Cherly terus menatap Vincent, yang tengah asyik bermain basket bersama Peter dan yang lainnya. Cowok itu sesekali tertawa keras seperti suara lumba-lumba, matanya saat tertawa pasti tertutup. Vincent benar-benar tampan, dan selalu menarik perhatian Cherly, juga beberapa gadis lain. Sebenarnya, ia masih kepikiran dengan kertas yang Vincent cari kemarin malam, yang paling ia pikirkan sekarang adalah gadis yang berhasil menarik perhatian Vincent. Ia jadi iri dengan gadis itu, yang bisa membuat Vincent terlihat begitu perhatian.
"Vincent, nih buat kamu. Pasti kamu haus kan?" Cherly menyodorkan botol air mineral pada Vincent dengan penuh harap akan diterima untuk kali ini saja.
"Gue gak haus," tolak Vincent malas.
"Yaudah buat nanti kalau udah haus, nih buat Peter juga." Dengan senang hati, Peter menerima botol minuman yang Cherly berikan.
"Thanks, ya Cher, kebetulan gue haus banget." ucap Peter lalu meminum airnya hingga tinggal separuh.
"Sama-sama, Peter, nih Cent punya kamu. Kalau sekarang belum haus, diminum nanti aja." Cherly masih berusaha memaksa Vincent.
Cherly terkejut, saat Vincent malah melempar air mineral yang ia bawa ke tempat sampah, kemudian kembali ke tengah lapangan tanpa mengatakan apapun. Vincent benar-benar tidak mau sedikit pun menerima pemberian Cherly, bahkan hanya sekadar kasihan saja tidak. Peter menatap iba gadis di depannya yang tengah menunduk sedih, pasti Cherly malu karena Vincent selalu menolak pemberiannya di depan banyak orang.
"Eh Cher, balik ke kelas gih. Panas nih, bisa-bisa kulit putih lo gosong, sana jangan panas-panasan." Peter mendorong pelan Cherly agar pergi dari sekitar lapangan basket.
Bukan bermaksud apa-apa, Peter hanya tidak mau Cherly semakin menjadi pusat perhatian. Apalagi ada Julia dan gengnya yang tersenyum remeh pada Cherly, mereka sepertinya tidak suka pada Cherly. Terutama Julia yang terus memperhatikan Cherly dari jauh, gadis itu juga sering menertawakan Cherly langsung di depan orangnya.
Peter mendekati Vincent yang asyik melempar bola basket ke ring sendirian, dari wajah cowok itu terlihat seperti biasanya. Setidak suka itu kan Vincent pada Cherly sehingga tidak bisa sedikit saja menghargai gadis itu. Bahkan di depan kedua orang tuanya pun Vincent menunjukkan rasa tidak sukanya terhadap Cherly.
"Gue gak nyangka, lo setega itu sama Cherly yang selalu baik," celetuk Peter.
"Gue gak suka dia," kata Vincent santai.
"Tapi harusnya jangan gitu, lo bisa tolak dia dengan baik. Dan bilang kalau lo udah punya pacar, mungkin dia bakal berhenti suka sama lo. Gue cuma gak mau dia lama-lama benci sama lo, dan tentunya entar lo sendiri yang ngejar-ngejar dia." Nasehat Peter.
"Cih, gak mungkin." Vincent benar-benar keras kepala.
Dia tidak akan mendengarkan nasehat orang lain jika menurutnya kurang pas di hati. Apalagi untuk berbuat baik pada Cherly, itu sangat mustahil baginya. Setiap kali melihat Cherly pasti mood-nya selalu berantakan dan ia tidak suka akan hal itu.
"Gue gak akan pernah suka sama dia, ada Sofia yang selalu buat gue senang selama ini. Bukan Cherly," batin Vincent.
Di toilet, Cherly menatap kesal ponselnya, karena kakaknya mengatakan mereka tidak bisa kembali ke Indonesia dalam waktu dekat. Padahal sebentar lagi akan kenaikan kelas, ia ingin orang tuanya yang mengambil raport kenaikannya. Belum lagi ia juga akan pergi liburan ke Bali bersama teman-temannya untuk satu minggu.
Badannya jatuh terduduk karena bertabrakan dengan seseorang, cepat-cepat Cherly berdiri menatap gadis yang menabraknya. Matanya terbelalak saat melihat gadis di depannya yang kini berdiri dengan tatapan angkuh, Cherly berdecik pelan melihat gadis itu yang selalu saja mengganggunya. Padahal selama ini dirinya tidak pernah mengganggu siapa pun dan selalu baik pada siapa pun, tapi satu gadis ini benar-benar membuat dirinya muak karena selalu saja mencari gara-gara dengan dirinya.
"Auh sstthh, lo sengaja ya?" todong Cherly pada Julia yang menatapnya remeh.
"Ih gak sengaja, sini gue bantu," kata Julia, meledek Cherly agar gadis itu tersulut emosi dan akan terjadi keributan. Mengingat selama ini hanya Cherly yang tidak membalas perlakuannya dan hanya menganggap tingkahnya sebagai angin lalu, tentu saja Julia ingin sekali membuat Cherly marah dan merusak nama baik gadis itu.
"Lo tuh bisa gak sih diem sehari aja gak usah cari gara-gara," teriak Cherly tepat di depan wajah Julia lalu pergi begitu saja.
Julia berjalan mengikuti Cherly lalu menarik keras tangan gadis itu sampai terhuyung hingga kepalanya terbentur ke tembok.
"Ups, gak sengaja," kata Julia mengejek.
"Lo, bener-bener gak bisa diem ya, sialan.." Cherly menepis kasar tangan Julia yang masih memegangi lengannya.
Ketika akan membalas Cherly, ia melihat Vincent dan Peter berjalan ke arah toilet laki-laki. Julia sengaja duduk di lantai dengan keras setelah didorong oleh Cherly.
"Auu Cher, kok lo dorong gue sih? Kan gue mau bantuin lo." kata Julia memasang wajah sedih.
"Heh maksud lo apa? Jangan sok baik lo sama gue," teriak Cherly penuh amarah.
"Aduh, kaki gue sakit, hiks hiks," tiba-tiba Julia menangis dengan memegangi kakinya yang entah kenapa.
"Gak usah akting, deh, banyak tingkah banget," sergah Cherly yang masih diselimuti amarah.
"Cher!" suara itu terdengar sangat nyaring di telinga Cherly.
Gadis itu menatap Vincent, yang kini berjalan ke arahnya diikuti oleh Peter, dari wajahnya Vincent terlihat marah. Tanpa aba-aba, Vincent menarik lengan Cherly keras dengan cengkraman kuat, membuat lengan putih gadis itu memerah.
"Lo gak liat dia kesakitan? Munafik lo, di depan gue sok baik, tapi di belakang lo jahat banget." Desis Vincent tajam.
"Sshhh, Cent sakit." Cicit Cherly, memegang tangan Vincent yang mencengkram kuat lengannya.
Melihat lengan Cherly memerah membuat Vincent sadar jika yang dilakukannya keterlaluan. Ia pun melepaskan lengan Cherly, lalu membantu Julia dengan menggendong gadis itu untuk pergi ke UKS. Cherly menatap kepergian Vincent sendu, ia ingin mengatakan jika itu hanya salah paham. Tapi tak ada keberanian untuk mengatakan itu saat tatapan Vincent benar-benar menakutkan.
"Mau gue bantu, obatin lengan lo?" tawar Peter.
"Hiks hiks gue gak salah, Vincent salah paham." Isak Cherly.
Tanpa mengatakan apapun, Peter memeluk Cherly yang terisak. Ia tahu jika Cherly tidak mungkin melakukan hal itu. Apalagi melihat kaki Julia yang tampak baik-baik saja, tidak ada memar atau merah sedikitpun.
"Gue percaya, sama lo." kata Peter pelan, ia mengelus pelan puncak kepala Cherly yang tengah menunduk. Peter sendiri menyayangkan sikap teman baiknya itu, karena tidak mau mendengar penjelasan dari Cherly terlebih dahulu.
Mungkin Vincent sudah terlalu muak dengan drama yang ada hamper setiap hari, karena ulah Cherly.