10

1462 Words
Cherly terus saja tersenyum, ia tidak menyangka jika Vincent sekarang tidak menurunkan dirinya di pinggir jalan lagi. Mereka sudah sampai di sekolah membuat beberapa murid yang melihat keduanya berangkat bersama bertanya-tanya. Karena selama ini mereka tau Vincent begitu membenci Cherly. "Oh iya, Cent. Nih buat kamu, aku duluan ya." setelah memberikan amplop berwarna merah muda pada Vincent Cherly langsung lari menuju kelasnya. Di dalam kelas ia melihat Devan duduk sendirian tanpa empat temannya yang lain. Cherly mendekati teman baiknya itu, alangkah kagetnya saat ia melihat tangan Devan mengeluarkan darah. Namun pemuda itu malah terlihat begitu santai dan tidak merasa sakit sama sekali. "Devan tangan lo kenapa?" Tanya Cherly khawatir. "Gapapa, cuma kegores paku dikit," jawab Devan lembut, sambil tersenyum manis pada Cherly yang tampak khawatir.. "Gapapa gimana, ini bisa infeksi tau gak." sewot Cherly, membuat Devan tersenyum manis pada gadis di depannya. "Bentar, gue mau ambil kotak P3K dulu." Cherly segera berlari ke luar kelas untuk mengambil obat di uks. Kebetulan dikelasnya sedang tidak ada obat atau apapun, karena kemarin kotak P3K milik kelasnya terjatuh dan kacanya pecah. Jadi masih harus menunggu ganti kotak P3K yang baru. Saking khawatirnya dengan Devan, Cherly berlari begitu saja sampai tidak melihat Vincent dan Peter, bahkan tidak sadar Peter yang melambaikan tangan pada dirinya. Setelah mengambil obat merah, kapas dan plester. Cherly langsung kembali ke kelas untuk mengobati Devan. Dia seakan berubah menjadi pelari handal saat sedang khawatir seperti itu. Dengan cepat, Cherly sampai di kelasnya dan langsung menghampiri devan yang masih duduk dengan santai, padahal tangannya sedang terluka dan meneluarkan banyak darah. "Siniin tangannya," pinta Cherly yang sudah ada di samping Devan. Devan tersenyum, lalu memberikan tangan kirinya yang terluka. Dengan telaten Cherly mengobati luka pada tangan Devan, meniupnya pelan saat Devan meringis sakit. Saking fokusnya mengobati luka pada tangan Devan, Cherly sampai tidak sadar jika banyak yang sedang mengabadikan momen itu. Siapa yang tidak terpesona dengan perlakuan Cherly yang sangat perhatian seperti itu. Dia adalah gadis cntik yang memiliki hati baik bagaikan seorang peri, dan selalu mau membantu siapa pun yang sedang mengalami kesusahan. Cherly tidak pernah pilih-pilih dalam membantu orang, itu sebabnya banyak yang menyukai dirinya. Terkecuali geng Julia, yang sangat suka sekali mencari gara-gara dengan murid lain. "Duh neng Cherly perhatian banget, babang mau dong di perhatiin juga," ujar Sigit, menggoda Cherly yang terlalu fokus dengan luka di tangan Devan. Tak "Nih, cutter " Alina melemparkan cutter pada meja Sigit membuat cowok itu terheran. "Buat apaan dah " gumam Sigit. "Gores aja tuh cutter ke lengan lo, nanti biar di perhatiin juga sama Cherly." jawab Alina cuek "Eh sialan banget dah nih anak satu, maksudnya gue pengen di perhatiin tanpa ada luka. Bocah." ujar Sigit kesal, pasalnya Alina selalu seperti itu. "Heh, enak aja ngatain gue bocah, yang ada lo yang bocah, yang gak pinter. Masa ulangan matematika gampang aja dapat nilai 45, nilai apaan 45. bocah banget emang lo, gitu aja gak bisa." ejek Alina, membuat teman-teman yang ada di kelasnya tertawa. "Jangan bawa-bawa nilai dong, kan kalo matematika gue emang gak bisa" ujar Sigit merasa malu. "Halah, pas bahasa Inggris juga lo dapat nilai gocap," seloroh Galih. "Heh bahasa lo gocap, dikira ongkos naik taxi kali," ujar Cherly. "Tau ah gue ngambek." Sigit melipat kedua tangannya di meja lalu menundukkan kepala, membuat teman-temannya semakin tertawa melihat tingkahnya. "Cie ngambekan," goda Cherly. "Dih biarin aja," decih Devan. "Sigit jangan ngambek tar gue kasih contekan kalo ada ulangan lagi biar lo gak dapet nilai gocap lagi," bujuk Cherly. "Nanti pulang sekolah jalan yuk, biar gue gak ngambek," ajak Sigit seraya memainkan alisnya naik turun. "Halah dasar buaya, jangan mau Cher. Mending jalan sama gue aja," ujar Ciko. "Gak sama siapapun, nanti gue ada latihan dance," tolak Cherly sambil mengibaskan rambutnya "Ikoooottt!" Alina dan Cherly terperanjat saat mendengar teriakan Ciko , Sigit dan Aldo. Bahkan teman satu kelas yang lain ikut kaget, membuat mereka mendapatkan tatapan tajam dari beberapa siswa. "Hehe maaf," "Sorry," "Ngapain ikut? Kalian gak ada bakat dance jadi gak boleh ikut. Dari pada jadi sampah ditempat latihan kita." larang Alina. "Iya, gak boleh ada yang ikut. Kita gak mau diganggu untuk latihan kali ini." larang Cherly sambil menatap garang teman-temannya Tanpa disadari, dua pemuda yang duduk di belakang Cherly dan Alina tersenyum tipis. Dua gadis itu suka lupa kalo sudah berdebat dengan teman-temannya. Apalagi Alina yang suka berkata jujur yang membuat orang lain sakit hati. Selalu kebablasan dan pasti akan bertingkah konyol. "Lo inget kan mau bantuin gue buat deket sama Cherly." bisik Petter, sengaja berkata seperti itu karena dia ingin melihat apakah Vincent benar-benar tidak memiliki perasaan apap pu pada Cherly, gadis baik yang selama ini rela menjatuhkan harga dirinya di depan banyak orang. "Heem," jawab Vincent yang langsung mengubah mimik wajahnya jadi datar. "Bagus, lo harus menepati janji untuk bisa buat gue sama Cherly dekat, tapi inget, jangan sampai lo yang malah kecantol sama Cherly" ujar Peter. "Gue bisa jamin kalau nggak akan pernah suka sama Cherly, gue sudah ada Sofia. Cewek yang lebih baik dari Cherly, dan yang pastinya punya harga diri lebih tinggi dari Cherly." Kata Vincent dengan tenang, Tanpa ia sadari Gadis yang duduk di depannya mendengar apa yang dia katakan. Senyummiris menghiasi bibir cantiknya setelah mendengar apa yang Vincent katakan. Tangannya yang sedang mengotak-atik ponsel kini terhenti. Niatnya yang akan memposting foto yang tadi ia ambil secara sembunyi-sembunyi urung dilakukan. **** Pulang sekolah Cherly sengaja keluar dari kelas paling akhir, ia akan ikut mobil jemputan Alina dan langsung pergi ke temapat latihan. Setelah suasana kelas sepi, dan hanya tertinggal dirinya, Alina, vincent dan Peter, Cherly segera beranjak dari tempat duduknya. Berjalan ke luar tanpa memberikan sapaan pada Vincent maupun Peter, hal itu cukup mmbuat Vincent heran. Padahal gadis itu biasanya akan langsung menyapa semua orang yang dilihat dengan penuh semangat. Semua anggota dance yang sudah terpilih menjadi beberapa grup masing-masing. kali ini Cherly dan Alina tidak di biarkan menjadi satu grup karena mereka adalah anggota inti dari grup leader, di mana terisi anggota yang sudah menguasai banyak koreo dan mampu membuat koreo sendiri. Biasanya Alina hanya mau satu grup dengan Cherly, karena gadis itu sangat di manja oleh sahabatnya itu. "Oke, guys. Kita akan buat koreo baru untuk menyambut peringatan berdirinya sanggar seni kita empat minggu lagi. Di sini kita akan membagi dua kelompok, kelompok pertama bagian koreo dengan beberapa properti dan kelompok ke dua hanya pakai properti selendang. "Elisa, Mikaila, Seva, dan Iliya, kalian masuk kelompok pertama yang akan menggunakan beberapa properti. Deis, Farra, Erika, Nilla dan Nala, kalian pakai properti selendang. Untuk Sisil sama Vika gabung sama gue di bagian center." Semua anggotanya mengiyakan apa yang sudah Cherly putuskan, gadis itu terlihat begitu berbeda saat sedang serius. Meskipun Cherly orang yang lemah lembut dan sangat ramah, bukan berarti dia tidak bisa tegas ketika sedang menjadi pemimpin. Semua orang mengakui jika Cherly sangat tegas dan berwibawa, dia akan sangat berbeda jika sudah di pilih sebagai pemimpin grup. Setelah pembagian kelompok, kini Cherly menunjukkan koreo yang sudah dia buat sejak dua hari yang lalu. Dengan saksama, semua anggotanya memperhatikan setiap gerakan yang Cherly tunjukkan. Karena gerakan cherly sangat sulit, jadi harus benar-benar di perhatikan agar tidak tertinggal dengan yang lain saat sedang latihan. "Oke, kalian peragakan apa yang gue tunjukkan barusan seingat kalian aja. maju satu-satu dan mulai. Maju tanpa di minta!" katanya dengan suara tegas. Tanpa dorong-doronganatau saling tunjuk, satu persatu anggota maju untuk menunjukkan gerakan yang mereka ingat. Ada beberapa yang mengingat cukup banyak, ada juga yang hanya mengingat di awal dan di akhir saja. namun, Cherly cukup senang karena sekarang anggotanya sudah memiliki kemajuan untuk kepercayaan diri yang lebih besar dari sebelumnya. Kegiatan Cherly bersama para anggotanya berjalan dengan sangat lancar, ia memberikan waktu istirahat lebih banyak sebagai apresiasi. Sedangkan dirinya tetap berada di ruang latihan untuk melakukan dance sendiri. Cherly menggerakkan anggota tubuhnya dengan lues, dia sangat menikmati irama musik yang membuat dirinya ikut merasakan seperti yang ada pada musik itu. Lagu berjudul Fine milik penyanyi ternama korea bernama Kim Taeyeon. lagu yang sangat Cherly suka akhir-akhir ini karena sangat menggambarkan perassaanya yang sedang tidak baik-baik saja karena keadaan, Tapi ia harus tetap terlihat tidak terjadi apa-apa agar semua orang tidak tahu kesedihannya selama ini. "Tuhan, apa aku akan terus hidup dalam kesendirian?" tanyanya setelah menyelesaikan tariannya dengan lelehan keringat dan air mata. "Untuk apa aku dilahirkan, jika pada kahirnya aku tidak dilihat, jika aku hanya di anggap sebagai banyangan, kenapa ibu ku tidak membunuhku sebelum di lahirkan saja? sebenarnya apa gunanya aku hidup untuk mereka?" Cherly memeluk dirinya sendiri dengan erat, berusaha menahan rasa sakit yang kini berlomba-lomba menyakiti dirinya. Hidupnya yang terlihat sangat sempurna, sangat berbeda dengan kenyataan yang dia alami selama ini. Tidak ada warna yang benar-benar bisa membuat dirinya senang dan mengingat semua sebagai memori penting. Semuanya terasa hambar dan terasa seperti air yang mengalir saja.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD