Setelah semuanya dikebut sehingga akhirnya semua persiapan rampung dengan perjuangan penuh dari semua pihak untuk menjadikan pernikahan mendadak yang megah. Semua yang terlibat mempertaruhkan kerja keras masing-masing, bagaimana tidak yang menikah adalah kalangan orang terpandang, kaya dan dari bangsawan juga keluarga pengusaha. Kesuksesan menggelar pernikahan mereka akan membuat usaha atau bisnis mereka juga akan terkenal.
Tinggal satu hari lagi menuju acara pernikahan, Keluarga Wijaya mendatangi tempat dilaksanakan acara, melihat apa yang masih kurang dan memastikan semua berjalan sesuai permintaan mereka.
“Maaf buk, silahkan jika masih ada yang kurang?” ucap pimpinan E.O.
“Hem, saya rasa ini sudah sangat mewah. Terima Kasih kerja keras kalian saya acungi jempol.”
“Wah, kami senang sekali buk jika ibu dan keluarga puas dengan E.O kami.”
“Ya, saya sangat puas. Dan ingat pastikan untuk besok semua berjalan lancar, saya tidak ingin mendengar ada kekurangan sedikitpun nantinya.”
“Siap, baik buk. Kami akan bekerja maksimal untuk besok. Dan ini juga akan menjadi tantangan buat kami buk mampu memberikan acara yang megah untuk pernikahan anak ibu.”
“Ya. Silahkan dilanjutkan. Saya dan keluarga pamit dulu.”
“Baik buk, mari saya antar.”
Semuanya merasa puas dengan apa yang mereka lihat dan merasakan bahagia dengan acara yang telah mereka nantikan besoknya.
**
Selama acara persiapan pernikahan, aku diboyong oleh mama ke rumahnya. Bagiku lebih tepatnya istana sih bukan rumah.
“Ah bagaimana ini, besok acara pernikahan ku. Tapi sampai sekarang aku masih merasa ini mimpi bukan nyata. Bagaimana mungkin aku bisa menikah dengan seorang pria kaya raya, tampan seperti si bos galak itu.” Gumam ku sendiri di kamar tamu yang sudah ditempati beberapa hari ini. Saking fokusnya melamun memikirkan nasib yang entah aku sendiri tidak tahu kenapa bisa jadi begini tidak menyadari jika mama sudah ada dalam kamar dan mendengar semua ocehanku.
“Tidak ada yang salah Sindy, ini adalah jalan hidupmu. Kamu anak baik dipertemukan dengan anak mama. Dan sebentar lagi kamu akan sah menjadi keluarga Wijaya. Apapun ocehan diluar sana tidak usah diambil pusing, anggap saja mereka iri atau apa yang penting bagaimana kamu dan suamimu nanti menata masa depan rumah tangga kalian.”
“Eh iya ma, Sindy terimakasih banyak mama dan keluarga sudah mau menerima Sindy masuk menjadi anggota keluarga di rumah ini. Terimakasih ma.” Ucapku sambil memeluk tubuh beliau.
Semenjak aku ditinggal oleh kedua orang tuaku, aku berusaha mandiri dan tidak pernah mengeluh dengan apa yang kurasakan walau terkadang rasa sedih selalu menghantui ketika anak seusiaku dipeluk, digendong oleh ibunya sementara aku hanya bisa meratapi makam kedua orang tua ku. Ya, aku memang ditinggal pergi sejak kecil oleh kedua orang tua ku akibat kecelakaan yang merenggut nyawa mereka beruntung aku selamat. Namun, kepergian mereka membuat dunia ku semuanya berakhir sampai aku nekat memutuskan untuk meninggalkan kampung halamanku.
“Ya, sayang. Sekarang istirahat ya, besok pagi-pagi sekali kita sudah berangkat lho karena acaranya dimulai jam sepuluh. Nggak lucu kan jika nanti mempelai perempuannya telat datang karena ketiduran.” Ucap mama sambil tertawa menggoda ku.
“Iya ma.” Jawabku tersenyum.
Sementara itu, di ruangan lain tampak Bram uring-uringan tidak bisa tidur memikirkan nasib bujangnya yang sebentar lagi akan habis masanya.
“Aduh, kenapa ini rasanya gak karuan ya. Ayolah tidur wahai mata, apa kau tidak lelah mata jika melihat terus, amri ayo kita tidur tutup mata lagi.”ucap Bram yang terdengar konyol karena perasaan grogi yang sudah mulai menghantuinya menjelang pernikahan.
Tepat pukul lima pagi semuanya sudah bersiap menuju tempat pernikahan, seluruh keluarga dan mempelai akan dirias disana dengan MUA yang sudah siap sedia menunggu mereka. Iring-iringan mobil pun keluar dari rumah Wijaya, dimana mobil mempelai perempuan dan laki-laki dipisah. Walaupun mereka satu atap tapi mereka tidak diizinkan untuk bertemu sampai selesai ijab qabul nanti.
Setelah semuanya dirias, penghulu, para saksi dan tamu undangan pun mulai berdatangan menyaksikan acara pernikahan mereka.
Tepat pukul sepuluh, acara ijab qabul mulai dilangsungkan. Nampak mempelai pria, wali nikah, penghulu serta para saksi mengambil tempat yang sudah disediakan. Setelah melalui uji coba secukupnya dilangsungkan ijab qabul yang nanti akan merubah status dari satu orang menjadi pasangan.
“Saya nikahkan dan kawinkan Cindy Aprila Putri Binti Sujono dengan engkau Brama Putra Wijaya Bin Wijaya dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan uang koin emas sebanyak dua ribu dua puluh satu dibayar tunai.”
“Saya terima nikah dan kawinnya Cindy Aprila Putri Binti Sujono dengan mas kawin tersebut dibayar tunai.” Jawab Bram dengan satu tarikan nafas.
“Bagaimana para saksi, apakah sah?”
“Sah....” teriak para tamu undangan.
“Alhamdulillah.” Jawab semua orang serempak dan disudahi dengan bacaan do’a oleh penghulu.
Setelah ijab qabul selesai, tibalah saat dimana pengantin perempuan diarak keluar dan disandingkan duduk di pelaminan. Semua mata tertuju melihat ke arah mempelai perempuan, semuanya penasaran dengan mempelai perempuan.
“Silahkan mempelai perempuan untuk mengambil tempat di sebelah mempelai pria.” Ucap pembawa acara.
Tampak iring-iringan mempelai perempuan keluar dan berjalan ke arah pelaminan. Semua mata terpana melihat kecantikan yang alami dari mempelai perempuan dan masih bertanya-tanya siapa gerangan yang menjadi pendamping Brama Putra Wijaya, gadis dari kalangan mana yang mampu membuat hatinya bergetar.