8.

1086 Words
Pagi ini mood Cherly kembali membaik, senyum cerianya kembali terpancar seperti biasanya. Sudah beberapa hari moodnya benar-benar jelek, membuatnya bermalas-malasan sepanjang hari. Dengan keceriaan seperti sebelumnya, Cherly keluar dari kamar dengan seragam lengkap. Ia akan berangkat lebih pagi dari biasanya. Setelah berpamitan pada kedua orang tua Vincent, dia berjalan menuju pintu utama. Ia sudah memesan grab untuk mengantarnya ke sekolah pagi ini. Sesampainya di sekolah, Cherly berjalan menuju kelasnya. Di sana sudah ada Alina, duduk sambil membaca novel seperti biasanya. Gadis itu sangat suka membaca. Di mana pun dia berada, pasti akan selalu membawa novel. Tidak ada hari tanpa membaca dalam hidup Alina. "Aliinaaa!" panggil Cherly ceria. "Udah balik lagi nih moodnya?" Alina menutup novelnya pelan, lalu meletakkannya dengan rapi di meja. Sesayang itulah Alina pada novel. "Iyaaa," jawab Cherly ceria seperti biasanya, bahkan lebih dari biasanya. "Tapi sekarang lebih ceria, keliatan lagi bahagia gitu. Kenapa?" tanya Alina penasaran. Cherly semakin tersenyum lebar, padahal sahabatnya, ia benar-benar senang karena semalam mendapatkan kabar baik dari kedua orang tuanya. "Bokap sama nyokap gue mau pulang ke Indonesia, kakak gue juga ikut. Huaaa, gue senang banget!" Cherly merentangkan tangannya ingin memeluk Alina saking senangnya. Dengan senang hati, Alina memeluk sahabatnya yang terlihat begitu bahagia. Dia juga ikut bahagia dengan kebahagiaan Cherly. Akhirnya, sebentar lagi Cherly tidak perlu lagi menginap di rumah Vincent. Sungguh, Alina sangat muak dengan sikap Vincent yang begitu kasar dan tidak pernah peduli dengan Cherly. Cherly benar-benar terlihat bahagia, sampai tidak sadar akan kedatangan Vincent dan Petter. Padahal, kan biasanya ia akan peka jika Vincent datang hanya dengan bau parfumnya. Mungkin karena terlalu bahagia kedua orang tuanya akan pulang. "Weh, ciwi-ciwi, kenapa pada pelukan?" tanya Ciko yang baru saja datang bersama rombongannya. "Boleh ikut gak nih?" Sigit siap-siap merentangkan tangannya untuk ikut berpelukan, namun dicegah oleh Devan. "Orang tua gue mau pulang ke Indonesia," kata Cherly, menghadap pada Devan yang juga menatap dirinya lembut. Devan mengelus puncak kepala Cherly pelan, tersenyum manis pada gadis di depannya. Melihat Cherly begitu bahagia membuat hatinya menghangat. Jujur, ia suka senyum bahagia di wajahnya. "Gue ikut senang kalau mereka bakal nemenin lo lagi di Indonesia," kata Devan. Dia memang seperti itu, kaku, datar, dan tidak banyak bicara. Tapi untuk urusan menjaga hati seorang gadis, ia sangat pandai. Walaupun tidak bisa bersikap manis, setidaknya dia tidak menyakiti hati seseorang. "Hai Cher, keliatannya lo bahagia banget pagi ini, ada apa?" tanya Petter penasaran. Cherly menoleh pada Petter, tapi ia bertemu dengan tatapan mata dingin Vincent. Tetapi segera, Cherly alihkan pandangannya pada Petter dan memberitahu jika kedua orang tuanya akan kembali ke Indonesia. "Berarti lo bakal bebas lagi dong?" pekik Alina bersemangat. "Maksud lo, Cherly gak bebas selama ada di rumah gue?" perkataan Vincent yang tiba-tiba membuat semua orang tercengang kaget. Cherly di rumah Vincent? Bukankah selama ini Cherly tinggal di rumah tantenya? Alina menatap curiga pada Cherly yang masih kaget dengan perkataan Vincent. Matanya melebar dan terus menatap Vincent tak percaya. "Lo selama ini tinggal di rumah Vincent apa di rumah tante lo?" tanya Alina penuh selidik. "Di rumah gue," jawab Vincent, padahal yang ditanya adalah Cherly. "Hah, Cherlyyyyy, lo bohong sama gue?" Alina mengguncang tubuh sahabatnya gemas. "Ya maaf, gue cuma gak mau lo khawatir," elak Cherly, padahal selama ini Vincent yang meminta dirinya untuk tidak memberitahu siapapun. "Khawatir? Maksud lo apa?" tanya Vincent tidak santai. Alina mengalihkan tatapannya pada Vincent, menatap malas pada cowok menjengkelkan itu. Tentu saja, ia akan mengkhawatirkan Cherly jika terlalu dekat dengan Vincent. Semua orang sudah tahu jika Vincent jahat terhadap Cherly. Dan itu bukan rahasia lagi. "Iya lah, gue khawatir. Cowok jahat kayak lo pasti punya kesempatan buat nyakitin Cherly. Kalau lo lupa, hampir tiap hari Cherly lo permalukan," kata Alina jujur. Tidak ada yang disembunyikan, dia harus mengatakan yang sebenarnya, ia tidak suka dari Vincent. Apalagi jika melihat Vincent menyakiti sahabat baiknya yang begitu baik. "Cih, gue gak bakal sakitin siapapun kalau dia gak buat mood gue ancur," sergah Vincent, wajahnya datar. "Udah Al, gue gak apa-apa kok. Nih, lanjut baca lagi aja," Cherly memberikan novel yang sempat Alina baca tadi yang harus ditunda karena dirinya. Vincent berjalan keluar dari kelas bersama Petter, wajahnya datar seperti biasa. Sebelum keluar kelas, ia melihat Cherly asik berbincang dengan Devan. Mereka akan pergi bersama. Padahal saat jam istirahat tadi, Cherly berusaha mendekati Vincent. Kenapa sekarang akan pergi dengan cowok lain? Pikir Vincent. "Lo kenapa?" tanya Petter. "Gapapa tuh, emang gue kenapa?" Bukannya menjawab dengan benar, malah balik bertanya, dasar Vincent. "Gue liat lo gak suka sama kedekatan Cherly ke Devan, kenapa?" tanya Petter to the point. "Biasa aja kali, lagian gak ada yang spesial dari Cherly. Kenapa gue gak suka dia deket cowok lain?" Petter membuang nafasnya pasrah. Vincent memang seperti itu, terlalu gengsian untuk mengakui yang sebenarnya. Vincent POV Sial, si Petter. Kenapa harus bahas soal Cherly sama Devan? Bukan karena gue gak suka mereka deket atau apalah. Tapi sekarang, Cherly kayak gak terlalu semangat gitu ngejar gue. Apa perasaan dia udah pindah ke Devan? Apalagi Devan selalu bersikap baik sama tuh cewek. "Sebenernya gue suka sama Cherly, lo mau kan bantuin gue?" ucap Petter, menatap gue penuh harap. Aku diam sejenak, mencerna ungkapan Petter yang benar-benar buat gue kaget. Jadi dia suka sama Cherly, padahal dia sendiri tahu kalau Cherly suka sama gue. "Cent, gimana? Lo mau kan bantuin gue buat deket sama Cherly?" tanya Petter sambil menyenggol pundak gue, membuatku sadar dari lamunan. "Gue gak bisa," tolak gue cepat. "Kenapa? Jangan bilang sebenernya lo juga suka sama Cherly," tuduhnya. Oh, ayolah. Mana mungkin seorang Vincent suka sama Cherly? Dia bahkan gak ada sedikit pun dalam pikiran gue. Dia bukan tipe gue, dan yang pasti gue gak akan pernah suka sama dia. "Gue udah bilang gak pernah suka sama dia kan? Jadi gak!" kata gue menekankan padanya. "Kalau gitu, lo harus bantu gue buat deketin Cherly. Lo sahabat gue satu-satunya yang bisa bantu, Cent. Please," mohon Petter, dia serius suka sama Cherly? Kenapa harus Cherly yang lo suka, sih? Gak ada cewek lain apa? Padahal ada Alina yang jauh lebih cantik. Apa sih yang buat Petter suka sama Cherly? "Gue gak bisa janji, nanti gue pikirin dulu," kata gue, tidak ada pilihan lain selain jawab gitu. "Yessh. Thanks ya, Cent. Gue harap dia bakal buka hati buat gue. Dan lo gak boleh suka sama Cherly, karena gue udah bilang suka sama dia," katanya memperingati. Apa dia gila? Gue gak mungkin suka sama dia. Dia gak ada apa-apanya sama Sofia, cukup dia yang buat gue bahagia, bukan cewek lain. Apalagi Cherly, dia gak akan masuk daftar.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD