"Minggir!" peringat Vincent.
"Vincent, aku mau tanya rumus matematika yang tadi kamu jelasin di kelas, aku belum ngerti," pinta Cherly, memasang wajah memelasnya.
Vincent menatap malas gadis itu. Sejak Cherly menginap di rumahnya, sekarang gadis itu semakin membuat hidupnya tidak tenang, apalagi kamar gadis itu berada tepat di samping kamarnya.
"Vincent, please!" Cherly mengerucutkan bibirnya.
"Gak usah sok imut, gue ada janji. Lo ambil buku gue di meja belajar, cari sendiri abis itu keluar, jangan lama-lama!" Setelah itu, Vincent pergi meninggalkan Cherly.
Dengan senyum mengembang, Cherly masuk ke kamar Vincent. Matanya berbinar melihat kamarnya yang sangat bagus. Semuanya bukunya tertata rapi di meja dan rak, tapi tempat tidur Vincent berantakan. Seragam cowok itu ada di sofa dengan kaos hitam tidak berlengan. Cherly meraih kaos Vincent dan menciumnya.
"Bau Vincent, hihi," Cherly terus menciumi kaos yang ia pegang dengan senyum kegirangan.
Baru kali ini ia bisa memasuki kamar Vincent yang selalu terkunci rapat, mencium bau cowok itu yang mengisi seluruh kamar. Tanpa pikir panjang, Cherly merapikan tempat tidur Vincent, lalu peralatan game yang juga berantakan, ada kulit kacang dan kaleng soda yang belum dibersihkan. Setelah hampir tiga puluh menit di dalam kamar Vincent, kini Cherly keluar dengan membawa buku catatan milik Vincent menuju ke kamarnya.
"Wah, tulisan Vincent rapi banget, cara yang dia tulis juga gampang dimengerti. Aaa gak salah suka sama dia," Cherly terus bergumam kegirangan.
"Cherly!!" teriakan dari luar membuat Cherly kaget bukan main.
Ia segera keluar dari kamarnya, meninggalkan tugas yang tengah dikerjakan. Dari teriakan yang Vincent keluarkan, Cherly takut. Benar saja, wajahnya memerah karena amarah, matanya menyorot tajam pada gadis itu.
"Lo apain kamar gue?" teriak Vincent tepat di depan wajah Cherly.
"Ih, Vincent, aku kira kenapa, tadi aku cuma beresin kamar kamu aja soalnya berantakan banget, kaya kapal pecah. Padahal kamar kamu bagus, tapi berantakan. Jadi aku bantu beresin biar kamu kalo balik ke kamar nyaman," jelas Cherly penuh ceria seperti biasanya.
"Gue udah bilang jangan sentuh apapun! Dan langsung pergi abis ambil buku, lo t***l banget tau gak. Gara-gara lo catatan yang harus gue beli buat pacar gue ilang!" Vincent terus berteriak di depan wajah Cherly, tak memperdulikan bagaimana perasaan gadis itu.
"Aku cuma bantu beresin aja, tadi gak ada kertas apapun kok," cicit Cherly mulai takut.
"Sialan!" maki Vincent lalu kembali meninggalkan rumah dengan emosi yang menggebu-gebu.
Cherly menatap kepergian Vincent sendu. Ia berniat baik untuk menata kamar cowok itu, tapi malah ia mendapat amarah karena ada kertas yang hilang. Padahal tadi tidak ada satu pun kertas di sana.
"Apa aku cari aja, ya, di tempat sampah depan, siapa tau Vincent lupa terus kena buang," gumam Cherly sebelum akhirnya pergi ke tempat sampah.
Satu persatu bungkus plastik berwarna hitam ia buka untuk mencari catatan yang Vincent maksud. Sebenarnya ia tidak tahu isi catatan itu apa, tapi jika berusaha pasti akan ketemu. Semua sampah sudah ia cari satu persatu, tidak ada kertas satu pun. Hanya ada dua kertas robek dan itu catatan belanjaan pembantu rumah Vincent.
"Astaga, Non Cherly ngapain ngais sampah?" tanya satpam yang berjaga di rumah Vincent.
"Cari kertas, Pak, punya Vincent ilang," jawabnya sambil terus mencari.
"Aduh Non, Tuan Vincent tuh gak pernah buang kertas di tempat sampah. Dia biasanya taruh di kotak khusus sampah kertas yang akan dibuang sebulan sekali, soalnya takut tiba-tiba ada yang penting. Pembantu di sini juga gitu, kalau di kamar Tuan Vincent ada kertas berserakan, selalu dimasukin ke kotak. Non bersih-bersih aja sana, gak mungkin ketemu, Non," jelas Pak Satpam.
"Oh, gitu ya, yaudah Cherly bersih-bersih dulu ya Pak. Udah bau banget ini soalnya badan Cherly," pamitnya.
Di mobil, Vincent terus mengumpat kasar karena catatan yang diberikan oleh Sofia hilang. Gadis itu pasti akan marah besar pada dirinya. Membiarkan Cherly masuk ke kamarnya adalah kesalahan besar, gadis itu terlalu lancang.
"Astaga, ini kan catetan yang Sofia kasih kemarin. Kenapa bisa ada di sini?" gumam Vincent.
Ternyata catatan itu ada di dalam mobilnya dan terjatuh, pantas saja di kamarnya tidak ada. Ia telah salah menyalahkan orang, bahkan sampai membentak dan memaki Cherly yang sudah berbaik hati menata kamarnya. Tapi bukan Vincent namanya jika ia peduli pada gadis itu. Tidak akan ada masalah meskipun dirinya tidak meminta maaf. Toh, Cherly yang akan mengejarnya untuk meminta maaf, bukan Vincent.
"Gue gak perlu minta maaf, toh tetap dia yang bakal ngejar gue buat minta maaf," senyum miring di bibir Vincent terlihat jelas meremehkan Cherly.
Selama ini jika Vincent yang salah, pasti Cherly lah yang akan meminta maaf dan memaklumi apapun yang sudah Vincent lakukan pada gadis itu. Entah terbuat dari apa hati Cherly, sehingga dia sangat sabar menghadapi sikap Vincent yang selalu menyakiti gadis sebaik Cherly.
Cherly menatap layar laptop miliknya dengan sendu. Di sana terdapat postingan di salah satu akun yang memperlihatkan sosok keluarga bahagia. Jujur, bohong jika dirinya sampai mengatakan tidak iri atau baik-baik saja. Selama ini dirinya selalu mengalah dan mengiyakan apa yang sudah menjadi keputusan kedua orang tuanya. Seperti sekarang ini, ia harus tinggal di rumah sahabat baik kedua orang tuanya untuk sementara waktu karena kedua orang tuanya harus menemani kakaknya mengejar cita-cita.
"Apa sangat sulit, untuk kalian berlaku adil sedikit saja? Atau hanya memberikan sedikit saja lebih banyak perhatian untuk aku?" Pertanyaan itu selalu ia simpan sendiri sejak kecil. Dia tidak memiliki keberanian yang besar untuk mengutarakan apa yang dirasakan sekarang ini.
"Cherly butuh Mama, sebentar saja untuk merasakan kehangatan pelukan seorang ibu. Kenapa Mama sangat susah memberikan hal yang sangat sederhana itu? Bukan uang yang berlimpah, yang Cherly inginkan, melainkan hanya sedikit saja perhatian, seperti yang Mama kasih ke Kakak selama ini." Tak terasa, air mata membasahi pipinya dengan sendirinya, tanpa bisa dicegah. Perlahan, isak tangis Cherly juga ikut terdengar.
Gadis kecil yang selama ini terlihat ceria dan selalu bisa membuat orang lain ikut merasa senang dengan keberadaannya, siapa yang tahu jika dia sebenarnya memiliki rasa sakit dan kesepian yang sangat dalam? Namun, dia tidak pernah menceritakan pada siapa pun dan semuanya selalu disimpan sendiri. Dia tidak ingin membuat orang lain merasa terbebani dengan apa yang terjadi pada dirinya. Banyak orang berpikir jika menjadi anak dari keluarga kaya yang memiliki banyak harta akan membuat senang dan tidak membutuhkan keluarga lengkap, tapi tidak bagi Cherly, yang selalu diabaikan dan pasti akan kesepian di setiap detiknya. Tidak ada kebahagiaan yang nyata dan sungguhan bagi Cherly, karena selama ini dia sampai tidak tahu apa artinya keluarga utuh. Dia juga tidak pernah merasakan apa yang namanya kehangatan keluarga.