Bab 8 Hilang Kendali

1467 Words
Perang dingin Sudah satu minggu suasana mansion mencengangkan karena ada dua insan yang tidak saling menyapa, aura dingin menyebar saat keduanya berpapasan. Hanya tatapan tajam yang mereka berikan satu sama lain, enggan untuk saling berbicara. Nadia yang selesai memasak untuk makan malam lalu menatanya di meja makan, tak lama David datang. Dia langsung duduk di kursi tanpa berbicara dengan Nadia, dan Nadia langsung pergi dari ruang makan menuju dapur. Seperti biasa Nadia makan di dapur sambil menunggu David selesai makan. Setelah selesai makan Nadia kembali ke ruang makan, David baru saja selesai makan. Mereka bertatapan sebentar lalu berjalan tanpa mengatakan apapun, tatapan David sangat dingin begitu pula dengan Nadia matanya dipenuhi dengan kebencian yang mendalam. Nadia lalu membereskan meja makan dan mencuci piring dan wajan yang kotor, setelah semuanya selesai dia lalu kembali ke kamarnya. Duduk di meja belajar dengan setumpuk buku di sana. Tak terasa sudah jam 10 malam yang artinya dia sudah 2 jam berkutat dengan buku-bukunya. Hari yang telah larut membuat mata Nadia mengatuk, Nadia membereskan meja belajar lalu masuk ke kamar mandi untuk menggosok gigi terlebih dahulu sebelum tidur. Saat keluar dari kamar mandi dia melihat David telah duduk diatas tempat tidurnya, dengan menyandarkan punggungnya di kepala tempat tidur. Nadia menatapnya sekilas lalu masuk kedalam ruang ganti untuk mengganti pakaianya dengan baju tidur. Setelah selesai Nadia keluar dari ruang ganti dia masih melihat David disana, Nadia menyilangkan tanganya di depan d**a. "Ngapain Anda disitu?" "Apa ada larangan untuk aku kesini?" pertanyaan Nadia malah dibalas dengan pertanyaan lagi. "Sudah malam Saya mau tidur, jika Anda kesini hanya ingin mencari gara-gara maka maaf saya sudah mengantuk. Lebih baik Anda keluar dari kamar saya!" perintah Nadia. David turun dari tempat tidur tetapi dia bukan berjalan keluar dari kamar malahan berjalan ke arah Nadia. Nadia tetap diam ditempat tidak bergerak sedikitpun, karena sekarang sudah tidak ada sedikitpun rasa takut kepada David. David terus mendekat hingga jarak diantara mereka hanya sejengkal, David menundukan kepalanya dan berbisik di telinga Nadia. "Aku ingin menikmati malam pertama kita," bisik David yang lalu menaikan satu sudut bibirnya. Nadia yang mendengar itu langsung mendorong tubuh David, tatapan matanya dipenuhi amarah. "Saya tidak sudi melakukan itu dengan Anda!" tolak Nadia yang berdiri memunggungi David. "Aku perlu membayarmu berapa untuk bisa melayani ku?" tanya David dengan nada sindiran. "Anda bayar mahal pun Saya tidak akan pernah sudi tidur dengan Anda!" Nadia membalikan badanya lagi tangan nya dia lipat didepan d**a, dia menatap David dengan tatapan menantang. "Cih apa kau takut ketahuan jika sebenarnya kau sudah tak virgin?" lagi-lagi pertanyaan yang dilontarkan David membuat Nadia semakin geram. "Saya virgin atau tidak itu urusan saya dan saya lebih memilih mati daripada tidur dengan Anda David Mahendra!!" ujar Nadia dengan tegasnya. "Yasudah mati saja," tutur Davit dengan santainya. Nadia mengepalkan tangannya menahan emosi yang akan meledak. "Kenapa diam? Katanya milih mati." David melangkah maju membuka pintu balkon. "Silakan mati." Nadia membalikan badanya menatap David sambil menaikan satu ujung bibirnya. Melihat ekspresi Nadia yang seperti menghina dirinya membuat David berang, dia lalu menarik paksa tangan Nadia dan berjalan ke arah balkon. David mendorong tubuh Nadia sampai tubuh Nadia terbentur pinggiran balkon. "Lompat jika kau memang memilih mati!" "Kenapa Anda tidak mendorong saya saja? Supaya dendam Anda terpenuhi," pertanyaan Nadia membuat David semakin marah dia tanpa basa basi mendorong tubuh Nadia. Byur. Nadia jatuh tepat di kolam renang, David sengaja mendorong Nadia karena dia tahu ada kolam renang tepat di bawah sana. David pun tau jika Nadia bisa berenang, tetapi hal tidak terduga terjadi. David melihat Nadia tidak bergerak di bawah sana, Nadia tidak berusaha untuk berenang dan membiarkan tubuhnya tenggelam di kolam renang. Tanpa berfikir panjang David langsung melompat dari balkon untuk menyelamatkan Nadia. Byur dia langsung meraih tubuh Nadia dalam pelukannya dan membawanya ke tepi kolam renang. Terlihat kekhawatiran diwajah David saat mengetahui Nadia yang pingsan. Nadia yang sudah dibawa David keluar kolam renang langsung diberi nafas buatan. Nadia membuka matanya dan melihat wajah David yang khawatir, dia langsung tertawa terbahak-bahak melihat kekhawatiran David. "Kenapa Anda menyelamatkan saya? Apa Anda khawatir Saya kenapa-kenapa?" tanya Nadia yang terdengar seperti hinaan ditelinga David. Ternyata Nadia hanya berpura-pura pingsan, dia sengaja tidak bergerak di dalam kolam renang. Entah mengapa dia tiba-tiba teringat perkataan Rio yang mengatakan bahwa David mencintainya, dia ingin tau apakah David benar-benar mempunyai perasaan dengannya atau tidak. Dan ternyata tidak ada satu menit Nadia tenggelam di kolam renang, David langsung menyelamatkanya. "Kenapa David? Apa Anda menyukai Saya?" David yang geram langsung bangkit dan berjalan meninggalkan Nadia. "Kau mau menyakitiku? Maka aku juga bisa membalasnya," gumam Nadia yang melihat punggung David berjalan menjauh. Rio langsung menghampiri Nadia. "Apa kamu gila Nadia? Bagaimana jika kamu cidera hah?!" tanya Rio yang khawatir. "Sesungguhnya aku berharap tenggelam tadi, tapi ternyata dia menyelamatkanku," gumam Nadia sambil menaikan satu sudut bibirnya. "Nadia jangan terus-terusan melawanya, kakak nggak mau kamu kenapa-kenapa." "Apa aku harus nurut dan takut dengan dia, dengan orang yang dibanggakan Ayahku tetapi dia menuduh Ayahku pembunuh." "Sudahlah, sekarang kamu masuk kamar dan ganti bajumu ya nanti masuk angin," tutur Rio. Nadia mengangguk lalu bangkit dari sana dan berjalan menuju kamarnya. Setelah selesai mandi dan mengenakan pakaian nya, dia lalu menuju balkon dan berdiri disana. Saat itu bertepatan dengan David yang sedang berada di balkon kamarnya. Nadia memandang David dengan pandangan penuh kemenangan, David terlihat menahan amarahnya dengan tatapan Nadia itu. Membuat Nadia semakin senang, David lalu masuk ke dalam kamarnya dan disambut gelak tawa oleh Nadia. David sempat mendengar tawa Nadia yang penuh kemenangan itu, dia tak menyangka Nadia bisa melakukan hal itu. Berani melawanya dan berani mempermainkanya, padahal awalnya tatapan Nadia ke David hanyalah tatapan ketakutan. Tetapi setelah mengetahui identitas David membuat Nadia berani melawannya. *** Hari ini Nadia diantar supir karena Rio yang masih diluar kota untuk mengurus pekerjaan. Nadia masih mengobrol dengan teman laki-lakinya membahas soal tugas, David yang kebetulan ada urusan di sana melihat Nadia. David berfikir Nadia main belakang darinya karena tidak ada yang mengawasinya. Tak lama Nadia lalu pergi meninggalkan laki-laki itu menuju parkiran tempat supirnya menunggu. David pun langsung menuju mobilnya dan melajukan mobilnya mengikuti mobil yang ditumpangi Nadia. Mobilnya memasuki halaman rumah David, Nadia langsung turun dari mobil dan berjalan menuju kamarnya. David langsung mengikutinya dengan langkah yang penuh amarah. Nadia baru saja masuk ke kamarnya dan menutup pintu kamarnya tetapi tak lama kemudian David langsung masuk ke kamarnya dan mengunci pintunya. Belum sempat Nadia bertanya dengan David tentang tujuan David masuk ke kamarnya, David langsung mendorong tubuh Nadia ke kasur. Nadia memberontak tetapi tenaganya kalah jauh dari David. "David apa mau kamu? David!!" berontak Nadia yang dihiraukan oleh David. "Stop David!!!" pinta Nadia. "Stop katamu? Kau pikir dengan Rio yang tak mengawasimu kamu jadi bebas menggoda laki-laki lain hah??!!" "Apa maksudmu?" "Apa kamu sudah tidur denganya hem?" tanya David disela-sela ciumannya. Nadia terus memukul-mukul d**a David agar David menghentikanya tetapi David sedikitpun tak mendengarkan Nadia. David yang dipenuhi amarah melakukanya dengan kasar, dan Nadia sama sekali tak bisa melawan David. Darah menetes di sprei putih dengan disertai isakan dan air mata Nadia. Hal yang dilakukan David hari itu membuat Nadia benar-benar membencinya dan membuang semua perasaanya itu. Berkali-kali David melakukanya sampai Nadia pun tertidur, David masih diatas tubuh Nadia. Dia memandang wajah perempuan yang tertidur dengan suara isakan yang masih terdengar. David mengatur nafasnya dia berpindah ke sisi Nadia dan memeluk Nadia dalam dekapanya. Ada perasaan bersalah dalam diri David tapi apa daya dia semuanya telah terjadi, entah setan apa yang merasukinya tadi sampai-sampai David hilang kendali seperti itu. David hilang kendali hanya karena dia melihat Nadia yang terlihat akrab dengan laki-laki lain, tanpa dia tahu bahwa Nadia hanya membahas tugas. Setelah nafasnya teratur David bangun dari tempat tidur dan memakai pakaian nya kembali dia lalu meninggalkan kamar itu. David langsung membersihkan tubuhnya, selesai mandi David meminta Bi Ima menyiapkan makanan untuknya dan meminta Bi Ima membawakan makanan untuk Nadia ke kamarnya. Bi Ima mengetuk pintu kamar Nadia tetapi tidak ada sautan dari Nadia. Bi Ima lalu membuka pintunya dan terlihat Nadia yang masih duduk sambil menangis. Bi Ima mendekati Nadia, dia tahu betul apa yang baru saja terjadi. Bi Ima duduk di tepi ranjang lalu memeluk Nadia untuk menenangkanya. "Nggak papa Nak, kalian udah nikah jadi nggak dosa. Udah ya jangan nangis," ujar Bi Ima untuk menenangkan Nadia. "Tapi dia kasar aku benci dengan nya," ujar Nadia ditengah isakanya. "Yang sabar ya kamu wanita kuat, udah jangan nangis lagi. Udah jam 9 malam makan ya nanti kamu sakit," bujuk Bi Ima. "Aku mau mandi dulu Bu, Ibu keluar aja aku udah nggak papa kok," tutur Nadia. "Yaudah ibu keluar ya, setelah mandi kamu langsung makan ya," ujar Bi Ima yang mendapat anggukan dari Nadia. Bi Ima keluar dari kamar Nadia, setelah Bi Ima keluar Nadia menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Nadia berdiri dibawah shower dan membiarkan tubuhnya diguyur dengan air dingin.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD