Pagi harinya Nadia berusaha bersikap biasa saja dan tak terlihat lemah, dia memasak untuk David dan menatanya dimeja makan. David masuk ke ruang makan dan Nadia langsung pergi dari sana tanpa melihat kearah David. Sikapnya semakin dingin ke David, sebelumnya dia enggan menatap wajah David tapi sekarang dia enggan berada dalam satu ruangan dengan David dengan menghirup oksigen yang sama.
David pun bersikap seolah-olah tidak ada yang terjadi kemarin, aura dingin langsung terasa di rumah itu. Asisten rumah tangga dan bodyguard tidak tahu apa yang terjadi kepada majikanya tersebut, hanya Bi Imalah yang mengetahui kejadian kemarin.
Setelah mencuci piring bekas makan dirinya dan David, Nadia lalu menuju kamarnya. Nadia mengunci pintu kamarnya dan memilih untuk tidur lagi, dia tak peduli jika David marah kepadanya.
David berada di ruang kerjanya dengan menatap layar laptop, dia berusaha fokus mengerjakan pekerjaannya tetapi pikirannya tak bisa fokus. Bayang-bayang kejadian kemarin seakan-akan menghantuinya, entah mengapa dia melakukan hal itu kemarin.
"David fokus," ujar David ke dirinya sendiri.
David akhirnya menutup laptopnya dengan kesal, dia menyandarkan punggungnya di sandaran kursi dan memijit-mijit dahinya. Ting. Pesan masuk ke ponsel David, David membuka pesan itu yang ternyata dari Rio dia mengirimkan foto laki-laki yang kemarin bersama dengan Nadia.
Rio : "Digo Prawira teman Nadia, dia menyukai Alexandrea bukan Nadia. Mereka kemarin hanya membahas soal tugas."
David mengerutkan keningnya dia heran mengapa Rio mengetahuinya. Ting. satu pesan masuk laki ke ponsel David.
Rio : "Saya memang diluar kota, tetapi bukan berarti Saya tidak mengawasi Nadia. Jadi Anda tidak perlu khawatir Tuan David Mahendra, Nona Nadia tidak seperti yang Anda pikirkan."
David menghela nafasnya dengan kasar, dia tidak membalas pesan Rio. David meletakan ponselnya diatas meja, kepalanya dia sangga dengan kedua tangan. Entah apa yang sebenarnya David rasakan sekarang, hati dan pikirannya sedang bertengkar disana. Hatinya mengatakan jika dia harus minta maaf dengan Nadia tetapi pikirannya mengatakan sebaliknya.
***
Sore hari Nadia duduk di gazebo dekat kolam ikan, Rio baru saja sampai dirumah dia memandang Nadia dari kejauhan. Beberapa saat dia memandang Nadia dia lalu menghela nafasnya pelan dan berjalan menghampiri Nadia.
"Cewek godain abang dong," canda Rio yang membuat Nadia langsung menoleh ke arahnya.
"Hiii kak Rio aku kira siapa," ujar Nadia.
Rio lalu duduk di gazebo, dia memandang Nadia penuh teliti. "Kenapa liatinya gitu, kayak nggak pernah liat cewek cantik aja," canda Nadia.
"Idih narsis banget nih cewek, kamu tuh yang ada sok cantik," sahut Rio.
"Bodo."
"Nad, " panggil Rio.
"Iya kak kenapa?" tanya Nadia menatap Rio.
"Jangan terus-terusan melawanya ya, kakak nggak mau kamu kenapa-kenapa. Dengarkan perkataan David selagi dia tidak keterlaluan," saran Rio yang lagi-lagi tidak mendapat respon dari Nadia.
"Cukup sekali kakak kehilangan adik, kakak nggak mau kehilangan kamu juga," ujar Rio.
"Maksud kakak?" tanya Nadia tak mengerti.
"Kakak bukan anak tunggal, kakak punya adik tapi dia meninggal saat usia 19 tahun," jelas Rio yang lalu menghela nafasnya. "Waktu usianya 18 tahun dia diperkosa berandalan, karena kejadian itu membuat dia depresi. Saat itu kakak terlalu sibuk dengan pekerjaan kakak sampai nggak tau kalau dia depresi. Setiap bertemu dengannya dia terlihat baik-baik saja, dari luar dia terlihat kuat tetapi sesungguhnya dia rapuh seperti kamu," sambung Rio.
"Kakak takut jika kamu terus-terusan melawan David membuat David jadi berbuat diluar batasnya," tutur Rio yang hanya didengarkan oleh Nadia. Nadia menghela nafasnya.
"Aku nggak melawan pun dia berbuat seenaknya kepadaku, apa aku harus nurut terus ke dia yang selalu merasa paling benar," tutur Nadia.
"Ayolah salah satu harus mengalah, menangkan hatinya Nad agar kalian tidak terus-terusan seperti ini. Kalian itu suami istri loh," nasehat Rio.
"Pernikahan kami hanya di atas kertas kak, jadi jangan berharap kami bersikap seperti suami istri yang sesungguhnya," jelas Nadia.
"Pernikahan itu bukan main-main nggak ada yang namanya pernikahan hanya di atas kertas," tutur Rio yang membuat Nadia menundukan kepalanya. "Kalian menikah di depan penghulu dan para saksi, bagaimanapun David dia tetap suami kamu. Iya memang terkadang dia marah-marah sama kamu tapi kakak yakin dia itu sayang sama kamu tapi dia bingung dengan perasaanya."
"Tapi aku nggak suka soal dia menuduh Ayah aku," terang Nadia.
"Jika kamu berada diposisi David bagaimana?"
"Maksud kakak?"
"Seumpama kamu mendengar ayah kamu dibunuh Papahnya David apa kamu langsung nggak percaya?" Nadia hanya diam tidak menjawab pertanyaan Rio. "David dulu pernah mencari tahu kebenarannya tetapi nggak ada titik terang bahwa Ayah kamu bukanlah pembunuhnya, bukan berarti kakak percaya ya kalau Ayah kamu pembunuh. Tetapi lain hal dengan David, orang tuanya yang dibunuh dan hanya ada rekaman Ayah kamu yang mengatakan bahwa Ayah kamulah pembunuhnya, jadi akhirnya dia percaya hal itu," tutur Rio.
Nadia hanya diam mendengarkan penjelasan Rio, dia bingung harus berkata apa. "Hampir satu tahukan kalian menikah?" tanya Rio yang dijawab anggukan oleh Nadia.
"Lalu mau sampai kapan kalian seperti ini?" tanya Rio lagi yang dijawab helaan nafas dari Nadia.
"Aku sekarang membencinya, aku benar-benar membencinya. Aku engga mau menurutinya aku pun nggak peduli jika dia membunuhku," gumam Nadia.
"Nad."
"Apa? Kakak mau terus belain dia terserah belain aja terus, aku nggak masalah kalau nggak ada orang yang peduli sama aku," tutur Nadia yang lalu pergi meninggalkan Rio.
"Nad bukan gitu maksud kakak Nad," perkataan Rio tidak didengarkan Nadia. Dia berlalu masuk ke dalam rumah dan berpapasan dengan David, Nadia memandang sinis ke arah David.
"Udah pulang kau yo," ujar David lalu duduk di Gazebo.
"Masih berhubungan dengan wanita itu?" tanya Rio tiba-tiba.
"Iya memangnya kenapa?"
"Kau gila, kau telah menikahi Nadia hampir satu tahun tapi kau masih berhubungan denganya hem?"
"Gak ada hubungan khusus antara aku dan Nadia! Aku menikahinya hanya untuk membalaskan dendamku!" tegas David.
"Nadia gak salah dia gak tau apapun, dan hal itu pun belum tentu benar!" murka Rio.
"Mau sampai kapan kau terus-terusan membelanya hah?!" tanya David dengan nada tinggi.
"Sampai kau sadar bahwa kau salah " jawab Rio.
"Apa sebegitu cintanya kah kau dengan wanita itu?" sindir David.
"Kalau benar memangnya kenapa? Apa kau mau menceraikannya dan membiarkan aku menikahinya?" tanya Rio yang membuat David tambah murka David lalu pergi meninggalkan Rio.
Setelah makan Rio mencari Nadia dia ingin meminta maaf kepadanya, Rio tak ingin Nadia salah paham atas perkataannya tadi sore. Nadia duduk ditepi kolam renang, kakinya dia masukan ke dalam kolam renang. Rio yang telah menemukan Nadia lalu menghampirinya dia berjongkok di sebelah Nadia.
"Nad," panggil Rio sambil menepuk pundak Nadia. Nadia melirik sekilas kearah Rio lalu dia tidak memperdulikan Rio, Nadia masih enggan berbicara dengan Rio.
"Nad maaf, kakak nggak bermaksud membelanya," jelas Rio kepada Nadia. "Kakak sayang sama kamu kakak cuman engga mau kamu kenapa-kenapa," sambung Rio. Nadia bangkit dari duduknya dia berjalan meninggalkan Rio, tapi Rio menahan tangan nya.
"Nad maafin kakak," mohon Rio. Nadia membalikan badanya dia lalu memeluk Rio, air matanya ia tumpahkan dalam dekapan Rio. Rio mengusap-usap punggung Nadia untuk menenangkanya.
"Aku sekarang cuman punya kakak, jangan buat aku ngerasa kalau kakak membelanya," gumam lirih Nadia di sela-sela tangisnya.
"Maaf," hanya kata itu yang keluar dari mulut Rio.
Nadia dan Rio yang sedang berpelukan dilihat David dari balkon, David mengepalkan tanganya. Dia langsung meradang melihat hal itu, dia berpikir yang tidak-tidak dengan mereka.
Rio melepaskan pelukannya dia lalu menghapus air mata Nadia. "Maaf ya," ujar Rio lagi yang mendapat anggukan dari Nadia.
"Udah malem masuk gih istirahat besokan kuliah," nasehat Rio.
"Hm iya yaudah aku tidur dulu ya kak, kakak juga tidur jangan kerja terus," ujar Nadia.
Rio mengusap kepala Nadia sebelum Nadia melangkah masuk ke dalam rumah. Setelah Nadia pergi Rio tak sengaja melihat David yang masih berdiri di balkon, David menatapnya dengan tatapan tak suka tetapi Rio tidak peduli akan hal itu. Rio pun akhirnya berjalan masuk ke dalam rumah, tak memperdulikan tatapan membunuh David yang ditujukan kepadanya.
Rio masuk ke dalam kamarnya dia menyalakan flashdisk yang berisi rekaman suara Daniel. Rio mengusap wajahnya dengan kasar dia bingung harus melakukan apalagi. Karena bertahun-tahun dia mencari tahu tidak ada titik terangnya.
Tetapi Rio tidak putus asa dia terus berusaha mencari tahu tentang hal itu. Rio pernah curiga bahwa kecelakan Daniel pun itu direncanakan tetapi tidak ada bukti apapun. Nadia yang satu-satu yang hidup mengalami hilang ingatan jadi dia tidak mendapat informasi apapun.