Bab 6 Hari Pertama Kuliah

1557 Words
Setelah selesai sarapan Nadia membereskan bekas piring David. "Sudah selesai?" tanya seseorang yang membuat Nadia kaget. Dia langsung menoleh kebelakang, nampaklah David yang sudah berdiri disamping meja yang ada di dapur. "Sudah," jawab singkat Nadia. "Ayo ikut," perintah David. Nadia langsung mengikuti David dari belakang. David masuk ke dalam mobil dan Nadia masih berdiri di dekat pintu mobil. "Masuk." "Mau kemana?" tanya Nadia was-was. "Masuk jangan banyak tanya," perintah David lagi. Nadia langsung masuk ke dalam mobil dia duduk di samping David. Rio lalu langsung menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang keluar dari mansion itu. Nadia tak berani bertanya lagi dengan David kemana tujuan mereka. Dia terus memandang keluar jendela, mobil melaju di dalam hutan yang penuh pepohonan itu. Nadia jadi mengingat malam itu dia melewati hutan sendirian tanpa rasa takut, dan berujung bertemu para pemuda berandalan itu. Nadia menghembuskan nafasnya pelan mengingat kejadian itu. "Ini." David memberikan sebuah kotak kepada Nadia. Nadia memicingkan sebelah matanya, David meletakan kotak itu di antara mereka duduk. "Gunakan itu." Nadia mengambil kotak yang berisi ponsel itu, dia membuka ponsel itu. Ponselnya sudah menyala di dalamnya cuman ada kontak David, Andre, Rio, Bi Ima, Bi Lastri dan telepon rumah. "Terimakasih," Nadia berterima kasih sambil menatap kearah David. Tatapan David tetap lurus ke depan tanpa sedikitpun memandang Nadia. Perjalanan yang cukup panjang sampai akhirnya mereka pun tiba di rumah David. David langsung turun dari mobil dan masuk ke dalam rumah diikuti oleh Nadia. "Masuklah ke kamarmu!" perintah David. Tanpa mengatakan apapun Nadia langsung masuk ke dalam kamarnya. "Setiap kata yang keluar dari mulutnya terdengar sangat dingin," batin Nadia. Rio masuk ke dalam ruang kerja David, ada yang ingin dikatakan oleh David ke Rio jadi dia meminta Rio menemuinya. David duduk di meja kerjanya dan tengah fokus dengan laptop di depannya. "Ada apa Vid?" tanya Rio membuat David sadar jika Rio berada disana. "Ouh kau sudah datang, aku cuman mau memintamu selalu mengawasi Nadia di kampusnya." "Kenapa?" tanya Rio dia lalu duduk di kursi yang berada di depan David. "Aku cuman tak ingin dia kabur dariku lagi." "Bukankah di ponselnya sudah kau pasang gps, kenapa kau masih khawatir?" "Dia bisa saja membuang ponsel itu Rio!" "Hm baiklah aku akan selalu mengawasinya," Rio mengiyakan perintah David kemudian dia keluar dari ruangan David. *** Ini hari pertama Nadia kuliah, sebelum berangkat tak lupa dia memasak sarapan untuk David terlebih dahulu. Setelah itu dia lalu makan dan berangkat diantar oleh Rio. David menugaskan Rio untuk selalu mengawasi Nadia. Rio membukakan pintu penumpang untuk Nadia, tetapi Nadia malah memilih duduk disamping sopir. "Nad." "Aku mau duduk disini kakak, udah buruan ayo kakak masuk," ujar Nadia. Rio lalu berlari kecil memutari mobil, dia duduk disamping Nadia lalu langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. "Apa kakak akan menungguku sampai selesai kuliah?" tanya Nadia sambil menoleh ke arah Rio yang sedang fokus menyetir. "Iya itu perintahnya." "Hmm lagian Tuan itu aneh banget," "Aneh gimana?" tanya Rio tak mengerti. "Ya ngapain dia nyuruh kakak mengawasi aku." Rio menghela nafasnya pelan. "Nadia yang cantik dia ngelakuin itu karena dia sayang sama kamu, dia nggak mau kamu kenapa-kenapa." "Ihhh kakak kalau ngomong suka ngaco deh, dia nikahin aku kan karena paman ku hutang ke dia." "Tapi kalau dia beneran jatuh cinta ke kamu bagaimana?" tanya Rio sambil sekilas melihat ke arah Nadia. "Ya itu hak dia, aku nggak bisa dong ngelarang orang lain buat suka atau enggak suka sama seseorang." "Apa kamu akan mencintainya juga?" Nadia hening sejenak sampai akhirnya dia menjawab. "Untuk saat ini engga, aku mencintai orang lain." "Siapa?" "Iiihhh kakak kepo." "Kan pengen tau Nad." "Dia cinta pertamaku aku jatuh cinta kepadanya saat usiaku 8 tahun, aneh bukan seorang anak kecil yang jatuh cinta," ujar Nadia sambil terkekeh. "Tapi cinta itu bertahan sampai sekarang, meskipun aku tak pernah bertemu dengannya lagi tapi rasa ini masih sama," sambung Nadia. "Kenapa kamu jatuh cinta dengan nya?" Tanya Rio penasaran. "Dia sosok laki-laki yang pintar baik dan dia humoris, sangat berbeda dengan David yang sekarang menjadi suamiku. Namanya sama tetapi sikapnya berbeda seperti langit dan bumi." "Maksud kamu?" "Cinta pertamaku bernama David, David Mahendra sosok laki-laki yang menganggapku adiknya tetapi aku malah mencintainya." Perkataan Nadia membuat Rio menoleh ke arahnya. "Kakak awas," teriak Nadia saat Rio hampir menabrak pejalan kaki. Rio langsung menatap ke depan dan langsung mengerem. Untungnya Rio segera mengerem jadi dia tidak menabrak pejalan kaki itu. Jarak pejalan kaki itu dengan mobil kurang dari satu meter. Rio dan Nadia langsung keluar mobil untuk memeriksa pejalan kaki itu. "Maaf bu maaf saya hampir menabrak ibu, maaf ya bu saya kurang konsentrasi tadi," ujar Rio meminta maaf kepada ibu pejalan kaki itu. "Iya nak nggak papa, lain kali hati-hati ya," nasehat ibu itu. "Beneran ibu nggak papa?" Tanya Nadia khawatir "Nggak papa nak, ya sudah ibu pergi dulu ya kalian lanjutkan perjalanan kalian." "Iya bu hati-hati ya," ujar Rio lalu ibu itu berjalan meninggalkan Rio dan Nadia. Rio dan Nadia masuk kembali ke dalam mobil. "Lagian kakak nyetir bukanya lihat ke depan malah liat ke arahku." "Iya iya maaf, tadi kaget aja." "Kaget ya karena namanya sama dengan Tuan kakak itu." "Hmmm" Setelah sampai di kampus Nadia langsung keluar dari mobil. "Aku masuk dulu kak," pamit Nadia. "Iya Nad," ujar Rio sambil tersenyum. Rio menunggu Nadia sampai Nadia selesai kuliah karena David takut Nadia kabur darinya. ~~~ Nadia telah selesai kuliah, hari ini cuman ospek mahasiswa baru. Dia berjalan menuju parkiran tempat Rio memarkirkan mobilnya. Tadi saat kegiatan dia melihat beberapa kali Rio mengawasinya dari jauh, jujur saja Nadia merasa risih karena diawasi seperti itu. "Nad Nadia," panggil seseorang yang membuat Nadia langsung menoleh ke sumber suara tersebut. Nampaklah Lina yang sedang berlari kecil ke arahnya. "Lina." Mereka lalu berpelukan wajah mereka tampak sangat senang. "Kamu kuliah disini Nad?" "Iya Lin, kau juga disini bukanya kau bilang akan ikut ayahmu ya." "Iya ayah sekarang bekerja di kota ini, kau sendiri bagaimana bisa kuliah disini? Lama engga ada kabar juga aku tuh khawatir tau." "Hmm iya maaf ya Lin." "Ayok cari tempat untuk duduk aku ingin kamu bercerita apa yang terjadi satu bulan terakhir ini," Nadia merasa ragu dengan ajakan Lina dia takut jika harus pulang telat. Tanpa sengaja mata Nadia bertemu dengan Rio yang tidak jauh dari tempat Nadia berdiri, yang pastinya Rio bisa mendengar percakapan nya tadi dengan Lina. Rio menganggukan kepala tanda memberikan izin kepada Nadia. "Yasudah ayo kita duduk di taman itu." Mereka lalu menuju taman yang berada di kampus itu. "Gimana? Kau baik-baik saja kan? Pamanmu macam-macam lagi sama kamu ya?" "Lina aku baik-baik saja, kamu lihat sendiri kan aku sehat seperti ini." "Iya terus kemana aja selama satu bulan ini kau tidak ada kabar, ponselmu tidak aktif." "Satu bulan terakhir ini aku tinggal dengan saudara jauh ayah, dan ponselku memang hilang makanya aku tidak bisa menghubungi mu." "Saudara? Dia baikkan? Tidak jahat seperti pamanmu itu?" "Iya Lina sayang dia baik buktinya saja dia kuliahin aku disini, kemarin dia baru saja membelikan ponsel baru kepadaku aku belum sempat menghubungimu. Maaf ya." "Nggak papa Nad, aku lega dengernya karena kamu sekarang hidup lebih baik." "Oh ya aku minta nomormu lagi, niatnya sih hari ini aku mau menghubungimu melalui media sosial tetapi ternyata bertemu denganmu disini jadi aku langsung saja meminta kepadamu." Lina lalu mengetikan nomernya di ponsel Nadia. "Oh ya bagaimana kalau kau main ke rumahku dulu," ajak Lina. "Maaf ya Lin aku nggak bisa, lain kali deh aku belum ijin soalnya. Saudaraku itu baik cuman sikapnya dingin aku takut dia marah kalau aku pergi tanpa ijin dulu." "Yaudah nggak papa, kalau kamu ada apa-apa cerita ya ke aku." "Iya iya bawel." "Oh iya kok kamu ngambil manajemen bukanya kamu bilang mau sastra ya?" tanya Lina penasaran. "Iya itu saran darinya, lagi pula manajemen juga bagus menurutku." "Bagus karena kita bisa satu jurusan," ujar Lina sambil terkekeh dan Nadia juga ikut tersenyum senang mendengarnya. "Kau pulang naik apa?" "Dijemput, itu orangnya," Lina mengikuti arah jari Nadia. "Astaga dari tadi aku mikir nih orang tuh siapa kok dari pagi aku lihat dia terus, kayak lagi ngawasin orang ternyata bodyguard kamu Na?" "Iya saudara aku nyuruh dia buat jagain aku." "Kok sampe segitunya?" tanya Lina yang merasa heran. "Hmm anu itu dia takut pamanku macam-macam sama aku makanya dia nyuruh kak Rio jagain aku," jawab Nadia mengarang alasan. "Oh gitu baguslah berarti saudaramu itu beneran baik sama kamu Nad." Nadia hanya menganggukan kepalanya sambil tersenyum. "Yasudah ayo kita pulang, kau pulang naik apa Lin?" tanya Nadia. "Aku bawa mobil, tuh aku parkir di sana," tunjuk Lina kearah mobilnya. "Yasudah aku pulang dulu ya Lin, sampai jumpa besok." Nadia dan Lina lalu berpelukan sebelum berpisah. "Mari Nona," ujar Rio berpamitan ke Lina sambil tersenyum dan Lina hanya menjawabnya dengan senyuman. Nadia dan Rio berjalan ke tempat mobilnya diparkirkan, Rio lalu membukakan pintu mobil untuk Nadia. Rio masuk ke dalam mobil dan langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju rumah David. "Kak, kalau selamanya aku diawasi kakak seperti itu yang ada aku risih tau," ujar Nadia memecahkan keheningan. "Ya mau bagaimana lagi itu perintahnya." "Lagian aku mau kabur kemana coba, toh kalau aku kabur bukanya dia pasti bisa menemukanku ya." "Ya begitulah dia kalau jatuh cinta overprotektif jadinya," gumam Rio dengan suara pelan. "Hah apa kak?" Tanya Nadia yang tidak begitu mendengar perkataan Rio. "Hah tidak tidak apa-apa, aku cuman mengatakan kalau dia memang seperti itu." "Oh gitu," ujar Nadia lalu memandang keluar jendela.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD