“Eh Wi, kayaknya aku kenal deh sama nih cewek tapi siapa ya?” ucap Salsa pada Dewi ketika melihat Sindy berjalan menuju pelaminan.
“Iya Sa, aku juga ngerasa kayaknya kenal gitu tapi lupa dimana.” Jawabnya sambil cengengesan.
“Siapa ya, kayaknya sering ketemu deh.” Ucap Salsa sambil terus berpikir mengingat-ingat siapa.
“Astaga Dewi, itu kan Sindy bukan ya?” ucapnya kembali terkejut setengah mati.
“Haa, serius kamu Sa. Itu Sindy, ah ngaco kamu. Mana mungkin itu Sindy.”
“Iya, aku yakin itu Sindy.”
“Eh iya sih kalau dilihat-lihat memang mirip Cindy sih, tapi nggak mungkin lah rasanya si bos mau sama Sindy.” Ucap Dewi ragu.
“Ah kita kan nggak tau wi nasib membawa kemana, itu buktinya Sindy bisa bersanding dengan orang kaya.”
“Iya juga sih. Eh itu ada bu Clara, kita tanya yuk.” Ucap Dewi pada Salsa dan segera melangkah menuju Clara.
Rasa penasaran mereka akan siapa wanita yang menjadi pendamping bos mereka membuat mereka menjadi seperti pemburu gosip.
“Maaf bu Clara mengganggu sebentar.”
“Hem iya ada apa?”
“Itu anu bu, maaf sebelumnya. Ibu Tau bu yang menjadi istri pak bos siapa ya buk namanya?”
“Ha, memangnya kalian tidak tahu siapa?”
“Anu bu, itu kami...”
“Ah gimana sih katanya teman tapi kok pada nggak tau temannya menikah.”
“Maksud ibu....”
“Itu kan Sindy, teman kalian yang mejanya bersebelahan.”
“Serius buk, jadi benaran itu Sindy.”
“Apa saya bercanda?”
“Ah nggak ibu, nggak bercanda. Kami permisi bu.” Ucap mereka serempak dan langsung kembali ke tempat duduk mereka sambil menikmati hidangan yang sudah mereka ambil.
Mereka merasa sangat beruntung bisa berteman dengan seorang istri bos, semoga saja apa yang mereka lakukan selama ini tidak dibocorkan oleh Sindy pada si bos galak.
Sementara itu pesta berjalan dengan sangat meriah, para tamu pun bersalaman mengucapkan selamat pada keduanya. Semua sesi acara sudah dilewati dengan sangat baik hingga sesi foto pun sudah selesai. Tak terasa haripun sudah malam dan semua acara sudah selesai tinggal keluarga inti saja yang masih ada.
“Alhamdulillah, semua acara sudah selesai dengan meriah. Bram bawa istrimu untuk istirahat sana, mama sudah menyiapkan hadiah untuk kalian berdua.” Ucap mama.
“Ya ma. Ayo Sini, kita istirahat.” Ucap Bram sambil membantu Sindy berjalan.
Wajah lelah dan letih terlihat jelas di wajah kedua mempelai, waktu yang mepet, acara yang serba dadakan membuat tenaga terkuras. Setelah berjalan dipandu oleh pegawai hotel tempat acara dilangsungkan kebetulan orang tua Bram sudah menyiapkan kamar untuk seluruh keluarga dan kamar pengantin untuk kedua mempelai.
“Silahkan tuan.” Ucap pegawai hotel menyilahkan pengantin untuk masuk ke dalam.
“Ya.” Ucap Bram sambil membantu Sindy berjalan ke dalam, Sindy sangat kerepotan dengan model baju pengantin yang dipakainya sehingga membuat untuk berjalan dia harus dibantu.
Sesampai di kamar, mereka berdua terdiam, terpaku melihat dekorasi kamar yang menjadi plus-plus ala pengantin. Mawar berada di mana-mana, bahkan di atas tempat tidur dipenuhi bunga mawar. Di dekat kaca melihat keluar hotel tersaji pemandangan yang sangat indah dan dihiasi dengan sebuah meja makan yang romantis. Aroma nya pun aroma yang memang dipesan khusus untuk pengantin baru.
“Ehm.” Bram mendehem memecah kesunyian di antara mereka berdua.
“Ha.”
“Kamu mau tetap berdiri terus atau mau dibantu?”
“A itu, iya mas. Bantu aku melepas baju ini, rasanya sudah gerah sekali memakai baju seperti ini.”
“Ya, baiklah.”
Bram membantu Sindy melepas segala pernak-pernik yang melekat di badannya. Setelah itu, Bram memutuskan untuk mandi terlebih dahulu biar lebih segar.
“Saya mandi dulu.”
“E iya mas.”
Bram berjalan ke kamar mandi sambil membawa baju handuk sementara itu Sindy masih terdiam bingung memikirkan apa yang terjadi nanti dengan mereka hanya berdua saja di dalam kamar dengan suasana yang sangat romantis.
“Bagaimana ini, aku harus apa?” ucapnya bingung.
Tidak lama Bram keluar dari kamar mandi dengan tubuh segarnya, terlihat tetesan air masih menempel di beberapa bagian tubuhnya.
“Ayo, mandi dulu biar badanmu lebih segar dan lebih enak nanti.”
“A iya.”
Dengan terburu-buru Sindy segera ke kamar mandi, sebenarnya dia sangat malu dan canggung dengan situasi seperti ini. Setelah selesai mandi dan menggunakan baju handuk, Sindy keluar dan Bram sudah menanti dia.
“Ayo mari sini, saya bantu mengeringkan rambutmu.”
“Ehm iya.”
Sindy menurut saja apa yang diperintahkan Bram, ada getaran-getaran aneh yang dirasakan baik Sindy ataupun Bram. Keduanya sama-sama fokus pada pikiran mereka masing-masing.
“Sudah cukup keringkan.”
“Ya, sudah.”
“Apa kamu lapar?”
“Ya.”
“Kita makan dulu, mama sudah menyiapkan semuanya. Ayo.”
“Ya.”
Mereka kembali diam dan fokus pada makanan masing-masing, entah mengapa suasana lebih kaku jika dibandingkan ketika mereka bekerja.
Setelah selesai makan, Bram mencoba mencairkan suasana dengan mengajak bicara yang ringan saja hingga mereka merasa sudah agak santai dan sudah tidak merasakan lelah lagi. Bram mulai memberikan sentuhan-sentuhan kecil pada Sindy, Bram tidak ingin melewatkan malam pertamanya begitu saja dan begitupun Sindy. Mereka ingin melewati malam pertama berdua dengan penuh kenangan. Malam panjang pun telah mereka lewati bersama dengan romantis dan menikmati malam pernikahan mereka.
Kelelahan akibat pesta dan malam panjang mengakibatkan keduanya tertidur pulas padahal jam sudah tidak menunjukkan pagi lagi. Sudah pukul sepuluh, namun kedua insan yang baru saja dipertemukan dengan sebuah hubungan suami istri masih setia menutup mata mengarungi mimpi indah hingga siang menjelang.
Bram yang dulu terbangun segera ke kamar mandi untuk membersihkan diri akibat malam panjang mereka. Setelah mandi, dia menghampiri wanita yang telah resmi menjadi istrinya.
“Sayang, ayo bangun. Sudah siang.” Ucap Bram sembari menggoyang pelan tubuh istrinya.
“Huam, eh iya mas. Mas sudah bangun?”
“Sudah, ayo segera mandi setelah itu kita makan. Mas sudah pesan makanan buat kita.”
“Em ya mas.”
Setelah semua selesai dan makan pun sudah, Bram memutuskan untuk membawa Sindy ke rumahnya sendiri yang telah disiapkan sebelum pernikahan.
“Sin, ayo kita berangkat.”
“Kita kemana mas?”
“Kita pulang ke rumah, atau kamu mau menambah malam panjang disini lagi?”
“Ah mas ini.”
“Hahaha, nanti kita ulangi di rumah ya. Nggak enak disini, lebih enak dirumah sendiri.”Ucap Bram mencoba menggoda Sindy.