Cherly tengah sibuk menyiapkan baju-baju miliknya, ia belum tau kedua orang tuanya kapan akan kembali ke Indonesia. Jadi mulai sekarang akan menata sedikit demi sedikit mengemas bajunya ke dalam koper. Saking asiknya mengemas bajunya Cherly tidak sadar pintu kamarnya terbuka. Disana Vincent berdiri dengan angkuh dengan kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku celana.
"Orang tua lo belum pasti mau balik kapan, kenapa beres-beres sekarang?" Tanya Vincent.
"Biar nanti gak ada barang yang kelupaan, soalnya barang yang aku bawa ke rumah kamu kan cukup banyak jadi khawatir nanti keteteran," jawab Cherly yang masih sibuk mengemasi barang-barang miliknya.
Duh Vincent tiba-tiba banget sih masuk ke sini, mana kamar ini lagi berantakan lagi. Cherly berusaha terlihat biasa saja ketika Vincent melangkah masuk kedalam kamarnya. Lalu duduk di ranjang dengan melihat meja belajar gadis itu.
Di meja belajar Cherly yang selalu rapih, disana ada satu bingkai foto Cherly dan kakaknya saat kecil, juga album foto. Karena penasaran Vincent berjalan untuk melihat isi album foto gadis itu. Tanpa Cherly sadar, Vincent melihat semua foto yang ada di dalam album itu. Ujung bibir kanannya sedikit terangkat saat melihat ada begitu banyak foto dirinya yang di ambil diam-diam.
"Lo bener-bener suka sama gue sampe segitunya ya, 75% isi album foto ini foto gue yang lo ambil secara diam-diam." ujar Vincent yang masih membuka halaman berikutnya dari album yang di lihatnya.
Cherly terdiam, mencerna perkataan Vincent. Ia menoleh pada cowok yang tengah berdiri di depan meja belajarnya dengan tangan bergerak membuka album foto miliknya tanpa izin.
"Aaaa Vinceeent," teriak Cherly, berlari ke arah meja belajar untuk mengambil albumnya.
Tapi ia kalah cepat karena Vincent mengangkat album itu dengan tinggi agar Cherly tidak bisa meraihnya. Cherly yang tingginya hanya setinggi telinga Vincent tak bisa meraih album miliknya.
"Gue gak nyangka kalo segitu besarnya rasa suka lo terhadap gue, heh," kata Vincent yang masih menjauhkan album milik Cherly
"Please, kesiniin albumnya," ujar Cherly.
Vincent menurunkan tangannya, meletakkan kedua lengannya di pundak Cherly. Membuat gadis itu seketika terdiam, wajahnya dan wajah Vincent cukup dekat. Cherly menelan ludahnya pelan, melihat wajah Vincent yang begitu dekat dengan dirinya untuk pertama kalinya. Itu sangat tidak baik, karena sekarang ini ia seperti terkena serangan jantung.
"Gue gak suka lo ambil foto gue sembarangan, jangan ulangi," ujar Vincent pelan tapi suaranya tampak menusuk.
Tuk
Vincent memukul kepala Cherly dengan album di tangannya pelan, lalu memberikan pada gadi di depannya yang masih terdiam.
Bukankah tadi kejadian langka yang harus di abadikan? Setelah kepergian Vincent, Cherly memegang pundaknya dengan tersenyum girang.
"Masih kerasa, tadi tangannya disini, terus wajahnya didepan sini. Dekeeet banget." Cherly melompat kegirangan saat mengingat Vincent yang meletakkan lengannya di pundak Cherly.
Saking girangnya, Cherly melompat ke tempat tidur sambil berguling-guling memeluk Album foto miliknya. Sekali ia berteriak girang dengan menenggelamkan wajahnya pada kasur, agar suaranya tidak terlalu keras.
Setelah kejadian di kamarnya tadi, Cherly tak berhenti tersenyum. Sudah beberapa hari ini suasana hati Cherly tidak bagus, dan sekarang keceriaan di wajahnya kembali seperti sebelumnya. Ia tengah membantu Mama Vincent memasak makan malam.
"Sayang, dari tadi tante liat kamu senyum-senyum terus. Pasti ada hal baik yang terjadi sama kamu, coba cerita," pinta Mama Vincent yang penasaran.
"Hehe gak papa kok, cuma tadi Cherly abis nonton Drakor jadi ikut baper. Soalnya si cowok manis banget," bohong Cherly, ia tidak mungkin mengatakan yang sebenarnya pada Mama Vincent atau ia akan malu sendiri nanti.
"Ma Vincent mau keluar, mungkin nanti pulang agak malem " ujar Vincent yang sudah siap dengan pakaian casual. Kaos hitam polos dibagikan depan sedangkan dibelakang ada logo baru kecil, celana hitam panjang dari brand Gucci.
"Mama udah masak makanan kesukaan kamu, kenapa malah keluar sih," ujar Mama Vincent kecewa.
"Aku ada janji, maaf ya Ma,"
Cup
Setelah mencium sang ibu, Vincent segera pergi keluar rumah. Cherly yang melihat itu merasa kasihan pada wanita paruh baya di depannya.
"Tante, yuk lanjut masaknya," ajak Cherly ketika melihat Mama Vincent duduk di meja makan dengan wajah sedih.
"Kamu lanjut sendiri aja ya sayang, tante tiba-tiba gak enak badan,"
Cherly menatap sedih punggung wanita paruh baya yang kini berjalan menjauh dari dapur. Vincent memang sering kali pergi keluar rumah secara tiba-tiba, membuat sang ibu merasa sedih. Karena sejak putranya tunggal keluarga mereka menjalin hubungan dengan seorang gadis yang mereka tidak tau, anak itu selalu mengutamakan gadisnya. Jarang menghabiskan waktu lagi bersama sang ibu. Cherly membuang nafas lelah, kemudian melanjutkan masakan yang hampir selesai.
Setelah semuanya selesai, Cherly menyimpan makanan itu. Nafsu makannya tiba-tiba hilang saat melihat ibu dari Vincent sedih. Cherly berjalan meninggalkan dapur, masuk kedalam kamarnya. Dilihatnya benda pipih berbetuk persegi panjang itu, tidak ada notifikasi penting untuk malam ini. Ia kembali meletakkan ponselnya lalu beralih pada laptop.
"Malam ini nonton apa enaknya, gak ada rekomendasi Drakor seru apa, ya," gumam Cherly sambil terus mengotak-atik laptopnya sampai terhenti pada satu film yang membuatnya tersenyum.
"Ini kan film yang buat gue semangat buat dapetin Vincent. Gue tonton ini lagi aja ah," gumam Cherly.
Sebelum mulai menonton ia tak lupa menyiapkan dua botol minuman juga beberapa camilan. Diluar terdengar suara rintik hujan membasahi bumi, sangat mendukung untuk menonton film. Selama film di putar, Cherly sesekali tertawa, teriak karena kesal dengan si kembar pria. Dan dia juga menangis saat si pemeran wanita terlihat menyerah dengan semua perjuangan untuk si lelaki.
Film itu membuat Cherly termotivasi, ia tersenyum misterius saat mengingat beberapa adegan yang manis.
"Oke Cherly, lo harus bisa buat Vincent jadi Baek Seung Jo versi nyata. Jadi ayo semangat kaya Oh Ha Ni, meskipun banyak rintangan," teriak Cherly penuh kegembiraan.
Tanpa disadari, diluar kamarnya Vincent berhenti melangkah saat mendengar teriakannya Cherly. Cowok itu tersenyum miring mendengar gadis itu terlalu berambisi terhadap dirinya. Padahal selama ini selalu ditolak dengan kasar, tapi Cherly tidak pernah mengurangi niatnya untuk mendapatkan hati seorang Vincent.
Pagi harinya, Cherly terus saja tersenyum mengingat film yang semalam ia tonton. Senyum di wajahnya cantik Cherly membuat kedua orang tua Vincent juga merasa bahagia. Karena gadis itu satu-satunya pembawa keceriaan di rumah mereka. Berbeda dengan Vincent yang menatap jengah pada Cherly.
"Vincent selesai," ujarnya cowok itu lalu beranjak dari kursi.
Risa, Mama Vincent yang mendengar itu langsung mendongak. Melihat pada Cherly yang juga melihat kepergian Vincent dengan wajah cemberut.
"Vincent tolong ajak Cherly bareng, ya," teriak Risa, membuat Cherly tersenyum gembira.
"Ayo, ayo cepet kamu berangkat sekarang sebelum Vincent pergi." Risa menarik Cherly agar segera mengikuti Vincent.
Dengan cepat Cherly berdiri mengikuti Risa yang membawa dirinya menuju mobil sang putra. Ada rasa bahagia saat ia harus berangkat ke sekolah bersama cowok itu lagi. Ya, meskipun nanti akan di turunkan dipinggir jalan lagi.
"Hati-hati ya bawa mobilnya, Cherly nya di jagain ya Cent," ujar Risa setelah menutup pintu mobil sang putra.
"Hemm," gumam Vincent sebagai jawaban.
Sepanjanng perjalanan Cherly tak melunturkan senyumnya, dia sangat senang bisa berangkat ke sekolah bersama Vincent lagi. Walaupun wajah Vincent terlihat biasa saja, tapi ia cukup senang karena tidak ada kata-kata pedas lagi yang yang keluar dari bibir Vincent. Kini pemuda itu terlihat lebih memilih diam dan hanya fokus pada jalanan.
Karena ini adalah hal yang cukup langka akhirnya Cherly mengambil ponsel dan memotret Vincent secara diam-diam, ia akan memposting foto tangan Vincent secara diam-diam dan akan langsung ia Privasi agar tidak banyak orang yang tahu.
Sebenarnya Vincent tahu apa yang sedang gadis di sampingnya lakukan, tapi ia berpura-pura tidak tahu saja. Hal itu ia lakukan hanya untuk membuat harinya tidak ada drama sampai gerbang sekolah. Bisa runyam jika sampai Cherly sadar ia tahu apa yang gadis itu lakukan.