5

1300 Words
Vincent menatap malas pada Julia yang tiba-tiba datang dan duduk di sebelahnya, bersama dua temannya yang selalu menjadi antek-antek. Gadis itu juga mengejar Vincent dan selalu kecentilan, itulah sebabnya dia begitu membenci Cherly. Kedua gadis itu sama-sama ditolak oleh Vincent, tapi bedanya sikap Vincent pada Julia tidak separah sikapnya pada Cherly. "Vincent, kamu kok nggak makan, mau aku pesenin?" tawar Julia sok imut. "Gak usah," tolak Vincent cuek. "Peter, lo mau gue pesenin makan?" tawar salah satu teman Julia. "Gak perlu, Cherly bentar lagi datang bawain makan," ketus Peter. Jujur saja, ia kesal melihat gadis yang centil. Tak berselang lama, Cherly datang bersama Alina. Gadis itu membawa dua kotak bekal dengan ceria seperti biasa, lalu meletakkan kotak bekalnya di meja depan Vincent dan Peter, agar cowok itu memakan bekal yang ia bawa, karena ia membawakan Peter juga. "Vincent, Peter, dimakan ya," kata Cherly lembut. "Wah, pasti, thanks ya Cher," ucap Peter bersemangat. "Dih, ganjen," olok Nima, teman Julia. "Heh, jaga mulut lo!" bentak Alina tidak terima mendengar Cherly dikatai. "Emang ganjen kan, kalo nggak ganjen dia nggak bakal deketin Vincent terus. Padahal udah ditolak," sergah Nima. "Ck, sialan lo, ya," Alina bersiap memukul Nima. "Dua bidadari cantik, ayo kita pergi aja," tiba-tiba Ciko datang menarik tangan Alina dan Cherly. Cowok yang selalu berdebat dengan dua temannya tapi selalu menjaga mereka agar tidak terlibat pertengkaran. Terutama Alina yang tidak bisa menjaga mulut pedangnya dan suka beradu mulut dengan siapapun. Setelah Cherly dan Alina dibawa pergi oleh Ciko, Devan berjalan paling akhir dengan tatapan tajam, ia menatap tak suka pada Vincent. Mereka tidak memiliki dendam atau masalah apapun, hanya saja tidak dekat, terlebih sikap cuek dan dingin mereka membuat jarak. Tapi Vincent sering berpikir jika Devan tidak suka padanya, apalagi saat ia menolak Cherly. "Kesel gue sama tuh lampir, sok imut banget di depan Vincent," gerutu Alina. "Udah deh diem, sekali-kali lo tuh kalem dikit napa si," dengus Ciko. "Heh, lo lagi, kenapa pake narik gue tadi. Harusnya biarin gue gampar tuh si curut," sungut Alina penuh kekesalan. "Nih, makan yang banyak biar sehat," kata Devan menyodorkan semangkuk bakso pada Cherly. Alina yang mendengar itu mengalihkan tatapannya pada Devan dan Cherly bergantian, diikuti cuitan oleh teman-temannya. Perhatikan apa yang Devan berikan pada Cherly sangat manis. Tapi sayang, Cherly malah memberikan perhatiannya pada Vincent, cowok yang tidak pernah sedikitpun menghargai Cherly. "Udah, kalian pacaran aja, gue setuju," kata Alina sengaja mengeraskan suaranya agar Vincent dengar. "Wahh, iya, gue setuju juga, gue dukung," teriak Ciko heboh. "Ish, apaan sih," kata Cherly malu. Cherly dan Devan saling pandang melempar senyum satu sama lain. Selama ini hubungan mereka tidak lebih dari sekadar teman. Meskipun Devan selalu memperhatikan dan melakukan banyak hal untuk Cherly, tapi gadis itu hanya menganggap Devan sahabatnya. Karena yang disukai hanya satu orang, yaitu Vincent Ardios. Di meja seberang, Vincent hanya menatap malas pada Cherly dan teman-temannya yang asik tertawa riang seperti biasanya. Pertemanan di antara mereka selalu menyenangkan penuh dengan tawa, berbeda dengan Vincent yang hanya berdua dengan Peter. Kedua sahabat itu sama-sama cuek dan juga dingin pada orang-orang baru, apalagi pada seorang gadis. Devan sengaja mengajak Cherly jalan-jalan sepulang sekolah, tidak ke tempat elit seperti orang pada umumnya. Mereka hanya makan batagor Mang Ucup langganan Devan, yang kebetulan Cherly juga suka. Seperti biasa, Cherly selalu makan batagor dengan begitu lahap, padahal jajanan pinggir jalan selalu dijauhi oleh kedua orang tuanya. Tetapi Cherly bandel dan tetap jajan di pinggir jalan. "Pelan-pelan, gue nggak bakal minta," peringat Devan. "Enak banget, gue udah lama nggak makan batagor," kata Cherly dengan mulut penuh. "Ditelen dulu, baru ngomong, liat tuh belepotan." Devan membersihkan noda di bibir Cherly dengan jempolnya. Tatapan Devan yang begitu lembut mampu membuat gadis manapun luluh, terlebih pesonanya yang begitu mengagumkan. Tapi sayang, Cherly tak melihat tatapan itu karena ia terlalu sibuk dengan batagor. Seperti itulah Cherly jika bertemu makanan pinggir jalan, dia akan lupa segalanya seolah tengah memakan makanan mahal. "Mau nambah?" kata Cherly dengan cengir tanpa dosa. "Anjir, lo suka apa doyan," pekik Devan bercanda. "Doyan, udah sana pesen lagi," jawab Cherly cepat. "Di bungkus aja ya, makan di mobil sambil jalan-jalan keliling sekitar sini," kata Devan. "Terserah, yang penting nambah," jawab Cherly masa bodoh. Devan benar-benar senang melihat senyum ceria dari wajah Cherly ketika bersama dirinya. Gadis itu selalu ceria dengan senyum manisnya. Akan tetapi, keceriaan di wajah Cherly sering kali hilang setelah menemui Vincent. "Mau ke mall nggak?" tawar Devan yang mendapat anggukan dari Cherly. Sepertinya Cherly kekenyangan karena terlalu banyak makan batagor tadi, selama perjalanan ia hanya diam memandang jalanan. Sesekali, Devan melirik gadis di sampingnya dengan tersenyum tipis. Cukup lama mereka tidak bisa pergi bersama semenjak Cherly menginap di rumah Vincent. "Cher, mau beli boneka?" tawar Devan. Sekarang mereka sudah berada di dalam mall, Devan sengaja membawa gadis itu ke tempat boneka untuk membelikan. Devan mengambil salah satu boneka untuk Cherly, lalu segera membayar. "Nih..." Devan menyodorkan boneka yang dibelinya. "Wahh, lucu banget kaya gue, tapi gue lebih lucu sih kalau dilihat-lihat," pekik Cherly riang. "Dih, dipuji sendiri," dengus Devan. "Ya terserah gue dong, lagian gue bicara fakta. Kalo gue ini emang imut, lucu, menggemaskan, dan banyak lagi," jawab Cherly sambil tersenyum lebar. Devan tak bisa menyembunyikan senyum bahagianya melihat gadis di depannya begitu bahagia, apalagi wajah ceria Cherly yang memperlihatkan gadis itu benar-benar bahagia. Di sudut lain, ada seorang cowok menatap datar interaksi Devan dan Cherly. Dia selalu seperti itu, tapi sekarang terlihat berbeda. Ada rasa tidak suka melihat Cherly bersama Devan terlalu dekat seperti itu. "Sayang, beliin aku baju itu ya," rengek seorang gadis yang bergelayut manja di lengan cowok berwajah datar itu. "Eh, iya, kamu ambil aja." Vincent sadar dari lamunannya lalu mengalihkan pandangannya pada sang pacar. "Aku mau ini juga, ya, Cent," tunjuk Sofia manja. "Iya, kamu ambil aja yang kamu mau, nggak perlu tanya sama aku. Aku nggak keberatan kok," kata Vincent lembut. "Yey, makasih sayang," ucap Sofia kegirangan lalu mengecup singkat pipi kanan Vincent. Kedua sudut bibir Vincent bergerak ke atas karena salah tingkah mendapat kecupan dari Sofia. Gadis itu benar-benar berbeda, Vincent bisa merasakan kebahagiaan tersendiri saat bersama Sofia meskipun gadis itu tak melakukan sesuatu untuk dirinya. Hubungannya bersama Sofia sudah terjalin lima bulan, dan selama pacaran mereka sering kali menghabiskan waktu bersama. Sebagai pacar yang baik, Vincent selalu melakukan apapun untuk gadis itu, menuruti semua permintaannya dengan senang hati. "Nih, bawain belanjaannya." Sofia memberikan beberapa paper bag belanjaannya. Dengan senang hati, Vincent membawa belanjaan Sofia. Gadis itu berjalan lebih dulu di depan Vincent sambil terus melihat sekeliling. Sofia sangat suka belanja, dan semua yang ia beli bukan barang murahan, melainkan barang branded dengan harga fantastis. "Eh, maaf-maaf," ucap Sofia lalu membantu gadis yang tidak sengaja ia tabrak. "Iya nggak apa-apa, makasih udah bantuin," kata gadis itu. "Sayang, kamu nggak apa-apa kan?" tanya Vincent khawatir. Vincent ini aneh, padahal yang jatuh bukan Sofia, ia malah mengkhawatirkan gadis itu. Bahkan dia tidak menengok sedikit pun untuk melihat gadis di depannya yang menatap sedih. "Sayang, ayo pergi," suara itu membuat Vincent mengalihkan pandangannya pada gadis yang masih setia menatapnya. Devan sengaja memanggil Cherly dengan sebutan sayang di depan Vincent, hanya untuk melihat reaksi Vincent. Tetapi tak ada respons apapun, sudah terlihat jelas bahwa Vincent begitu tidak suka terhadap Cherly. Dalam perjalanan pulang, Cherly hanya diam memikirkan Vincent tadi. Jujur, ia iri, sangat iri pada gadis yang menjadi pacar cowok itu. Padahal dirinya sudah berjuang untuk mendapatkan sedikit saja perhatian dari Vincent, tapi cowok itu tak sedikit pun meliriknya. "Dia cantik ya," Cherly bergumam pelan. "Lo juga cantik, baik lagi," balas Devan menanggapi Cherly yang terlihat lesu. "Sampai kapan pun, gue nggak mungkin dapetin Vincent kalau saingannya cantik, tapi gue masih mau memperjuangkan Vincent, sampai kapan pun. Dia cinta pertama gue, Dev," kata Cherly, yang selalu keras kepala jika menyangkut Vincent. Devan memilih diam daripada menanggapi Cherly yang tidak akan berhenti membahas perjuangannya
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD