Karena setiap hari bersama membuat Nadia dan Rio semakin dekat. Sesungguhnya Rio hanya menganggap Nadia tidak lebih dari seorang adik, begitupun dengan Nadia dia hanya menggap Rio sebagai kakaknya. Tetapi David memandang mereka dengan pandangan berbeda, ada rasa tidak suka saat melihat Nadia bercanda dengan Rio.
Seperti halnya hari ini dia melihat Nadia yang tengah asik mengobrol dengan Rio di taman yang ada di rumah itu. Nadia tertawa riang bersama dengan Rio tawanya sampai terdengar oleh David yang berdiri cukup jauh dari mereka. David terus memandang mereka dengan tatapan tidak sukanya.
Tetapi yang dipandang tidak menyadarinya, mereka terus asik mengobrol sambil sesekali tertawa dengan lelucon yang mereka buat. Hal itu semakin membuat David meradang, dia menggertakan giginya.
"Nadia!" panggil David dengan suara yang meninggi. Yang dipanggil langsung kaget mendengarnya, Nadia langsung menoleh kearah David. Dilihatnya wajah David yang merah padam menahan amarah.
"Masuk!" perintah David, David langsung berbalik masuk ke dalam rumah. Nadia memandang Rio sejenak bingung dengan sikap David yang tiba-tiba memanggilnya.
"Udah sana ikutin aja," ujar Rio. Nadia lalu bangkit dari duduknya dan berlari kecil mengikuti David.
"Ada yang kebakaran kayaknya," batin Rio sambil mengulum senyumnya.
David masuk ke ruang kerjanya, Nadia dengan ragu-ragu ikut masuk ke ruangan David. "Ada apa Tuan?" Tanya Nadia dengan nada ragu.
"Apa kau lupa tugasmu?"
"Tugasku, apa Tuan? Apa Tuan tadi memerintahku?"
"Kau lupa kalau kau harus memasak untuk ku, aku sudah katakan kan kalau aku di rumah maka kau juga harus memasak makan siang untuk ku."
"Ini kan masih jam 9 Tuan, takutnya makananya nanti dingin makanya saya belum masak Tuan," ujar Nadia memberi alasan.
"Jangan banyak alasan masak sekarang!" perintah David dengan sedikit membentak membuat Nadia kaget.
"Em iya Tuan, Tuan mau makan apa?"
"Capcay, ayam semur sama tempe goreng."
"Baik Tuan." Nadia langsung menuju ke dapur untuk memasak apa yang David minta.
Sampai di dapur Nadia langsung membuka kulkas dan mengeluarkan bahan-bahan yang dia butuhkan. Pertama-tama Nadia memotong brokoli dan merendamnya di air garam. Karena dia membuatnya hanya untuk dirinya dan David makan dia hanya menggunakan 4 buah bakso yang diiris.
Setelah bahanya siap dia lalu menumis bawang putih sampai harum, setelah harum Nadia memasukan telur untuk diorak-arik. Nadia menambahkan air secukupnya lalu masukkan brokoli, bakso, sawi, kembang kol, jamur, dan jagung manis.
Setelah semuanya masuk Nadia menambahkan bumbu saus tiram, kecap, gula pasir, dan kaldu jamur. Nadia lalu mencicipi makanannya terlebih dahulu.
"Lagi masak ya Nak?" Tanya Bi Lastri yang masuk ke dapur.
"Eh iya Bi, Tuan David minta di masakin sekarang," jawab Nadia sambil sebentar menoleh ke arah Bi Lastri.
"Maaf ya Nak bibi nggak bisa membantu," ujar Bi Lastri yang merasa tidak enak melihat Nadia memasak sendiri.
"Engga papa Bi, cuman masak gini Nadia bisa lakukan sendiri kok. Bibi jangan ngerasa nggak enak gitu kan ini perintah Tuan David," ujar Nadia sambil tersenyum.
Selain capcay Nadia juga memasak semur ayam. Jam 10.40 Nadia selesai memasak, dia lalu menatanya di atas meja makan. Saat masih menata di meja makan David berjalan menghampirinya.
"Kau sudah masak?"
"Eh iya Tuan," jawab Nadia sambil menoleh kearah David.
"Aku udah gak nafsu makan di rumah, aku akan keluar." Gumam David lalu berjalan meninggalkan Nadia. Mulut Nadia menganga tidak percaya dengan apa yang dikatakan David barusan.
"Nad kamu masak? Bukanya David baru saja keluar?" tanya Rio yang berjalan menghampirinya.
Nadia hanya mengangguk dengan lemas, Rio yang melihat ekspresi Nadia membuatnya mengulum senyumnya.
"Sabar ya orang sabar pantatnya lebar," gumam Rio yang langsung mendapat pukulan di lengannya.
"Lagi nahan emosi malah bercanda kan tambah emosi jadinya."
"Iya iya Nadia yang cantik kakak minta maaf ya," tutur Rio sambil mengelus kepala Nadia.
"Yaudah kakak makan gih daripada nggak ada yang makan, Bu Lastri sama Bu Ima pasti sudah masak buat pekerja disini. Jadi kakak aja ya yang makan masakan aku," pinta Nadia agar Rio mau memakan makananya.
"Nggak beracun kan?"
"Kakak!!!"
"Ya siapa tau kamu kau ngeracunin David."
"Aku emang nggak suka sama dia tapi aku nggak sejahat itu juga kali."
"Ya iyalah kamu nggak akan ngeracunin David, natap wajahnya aja kamu nggak berani," tutur Rio yang membuat Nadia langsung memajukan bibirnya
"Habisnya dia galak kan aku takut," jelas Nadia
"Yasudah ayo kita makan bersama," ajak Rio yang lalu duduk di meja makan, Rio menatap Nadia yang masih berdiri tidak ikut duduk bersamanya.
"Kenapa liatin aku gitu?" tanya Nadia dengan pandangan heran.
"Kamu kenapa enggak duduk?"
"Aku sudah terbiasa makan di dapur, jadi aku nanti makan di dapur aja setelah kakak selesai makan." Mendengar perkataan Nadia, Rio langsung bangkit dari duduknya dan membawa makanan ke dapur.
"Mau dibawa kemana?"
"Ke dapur, ayo makan bareng di dapur," ajak Rio yang disambut senyuman oleh Nadia.
David yang kembali tak sengaja melihat Nadia dan Rio yang sedang makan bersama di dapur. David berjalan menghampiri mereka. "Bukankah itu makananku?! Kenapa kalian makan?" Nadia kaget mendengar suara David, dia langsung berdiri dari duduknya dan tak berani memandang wajah David yang sudah berdiri di samping meja tempat Nadia dan Rio makan.
"Em ma_maaf Tuan, tadi Tuan bilang mau makan di luar jadi daripada mubazir kami makan saja," ujar Nadia dengan gugup. "Ini juga bukan salah kak Rio, ini salah saya karena saya yang meminta kak Rio makan bareng saya karena lauknya yang terlalu banyak buat saya," jelas Nadia sambil terus menunduk.
David mendengus kesal. "Masakan lagi untukku!" Perintah David.
"Baik Tuan." Nadia hendak mengambil bahan-bahan tetapi saat berjalan tanpa sengaja tangannya menyenggol gelas dan air dalam gelas itu tumpah mengenai sepatu David.
Nadia langsung menegang dan tertunduk meminta maaf. "Maaf Tuan maaf maaf saya tidak sengaja," ujar Nadia yang merasa bersalah.
"Kau ini bisanya apahah?! Dasar tidak becus! Lap sepatuku!" perintah David. Nadia awalnya hanya berdiri untuk beberapa saat lalu akhirnya dia mengambil lap dan hendak berjongkok mengelap sepatu David. Tetapi Rio menahan tangan Nadia dan menariknya untuk berdiri di sampingnya.
"Yo jangan ikut campur!"
"DIA ISTRIMU BUKAN PEMBANTUMU!" Ujar Rio dengan tegasnya menahan emosinya.
"Terserah aku mau memperlakukan nya seperti apa. Lagipula dia pantas menerima perlakukan seperti itu, dia cuman w************n!"
"Cukup David Mahendra!!!!" Rio tak suka mendengar David yang mengatakan Nadia w************n.
"Kau berani berteriak kepadaku!"
"David Mahendra? Kau David Mahendra yang Ayahku didik selama ini? Apa kau David Mahendra yang selalu ku panggil kakak?" tanya Nadia dengan ragu sambil memandang wajah David. Rio langsung menoleh ke arah Nadia dia baru sadar jika barusan tanpa sengaja menyebut nama panjang David.
David memang melarang semua pekerja yang ada di rumah itu untuk tidak memberitahu nama panjangnya kepada Nadia. Saat David tahu jika Nadia tak tahu David sebenarnya siapa dia ingin bermain-main dengan Nadia. David ingin terus menerus menyiksa Nadia setelah dia puas baru dia akan memberitahukan namanya agar Nadia tercengang dan tak percaya.
"Iya memang kenapa?" Tanya David dengan menatap tajam Nadia.
"Kenapa kakak seperti ini?"
"Hahahaha kakak? Kau memanggil ku kakak? Aku tak sudi dipanggil kakak oleh anak pembunuh sepertimu," seru David.
"Apa maksud kakak?"
"Ayah tersayangmu itu MUNAFIK dia selama ini mendidikku hanya untuk mengambil alih Mahendra Group dan dialah yang merencanakan kecelakaan itu sampai Papaku meninggal. Dia itu pembunuh licik dan kamu jangan pernah memanggilku kakak lagi karena aku tak sudi punya adik anak dari seorang pembunuh seperti!" cela David.
Plak. Satu tamparan mendarat di pipi kiri David, David memegang pipinya dan menatap Nadia dengan tatapan ingin membunuh.
"Apa kau tau selama ini aku selalu iri sama kamu karena aku merasa Ayah lebih menyayangimu daripada aku! Ayah lebih sering menghabiskan waktu denganmu! Bahkan akupun merasa jika Ayah lebih peduli dengan mu daripada aku putri kandungnya! Dan sekarang kamu dengan mudahnya menuduh Ayahku??!!!" Cecar Nadia.
"Kau bodoh David kau buta kau tak bisa melihat mana yang benar dan mana yang salah!!!" sambung Nadia dengan emosi yang meluap-luap.
"Aku atau kau yang buta?" Sindir David.
"Atas dasar apa kau menuduh Ayahku seperti itu?!" tanya Nadia dengan emosi.
"Bukan urusanmu yang jelas dialah pembunuh Papaku!"
"Cukup David Mahendra kau tak punya otak mengatakan itu setelah apa yang Ayahku lakukan untukmu!!!" Nadia semakin emosi dibuatnya.
"Kau yang tak punya otak dan kaulah yang bodoh karena percaya dengan orang yang Munafik seperti dia. Oh atau jangan-jangan kau sudah tau rencana Ayah tersayangmu dan kau ikut dalam rencana itu?!" tuduh David.
"Cukup David, satu hal yang aku sesali yaitu aku telah jatuh cinta dengan sampah seperti mu!" teriak Nadia yang lalu berjalan meninggalkan David dan Rio karena tak ingin terus-terusan berdebat dengan David.
"Kau dengar kan perkataan Nadia? Kau menerima mentah-mentah perkataan di rekaman itu tanpa tau yang sebenarnya."
"Bukankah kau menyelidikinya tetapi tak menemukan bukti jika Daniel tidak bersalah?" sindir David.
"Terserah apa katamu, tapi aku gak akan biarin kau menyakiti Nadia."
"Apa kau mencintainya?" tanya David.
"Kalau iya memangnya kenapa." Mendengar perkataan Rio, David langsung mengepalkan kedua tangannya wajahnya sudah merah pandang menahan amarah yang sudah memuncak. Rio berjalan meninggalkan David yang masih berdiri di tempatnya.
Rio sengaja mengatakan itu meski sesungguhnya dia tidak mencintai Nadia, dia hanya menyayanginya sebagai adiknya. Rio ingin David menyadari perasaannya yang sebenarnya bahwa dia mencintai Nadia dan tidak membalaskan dendamnya melalui Nadia.
Nadia kembali ke dalam kamarnya dia langsung mengambil kotak yang ada di laci. Kotak itu yang dulu akan dia berikan kepada David sampai sekarang masih ia simpan karena berharap suatu saat bisa bertemu dengan David lagi. Tetapi setelah bertemu dengan David rasa cintanya langsung sirna dan berubah menjadi kebencian.
Nadia mengambil kotak itu dan langsung membuangnya ke tempat sampah. Sekarang yang Nadia rasakan adalah penyesalan karena telah mencintai orang yang salah, rasa sakit hati yang diliputi oleh kebencian. Tidak ada lagi tatapan cinta untuk David, tidak ada lagi tatapan ketakutan jika bertemu suaminya yang ada hanyalah tatapan kebencian untuk David Mahendra.
Nadia tidak terima jika ayahnya dituduh sebagai pembunuh tanpa adanya bukti yang konkrit. Hal lain yang tidak dia terima ialah orang yang menuduhnya, dia adalah kesayangan ayahnya dan kebanggaan ayahnya. Tetapi dengan mudahnya orang itu menuduh ayahnya dan menikahinya atas dasar ingin balas dendam.