tugas terakhir sebelum pulang. Mengingatkan pengunjung bahwa waktu operasional hampir selesai. Memastikan tidak ada buku pinjaman yang tertinggal sembarangan. Dan memastikan tidak ada manusia yang tiba-tiba berubah menjadi penghuni tetap toko buku, karena terlalu asyik membaca. "Permisi, Kak. Maaf mengganggu. Waktu sewanya sudah habis." Dengan senyum ramah yang sudah terlatih, aku menyapa seorang pelanggan yang sedang duduk membaca. Pengunjung itu mengangguk dan segera menutup bukunya. Sementara itu, aku melanjutkan pemeriksaan ke lorong berikutnya. Satu per satu area toko mulai kosong. Suara langkah kaki pelanggan perlahan menghilang. Beberapa menit kemudian, suasana Grabook berubah semakin tenang. Hanya tersisa dengungan pendingin ruangan, dan musik instrumental pelan yang mengalun dari speaker. Tanda bahwa malam kerja hari ini hampir berakhir. Syukurlah. Aku sudah siap pulang. Tote bag hitam sudah menggantung di pundak kiriku. Pikiranku bahkan sudah lebih dulu membayangkan kasur di rumah. Karena itu aku langsung berbalik menuju area depan toko. Bruk Namun langkahku terhenti. Suara sesuatu jatuh terdengar dari belakang. Aku refleks menoleh. Itu terdengar seperti suara buku yang jatuh dari rak. Mataku bergerak ke kiri lalu ke kanan. Mencari sumber suara. Aneh. Tidak ada orang lain yang bereaksi. Tidak ada yang menoleh. Tidak ada yang bergerak untuk mengecek. Seolah hanya aku yang mendengarnya. "Haruskah aku balik?" tanyaku malas. Tubuhku jelas menolak. Jiwaku bahkan sudah setengah perjalanan menuju rumah. Namun bayangan tentang kekacauan yang mungkin kutemukan besok pagi, membuat kakiku menyerah. Dengan enggan aku berbalik arah. Menyusuri kembali lorong rak yang mulai sepi. Pandanganku menyapu sisi kiri dan kanan. Sampai akhirnya aku menemukannya. Sebuah buku tergeletak sendirian di lantai. "Nah, kan." Aku mempercepat langkah. Tubuhku membungkuk untuk mengambil buku itu. Sampulnya terlihat seperti novel. Aku hanya melihat sekilas, sebelum mengembalikannya ke rak yang memiliki celah kosong. Namun, tepat saat hendak berbalik, sesuatu terasa janggal. Aku berhenti. Lalu menoleh lagi ke arah rak tersebut. "Ini bukan rak novel." Alisku terangkat. Kini rasa malas berganti menjadi bingung. Aku mengambil kembali buku itu. Pandanganku terpaku pada judul yang tertera di sampul. Beyond Veiled Fate: For the One Who Was Not Rahayanu Aku mengernyit. Membaca judul yang khas itu saja aku sudah tahu ini novel. "Ini bukan tempatmu," gumamku pada buku itu. Rak yang barusan kutemukan merupakan area buku sejarah. Bukan fiksi. Bukan novel. Dan jelas bukan tempat tinggal buku dengan judul semelankolis ini. Aku pun berjalan menuju deretan rak novel. Sambil melangkah, jemariku membuka sampul buku tersebut. "Ini genre apa?" periksa ku. Halaman pertama terbuka. Kosong. Aku mengerutkan kening. Lalu membuka halaman berikutnya. Kosong lagi. Tidak ada halaman hak cipta. Tidak ada nama penulis. Tidak ada penerbit. Tidak ada daftar isi. Tidak ada apa-apa. Hanya lembaran putih. Aku membuka halaman selanjutnya. Dan berikutnya. Dan berikutnya lagi. Semuanya sama. Kosong. "Hah?" Kini aku benar-benar berhenti berjalan. "Ini buku apa sebenarnya?" Ada rasa kesal bercampur bingung. Bagaimana buku seperti ini bisa berada di dalam toko? Kesalahan cetak? Lebih aneh lagi, bagaimana bisa lolos dari pemeriksaan kami selama ini? Pikiranku mulai dipenuhi tanda tanya. Akhirnya aku memutuskan menuju area depan. Aku harus menunjukkan kesalahan ini pada kedua rekan kerjaku. Tik! "Loh!?" kaget ku bingung. Saklar berbunyi tadi, diikuti dengan lampu dalam tokoh yang padam menyeluruh. Mendadak. Tanpa peringatan. Tanpa sisa cahaya sedikit pun. Aku langsung menoleh ke kiri dan ke kanan. Rak-rak buku yang tadi masih terlihat kini lenyap ditelan kegelapan. Bahkan cahaya dari luar toko pun seolah ikut menghilang. "Rima!" Aku memanggil. "Agra!" Tidak ada jawaban. Keheningan menyambutku. Barulah saat itu aku menyadari sesuatu. Tempat ini terlalu sunyi dengan cepat. Terlalu sunyi untuk sebuah toko buku. Tidak ada suara langkah kaki. Tidak ada gesekan pakaian. Tidak ada bunyi apa pun. Seolah seluruh dunia mendadak berhenti bergerak. Perasaanku langsung memburuk. Aku benci situasi seperti ini. Situasi ketika semuanya tampak normal pada awalnya. Namun, seperti di tengah sistem dunia yang terus berjalan ini, tiba-tiba seseorang menyadari sesuatu yang tak biasa sebelumnya. Bagaikan waktu dan kekosongan berubah menjadi entitas hidup, dan memiliki mata yang mengamati ku diam-diam sendiri di dunia ini. Dingin merambat di punggungku. Tanganku segera merogoh tas. Mencari smartphone. Namun jemariku tidak menemukannya. "Hah?" cengo ku. "Di mana sih!" Gusar ku. Aku semakin panik. Saat itulah buku aneh di tanganku terlepas. Bruk. "Aduh!" keluh ku. Aku tidak memedulikannya. Fokusku sekarang hanya satu. Ponsel. Aku harus menemukan ponselku. Namun sebelum sempat mencarinya lebih jauh, sesuatu menarik perhatianku. Cahaya. Sebuah cahaya kecil muncul dari lantai. "Eh?!" Aku membeku. Rasa tidak nyaman yang sejak tadi mengganggu, kini berubah menjadi ketakutan yang nyata. "Cahaya?" Suara sendiri terdengar asing di telingaku. "Kenapa buku itu bercahaya?!" tanyaku mulai panik. Otakku langsung berlari ke segala arah. Ke film. Ke drama. Ke komik. Ke novel. Ke seluruh adegan fantasi yang selama ini hanya hidup di layar dan halaman cerita. Dan aku sama sekali tidak menyukai kemungkinan itu. karena seperti di adegan movie atau novel, sesuatu yang aneh akan terjadi padaku. Tubuhku bergerak lebih cepat dari pikiranku. Aku berbalik. Lalu berlari. Menjauh dari buku tanpa isi itu. Alarm bahaya di kepalaku menjerit nyaring. Menyuruhku pergi sejauh mungkin. Semakin cepat. Semakin jauh. Lorong-lorong rak buku berlalu di sampingku. Gelap. Sunyi. Tak berujung. Namun semakin jauh aku berlari, semakin terang cahaya di belakangku. Ia tidak mengejar. Ia hanya terus membesar. Terus meluas. Perlahan menelan kegelapan yang sejak tadi mengelilingiku. Dan anehnya— untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku berlari menjauhi terang menuju gelap. Dengan keyakinan penuh bahwa, kegelapanlah tempat yang aman. Kesadaran itu membuatku semakin frustasi. Lorong terasa semakin panjang. Tak berujung. Aku terus berlari. Terus. Dan terus. Namun, meja kasir tidak juga terlihat. Padahal rasanya aku sudah berlari terlalu lama. Terlalu jauh. Seharusnya aku sudah sampai! Kak... Batinku mulai bergetar. Kakak! Aku di sini! Aku mau pulang... Tolong! Air mata mulai mengaburkan pandanganku. Membasahi pipi tanpa bisa kutahan. Sementara bibirku terkunci rapat oleh rasa takut, yang belum pernah kurasakan sebelumnya. Aku terus berlari. Namun, seberapa cepat pun kakiku bergerak, aku tidak mampu mengalahkan cahaya itu. Ia terus mendekat. Terus membesar. Terus melahap kegelapan. Sampai akhirnya–silau memenuhi seluruh pandanganku. Menusuk. Membakar. Memaksaku memejamkan mata. Tubuhku kehilangan keseimbangan, lalu terjatuh. Bruk! Rasa sakit menjalar saat tubuhku menghantam sesuatu yang keras. Kedua tanganku refleks menutupi wajah. Melindungi mata dari cahaya yang menyilaukan. Beberapa detik berlalu. Lalu samar-samar terdengar suara asing. Jauh. Kabur. Seperti datang dari tempat yang sangat jauh. Bersamaan dengan itu, intensitas cahaya perlahan berkurang. Semakin redup. Semakin lemah. Sampai akhirnya ... aku memberanikan diri membuka mata. Dan ternyata—semuanya baru saja dimulai. Bersambung ...

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Unscentable

read
1.9M
bc

He's an Alpha: She doesn't Care

read
750.4K
bc

Claimed by the Biker Giant

read
1.8M
bc

Holiday Hockey Tale: The Icebreaker's Impasse

read
983.4K
bc

A Warrior's Second Chance

read
362.1K
bc

Not just, the Beta

read
349.4K
bc

The Broken Wolf

read
1.1M

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook