Toilet

2126 Words
Memangnya apa yang dilihat oleh Putra sampai-sampai anak itu bereaksi sangat aneh. Ia yang seharusnya ceria dan tampak polos mendadak mundur dengan wajah super ketakutan usai menyentuh bahu Raka. Raka menghela napas, sudah sejak tadi ia hanya duduk diam sembari menopang wajahnya dengan telapak tangan kanan. Kelas masih juga belum diselesaikan karena guru-guru dan beberapa polisi masih mengurus kematian Karina. Mendadak, Raka lupa jika ia seharusnya khawatir dengan dirinya sendiri kalau-kalau polisi menemukan sesuatu yang menghubungkan kematian Karina dengan dirinya. Sudah pasti Raka akan langsung jadi tersangka jika sampai polisi menemukan hubungan antara ia dengan Karina di hari kematian tragisnya. Tapi toh, rasanya Raka sudah terlalu terbiasa dengan hal ini. Katakan saja, usai ia melihat teman sekolahnya bunuh diri, masalah semacam ini selalu saja mengikuti langkahnya. Ketika satu masalah belum juga usai, permasalahan lain langsung datang, terus seperti itu sampai bertumpuk dan membuat Raka tidak tahu harus menyelesaikan yang mana terlebih dahulu. Itu pun jika bisa diselesaikan. Raka menghela napas lega begitu Rayhan mengumumkan bahwa seluruh sekolah sudah diperbolehkan untuk pulang ke rumah masing-masing. Rayhan juga menyampaikan pesan dari Kepala Sekolah bahwa anak-anak dilarang mampir ke mana-mana dan harus kembali ke rumah masing-masing. Jika ada pihak media yang menanyakan mengenai kematian Karina, semuanya dilarang mengatakan apa-apa sebelum autopsi dari rumah sakit keluar. Yang berhak memberikan keterangan hanya dewan sekolah, dan seluruh murid dilarang untuk ikut campur dalam hal apapun. Buku-buku Raka mengemas barang-barangnya yang tersisa. Segalanya benar-benar kacau hari ini. Raka batal mendapatkan informasi mengenai kematian kakak kelas Rayhan, Chima, dan Geovan, dan lebih dari itu dia secara tidak langsung menyebabkan Karina meninggal. Belum juga batinnya beristirahat dari segala kejadian mengejutkan itu, Raka harus bertemu dengan Putra, anak tahun pertama yang mengatakan bahwa takdirnya salah dan harus diperbaiki. Bagaimana memperbaiki takdir? Sungguh, Raka merasa kepalanya ingin meledak saking banyaknya persoalan yang ia pikirkan. "Aku pulang aja deh." "Raka..." Raka berhenti dan berbalik. Chima melambai dengan senyum riang khasnya, tak jauh dari posisi Chima, Geovan berdiri dengan kedua lengan terlipat di dadanya, bersandar pada dinding. Wajah Raka langsung tersenyum senang. Ia menghampiri keduanya dengan riang. "Kukira kalian sudah pulang duluan." Chima menggeleng. "Kita tidak boleh pulang sebelum mendapatkan instruksi 'kan?" "Yah... Jadi, kalian daritadi kemana? Maksudku, kalian cepat sekali pergi dan menghilang di antara kerumunan." "Tidak kemana-mana kok. Oh ya, kau sudah baikan?" Raka mengangguk. "Kurasa. Oh ya, aku masih menagih janji kalian yang mau menceritakan soal kakak kelas kalian itu. Jangan menghin—" "Kak Raka!" Raka berpaling. Putra berjalan sembari melambaikan tangannya. Di sampingnya, Wira menatap Raka dengan sengit dan sama sekali tak menyembunyikan kebenciannya itu. Raka menghela napas diam-diam. Langsung dibenci di kali pertama bertemu tampak sangat buruk, tapi ya sudahlah. Raka juga tidak bisa melakukan apa-apa tentang pendapat seseorang kepadanya. "Hai." Balas Raka. "Kalian belum pulang?" "Kak Raka ngapain sendirian di sini?" "Enggak, aku sama dua temanku. Tuh." Tunjuk Raka pada Geovan dan Chima. "Namanya Geovan dan Chima, aku juga baru berkenalan sih. Sebagai anak baru, belum banyak orang-orang yang kukenal." Putra mengikuti arah jari telunjuk Raka, dan melebarkan kelopak matanya sekilas. "Oh..." Ia kembali menatap Raka. "Apa teman-teman Kak Raka baik?" Raka mengangguk dengan kening berkerut. "Memangnya kenapa?" Putra kembali menatap Chima dan Geovan kemudian mengulas senyum kecil dan sedikit menundukkan kepalanya. "Kalau begitu baguslah. Aku dan Wira pulang dulu ya, Kak. Sampai jumpa!" Serunya riang. "Hm, okay sampai jumpa." Raka masih menatap kedua adik kelasnya itu sampai menghilang di belokan koridor. Ia menggaruk tengkuknya pelan, kemudian mengangkat bahu tak acuh. Putra sudah aneh sejak pertama mereka bertemu, dan Raka merasa wajar jika adik kelasnya itu akan mengatakan hal-hal aneh lagi. “Chima, Geo—kalian kenapa?” Tanya Raka bingung. Chima dan Geovan terdiam dengan kedua mata melebar dan bibir terbuka. Gurat wajahnya menggambarkan keterkejutan yang  baru pertama kali Raka lihat. Arah pandang keduanya berada pada jalur dimana Putra dan Wira menghilang di belokan koridor sekolah. Raka mengernyit, mengikuti arah pandang kedua teman barunya itu dengan perasaan bingung. Mengapa Chima dan Geovan tampak terkejut dengan kehadiran Putra dan Wira? “Chima? Ada apa?” Tanya Raka. “Yang tadi itu siapa, Raka?” “Yang tadi… Oh! Anak tahun pertama, yang manis namanya Putra, yang dingin dan sinis namanya Wira. Kupikir kalian malah lebih tahu soal mereka karena kalian kakak kelasnya. Aku baru bertemu tadi saat berkumpul di aula, kebetulan barisan kelas mereka ada di sebelah barisan kelasku.” Jelas Raka. Gurat shock di wajah Chima dan Geovan masih saja tidak hilang bahkan usai Raka menjelaskan siapa dua anak tahun pertama yang baru saja mereka temui. Raka semakin menjadi bingung dan tidak tahu harus bereaksi seperti apa. Memangnya, apa yang mengejutkan dari bertemu dengan dua anak tahun pertama? Putra bahkan tidak mengatakan hal-hal aneh menjurus menyeramkan seperti yang ia katakan ketika pertama kali bertemu dengan Raka di aula, dan Wira juga tidak bersikap sinis seolah tengah bertemu dengan musuh bebuyutan seperti ketika bertemu dengan Raka. Malah, Raka pikir anak itu sengaja tidak melihat Chima dan Geovan dan memilih mengabaikan saja. Lalu, mengapa Chima dan Geovan bisa terkejut sampai seperti itu? “Chima? Geovan?” “Kurasa, kita bertemu lagi besok saja.” Ujar Chima. Raka melebarkan matanya. “Hah? Padahal aku sudah menunggu untuk mendengarkan cerita tentang kakak kelasmu itu.” Keluh Raka. Chima tidak menjawab apa-apa. Ia berjalan menjauh bersama Geovan, mengabaikan Raka yang berdiri diam seperti orang i***t di sana. Raka menghela napas pelan, benar-benar tidak mengerti dengan tingkah keduanya. Benar, tidak ada yang ia mengerti sejak kakinya menginjak sekolah baru ini. Hanya sejenak ketika Raka kira satu semester terakhirnya di sekolah baru ini akan membawa sedikit kedamaian pasca kasus bunuh diri anak perempuan di sekolah lamanya, dan ternyata semua itu langsung sirna di hari pertama pula Raka datang ke sekolah barunya. Raka melangkah dengan gontai, harap-harap cemas dengan esok hari. Beragam kejadian buruk terjadi dalam satu hari dan semuanya berhubungan dengannya. Raka tidak pernah berpikir hal seperti itu akan terjadi dalam hidupnya, dan sungguh bak dijungkirbalikkan paksa, kehidupan damainya mendadak sirna begitu saja. Raka menggaruk tengkuknya pelan, ia juga tidak memiliki pilihan lain selain harus pulang. Ketika matanya menyapu area sekolah yang mampu ia jangkau, kondisi sudah cukup sepi. Hanya ada beberapa anak saja yang masih tinggal dengan urusan masing-masing. Raka kembali menghela napas, entah sudah yang ke berapa kalinya. “Sudahlah, aku pulang saja. Semoga esok hari lebih baik.” Doa Raka dalam hati. Raka mengulas senyum kecil, yang sebenarnya ia sendiri tidak tahu untuk apa. Ia mengecek ponselnya untuk mengirimkan pesan kepada supir pribadinya. Raka memang tidak pernah mengatakan jam pulang sekolahnya sejak dulu dan memilih menghubungi supirnya ketika ia benar-benar sudah pulang untuk mengantisipasi andai ia memiliki kegiatan lain di luar jam sekolah. Raka duduk pada bangku di depan sekolah. Ada beberapa anak yang sedang duduk menunggu juga di dekatnya. Mereka semua bersama teman masing-masing dan hanya Raka yang sendirian sehingga Raka memilih memainkan ponselnya sembari menunggu jemputannya datang. Tapi sejujurnya, meski ia memainkan ponsel, ia tidak benar-benar fokus dengan benda persegi itu dan sesekali memperhatikan sekitarnya. Lagipula yang ia buka di ponselnya hanya media sosial dan beberapa pesan orang tuanya yang hampir semuanya tidak terlalu penting untuk Raka. Raka menghela napas, untuk pertama kalinya ia merasa lelah menunggu jemputannya. Padahal, ia terbiasa menunggu dan memang lebih suka seperti itu. “Sebaiknya aku tel—“ Raka membelalakkan matanya. Ia baru saja menggeser duduknya karena merasa pinggangnya pegal ketika seorang anak perempuan melewatinya. Ya, harusnya itu adalah hal yang biasa, hanya saja karena posisi Raka yang agak menunduk karena membenarkan celanananya, kedua bola mata Raka menjadi terfokus pada telapak tangan gadis itu. “Pisau.” Gumam Raka pelan. Raka langsung mendongak, gadis itu sudah berbelok dan masuk ke koridor sekolah. Segera Raka menjejalkan ponselnya ke dalam tas dan berlari mengejar gadis itu. Membawa-bawa pisau di sekolah jelas bukan hal yang lazim, apalagi dibawa-bawa ketika jam pulang sekolah dimana kondisi sekolah sudah semakin sepi. Kalau pun kegiatan klub, memangnya klub apa yang butuh memakai pisau seperti itu? Kebanyakan pasti akan menggunakan cutter untuk kebutuhan memotong kertas atau semacamnya. Intinya, pisau dapur besar seperti itu tidak seharusnya dibawa ke sekolah. Ketika Raka sampai di area koridor dalam sekolah, gadis itu berbelok ke kiri di kawasan toilet. Toilet sekolah ini berada di setiap lantai, dan masing-masing lantai menyediakan banyak toilet dengan model menyatu antara toilet laki-laki dengan perempuan. Ada satu pintu masuk yang kemudian bercabang menjadi dua jalur antara jalur toilet laki-laki dengan toilet perempuan. Hanya ada dinding tipis yang memisahkan dua jalur tersebut dan suara-suara di seberang dinding cukup jelas untuk didengarkan dari satu sisi ke sisi lainnya. Raka tidak mungkin langsung mengikuti gadis itu masuk ke toilet perempuan karena jelas tindakannya adalah tidakan amoral. Raka memilih berbelok ke toilet laki-laki dan memilih bilik toilet paling ujung yang menempel dengan dinding pembatas dengan toilet perempuan. Raka menempelkan telinganya pada dinding, berharap tindakannya bukan tindakan amoral dan gadis itu juga tidak melakukan sesuatu yang buruk. Sampai beberapa menit berlalu, Raka tidak mendengar apa-apa selain kucuran air kran yang sengaja dinyalakan dengan penuh. Suara kucuran air kran itu begitu berisik, dan Raka tidak bisa mendengar apapun selain itu. Ia juga tidak tahu apa yang dilakukan Si Gadis sampai di dalam toilet. Raka benar-benar mengalami dilemma besar. Ia tidak mungkin dengan santai memasuki area toilet perempuan dengan alasan memeriksa apakah gadis itu baik-baik saja. Bagaimana jika gadis itu memang tidak kenapa-kenapa dan memang ke toilet karena perlu. Raka bisa mendapatkan masalah lagi dan dianggap sebagai pemuda tidak bermoral karena dengan berani-beraninya masuk ke toilet perempuan. Raka mengacak-acak rambutnya frustrasi. “Apa aku pulang aja ya?” Tanya Raka pada dirinya sendiri. “Lalu bagaimana jika gadis itu bertindak berbahaya? Sekolah sudah sepi pula.” Supir Raka juga sama sekali belum menghubungi jika sudah sampai di depan sekolah. Raka hanya diam duduk di atas toilet dengan pikiran super bingung. Raka kembali menempelkan telinganya pada dinding, dan indera pendengarnya masih saja mendengarkan suara kucuran air kran. Raka menghela napas pasrah, ia harus segera pulang. Raka masih sempat menoleh ke toilet ketika ia bahkan sudah keluar dari toilet. “Semoga kamu baik-baik saja.” Raka berjalan pelan, yang entah mengapa kemudian ia langsung berlari dan langsung masuk ke dalam toilet tanpa memikirkan apapun. “Tunggu… hentikan, okay.” Gadis itu berdiri di luar bilik toilet. Ada beberapa kran di bilik toilet yang dinyalakan sehingga kucuran airnya terdengar sangat deras. Kran di wastafel juga dinyalakan. Pisau dapur yang dibawanya sudah menyayat kulit di pergelangan tangannya, tetapi gadis itu masih tampak kuat berdiri meski darah menetes-netes dari sana. Raka membeku, kedua tangannya terangkat dan berusaha membujuk gadis itu untuk berhenti. Gadis itu berambut pendek sebahu dengan poni yang nyaris menutupi wajahnya, pakaiannya sudah acak-acakan dengan beberapa bercak darah. Ia tidak lagi memakai sepatu dan kakinya basah. Pisau yang ia pegang sudah berada di lehernya. Bergerak sedikit saja, bilah tajam itu pasti akan langsung merobek kulit lehernya. “Apapun masalahmu, menyakiti diri sendiri tidak akan menyelesaikan segalanya.” Raka jelas tidak tahu kalimat yang bagus untuk menghibur seseorang yang tertekan dan hendak membunuh dirinya sendiri. Wajah gadis itu bahkan sama sekali tidak menunjukkan ekspresi kesakitan atau sedih sama sekali. Pandangannya benar-benar kosong, seolah jiwanya sudah tidak ada lagi di dalam tubuhnya. Raka menjadi skeptic dan was-was, apakah gadis ini masih sadar? Atau ia terpengaruh oleh sesuatu? Obat-obatan terlarang, misalnya? Raka mendekat pelan, sangat pelan dan berusaha untuk menjangkau gadis itu. Ia menatap Raka dengan pandangan kosong, bilah tajam pisau itu sudah menggores lehernya, membuat setitik darah muncul dan mengotori kerah putih seragam sekolahnya. Raka meringis, membayangkan rasa perih dari luka itu. Namun, gadis di hadapannya sama sekali tidak tampak kesakitan atau merasakan apapun. “Pergi.” Katanya pelan. “A-Aku akan pergi jika kau mau ikut denganku.” Gadis itu menarik pisau dari lehernya dan menodong Raka. Wajah Raka pucat pasi, ia berdiri dengan tubuh membeku, pisau tajam dengan lumuran darah gadis itu hanya berjarak sekian senti dari wajahnya. Situasi ini benar-benar berbahaya, salah langkah sedikit maka Raka yang akan terluka, pun sebaliknya, gadis itu bisa langsung membunuh dirinya sendiri. Jemari Raka bergetar, butuh keberanian besar untuknya menggerakkan jemarinya sendiri, apalagi dengan todongan pisau tajam di hadapannya. Ketika Raka hendak menarik pisau itu, Si Gadis langsung mengayunkan pisaunya sampai mengenai lengan Raka. Raka menjerit dan langsung terjatuh. Lengannya mengeluarkan darah sangat banyak, dan belum selesai Raka menahan diri dari rasa perih nan panas di lukanya, gadis itu langsung menebas lehernya sendiri secepat kilat. Tubuh gadis itu ambruk, dengan leher menganga lebar, darah segar semakin rata membasahi pintu toilet. Lagi, lagi, dan lagi, Raka selalu berhadapan dengan kematian. Setidaknya dalam satu hari, sudah tiga orang yang mati di hadapannya. Apa yang salah dengannya? Apa yang salah dengan takdirnya? Apa yang harus diperbaiki seperti kata Putra? Raka meremat surai kelamnya dalam situasi frustrasi berat. “Sebenarnya apa yang salah denganku?” Gumam Raka disela tangisnya.    O||O
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD