Raka menghela napas. Entah sudah berapa lama ia berdiri menatap hamparan laut biru di hadapannya. Deburan ombak dan air laut yang mengenai kaki telanjangnya seharusnya membuat Raka kedinginan, namun bukannya merasa demikian, Raka malah merasa sangat nyaman. Setiap hempasan air laut yang mengenai kakinya terasa dingin, tetapi sedikit pun Raka tidak merasa menggigil. Embusan angin semakin keras seiring waktu, membawa ombak semakin tinggi. Raka menunduk, memperhatikan celana pendeknya yang hampir basah seluruhnya. Sejak Raka keluar dari rumah Nenek Tarmi, pikiran Raka entah ke mana. Ia hanya ingin mendekat dengan laut dan merasakan setiap tetesnya. Kenyamanan tersebut benar-benar membuatnya terlena. Sesekali, Raka mendengar suara-suara yang seolah datang dari kepalanya sendiri. Mengatakan pad

