Dua Hari Setelah Kepergian David
Nadia berdiri di balkon kamarnya, dia merasa frustasi karena tidak bisa kabur dari mansion itu. Bodyguard dimana-mana bahkan di depan kamarnya pun ada 2 bodyguard yang menjaga.
Bagaimana dia bisa keluar dari mansion itu sedangkan keluar dari kamar saja dia tidak bisa. Nadia terus berpikir bagaimana caranya agar para bodyguard itu tidak menjaganya lagi.
"Lagian waktu Om itu biarin aku pergi kenapa nggak pergi aja sih, bego banget sih aku."
Tok tok tok
Nadia yang mendengar ada yang mengetuk pintu menoleh ke arah pintu, Bi Ima masuk ke dalam kamar Nadia.
"Non, Nak David memperbolehkan Nona untuk keluar dari kamar. Jadi Nona bisa makan di meja makan, Bibi udah siapin buat Nona."
Mendengar perkataan Bi Ima Nadia merasa sangat senang, seolah-olah Tuhan benar-benar berpihak pada dirinya.
"Akhirnya Tuhan mendengar doa ku," batin Nadia.
Nadia keluar dari kamarnya bersama Bi Ima menuju ruang makan. Nadia lalu duduk di meja makan. "Bi, Bibi udah makan?"
"Belum Non."
"Bibi makan bareng Nadia ya," ajak Nadia.
"Engga Non nggak enak," tolak Bi Ima.
"Ayolah Bi, Nadia nggak mau makan sendirian," bujuk Nadia.
"Hmm baiklah Non." Bi Ima akhirnya menyetujui permintaan Nadia.
"Bibi jangan panggil Non, panggil Nadia aja."
"Kan Bibi pembantu di sini Non."
"Nggak papa Bi, panggil Nadia aja ya," bujuk Nadia.
"Yaudah iya deh Nak Nadia." Mereka lalu sarapan bersama. Setelah sarapan Nadia berjalan mengelilingi mansion itu.
Nadia tidak sekedar berjalan di mansion itu tetapi dia juga mencari celah mansion itu untuk dia kabur nantinya. Dia sendiri sebenarnya tau bahwa sulit untuk keluar dari mansion itu, meskipun bisa keluar dari mansion itu dia akan sulit menuju ke kota.
Selama berjalan Nadia tidak lagi melihat para bodyguard, dia merasa heran tetapi juga merasa lega. Karena itu berarti akan mempermuda dia kabur dari sini. Dia melihat ada taman di sana, Nadia pun duduk di kursi taman itu. Tamanya sangat indah Nadia melihat bunga Tulip disana, Nadia berjalan menuju bunga-bunga Tulip itu.
Nadia merasa senang melihat banyak bunga Tulip ditanam di taman itu, karena bunga Tulip adalah bunga kesukaanya. Bunga Tulip yang ditanam berwarna-warna, sangat indah dipandang.
Bunga tulip itu melambangkan permohonan maaf, pernyataan cinta, kepedulian, kemewahan, semangat tinggi, dan persahabatan. Tetapi secara umum, bunga tulip melambangkan cinta yang sempurna. Jika warnanya bermacam-macam, bunga tulip memiliki makna keindahan cinta yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata.
"Dari tadi aku berjalan kok nggak liat ya ada keluarganya, yang aku lihat cuman para pelayan. Apa dia tinggal sendiri di mansion sebesar ini???. Entahlah aku nggak peduli, lagi pula aku akan pergi dari mansion ini," batin Nadia.
~~~
David duduk di sofa, tak lama Andre dan Rio menghampirinya. "Apa rencanamu sebenarnya?" tanya Andre to the point.
"Tidak ada rencana apapun."
"Mengapa kau menarik semua bodyguard yang menjaga Nadia?" tanya Rio yang duduk di sofa depan David.
"Aku cuman ingin tau sepintar apa dia, apa dia bisa keluar dari mansion itu meski ada para penjaga."
"Tapi Vid jika Nadia memang bisa keluar dari mansion itu akan bahaya buat dirinya, kau tau sendirikan dari mansion ke kota itu jauh Vid."
"Yo kenapa kau selalu khawatir dengan Nadia? Apa karena aku menugaskanmu mengawasi Nadia selama ini kau jadi jatuh cinta dengan nya?"
"Aku tidak jatuh cinta dengan Nadia, aku khawatir dengannya karena dia anak Om Daniel," jawab Rio dengan tegas.
"Tapi Daniel yang telah membunuh Papa aku!!!"
"Walaupun itu benar Nadia nggak ada sangkut pautnya sama sekali dengan kejadian itu!!!"
"Kenapa kalian jadi berantem sih!!! Aku nggak akan membela siapapun tapi perkataan Rio benar Vid, jika Nadia berhasil keluar dari mansion itu akan bahaya buat keselamatan Nadia. Sekeliling mansion itu hutan Vid!!!"
"Itu resikonya, suruh siapa kabur dariku," gumam David dengan santainya.
"Sumpah aku berharap kau gak nyesel Vid!!!" Rio lalu bangkit dari duduknya dengan perasaan yang kesal.
Andre memandang David dengan seksama, seakan-akan ingin membaca pikiran David. "Kenapa kau menatapku seperti itu?"
"Gak papa," jawab Andre singkat.
"Aku yakin seratus persen kau gak akan biarin Nadia kenapa-napa," batin Andre. Andre lalu pergi meninggalkan David dan membiarkan David duduk sendirian.
~~
Jam 11 malam Nadia mulai menjalankan aksinya untuk kabur dari sana. Meskipun tidak ada bodyguard tetapi masih ada penjaga yang menjaga pintu gerbang.
Nadia melihat ada dua penjaga yang menjaga pintu gerbang, sedangkan penjaga lainya berkeliling mengelilingi rumah. Dia mengendap ngendap dengan membawa satu batang kayu di tangan.
Buk buk satu penjaga pingsan karena kena pukulan dari kayu itu, penjaga lainya yang belum siap menghindar telah mendapat pukulan juga. Akhirnya dua penjaga itu pun pingsan. Nadia dengan mudah membuka pintu gerbang, dia merasa aneh karena pintu gerbang yang tidak dikunci.
Tanpa pikir panjang Nadia langsung lari menjauh dari mansion itu, malam itu saat David membawa Nadia ke mansion Nadia mengamati jalan yang dilalui. Dengan susah payah Nadia mencoba mengingat-ngingat akhirnya dia bisa keluar dari hutan yang gelap itu.
Nadia menyusuri jalanan yang gelap tanpa penerangan itu dengan sisa tenaganya. Karena untuk keluar dari hutan itu membutuhkan waktu hampir dua jam lamanya.
Setelah hampir satu jam dia menyusuri jalanan itu terlihat sekelompok laki-laki yang sedang berkumpul di pinggir jalan. Nadia sedikit khawatir tetapi dia tetap berjalan melewati sekelompok orang itu tanpa melihat ke arah mereka.
"Cantik mau kemana malam-malam gini?" Tanya salah satu laki-laki itu.
Nadia tetap berjalan tanpa menoleh ke arah mereka, tangan Nadia ditarik salah satu laki-laki itu dan laki-laki itu menatap Nadia dengan tatapan jahatnya. Nadia menarik tangannya dengan kasar dan mencoba untuk berlari tetapi lima laki-laki itu berdiri mengelilingi Nadia.
Nadia yang berada ditengah lima laki-laki membuat nyalinya ciut. Tak akan mungkin Nadia bisa melawan mereka apalagi dengan keadaan Nadia yang telah kelelahan berjalan kurang lebih 3 jam itu.
"Ikut kami aja dulu, nanti setelah selesai baru kami antar kamu pulang," ujar salah satu dari mereka.
Salah satu dari mereka mencoba memegang tubuh Nadia, tetapi Nadia menepisnya. "Jangan kurang ajar!!!"
"Cantik-cantik kok galak."
"Mumpung kami masih baik-baik ayolah jangan melawan."
"Minggir!!!" Bentak Nadia.
Salah satu memegang pipi Nadia, dan Nadia langsung menendang bawah perut laki-laki itu yang membuatnya merintih kesakitan.
Buk... Satu pukulan mendarat di punggung Nadia yang membuat Nadia tak sadarkan diri. Mereka membawa Nadia ke sebuah bangunan kosong. Nadia dibaringkan di sana, tak lama Nadiapun sadar dari pingsan nya.
Nadia tersadar dengan tangan dan kaki yang telah diikat, posisi Nadia sekarang seperti huruf X. "Mau apa kalian???!!!! Lepaskan aku!!!!" Nadia berteriak.
Mereka malah tertawa melihat wajah panik Nadia, salah satu dari mereka mulai mendekati Nadia. "Mau apa kau???!!!" Tanya Nadia dengan panik.
Tetapi orang itu tetap mendekati Nadia dan memegang wajah Nadia. "Tolong tolong...." teriak Nadia meminta tolong berharap ada yang mendengarnya.
Karena Nadia terus memberontak dan berteriak-teriak salah satu dari mereka pun menampar pipi Nadia. Plak. Nadia meringis kesakitan karena tamparan tersebut, ada bekas merah di pipi Nadia.
Tamparan itu bukanya membuat Nadia diam tetapi malah membuat Nadia semakin memberontak dan berteriak-teriak. Srek. Baju Nadia dirobek oleh mereka, air mata Nadia Pun menetes.
Tiba-tiba pintu gudang itu didobrak oleh seseorang, orang itu langsung menendang laki-laki yang menyentuh Nadia. Seseorang itu tak lain adalah David Mahendra.
David langsung membabi buta mereka berlima. Dalam sekejap lima orang itu langsung terkapar, David lalu melepaskan ikatan Nadia dia lalu menutupi tubuh Nadia dengan jasnya. David menggendong Nadia ala bridal style keluar dari gudang itu.
David membawa Nadia masuk ke dalam mobil, didalam mobil David terus memeluk Nadia. Nadia membenamkan wajahnya di d**a David, beberapa bulir air mata masih keluar dari pelupuk mata Nadia. Rio mengendarai mobilnya menuju mansion sedangkan Andre mengurus lima berandalan itu.
David mengelus lembut kepala Nadia sambil sesekali mengecupnya. Ada perasaan tenang dihati Nadia saat berada dipelukan David. Sepanjang perjalanan tidak ada yang berbicara satu sama lain, setelah sampai di mansion David langsung menggendong Nadia masuk ke kamarnya.
Nadia dibaringkan di atas tempat tidur, dia dibantu Bi Ima mengganti pakainya. Tak lama Dokter Sisca dan Dokter Rizky datang, Dokter Sisca langsung memeriksa Nadia.
Setelah mengobati luka Nadia, Dokter Sisca dan Dokter Rizky pun pamit untuk pulang, Nadya lalu tertidur. David menatap wajah Nadia yang sedang tertidur, ada perasaan menyesal didalam dirinya.
David memang membenci Nadia tetapi entah mengapa melihat keadaan Nadia membuatnya merasakan sakit dihatinya. David memilih meninggalkan Nadia yang masih tertidur, dia masuk ke dalam kamarnya.
David memijat-mijat keningnya dia lalu melempar barang yang ada di meja samping tempat tidurnya untuk meluapkan emosinya. "Kau menyesal sekarang?" Rio yang berdiri di ambang pintu.
David menatap Rio sekilas lalu mengalihkan pandangannya, dia pun enggan menjawab pertanyaan Rio. "Apa kau masih belum menyadarinya David Mahendra?"
"Menyadari apa?!"
"Menyadari bahwa sebenarnya kau menyukai Nadia, tetapi kau gengsi."
"Bagaimana mungkin aku menyukai anak pembunuh Papaku!"
"Penyesalan itu datangnya di akhir. Maka, ku harap kau berfikir dulu sebelum bertindak agar kau tak menyesal nantinya." Gumam Rio yang lalu mendapat tatapan tidak menyenangkan dari David. "Jika tadi kita terlambat sedikit saja aku benar-benar akan membunuh mu David!" Rio pergi dari kamar David dengan membanting pintu.
~~~
Nadia berdiri di balkon kamarnya saat David masuk ke dalam kamar. Nadia menoleh kearah pintu dan nampak sosok David disana, David langsung menghampiri Nadia.
"Apa kau masih memikirkan cara untuk kabur dari sini?" Nadia menoleh sekilas ke arah David yang sudah berdiri di sampingnya tanpa menjawab pertanyaan dari David.
"Makasih," ujar Nadia.
"Untuk?"
"Semalem," jawab singkat Nadia.
"Nggak ada yang gratis sayang, bagaimana kalau kita...." kata-kata David yang menggantung dengan ekspresi wajah yang m***m membuat Nadia merinding.
"Hiiii dasar p*****l m***m," teriak Nadia sambil menginjak kaki David.