Senja mengamati wajah manis Jingga yang sedang terlelap. Pemaksaan yang ia lakukan membuat gadis berusia dua puluh dua tahun tersebut tidak mampu untuk membuka kedua matanya. Tubuhnya terasa sakit dan remuk ulah suaminya sendiri. Dalam diam, Senja memperhatikan setiap garis wajah istrinya. Ada sedikit rasa bersalah yang menyelusup didalam hatinya. Mengingat perjanjian yang ia buat dengan Jihan semalam. Mana mungkin Senja membuang Jingga begitu saja, setelah beberapa kali ia meniduri istrinya itu.
Sebelum beranjak dari tempat tidur, Senja menutupi tubuh polos Jingga dengan selimut. Ia mencium kening gadis itu sekilas sebelum masuk ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Senja tertegun melihat wajah teduh Jinngga. Nafasnya terlihat teratur. Menandakan gadis itu benar-benar terlelap di dalam tidurnya. Perlahan, Senja beranjak dan masuk ke dalam kamar mandi.
Begitu pintu kamar mandi tertutup, buliran bening mengalir dari ujung mata Jingga. Ia menggigit bibir bawahnya sendiri. Hatinya begitu sakit atas penghianatan yang dilakukan oleh suaminya sendiri.
Apakah aku layak bertahan dalam pernikahan ini? Bagaimana caranya aku bisa sanggup untuk melewati ini semuanya. Cinta? Bodohnya aku menuruti cinta ini. Cinta yang dari dulu sudah terpendam. Dan kenapa? Kenapa aku harus kakakku lagi? Bukannya dia telah hidup bahagia dengan suaminya. Apakah aku salah, hidup dengan pria yang aku cintai. Walaupun mendapatkannya dengan cara yang salah?
"Kamu sudah bangun, Jingga?" tanya Senja, yang baru saja keluar dari kamar mandi.
Jingga menghapus air matanya, lalu berbalik ke arah Senja. "Sudah, Kak? Maaf aku ketiduran."
Gadis itu menggulung tubuhnya dengan selimut dan berlari masuk ke dalam kamar mandi.
"Aku akan keluar. Mungkin kamu ingin menitip sesuatu?"
"Tidak ada, Kak. Tetapi kalau Kakak tidak keberatan, bisakah Kakak pulang cepat. Aku ingin berjalan-jalan nanti sore."
"Baiklah, sebelum pukul empat aku sudah pulang. Bersiaplah."
Jingga tersenyum kepada suaminya, sebelum ia menutup pintu kamar mandi. Dibalas senyuman pula oleh Senja.
Senja membeku saat melihat pantulan tubuhnya pada cermin. Ia menyentuh tanda merah yang ada pada lehernya. Seingatnya, setiap Jingga melayaninya, tidak pernah sekalipun gadis itu meninggalkan tanda tersebut. Mencoba kembali mengingat, Senja akhirnya sadar dari siapa tanda itu berasal. Dari Jihan, yang tadi malam hampir ia tiduri.
Senja menatap pintu kamar mandi yang tertutup rapat.
Bagaimana mungkin kamu bisa menjalankan tugasmu sebagai istri? Apa mungkin kamu tidak melihatnya? Ah, tidak. Pasti kamu melihat ini kan Jingga. Tetapi kenapa kamu tidak menanyakannya kepadaku? Sebesar apa cintamu padaku sehingga kamu tidak pernah menghiraukan ini semua?
"Kakak belum selesai?" Jingga menyentuh lengan suaminya, yang sedang diam mematung.
"Ah, belum. Aku bingung memilih baju yang akan aku gunakan. Jadi aku menunggumu selesai!" Jawab Senja kikuk. Ia tidak sadar telah berapa lama melamun. Sehingga kini Jingga telah berada kembali di hadapannya.
"Maaf aku lupa. Tunggu sebentar. Akan aku ambilkan."
Seperti tidak terjadi apapun, Jingga mengusap lengan Senja dan beralih kepada lemari besar yang ada di samping mereka. Padahal, selama di dalam kamar mandi Jingga tidak pernah berhenti menumpahkan air mata. Untuk meredakan sesak yang menghimpit dadanya.
"Ini sepertinya cocok untuk hari ini," Jingga menyerahkan satu buah kemeja biru langit, yang sangat cocok dengan kulit kuning langsat Senja.
Senja menerima baju tersebut dan mengenakannya.
"Bisa bantu aku untuk mengenakannya?" Senja mengembangkan kedua tangannya.
Jingga tersenyum. Jari-jari lentik gadis itu mulai memasukkan satu persatu kancing baju kedalam lobangnya. Untuk menahan sakit saat melihat tanda itu lagi, Jingga sedikit bersenandung.
"Nah, sudah selesai. Kamu terlihat semakin tampan, Kak!" Membenarkan letak kerah baju Senja.
"Kenapa kamu tidak melihatnya?" Senja menggenggam pergelangan tangan Jingga.
"Melihat apa, Kak?" Mata Jingga mengerjap.
"Ini!" Senja menunjuk tanda merah di lehernya.
"Ah, ini? Kenapa dengan ini?" Jingga mengusap tanda tersebut dengan jari jempolnya. "Apakah terlihat memalukan bagi Kakak?"
"Ma-ksud kamu?" Senja menatap ke dalam manik hitam Istrinya itu.
"Tidak. Aku hanya ingin tahu, apakah tanda ini begitu sangat memalukan. Sehingga Kakak menanyakannya kepadaku. Aku melihatnya. Sangat-sangat bisa melihatnya. Tetapi aku lupa, kapan aku melakukannya. Ah …, mungkin waktu malam pertama kita. Benar bukan?"
"Lupakan!" Senja beranjak dan meninggalkan Jingga disana.
Bukannya aku tidak melihatnya, Kak. Tetapi aku mencoba untuk tidak melihatnya. Kenapa kamu menanyakannya, apa karena kamu ingin aku membuka mataku lebar-lebar. Dan memintaku untuk mundur secara halus? Tidak! Kamu salah, Kak. Aku tidak akan mundur selangkah pun.
Jingga bergumam di dalam hati. Tekadnya sudah bulat untuk tetap mempertahankan rumah tangganya. Meskipun harus menyingkirkan kakaknya sendiri.
*****
"Eja!" Jihan langsung mendekati Senja, yang baru saja turun dari tangga. Wanita itu juga memeluk Senja dengan sangat erat.
"Aku merindukanmu."
"Bik, pergilah!" Perintah Senja kepada Esih, yang berdiam di dekat mereka.
"Baik, Tuan."
Tanpa banyak pertanyaan, Esih meninggalkan ruang tamu tersebut.
"Aku membawa Syakila. Aku yakin kamu ingin bertemu dengannya!" Mengurai pelukannya dan meraih tangan gadis kecil, yang terlihat kebingungan.
"Hai!" Ucap Senja kikuk.
"Syakila, perkenalkan. Ini Ayah kandung kamu! Namanya Ayah Senja. Salim dulu sama ayah!"
"Ayah?" gadis kecil itu membeo.
"Benar, ini ayah kamu. Papa Doni, bukan ayah kamu. Tetapi hanya suami Bunda. Kamu paham?"
Gadis kecil itu mengangguk, meskipun tidak mengerti apa yang dikatakan sang ibu. "Ayah …" ucapnya memeluk kaki Senja.
"Apa yang kamu lakukan Jihan? Bagaimana mungkin kamu mengatakan ini semua secara gamblang seperti ini?" Senja melepaskan pelukan Syakila dari kakinya. Pria itu sedikit menjauh. Tidak ada getaran apapun saat berdekatan dengan gadis kecil itu.
"Aku sudah mengatakan niatku untuk bercerai kepada Doni. Sekarang giliran kamu. Ceraikan gadis itu!"
"Aku tidak bisa melakukannya sekarang, Jihan!"
"Kenapa? Kenapa tidak bisa? Apa karena kamu sudah tidur dengannya?"
"Aku tidak pernah tidur dengannya!"
"Kamu yakin? Hampir satu jam aku menunggumu disini. Menunggumu selesai bergumul dengan gadis murahan itu!"
"Ok, baik. Kamu benar. Aku menidurinya. Karena aku butuh itu."
"Kamu bisa memintaku untuk memuaskanmu! Seperti dulu. Bukankah semalam kita hampir melakukannya. Tetapi kamu malah menolakku!"
Jingga yang ingin turun untuk mengantarkan dompet Senja, tertegun di balik pintu kamar mereka. Hatinya sedikit lega, karena Senja tidak melakukan apa-apa dengan kakaknya semalam.
"Aku tidak bisa, Jihan. Kamu istri orang. Begitupun aku!"
"Argh. Jingga bisa hamil, kalau kamu melakukannya secara terus-menerus." Jihan menatap tajam kepada Senja.
"Kamu tenang saja. Itu tidak akan terjadi. Kalau pun terjadi, aku akan melenyapkan anak itu.," susul Senja. Meyakinkan Jihan bahwasanya ia tidak akan pernah ingkar janji dan akan menyelesaikan pernikahannya bersama Jingga dalam waktu dekat ini.
Tanpa diketahui oleh Senja, Jingga yang ingin menuruni anak tangga, tertegun.
Menutup mulutnya menahan tangisan yang siap meledak kapan saja. Hancur? Jangan ditanya lagi. Bagaimana perasaan Jingga saat ini. Mendengar ucapan sang suami, yang ingin melenyapkan sang buah hati jika ia hamil. Setelah itu, akan kembali pada Jihan, kakak kandungnya sendiri.
Yang nggak suka bawang di larang mendekat. Humor dan romantis di cerita ini hanya 20%. Apa lagi si Senja pria yang labil.
Untuk cerita Jadilah Ibuku, akan aku update nanti malam m Sebab aku lupa kalau hari ini Kamis. Jadwal untupdate.