Jingga menggeliat saat merasakan keram pada tangan kanannya. Bahkan, tangan tersebut tidak bisa digerakkan sama sekali. Akhirnya, ia membuka kedua mata dan melihat apa yang membuat tangannya berat saat digerakkan. Hati Jingga menghangat. Melihat Senja yang menjadikan lengannya sebagai bantal Pria itu juga melingkarkan tangannya di bawah d**a Jingga. Perlahan, tangan Jingga terangkat. Mengusap rambut tebal Senja, dengan jari-jari lentiknya. "Jangan menggodaku, Jingga …," serak Senja. Ia juga menangkap pergelangan tangan Jingga. "Aku pikir Kakak masih tidur," lirih Jingga. "Tadinya, iya. Namun, pergerakkan jari-jarimu membuatku terbangun dari tidurku." "Maaf, Kak!" "Aku maafkan. Asalkan …," Senja menindih tubuh ramping Jingga. Lalu memagut lembut bibir ranum merah muda Istrinya it

