Pagi ini, langit terlihat mendung. Dengan angin yang berhembus cukup kencang. Mengibarkan rambut sepinggang milik Jingga, yang pagi ini masih berdiri di atas balkon. Mata oval gadis itu menangkap sebuah taxi bandara yang masuk ke dalam halaman rumah mewah tersebut. Tidak lama kemudian, pria yang dari semalam dinanti oleh Jingga, akhirnya kembali juga. Dengan jari-jari lentiknya, gadis itu menyisir rambut panjang tergerai yang ia miliki. Barulah ia beranjak dari balkon dan menemui sang suami.
"Siapkan pakaianku!" Senja melepaskan jaket yang membalut tubuh kekarnya.
"Baik, Kak." Dengan senyuman yang mengembang, Jingga mengambil alih jaket yang ada di dalam genggaman Senja. Begitu jaket tersebut berpindah tangan, gadis itu langsung bisa menangkap aroma wangi bunga mawar yang menggoda indra penciumannya. Aroma yang selalu tercium jika Jihan berada didekatnya.
Mengenyampingkan rasa sesak yang ada, Jingga meletakkan jaket tersebut di dalam keranjang pakaian kotor. Barulah ia beralih kepada lemari besar yang berisi pakaian suaminya.
Dengan cekatan, Jingga mengambil pakaian yang akan digunakan oleh Senja. Barulah ia meletakkan pakaian tersebut di ujung tempat tidur. Setelah dirasa cukup, Jingga beralih ke dapur untuk mempersiapkan sarapan untuk suaminya. Walaupun di sana ada asisten rumah tangga. Namun, Jingga ingin suaminya memakan masakan yang ia buat sendiri. Berbekalkan kebiasaan yang ia lakukan sejak masih SMP, Jingga membuat sepiring nasi goreng dengan cabe hijau, dengan banyak taburan bawang goreng dan dilengkapi dengan telur dadar yang sedikit gosong. Begitu selesai, barulah ia membuatkan teh tawar kesukaan suaminya itu.
"Sarapan dulu, Kak!" sapa Jingga, saat Senja turun dari atas tangga.
"Tidak! Terimakasih. Aku sudah sarapan di luar," jawab Senja acuh. Pria itu tetap fokus dengan ponsel yang ada pada genggamannya.
Kepala Jingga mengangguk pelan. Ia segera kembali ke dapur untuk mengemasi kembali sarapan yang telah ia buat.
"Tuan Muda tidak sarapan?" tanya seorang asisten rumah tangga kepada Senja.
"Tidak, Bik! Aku sudah sarapan diluar," Senja menghenyakkan tubuhnya di atas sofa. "Bibik masak apa?" tanya Senja lagi. Karena tiba-tiba saja indra menciumnya menangkap aroma yang membuat perutnya kembali lapar. Aroma yang tidak lagi pernah tercium semenjak ia memiliki asisten rumah tangga untuk mengurus segala kebutuhannya.
"Bibik tidak …,"
Belum sempat wanita paruh baya tersebut menjawab, Senja telah melesat kencang menuju dapur. Di sana ia menangkap Jihan yang sedang mengangkat satu buah piring berisi nasi goreng dan satu gelas teh.
"Tunggu! Akan kamu bawa kemana makanan itu?" Senja mendekati Jingga, yang terkejut atas kedatanganya.
"Ah, ini …, Kakak sudah sarapan. Jadi aku akan menyimpannya untuk makan siangku nanti."
"Biar aku yang memakannya, kamu tidak akan menyukai ini. Perutmu bisa sakit. Karena ini menggunakan cabe hijau."
Senja meraih piring dan gelas dari tangan Jingga. Sesudah itu, ia langsung duduk di meja makan dan memakan nasi goreng yang telah lama tidak ia rasakan. Rasa yang dulu selalu ia rasakan waktu masih menggunakan seragam putih abu-abu.
Jingga tersenyum senang. Setidaknya satu kenangan di masa lalu berhasil ia bawa kembali ke masa depan. Dengan cekatan gadis itu mengambil satu gelas air putih, lalu ikut duduk menemani sang suami yang sedang melahap sarapannya.
"Katanya Tuan Muda sudah sarapan, tapi satu piring besar nasigoreng hampir habis tak bersisa," goda asisten rumah tangga, bernama Esih tersebut.
"Aku memang sudah sarapan, Bik. Tetapi masakan Bibik selalu bisa membuat aku lapar lagi."
"Itu bukan Bibik yang masak, Tuan. Tetapi Nona Muda Jingga. Bibik tidak menyangka Tuan Muda menyukainya. Padahal tadi Bibik sempat heran melihat telur dadar yang gosong," Esih terkekeh geli.
Jingga hanya tersenyum menanggapi celotehan wanita paruh baya tersebut.
Senja menelan kunyahan nasi gorengnya dengan susah payah. Nafasnya tercekat mengetahui Jingga lah yang memasak untuknya. Masakan yang sangat mirip dengan bekal yang dulu selalu ia makan.
"Aku tunggu kamu di kamar!" Senja meminum tehnya hingga tandas. Lagi-lagi rasa yang ada, membuat Senja kembali tertarik ke masa lalu.
"Biar Bibik saja yang membereskannya Nona Muda! Nona langsung susul Tuan Muda ke atas."
Jingga mengangguk. "Terimakasih ya, Bik," ucapnya lagi. Dengan langkah yang cukup cepat, Jingga menyusul sang suami yang telah terlebih dahulu naik ke kamar mereka.
"Katakan dari mana kamu tahu makanan kesukaanku?" Senja langsung menarik pergelangan tangan Jingga, dan menyeretnya masuk.
"Aku tidak tahu apa maksudmu, Kak. Aku tidak mengerti."
Jingga menahan rasa sakit, akibat cengkraman Senja pada pergelangannya.
"Siapa kamu sebenarnya? Apa saja yang kamu ketahui tentangku! Sampai hal yang paling rahasiapun kamu mengetahuinya!" Menghentakkan tangan Jingga, hingga gadis itu terjatuh ke atas tempat tidur.
Jingga menggeleng, "Aku istrimu, Kak. Tidak lebih dari itu," lirih Jingga.
"Bohong! Cepat katakan, siapa kamu sebenarnya!" Senja mengapit kedua pipi Jingga dengan satu tangannya.
"Bukankah aku sudah berkata benar padamu, Kak! Aku istrimu," di bawah kukungan Senja, Jingga berusaha mengelak.
Aku istrimu, bukan kak Jihan. Aku dia, bukan kak Jihan.
Jingga menutup kedua matanya, saat Senja memagut kasar bibirnya.
"Istriku? Ya, kamu benar! Saat ini kamu adalah istriku! Layani aku!" Membuka paksa dress selutut yang dipakai oleh Jingga. Dengan cepat, Senja juga membuka pakaiannya sendiri. Nafas pria itu memburu, ia sudah tidak sabar untuk kembali menikmati tubuh istrinya itu. Tidak mampu ia pungkiri, Senja lebih berhasrat terhadap Jingga daripada Jihan. Saat bersama istrinya, seakan ada magnet yang menariknya untuk menyentuh gadis itu. Sedangkan saat bersama Jihan, wanita itu yang selalu berusaha keras untuk memancing hasrat Senja.
"Kak …," Jingga meringis saat Senja melakukannya dengan kasar. Namun, rasa sakit di bawah sana tidak sebanding dengan sakit yang ada di dalam hati Jingga, saat melihat tanda merah keunguan di ceruk leher suaminya.
Kamu menyentuhku, setelah menyentuh kakakku. Dimana hatimu, Kak?
Tanpa mempedulikan Jingga yang kesakitan, Senja semakin kasar untuk mendapatkan pelepasannya sendiri. Menikmati tubuh istrinya yang saat ini menolak untuk melayani nafsunya.
*********
"Mencari siapa?" Tanya Esih, kepada seorang wanita cantik yang sedang menggendong seorang balita perempuan.
"Senja-nya ada, Bik?" tanya Jihan lagi.
"Ada. Nona dan Tuan Muda ada di kamar,"
Dada Jihan bergemuruh. Ia masuk tanpa menghiraukan Esih yang berdiri di pintu.
"Dimana kamar mereka?" Jihan menurunkan Syakila dari gendongannya. Lalu meninggalkan putri kecilnya tersebut. Suara Jihan langsung menggema di dalam rumah mewah tersebut. Menyerukan nama Senja. Dengan emosi yang memuncak ia membuka satu dari tiga pintu kamar yang ada di lantai dua. Karena dari pintu tersebut, Jihan bisa mendengar rintihan dan desahan yang membuat hatinya terbakar.
Amarah makin menguasai Jihan, saat ia melihat Senja yang sedang menindih tubuh Jingga. Menikmati hubungan halal diantara mereka berdua. Yang sangat berbanding terbalik dengan ucapan Senja tadi malam.
"Jangan lancang, Nona!" Esih kembali menutup pintu kamar majikannya. "Jika Anda memiliki keperluan, silahkan tunggu tuan muda di ruang tamu!" Wanita paruh baya itu menarik paksa Jihan untuk turun.
"Lepaskan! Dasar pembantu tidak tahu diri! Aku akan pastikan, kau adalah orang pertama yang akan akan aku singkirkan. Saat aku resmi menjadi istrinya Senja!"
"Tidak akan! Saya juga orang pertama yang akan menghalangi itu terjadi!" Esih semakin semangat untuk menarik Jihan. Hingga tarik menarik di antara mereka, berujung dengan jatuhnya Jihan dari tangga. Wanita itu meringis karena pantatnya yang terlebih dahulu menyentuh kerasnya keramik.
Adara My Wife mungkin aku upload malam. Sebab ceritanya belum aku ketik. Kedua buah hatiku sedang demam. Jadi mereka berdua tidak mau lepas dariku.