14. First Case (2)

1307 Words
Hades Todd sedang menguap dengan berisik ketika Andrew dengan tenang memeriksa foto-f-to yang diambil di tempat kejadian perkara menggunakan IPad milik Hades. Keduanya sekarang tengah berada di luar ruang jasad forensik. Menunggu hasil otopsi keluar. Forensik mereka adalah seorang keturunan Afrika-Amerika dengan logat Queens yang kental bernama Dave Bolton. Pria yang sangat bugar untuk ukuran pertengahan lima puluhan. Dengan lesung pipi dan senyum lebar bersahabat. Ketika Andrew dan Dr. Bolton dikenalkan pertama kali oleh Hades, partnernya itu berkata. “Dr. Bolton pernah meninju mayat yang tiba-tiba bangun dan membuatnya mati lagi!” Ia berkata dengan sangat antusias lengkap dengan mata yang berbinar-binar. Jabat tangan mereka terlepas. Sebelum Dr. Bolton menanggapi dengan sabar. Sepertinya sudah terbiasa dengan omong kosong Hades. “Hanya rumor.” “Dan bukan berarti tidak benar!” Suara kuap lagi dan Andrew sedang mendekatkan wajahnya pada layar tablet. Bocah laki-laki Afrikan-Amerikan yang mereka temukan tewas itu terduduk di dinding gang dengan kepala terkulai ke samping. Ia memaki kaos tanpa lengan salah satu klub basket. Hal yang paling menonjol dari bocah itu walau pakaiannya usang, tampak bersih. Kuku-kukunya juga bersih. Ia tampak cukup terawat walau terlalu kurus untuk usianya. Ada bekas suntikan di lengan dalamnya yang sudah pasti menandakan satu hal... “Aku tidak tahan!” Hades tiba-tiba bangkit dan menguap lagi. “Aku akan pergi mencuci muka dan membeli kopi dari mesin penjaja minuman. Apa kau ikut?” Andrew lalu bangkit dengan kedua tangannya masih memegang IPad. Andrew sudah tahu di mana letak mesin itu sehingga ia tidak harus mengikuti Hades ke toilet dan memilih menunggu di samping mesin yang terasa hangat bahkan hanya berdiri di sampingnya Pria itu baru menurunkan IPad dari wajahnya ketika partnernya kembali dengan wajah yang lebih segar dengan rambut basah. Namun jalannya masih terseret ketika menghampiri Andrew. “Maaf, tapi aku kehabisan uang kecil.” Andrew memutar bola mata sebelum merogoh sling bag-nya sendiri dan mendapatkan beberapa koin yang ia letakkan di atas telapak tangan Hades. Pria itu menyeringai sebelum mengambil gelas kertas sebelum memasukkan koin yang diberikan Andrew ke dalam mesin. “Jadi apa yang sudah kau temukan dari gambar-gambar itu?” Sekarang kopi panas mengepul keluar dari mesin dengan wangi yang membuat mata terbuka. “Kalau bocah itu bukan gelandangan.” Andrew sekarang ikut memandangi gelas kopi yang sudah penuh itu. “Itu yang pertama dan yang kedua?” Andrew mengambil gelas miliknya lalu menaruh gelas yang lain, memasang gelas kosong, memasukkan koin, dan memencet tombol. Diam-diam Andrew lega. “Kalau ia terlalu rapi untuk menjadi seorang yang hidup tanpa rumah.” “Itu yang kedua. Dan yang ketiga?” Hades mengerang sambil berdiri. Andrew mengerutkan dahi. Karena ia tidak yakin dengan jawabannya. “Dia pecandu obat-obatan?” “Ding-dong! Walau aku juga tidak yakin. Namun melihat dari posisinya...” “Tapi ia tidak mungkin mendapatkan barang itu dengan mudah, kan?” Andrew merasakan tubuhnya seperti disiram air es dengan pikiran itu. Namun ia sadar sepenuhnya ketika Hades menyodorkan kopi yang sudah jadi ke dalam tangannya yang bebas. Tidak lupa mengucapkan terimakasih tepat waktu. Andrew baru saja menyesap kopinya ketika ia mendengar seseorang berseru memanggil Hades. Suaranya yang sangat dalam itu menggema di seluruh lantai itu. Hades menyahuti panggilan itu. Memberi isyarat Andrew untuk meminum kopinya yang panas itu dengan cepat. Hades sendiri meniup-niup kopi itu dengan cepat sebelum menegaknya. Dari caranya minum sudah pasti ia membakar tenggorokannya. Andrew hanya mampu menyesap sedikit sekali lagi. Menatap sayang kopinya sebelum setengah hati melemparkannya ke dalam tempat sampah. Dr. Bolton menunggu mereka di ambang pintu ruang pemeriksaannya. Menatap mereka bergantian yang berjalan ke arahnya. “Aku mencium bau kopi.” “Aku akan mentraktirmu kapan-kapan, Doc. Jadi tolong apa yang sudah kau dapatkan dari bocah itu.” Dr. Bolton lalu memimpin jalan ke arah salah satu meja besinya yang dingin. Suasana ruang otopsi suram walau dengan penerangan terang-benderang. Berbau alkohol obat dan pemutih yang menyengat hidung. Andrew sampai harus menggosok-gosok hidungnya yang gatal. Tempat bocah laki-laki itu terbaring ditutup dengan plastik tebal berwarna putih. Sekarang ia tampak seperti anak seusianya. Tenang tanpa ekspresi apapun, namun Andrew tahu dibalik plasti putih itu perutnya dibedah terbuka. Andrew cepat-cepat mengambil buku note-nya karena sekarang. Agak kesulitan dengan IPad jadi ia serahkan kembali pada si empunya. Dr. Bolton sudah mengambil papan penjepitnya dan mulai membaca. Pria itu menyebut nama sang bocah sebelum melanjutkan, “Usianya sebelas tahun dan sepuluh bulan. Ia makan sesuatu yang aku tebak – Pop Tarts cookies and cream sebagai makan malam. Selain itu...” Dr. Bolton berhenti, membuat ‘Andrew juga berhenti menulis. “Ada cairan methamphetamine cukup banyak dalam darahnya.” Dr. Bolton meletakkan papan penjepitnya di atas meja kerjanya kemudian memakai sarung tangan karet. Memberi mereka isyarat untuk mengikutinya maju ke tempat jasad bocah laki-laki itu terbaring. Menarik salah satu lengan dari bawah penutup plastik agar Andrew dan Hades dapat melihatnya.  Ia membalik lengan agar mereka bisa melihat bagian lipatan dalamnya. Andrew mengerjap-ngerjap. “Ia melakukannya sendiri?” Suara Hades meninggi. “Apa kau tidak menemukan bekas kekerasan apapun dalam tubuhnya?” “Ada beberapa memar tua di beberapa bagian tubuhnya. Salah satunya ada di bagian atas betisnya dan ini. Aku tidak yakin kalian bisa melihatnya dengan jelas karena warna kulitnya.” Hades menyumpah. Sedangkan Andrew tetap menulis dan Dr. Bolton menarik napas panjang. “Terimakasih, Doc. Aku akan menghubungimu lagi.” Hades sudah memutar tubuh dan pergi. Andrew cepat-cepat menyelipkan buku note kembali ke sling bag, mengucap salam perpisahan kepada sang dokter yang hanya dijawab dengan gumaman. Andrew mengikuti langkah Hades yang besar-besar itu dengan setengah berlari. Pria itu terlihat sangat gusar sehingga Andrew memutuskan untuk tetap diam hingga mereka sudah berada di dalam mobil. Setelah melempar IPad-nya ke kursi belakang, Hades membenturkan kepalanya beberapa kali di roda kemudi. Andrew juga terganggu dengan semua bukti yang baru saja mereka dapatkan itu. Namun ia sudah belajar untuk tidak mudah menunjukkan apapun di wajahnya selama bertahun-tahun sebagai adik angkat Raphael Suarez. Diusia dua belas tahun juga ia memulai kehidupannya bersama pria itu. Namun Raphael memastikan adik-adiknya tidak terlalu dekat dengan urusan keluarga. Walau begitu Andrew tahu Raphael berniat untuk membuatnya sebagai penerusnya. Kemudian ia pergi dengan egois. Dengan perasaan tahu benar Raphael akan mendukungnya walaupun dengan setengah hati. Ponsel Hades tiba-tiba berbunyi. Pria itu mengerang, masih dengan dahinya yang menempel di roda kemudi ia mengangkatnya. Namun begitu ia melihat nama yang ada di layar, ia kembali duduk tegak. Melirik ke arah Andrew sebelum memencet tombol louspeaker di ponselnya. “Daisy, apa kau mendapat sesuatu?” “Andrew ada di sana, kan? Aku belum berkenalan dengannya!” seru seorang wanita dari ponsel Hades. Membuat pria itu memijat puncak hidungnya sekilas. Daisy melanjutkan, “Halo, Andrew! Aku Daisy Bowman. Informan resmi Hades dan yang menjaganya dari kejauhan. Dan sekarang karena ada kau. Aku tidak lagi perlu khawatir. Terimakasih.” Andrew melirik Hades sejenak dan diberikan persetujuan sebelum menjawab. “Terimakasih, Miss Bowman.” “Daisy, permintaanku?” Hades menyela. Andrew cepat-cepat mengeluarkan buku note nya lagi. “Baiklah, Tuan Perusak Suasana. Aku sudah memeriksa catatan bocah itu. Menurut Child Protection Service (CPS) ia telah berada dalam pengawasan keluarga asuh sejak usia enam tahun. Ia telah pindah dari satu rumah ke rumah lainnya. Tidak pernah menetap lebih dari setahun karena... Sulit dikendalikan. Lalu beberapa bulan yang lalu ia kembali pada ibunya yang mantan pemadat.” “Bagaimana ibunya telah dinyatakan layak mengasuhnya lagi?” Hades dahi mengerut. “Dari datanya di sini wanita itu sudah punya pekerjaan tetap di sebuah salon di Downtown. Sudah sadar sejak setahun yang lalu.” Daisy dengan suara yang serius sekali. “Jadi siapa yang menjaganya jika ibunya pergi bekerja?” Hades lagi dengan dahi mengerut. “Ia bersekolah. Dengan nilai... Well, tidak begitu baik.” “Kalau begitu kita bisa mulai dari sana. Terimakasih, Daisy.” “Hey, apa aku masih bisa...” Namun Hades sudah menutup sambungan teleponnya. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD