Bab 3 p*****l

1569 Words
Nadia dibawa ke sebuah kamar, lalu bodyguard itu meninggalkan Nadia di kamar. Kamarnya besar dan bernuansa putih, Nadia berusaha membuka pintu kamar tetapi ternyata pintunya dikunci. "Buka pintunya, aku mohon tolong buka pintunya aku ingin pulang aku nggak mau disini." Nadia terus-terusan memohon dari dalam kamar agar dilepaskan, tetapi teriakanya dihiraukan oleh para bodyguard. Nadia terduduk di lantai sebelah tempat tidur, dia tertunduk dengan pikiran yang penuh dengan pertanyaan yang belum ada jawabanya. Entah sampai kapan dia akan dikurung di kamar itu? Karena kecapean Nadia akhirnya ketiduran, kepalanya disandarkan di tempat tidur. Tak lama pintu kamarnya terbuka, seorang laki-laki masuk ke kamar. Iya benar dialah David Mahendra. David melihat Nadia yang sedang tidur dengan seksama, David yang merasa kasihan lalu memindahkan Nadia ke tempat tidur. Entah apa yang dirasakan David saat ini, dia merasa tidak tega menyakiti Nadia. David langsung keluar dari kamar itu karena tidak tega melihat Nadia yang berantakan karena menangis. Nadia bangun dari tidurnya, dia merasa heran karena seingatnya tadi dia ketiduran di lantai. Tetapi saat dia bangun dia sudah berada di tempat tidur, pintu dibuka, seorang pelayan membawakan makanan untuknya. "Nona ini makananya saya taruh disini ya," ujar Bi Ima sambil meletakan makanan di atas meja yang terletak di sebelah tempat tidur. "Apa ibu tahu mengapa saya dibawa ke sini?" tanya Nadia yang tidak mendapat jawaban dari Bi Ima. "Saya permisi Nona." Bi Ima langsung keluar dari kamar itu. Bi Ima sebenarnya tau mengapa Nadia dibawa ke rumah ini, tetapi dia enggan menjawabnya. Nadia menghela nafasnya, sebenarnya dia enggan untuk makan tetapi cacing di perutnya sudah mulai berdemo. Nadia bangkit dari tempat tidurnya, dia menuju ke kamar mandi untuk mencuci mukanya terlebih dahulu. Nadia menatap dirinya melalui pantulan cermin, matanya terlihat sembab karena tadi dia menangis. "Jangan sedih Nad, semua akan baik-baik saja. Harus yakin nggak akan ada hal buruk yang akan terjadi." Nadia berbicara kepada dirinya sendiri untuk menenangkan dirinya. Nadia keluar dari kamar mandi, dia langsung melahap habis makanan nya. Nadia mengamati kamar itu, tiba-tiba pintu kamarnya terbuka. Dia menoleh ke arah pintu untuk melihat siapa yang masuk, betapa terkejutnya dia ketika laki-laki itulah yang masuk. David melangkah mendekati Nadia, dia langsung was was melihat itu. "Apa maumu???!!!" "Yang aku mau adalah dirimu," ujarnya lalu tersenyum licik. "A...apa maumu??? Ja...jangan mendekat!!" Nadia semakin gemetaran. David masih tetap mendekati Nadia dan tanpa basa basi dia langsung melumat bibir Nadia dengan kasar. Nadia memberontak dia terus memukul d**a bidang David tetapi David menghiraukanya. Nadia tidak bisa melepaskan ciuman itu karena kepalanya ditahan oleh tangan David. Tidak ada jarak diantara mereka karena tangan kiri David memegang pinggang Nadia yang membuat mereka menempel. David melepaskan ciumanya dan Nadia dengan reflek menampar pipi David. David nampak marah dengan hal itu, wajahnya merah padam menahan amarahnya. "Tubuhmu bagus juga, tapi tenang saja aku tidak akan melakukanya sekarang. Aku akan melakukannya setelah kita sah menjadi suami istri." David tersenyum licik lalu meninggalkan Nadia yang masih mematung. Dia sengaja mengatakan itu untuk menakuti Nadia. Nadia terkejut mendengar perkataan David, setelah David keluar dari kamarnya dia langsung menuju kamar mandi. Nadia membasuh bibirnya secara kasar, dia merasa jijik karena telah disentuh laki-laki itu. Hari semakin gelap tetapi Nadia masih belum bisa memejamkan matanya. Nadia menatap langit-langit kamarnya, entah apa yang ada didalam pikiranya. Ceklek. Pintu kamarnya dibuka, David berdiri di ambang pintu. David menatap Nadia penuh teliti dan dibalas tatapan kebencian dan ketakutan dari Nadia. David berjalan menghampiri Nadia, dia berdiri di depan Nadia dengan kedua tangan yang dimasukkan ke saku celana. "Kau akan suka rela ikut dengan ku atau aku harus memaksamu?" "Kemana?" tanya Nadia penuh kecurigaan. "Mau ikut apa aku paksa?" "Aku maunya pulang," gumam lirih Nadia. David langsung menggendong Nadia dengan cara Fireman's Carry. Nadia memberontak ingin diturunkan tetapi David tidak mendengarnya. "Turunin aku!!! Kau mau bawa aku kemana? Tolong.... tolong aku diculik p*****l!!!" Teriakan Nadia didengar Rio dan Andre, mereka menahan tawanya mendengar Nadia mengatai David seorang p*****l. David menurunkan Nadia di samping mobil, dia lalu membuka pintu penumpang. "Masuk!" "Engga!!" teriak Nadia lalu dia langsung berlari menjauh dari David tetapi David dengan mudah menangkapnya. David memasukan Nadia ke dalam bagasi mobil. Setelah itu dia langsung masuk ke dalam mobil bersama Rio dan Andre. "Vid, kau nggak kasihan dengan Nadia?" tanya Andre. "Dia sendiri yang memilih di sana," jawab David dengan santainya dia lalu menyuruh Rio untuk menjalankan mobilnya. Di dalam bagasi Nadia terus berteriak sampai Nadia kecapean akhirnya dia memilih untuk diam. David yang tidak mendengar suara Nadia lagi, dia meminta Rio untuk menghentikan mobilnya. David keluar dari mobil dan membuka bagasi, Nadia yang melihat bagasinya terbuka langsung keluar. Karena terburu-buru membuat tubuh Nadia tidak seimbang dan hampir saja terjatuh, untungnya tangan David memegang lengan Nadia. David lalu menarik lengan Nadia dan membuka pintu penumpang. "Masih tetap mau di bagasi atau masuk?!" Nadia akhirnya menurut dan masuk ke dalam mobil, dia duduk di samping David. Rio mengemudikan mobilnya lagi, Nadia terus mengamati jalanan yang dilalui. Mobilnya lalu melewati jalan yang sepi dengan kiri kanan penuh dengan pepohonan. Lalu mobil itu masuk ke dalam hutan, Nadia yang melihat bahwa mobilnya masuk ke dalam hutan merasa panik. "Kenapa ke hutan? Kalian mau ngapain?!!!" Tidak ada jawaban dari David, Andre maupun Rio. "Kalian beneran ped*fill!!!!" Nadia panik karena mobilnya terus masuk ke hutan. "Turunin aku!!!" teriak Nadia. "Kau yakin mau turun disini?" tanya David dengan menarik sebelah bibirnya. "Rio hentikan mobilnya!" perintah David dan Rio langsung menghentikan mobilnya. "Silahkan turun kalau memang mau turun," ujar David. Nadia yang melihat sekeliling merasa ngeri dan mengurungkan niatnya. David yang melihat Nadia terdiam lalu menyuruh Rio untuk menjalankan mobilnya lagi. Nadia mengamati sekitar dan mencoba menghafal jalan, dia melakukan itu untuk berjaga-jaga jika nanti hal buruk terjadi padanya. Setelah 30 menit masuk ke hutan, terlihatlah sebuah mansion mewah. Nadia memandang mansion itu dengan sangat kagum, dia enggak menyangka di dalam hutan ada sebuah mansion yang sangat mewah. David keluar dari mobil dan menyuruh Nadia untuk ikut masuk ke dalam. Nadia dibawa masuk ke dalam mansion itu dan David menunjukan kamar Nadia. ~~~ Pagi hari setelah Nadia mandi ada pelayan yang membawakan makanan untuk Nadia, Nadia dikurung di kamar itu. Setelah meletakan makananya di meja pelayan itu keluar dari kamar. Nadia memakan makananya dengan sangat lahap, selain karena lapar makanannya memang enak. Dalam sekejap makanan itu telah habis. Nadia merasa bosan di dalam kamar dia lalu berjalan bolak balik seperti setrikaan. Nggak pegang ponsel nggak ada televisi ataupun buku membuat Nadia bingung harus ngapain. David membuka pintu kamar Nadia dan melihat Nadia yang mondar mandir tetapi Nadia tidak sadar bahwa David memperhatikanya. Nadia lalu berakting menjadi David, dia juga menirukan suara David. "Tubuhmu bagus juga, tapi tenang saja aku tidak akan melakukanya sekarang. Aku akan melakukannya setelah kita sah menjadi suami istri." Nadia bertingkah seperti David dari cara dia berbicara juga cara dia berdiri. "Kau akan suka rela ikut dengan ku atau aku paksa?!" Lanjut Nadia lagi. "Dasar laki-laki tidak waras beraninya memaksaku," gerutu Nadia tanpa mengetahui jika David ada disana. "Aghem," dehem David yang membuat Nadia terkejut. "Apa kamu udah nggak waras?" Pertanyaan itu terdengar seperti sindiran ditelinga Nadia. "Ma_Maaf," ujar lirih Nadia dengan menundukan kepalanya. "Oh." "Cuman oh," batin Nadia. "Ais beraninya ketika tidak ada aku, setelah berhadapan langsung denganku bahkan tidak berani menatapku," sindir David lagi. Tanpa aba-aba David melangkah mendekati Nadia dan langsung melumat bibir Nadia. Nadia memberontak tetapi itu tidak membuat David melepaskan lumatannya. "Anda gila!!! Teriak Nadia setelah David melepaskanya. David tidak peduli dengan ocehan Nadia dan dia keluar dari kamar itu dengan santainya seperti tidak terjadi apa-apa. "Ped*fil!!!!" Teriak Nadia dengan sangat kesal. Setelah menci*m Nadia, David menuju ke kamarnya dan bersiap untuk pergi ke Paris. "Vid sudah waktunya pergi," ujar Andre. David langsung keluar dari kamarnya, David berhenti sejenak saat melewati kamar Nadia. Dia lalu memutuskan untuk melihat Nadia terlebih dahulu. David membuka pintu kamar itu, dilihatnya gadis kecil itu yang sedang berdiri di balkon kamarnya. David berjalan menghampiri Nadia, Nadia yang masih melamun tidak menyadari kedatangan David. "Ehem." Nadia tersadar dari lamunannya karena mendengar suara David. "Mau apa lagi Om ke sini??!!!" "Galak juga kau ya, aku engga akan ngapa-ngapain cuman mau memberitau kalau aku akan ke Paris selama seminggu. Selama aku di sana jangan bertindak sesuatu yang membuat ku marah, atau kau akan menyesal nantinya." David melangkah mendekati Nadia, Nadia melihat David dengan was was. "Ngapain Anda dekat!!! Mundur!!!" David langsung menarik Nadia hingga tubuh mereka menempel, seketika David langsung m*****t bibir Nadia. Entah mengapa David merasa candu dengan bibir Nadia. Nadia memukul-mukul d**a David tetapi David tidak melepaskan c****nya, dia baru melepas kan c****nya saat Nadia kehabisan Nafas. Setelah itu David langsung berjalan meninggalkan Nadia yang masih mengatur nafasnya. "Dasar ped*fil!!!!" teriak Nadia. David menyeringai mendengar teriakan Nadia. David masuk kedalam mobilnya bersama Andre dengan Rio yang menjadi supirnya. "Kau bilang akan menyiksanya tapi mengapa kau malah menci*mnya?" tanya Andre sambil melihat David melalui spion tengah. "Itu salah satu caraku menyiksanya." "Tapi kau menikmatinya," celetuk Rio. David menatap Rio dengan tatapan tajamnya. "Sudahlah jangan menatapku dengan tatapan membunuhmu," tegur Rio. "Lagian Vid menurutku walaupun memang benar Om Daniel pelakunya, Nadia nggak ada sangkut pautnya tentang kejadian itu." "Yo kenapa kau selalu membela Nadia, kau jatuh cinta dengan nya?" "Terserah kaulah ku harap kau tidak akan menyesal nantinya." "Aku tau Vid kau sangat menyayangi Nadia, dengan kau nantinya menyisa Nadia itu juga berarti kau menyiksa dirimu sendiri," gumam Andre. "Sudahlah kalian diam, aku nggak akan menyesali apapun dan aku nggak akan tersiksa," seru David.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD