Author Pov
Pagi-pagi sekali sebelum berangkat ke kafe, Lovely menyempatkan diri untuk mengunjungi apartemen kekasihnya. Seusai diberitahukan Fedrik semalam perihal Delta yang mabuk dan meracau tidak jelas di depan pub yang sering kedua lelaki itu datangi, Lovely pun mengarahkan Fedrik supaya membawa tunangannya itu ke apartemen. Sengaja, biar Alfa tidak perlu tahu mengenai kondisi adiknya. Karena seandainya pria itu tahu, Lovely khawatir kalau Delta akan diomeli habis-habisan oleh Alfa pada pagi harinya. Dan setelah itu mereka berdua akan terlibat percekcokan yang mengakibatkan keduanya saling berseteru.
Alhasil ketika pagi datang, Lovely pun buru-buru beranjak dari kasur dan lekas membersihkan diri agar ia bisa segera menemui kekasihnya yang sejak semalaman cukup berhasil membuat dirinya tak nyenyak tidur. Hingga akhirnya, berdirilah Lovely sekarang di dalam sebuah lift yang tengah bergerak naik menuju lantai di mana unit milik Delta berada.
Tak lama kemudian, gadis itu pun tiba di depan pintu unit Delta. Setelah menekan 6 digit kata sandi yang selalu ia ingat, pintu pun terbuka. Suasana sepi lantas menyambut kedatangannya, Lovely tebak kekasihnya pasti masih betah bergumul di atas tempat tidur. Untuk sesaat, gadis berbibir pink itu menghela napas.
Seusai menaruh tote bag merah mudanya ke atas sofa ruangan tengah, kini Lovely melangkah menuju pintu kamar Delta. Sesampainya di sana, tangannya pun mulai terulur guna menarik pegangan pintu berwarna coklat jati tersebut. Ketika pintu berhasil didorong terbuka, Lovely pun menemukan kekasihnya tengah meringkuk membelakangi posisi pintu dalam keadaan topless. Lagi-lagi, gadis itu mendesah berat.
Tidak ingin mengganggu waktu tidur sang kekasih, Lovely kembali menutup rapat pintunya dengan pelan. Kemudian, ia pun mengayunkan kedua kakinya menuju mini kitchen guna membuat sesuatu untuk menu sarapan Delta saat terbangun nanti. Membuka pintu lemari es, Lovely pun mulai mengeluarkan satu persatu bahan-bahan mentah yang akan ia masak.
***
"Selamat pagi?" sapa Lovely di detik pertama Delta membuka mata.
Ya, saat ini gadis itu memang tengah duduk bersandar di samping
kekasihnya yang baru terjaga. Pasca membuat sarapan, gadis itu memutuskan untuk menunggu Delta terbangun di atas ranjang yang juga lelaki itu tempati.
"Sayang? Kamu ada di sini?" seru Delta dengan suara serak khas orang bangun tidurnya, menatap gadis di hadapannya dengan satu mata yang dikucek pelan.
"Gimana tidurnya? Nyenyak?" tanya Lovely tak berminat mengindahkan seruan Delta sebelumnya.
Alih-alih menjawab, lelaki itu malah menghela napas berat. Kemudian, ia mengubah posisi tidurnya menjadi terlentang.
"Ada apa, hem?" lontar Lovely kembali bertanya, kali ini dia pun ikut membaringkan tubuh dengan posisi miring menghadap Delta.
Tampaknya, laki-laki itu masih belum mau membuka suara. Buktinya, ditanya oleh kekasihnya saja dia malah anteng menatap langit-langit seakan di atas sana terdapat sesuatu yang jauh lebih menarik dibanding menjawab pertanyaan yang Lovely ajukan sesaat lalu.
"Kalau kamu ada masalah, cerita dong sama aku. Apa gunanya aku di sini kalo kamu masih gak mau ngomong apa-apa..." gumam Lovely berusaha membujuk, satu tangannya yang bebas terulur ke atas d**a bidang Delta dan telunjuknya bergerak memutar di sana tanpa ia sadari.
Gadis itu hanya berniat untuk mengajak kekasihnya berbicara, namun reaksi yang Delta dapat malah beda lagi. Berada di jarak sangat dekat dengan posisi seperti yang sekarang terjadi di antara keduanya, membuat hasrat Delta tiba-tiba muncul ke permukaan. Apalagi di pagi hari, juniornya selalu turut bangun seakan sudah menjadi kebiasaan. Menyadari akan pergerakan jemari Lovely yang masih bermain asal di atas dadanya, jakun Delta pun turun naik. Mendadak, suhu tubuhnya menjadi panas. Membuat Delta refleks memiringkan tubuhnya hingga berhadapan dengan sang gadis yang kini tengah melotot terkejut akibat gerakan tubuh Delta yang teramat mendadak.
***
Lovely tidak bisa berkutik ketika dengan tiba-tiba Delta memosisikan diri tepat di atas tubuhnya. Tenggorokannya mendadak kekurangan saliva tatkala ia melihat tatapan kekasihnya berubah menjadi gelap. Lovely sadar, Delta sekarang tengah turn on. Lalu, apa yang harus ia lakukan? Tetap diam seperti itu atau mendorong Delta dan menghindarinya? Sungguh! Lovely sendiri tidak kuasa untuk sekadar menggerakan jemari.
"Ri-Rio ... aku-" Terlambat, belum sempat Lovely mengutarakan kalimatnya, lelaki itu justru sudah lebih dulu melumat bibirnya dengan rakus.
Jantung Lovely berdebar dahsyat, meski bukan kali pertama Delta menciumnya serakus itu tapi tetap saja, hal itu selalu membuat perasaan Lovely tak karuan. Di satu sisi, Lovely ingin melepaskan diri tapi di sisi lain tubuh Lovely sendiri menginginkan sesuatu yang lebih. Oh ayolah, Lovely itu perempuan normal dan jauh sebelum ini, Lovely pun pernah merasakan bagaimana setengah tubuh telanjangnya disentuh bibir sang kekasih.
"Eungh," tanpa sadar, Lovely melenguh. Membuat hasrat Delta semakin meningkat dan selain bibirnya yang sedang asyik mencumbu bibir sang gadis, satu tangannya pun mulai merambat pelan menelusup ke balik blus marun yang Lovely kenakan.
Terbawa suasana, Lovely pun lambat laun membalas ciuman Delta sama rakusnya. Bahkan, tangannya mencengkeram erat bahu Delta ketika lelaki itu berhasil meraba gundukan kenyal yang bersembunyi di balik bra hitam sang gadis. Tangan lebar itu mulai meremas salah satu daging kenyal tersebut, membuat Lovely kembali melenguh dan akal sehatnya seakan sudah didominasi oleh kenikmatan yang kian menjadi.
"Ah s**t, punyaku mengeras!" geram Delta di tengah aksinya. Sementara Lovely, dia masih berada dalam posisinya yang tak berdaya untuk sekadar berkata tidak.
Setengah akal sehat Lovely sebenarnya masih berjalan, namun gairah seakan tidak mau dikalahkan oleh logika. Pikiran Lovely menginginkan berhenti tapi tubuhnya malah berkata sebaliknya. Remasan tangan Delta semakin menjadi, membangkitkan birahi dari keduanya yang tampaknya sama-sama ingin hal yang lebih. Bra hitam dari balik blus marun itu sudah terlepas, entah bagaimana caranya yang jelas pengaitnya terbuka begitu saja saking lincahnya aksi tangan Delta dalam meremas.
Tiba-tiba Delta mengantukkan keningnya ke kening Lovely, napasnya terengah bak orang yang habis selesai berlari ratusan kilometer. Untuk beberapa saat matanya terpejam, namun sejurus kemudian iris abu itu kembali terbuka seiring bertemunya dengan manik coklat milik sang kekasih. Kini, dua sejoli yang tengah dikuasai gairah itu pun saling bertatapan.
"Aku ingin kita menikah..." tukas Delta fasih. Sontak melebarkan pupil mata sang gadis yang kala itu tak menyangka kalau lelaki di atasnya akan berbicara ke arah seserius itu.
Sambil mengerjapkan mata, Lovely lantas mencicit, "Ma-maksud kamu?" tatapnya setengah tak percaya.
Delta mengangguk, "Iya, aku ingin kita menikah ... karena hanya pernikahanlah yang bisa membuat kita bebas melakukan apa yang kita inginkan di pagi ini," tuturnya seraya beranjak dari atas tubuh sang gadis.
Mengusap muka, Delta pun duduk membelakangi Lovely. Beruntung, birahi tak mengalahkan logikanya. Untuk saat ini, Delta masih bisa mengendalikan diri. Tapi di waktu lain, Delta tidak menjamin kalau dirinya bisa menahan diri untuk tidak terhanyut dalam suasana seperti yang nyaris terjadi sesaat lalu.
"Sebaiknya, kamu tunggu aku di luar aja. Aku takut kalo kamu terus diam di sini, justru malah bikin aku berubah pikiran. Jadi sebelum itu terjadi ... kamu tinggalin aku sendiri dulu ya, Sayang?" toleh Delta menatap sendu.
Sembari merapikan blus yang sudah kusut masai, Lovely pun mengangguk. Tanpa berkata apa-apa, dia lantas bangkit dan berlalu meninggalkan Delta. Hingga seperginya sang gadis, Delta pun mengembuskan napas kasar diiringi dengan delikan kesalnya terhadap si junior yang berdiri tegak dari balik celana yang dikenakannya.
***
"Gimana sarapannya, kenyang?" tanya Lovely sambil menopang dagu menatap lelaki di hadapannya yang baru saja menghabiskan omelete hasil olahan Lovely sendiri. Seakan sudah melupakan kejadian yang terjadi di kamar tadi, kini keduanya bersikap seolah tidak terjadi apa-apa. Delta sendiri pun sudah terlihat jauh lebih segar dari sebelumnya.
Sambil meneguk segelas air s**u, Delta mengangguk, "Perutku akan selalu kenyang kalo ngabisin masakan buatan kamu," ujarnya tersenyum.
Seperti biasa, Lovely akan tersipu malu ketika mendengar kalimat sejenis yang Delta lontarkan barusan. Baginya, itu merupakan sebuah pujian. Maka, tidak lebay kan kalau Lovely bersikap sedemikian rupa?
"Sini, biar aku cuci piring bekasnya..." pinta Lovely berniat untuk mengambil piring kotor bekas Delta makan, akan tetapi dengan sigap lelaki itu menggeleng dan melarang Lovely untuk melakukan hal yang hendak ia perbuat.
"Loh, kenapa?" tanya Lovely mengernyit.
"Biar aku aja, kamu udah cukup ngelakuin yang terbaik buat aku di pagi ini..." ujar Delta tersenyum lembut.
Lihat! Hanya mendengar dan melihat senyuman selembut itu saja, kedua pipi Lovely sudah merona. Membuat Delta lantas tergelak geli dan memutuskan untuk mengangkut piring kotor bekas makannya sendiri ke tempat cuci piring setelah sebelumnya sempat mengacak sejenak pucuk kepala sang gadis.
"Kamu tuh udah mahir diajak ciuman tapi kelakuannya masih mencerminkan ABG baru tahu cinta!" celetuk Delta sembari melengos.
Kontan, mata Lovely melotot ketika dengan terang-terangannya Delta menyamakan dirinya dengan ABG yang baru mengenal cinta. Tidak terima diolok-olok oleh sang kekasih, Lovely pun ikut beranjak dan menyusul Delta guna memberi pelajaran pada lelaki itu karena sudah berani mengejeknya.
Namun sebelum Lovely berhasil menghampiri kekasihnya yang sudah berada di depan tempat cuci piring, tiba-tiba sebuah ketukan pintu terdengar dari luar sana. Menghentikan pergerakan Lovely yang kemudian berbalik arah demi membukakan pintu bagi siapa pun yang mungkin hendak bertamu pada si pemilik unit.
Sesampainya Lovely di depan pintu, ia pun membukanya. Dan bersamaan dengan itu, seuntai senyuman lebar pun tersungging manis di bibir seorang gadis berambut sepunggung berwarna kemerahan.
"Halo? Apa benar ini apartemen milik Deltario Andromeda?" tegur si perempuan yang kontan memunculkan raut penuh pertanyaan dari wajah cantik tunangan Delta yang kini berdiri termangu di depan ambang pintu.