Saat subuh menyapa, Jihan mulai membuka kedua matanya. Kata pertama yang keluar dari mulutnya adalah 'Senja'. Doni yang masih terjaga, menghela nafas berat. Hatinya cukup sakit. Tidak bisakah istrinya mengucapkan namanya, setelah begitu banyak pengorbanan yang ia lakukan. Setidaknya, jangan mengucapkan nama pria lain saat berada di dekatnya. "Dimana Senja?" Jihan mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan. Tidak ada Senja disana. Hanya ada Doni dan kedua orangtuanya. Doni yang duduk di samping Jihan hanya diam. Pria itu juga menundukkan kepalanya. Kedua orang tua Jihan yang sedang duduk di sebuah sofa, bangkit. Ryadi dan Vera mendekati putri sulung mereka tersebut. Melihat Doni yang menunduk, Vera bisa merasakan kekecewaan pada menantunya itu. "Katakan dimana Senja?" Lirihnya lagi.

