Vincent menatap malas pada Cherly yang kini memaksa untuk pulang ke rumahnya sendiri. Gadis itu juga menghindari dirinya sejak pulang sekolah tadi. Menurut Vincent, Cherly hanya mencari simpati dan perhatian darinya, gadis yang selalu berbicara baik dan tidak pernah melakukan kesalahan di depan dirinya dan keluarganya. Tapi tadi, gadis itu mendorong Julia sampai kaki gadis itu tidak bisa berjalan.
"Udahlah, kalau dia mau pulang biarin aja. Ngapain sih masih nampung dia di sini," kata Vincent tak berperasaan.
"Heh, bocah! Diem lo," peringat Alfaro, sepupu Vincent yang kebetulan berada di sana.
"Ck, anak ini kalau ngomong minta digepak," omel Risa pada putra semata wayangnya.
"Dia punya rumah, ada pembantu buat masakin dia makan, sopir buat antar jemput, penjaga buat jagain dia. Apalagi yang dibutuhkan buat dia tinggal di rumahnya sendiri? Dia tuh cuma nyusahin," Risa semakin menatap jengkel putranya yang suka berbicara tanpa berpikir seperti itu.
Wanita paruh baya itu mengelus puncak kepala Cherly dengan sayang. Putri sahabatnya ini sangat baik dan tidak merepotkan. Bahkan, ia sangat bahagia Cherly menginap di rumahnya, karena ia merasa lebih ramai dengan kedatangan Cherly. Hanya saja, Risa kasihan karena Cherly terus mendapatkan perlakuan kasar dari Vincent, putranya.
"Cherly bisa kabarin Tante tiap hari nanti. Izinin Cherly pulang ya, Tan," Cherly memandang Risa dengan penuh harap.
"Pokoknya Cherly nggak boleh pulang sebelum Papa sama Mama kamu kembali ke Indonesia, titik. Sekarang kamu belajar aja ya ke kamar, terus istirahat. Besok kan masih harus sekolah," putus Risa, tak mau dibantah.
Cherly memilih kembali ke kamarnya langsung. Ia ingin kembali ke rumah karena akan pergi liburan ke Bali dalam waktu dekat. Jika tinggal di rumah Vincent, ia bingung caranya meminta izin. Selama di dalam kamar, Cherly memutar otak untuk meminta izin dengan benar.
"Aaaahhh, pusing!" teriak Cherly, lalu keluar kamar.
Cherly berjalan menuju kolam renang. Melihat air kolam yang tampak segar membuatnya ingin masuk ke dalam kolam. Perlahan, ia melihat ke sana-kemari memastikan situasi. Saat dirasa sudah aman, Cherly membuka kardigan yang dikenakan, menyisakan crop top dan hot pants. Perlahan, kakinya masuk ke dalam air kolam yang lumayan dingin, lalu seluruh tubuhnya.
"Berrr... shhh... dingin banget, tapi seger," gumam Cherly setelah beberapa detik menenggelamkan dirinya dalam air kolam.
"Ngapain lo?"
Cherly tak berani membalik badan karena ia hanya memakai crop top yang sangat pendek dan ketat. Ia sangat malu jika nanti Vincent melihat dirinya dalam keadaan seperti itu, terlebih sedang basah.
"Gue tanya, lo ngapain?" geram Vincent.
"Aku renang, kamu nggak liat?" Cherly masih membelakangi Vincent.
"Keluar! Lo b**o atau gimana sih? Ini udah malem, ngapain lo renang? Kalo lo sakit, gue pasti kena imbasnya juga," kata Vincent datar.
"Iya, bentar lagi. Sekarang Vincent pergi aja sana." Mana mungkin Cherly keluar dari kolam renang jika Vincent masih di sana.
Tak ada jawaban dari Vincent. Beberapa menit menunggu, tetap tidak ada. Akhirnya, Cherly membalikkan badannya. Ternyata, Vincent masih berdiri tepat di belakangnya dengan bersedekap d**a. Cherly tak berani melihat Vincent, ia hanya menunduk menatap kaki cowok itu. Perlahan, Cherly mengulurkan tangannya untuk meraih kardigan miliknya yang ada di lantai.
"Lo mau pake kardigan di air?" Pertanyaan Vincent membuat Cherly bingung.
"Vincent—"
Perkataan Cherly terpotong saat Vincent tiba-tiba berjongkok dan menyelipkan kedua tangannya di ketiak Cherly, lalu menarik Cherly ke atas untuk keluar dari dalam kolam. Seketika tubuh Cherly menegang karena terkejut bukan main. Susah payah ia menutupi bagian tubuhnya karena hanya menggunakan crop top, sementara Vincent malah dengan enteng mengeluarkan dirinya dari dalam kolam.
Setelah Cherly benar-benar keluar dari kolam, Vincent pergi begitu saja tanpa mengatakan apa pun. Tak mau memikirkan Vincent, Cherly memilih segera pergi ke kamarnya untuk berganti baju. Ternyata, setelah keluar dari kolam, rasa dingin itu terasa sampai ke tulang. Ia pun segera pergi ke kamarnya untuk mengganti pakaian. Meskipun sudah mengganti pakaian kering dan lebih tebal, Cherly masih merasa kedinginan. Akhirnya, ia memutuskan untuk mengambil minuman hangat di dapur.
Ketika baru keluar, ia mendengar Vincent berbincang dengan seseorang, bahkan tertawa cukup keras. Kebetulan pintu kamar cowok itu sedikit terbuka, jadi Cherly bisa mengintip.
Di dalam kamarnya, Vincent masih belum tidur. Dia tengah melakukan panggilan video dengan seorang gadis cantik. Cherly belum pernah melihat senyum Vincent yang begitu ceria, apalagi berbicara lembut seperti itu.
"Udah malem, kamu tidur gih. Besok kita ketemu setelah pulang sekolah. Aku bakal jemput kamu," kata Vincent lembut.
"...."
"Iya, bye sayang. Mimpi indah juga buat kamu," ucap Vincent begitu tulus.
Ada rasa sesak yang tiba-tiba menjalar di d**a Cherly saat mendengar percakapan Vincent. Ia tahu jika Vincent sudah memiliki pacar, tapi tidak pernah tahu seperti apa perlakuan Vincent pada pacarnya. Cowok yang selalu kasar dan cuek pada dirinya ternyata sangat manis pada gadis yang menjadi kekasihnya. Ia tak menyangka seorang Vincent bisa bersikap selembut itu pada seseorang.
"Tenang, Cher. Jodoh nggak ada yang tahu. Mereka cuma pacaran dan bisa aja putus kalau Tuhan nggak menakdirkan jodoh. Tuhan, jodohin aku sama Vincent ya, please," mohon Cherly sambil menyatukan kedua telapak tangannya dan menutup mata.
Sejak kecil, Cherly adalah anak yang selalu berusaha mendapatkan apa yang dia inginkan sendiri. Ia sosok yang sangat berambisi dalam menginginkan sesuatu. Menginta dirinya yang kurang mendapatkan perhatian kedua orang tuanya. Dirinya yang kurang diperjuangkan, seperti sang kakak oleh kedua orang tuanya selama ini, membuat cherly menjadi sosok gadis pekerja keras yang cukup kuat.
Dia juga bukan tipe orang yang akan terlalu larut dalam sebuah kegagalan, karena baginya kegagalan sebuah motivasi agar ia bisa bekerja lebih baik dan lebih keras lagi untuk mendapatkan kesempurnaan pada hasil selanjutnya. Ya, walaupun terkadang ada rasa Lelah dan iri pada teman-temannya yang memiliki keberuntungan dengan kedua orang tua yang memberikan banyak dukungan dan perhatian disetiap mereka melangkah. Namun, dari teman-temannya ia belajar banyak hal, seperti juga salah satu temannya yang kehilangan kedua orang tuanya sejak kecil. Bisa membuat Cherly bersyukur setidaknya dia memiliki kedua orang tua yang bisa ia kenal dan banggakan.
“Kapan, ya. Bisa kumpul bareng mama, papa dan kakak. Sudah lama juga mereka nggak pulang ke Indonesia. Jadi kangen.” Gumamnya dengan suara pelan.
Cherly tersenyum tipis, memikirkan kehidupannya yang seperti rolercoster sejak kecil. Namun, masih bisa dikontrol dengan sesekali mengatur nafas dengan pelan.