4. Pernikahan

712 Words
"Haa, itu kan si bos galak. Ngapain dia disana. Ah dasar curang main tinggal eh tiba-tiba sudah ada lagi." gerutu ku kesal tanpa memperhatikan apa yang dilakukannya. Tak lama terlihat dia berjalan ke arahku sambil diiringi alunan musik yang aku sendiri tidak tau lagunya apa, siapa penyanyinya yang jelas itu musik sangat enak didengar dan romantis. "Sindy Aprila Putri Bin Sujono, maukah kamu menjadi pasangan hidupku disaat susah maupun senang? Dikala duka maupun suka?" "Haaaa....." aku kaget setengah mati tak bisa berucap sepatah katapun saat si bos galak ini menyodorkan cincin bermahkotakan berlian padaku. Dan aku mendengar ada suara-suara riuh di belakang sedang meneriaki dengan kata-kata terima, terima, terima.... "Sudah nak Sindy, terima saja lamarannya. Kami sudah tidak sabar mau timang cucu." "Iya mbak, buruan jawab iya. Clara juga mau punya ponakan buat teman main." Aku mendadak merasakan pusing, rasanya untuk bernafas pun susah. Mungkin kondisiku saat ini seperti ikan yang lagi mencari air buat hidup. "Bagaimana Sindy Aprilia Putri Bin Sujono, apakah kamu mau menerima lamaran saya?" "A apa bapak bercanda pak? Bapak nggak lagi kesurupan kan?" "Nggak, saya sadar. Apa kamu pikir, kami semua disini bercanda? Apa kamu tidak dilihat disana itu semuanya keluargaku sedang menanti jawaban atas lamaran ini. Ayo buruan di jawab?" "Haa, saya musti jawab apa pak?" "Ya jawab iya kan bisa." "Iya pak, begitu maksudnya?" Aku yang nggak percaya bahwa ini nyata terlihat seperti orang bodoh dan linglung, bagaimana tidak aku dilamar seorang pria tampan yang kaya raya menjadi incaran dan dikagumi oleh semua kaum wanita. "Mam, Pap, Clara jawabannya iya." teriak si bos galak pada keluarganya dan membuat ku tambah terkejut. "Eh pak kapan saya jawab iya?" "Lho bukannya tadi kamu bilang iya pak, ya jadi saya anggap kamu menerima lamaran saya." katanya enteng sambil mengambil jari dan memasang cincin yang dari tadi di tangannya. Anehnya, aku cuma nurut saja diperlakukan seperti itu nggak ada penolakan sedikit pun. "Terimakasih ya nak Sindy, akhirnya kamu menerima anak kami menjadi calon suamimu. Dan kami sudah memutuskan kalian akan menikah secepatnya setelah itu baru kita adakan resepsi. Nak Sindy silahkan bilang sama mama kemana kami harus pergi membawa hantaran untuk persiapan pernikahan kalian?" "Em kalau soal itu, maaf tante eh mama, saya nggak punya saudara ataupun famili. Orang tua pun sudah lama meninggal. Yang di kampung saya tidak punya sanak famili makanya saya memutuskan untuk merantau ke sini karena tidak ada lagi yang bisa saya harapkan di kampung." ucapku sambil meneteskan air mata teringat kedua orang tua ku yang sudah lama pergi. "Maafkan mama nak, sungguh mama tidak tahu. Kalau begitu keadaannya maukan semuanya biar mama yang mengurus semuanya. Dan mulai saat ini, mama harap nak Sindy tinggal bersama kami sampai acara resepsi pernikahan kalian selesai. "Em itu tan eh ma, apa boleh untuk sementara aku tetap tinggal di kontrakan saja?" "Tapi nak..." "Ma, aku mohon." "Ya sudah jika itu memang pilihanmu, tapi ingat untuk mengangkat telepon mama ya." "Hem baik ma." "Ya sudah, kalian berdua lanjutkan acara makannya. Kami semua mau pergi dulu dan mempersiapkan semuanya. Oh ya kenapa tidak kita percepat saja ya pa menjadi minggu depan?" "Apa?" semuanya kaget mendengar ocehan mama yang terkesan mendadak, waktu satu bulan saja masih kurang apalagi jika dimajukan menjadi satu minggu. “Mama serius? Acaranya dimajukan menjadi depan?” tanya Clara dan dianggukan oleh semua orang. “Ya, kenapa tidak.” Jawab mama dengan sangat yakin. “Ma, ini acara nikahnya kak Bram lho putra semata wayang keluarga Wijaya masa acaranya dadakan begitu?” “Memangnya kenapa kalau mendadak, toh semuanya sudah ada yang menguruskan. Kita tinggal bilang sama E.O nya jika acaranya dipercepat. Semakin cepat kan semakin bagus. Apa kamu mau nanti kakakmu ini berubah pikiran dan membujang lagi.” “Ya nggak sih ma, ya sudah deh terserah mama. Nanti Clara hubungi E.O nya suruh kebut lagi persiapannya.” “Nah gitu dong. Bagaimana Bram, Sindy? Kalian setujukan?” “Ya terserah mama saja lah yang penting tidak merepotkan buat kami berdua.” “Oke sayang, kalian cukup nurut saja nanti disuruh ngapain. Semuanya biar mama dan Clara yang atur.” “Nah papa kabagian apa ma?” “Oh ya, mama lupa kalau ada papa. Hahahaha.” Semua tertawa mendengar ocehan mama dan tingkah lucu papa yang tidak biasanya dan juga kelihatan cari perhatian dari mama.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD