Dua Tahun Silam -15

1109 Words
Geovan tidak terlalu mengingat bagaimana sifat Perry Diaz. Lagipula, interaksi mereka hanya terbatas pada saat masa orientasi murid baru saja. Tapi bukan berarti Geovan tidak ingat dengan kakak kelasnya itu. Perry Diaz yang sekarang berdiri di hadapannya ini tampak berbeda dengan yang ia ingat. Tentu wajahnya masih tetap sama, namun ada beberapa raut wajah yang tidak ia ingat pernah melihat di wajah Perry Diaz sebelumnya. Pemuda itu tampak kikuk dan kebingungan meski Geovan tidak tahu apa yang sebenarnya membuat Perry Diaz kebingungan. Masalahnya ini adalah pertama kalinya Geovan bertemu lagi dengan Perry Diaz setelah masa orientasi berakhir. Geovan bahkan tidak ingat mengenai Perry Diaz andai pemuda itu tidak muncul di hadapannya sekarang ini. "Kak?" Geovan menggerakkan telapak tangannya di depan wajah Perry Diaz yang tampak tidak fokus. "Halo? Kak Perry ada masalah?" Ucap Geovan lebih keras. Perry Diaz mengerjap pelan, sadar bahwa ia melamun. "Geovan, kamu baik-baik saja?" Geovan mengernyit bingung. Bukankah lebih pantas jika yang bertanya seperti itu adalah Geovan? Perry Diaz tampak lebih mengkhawatirkan dibandingkan dirinya sendiri yang baru saja lolos dari pembunuh. Ah, benar juga. Ada apa gerangan sampai seorang Perry Diaz tiba-tiba menghampiri Geovan? "Aku baik-baik saja Kak. Memangnya kenapa?" Perry Diaz menggeleng cepat. "Enggak apa-apa. Lalu temanmu yang cewek itu?" "Baik juga kok, Kak. Kak Perry apa kabar? Aku rasa ini pertama kalinya kita bertemu lagi setelah masa orientasi. Kakak pasti sibuk belajar ya sampai aku bahkan nggak pernah berpapasan sama Kak Perry meski di kantin sekali pun?" "Hah? Oh, hm... Y-ya." Geovan merasakan atmosfer aneh di sekitar Perry Diaz yang membuatnya tampak tidak fokus dengan keadaan sekitarnya. Apakah ada sesuatu yang sangat penting hingga pemuda itu repot-repot menghampiri Geovan? Tapi untuk apa dia menemuu Geovan jika dia sendiri bahkan tampak tidak fokus? Aneh sekali. "Kak Perry nggak enak badan?" Perry Diaz menggeleng. "Aku baik kok." "Oh ya, lalu ada apa Kak Perry datang kesini? Bukan apa-apa sih, tapi aneh aja Kak Perry tiba-tiba datang. Atau Kakak lagi senggang karena nggak ada pelajaran berkat keributan yang baru saja terjadi?" "Geovan, aku dengar kamu berusaha untuk menyelamatkan Julian?" Geovan menggaruk tengkuknya. "Ya karena aku kebetulan ngeliat Kak Julian." "Kalian nggak saling kenal 'kan? Julian bukan anggota OSIS, dan kalian juga tidak tergabung dalam ekskul jurnalistik. Umumnya, murid-murid lain hanya akan melihat di bawah bagaimana Julian berusaha untuk bunuh diri, tetapi kamu malah langsung naik ke atap dan berusaha menyelamatkan dia dengan risiko kamu sendiri bisa jatuh dan tewas. Kenapa?" Geovan tidak mengerti, tapi entah mengapa nada bicara Perry Diaz cukup membuatnya risih. Bahkan jika Geovan tidak butuh informasi dari Julian pun, bukan berarti Geovan tidak akan menolongnya andai ada hal yang mampu ia lakukan. Rasanya, Perry Diaz berbicara seolah Geovan menolong Julian karena mengharapkan sesuatu. Geovan memang mengharapkan sesuatu, namun nyawa seseorang bukan bagian dari hal itu. Geovan tidak suka melihat seseorang meninggal. "Memangnya menolong orang lain harus dilakukan oleh seseorang yang mengenal dekat ya?" Ucap Geovan datar. "Enggak, tapi rasanya aneh sekali berkorban dengan risiko sebesar itu tanpa harapan apapun." Geovan menghela napas. Ia meraih tisu bungkusan kecil dari saku celananya dan mengusap sisa air pada wajahnya. "Kak Perry nggak pernah reflek nolong orang yang nggak kenal? Kak Perry terbiasa diam saja melihat apa yang terjadi karena nggak mau ikut campur?" "Hah? Apa maksud—" "Wow, wow, tenang. Kalau pun Kak Perry melakukan hal itu, aku juga enggak akan nyalahin kok. Tidak mau ikut campur dengan urusan orang lain bukan tindakan kriminal, dan aku rasa kebanyakan orang akan melakukan hal itu apalagi jika berpotensi membahayakan diri sendiri. Tapi mungkin Kak Perry harus ingat sesuatu, bahwa beberapa orang menolong bukan karena menginginkan sesuatu dari orang itu, tapi sedang mengikuti panggilan dari dalam dirinya sendiri. Tenang saja, aku enggak berniat jadi pahlawan kok, nggak minat juga. Lebih baik aku tidur. Tapi untuk kejadian tadi, itu murni karena aku cuma nggak ingin Kak Julian celaka." Perry Diaz terdiam mendengar apa yang dikatakan oleh Geovan. Pemuda itu menunduk sembari memainkan jemarinya. Geovan memperhatikan gestur tersebut dan sebenarnya merasa aneh dengan hal itu. Perry Diaz yang ceria dan murah senyum tampak tidak seperti dirinya yang biasa. Lalu mengapa pula kakak kelasnya ini tiba-tiba mengungkit tentang apa yang dilakukan Geovan untuk menolong Julian? Memangnya mereka saling mengenal kah? "Kak Perry kenal sama Kak Julian?" "H-Hah? Aku eng—" "Orang yang nggak saling kenal biasanya nggak nanyain sampai detail kayak Kakak sih." Pancing Geovan. Ia tahu cara seperti ini agak menyebalkan untuk lawan bicaranya. Geovan memang agak menyebalkan dalam berbagai aspek, dan ia mengakui sendiri hal tersebut. "Aku mau kembali ke kelas." Geovan menahan pergelangan tangan Perry Diaz, membuat kakak kelasnya itu berhenti dan menoleh dengan pandangan bertanya. "Bukankah di kelas nggak ada pelajaran karena keributan yang ditimbulkan dari Kak Julian?" Perry Diaz berusaha menarik pergelangan tangannya. "Aku harus belajar, murid baru sepertimu tidak akan tahu susahnya menjadi senior." "Apa karena senior tertekan makanya kemudian melampiaskannya kepada murid baru?" Geovan tahu pembicaraannya dengan Perry Diaz semakin berputar seiring waktu. Tidak ada topik yang difokuskan dalam percakapan mereka. Geovan sengaja mengajak bicara Perry Diaz terus-terusan hanya untuk melihat reaksinya. Bagaimana pun, sangat aneh melihat Perry Diaz tiba-tiba datang dan mengajaknya bicara dengan ekspresi kikuk. Geovan tidak akan merasa aneh jika yang mengajaknya bicara tidak ia kenal sebelumnya. Masalahnya, Geovan sudah tahu bagaimana sifat Perry Diaz selama masa orientasi. Meski bukan saat yang tepat untuk menilai bagaimana karakternya, setidaknya Geovan paham sedikit banyak kepribadian Perry Diaz berdasarkan kelakuannya selama menjadi pendamping kelompok di masa orientasi murid baru. "Aku nggak tahu, aku bukan panitia inti OSIS untuk orientasi murid baru. Aku harus kembali." Geovan kembali menahan pergelangan tangan Perry Diaz begitu kakak kelasnya itu kembali hendak pergi meninggalkannya. "Kak Perry ingin mengatakan sesuatu 'kan?" "H-Hah? Aku hanya kebetulan lewat." Geovan menggeleng kencang. "Bohong. Normalnya, seseorang nggak akan lewat area ini sendirian kalau nggak ada perlu atau bukan anggota ekskul tenis, dan aku tahu Kak Perry bukan bagian dari ekskul tenis." "Geovan, aku harus kembali ke kelas, bisakah kamu lepaskan tanganku?" Geovan menghela napas, menyerah ketika ia melihat ekspresi murka samar di wajah Perry Diaz. Meskipun Geovan begitu ingin tahu apa sebenarnya yang dipikirkan oleh kakak kelasnya itu, Geovan tidak memiliki niat untuk membuatnya marah. "Baiklah, baiklah, maaf Kak Perry." Perry Diaz membuang napas kasar dan berbalik berjalan meninggalkan Geovan. Geovan baru saja hendak kembali ke kran air untuk mencuci mukanya, namun Perry Diaz kembali dengan ekspresi ragu. "Kak Perry?" "A-Aku ingin mengatakan sesuatu padamu, tapi tidak sekarang." Perry Diaz berbalik dan berlari pergi bahkan sebelum Geovan sadar karena keterkejutannya. "Hah? Kak Perry!" Seru Geovan keras, namun Perry Diaz sudah lebih dulu berbelok dan Geovan juga tidak mungkin mengejarnya. Geovan menyisir rambutnya ke belakang dengan jemarinya. "Sial, aku jadi penasaran." Gumamnya pelan. O||O
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD