18. Truth Untold (2)

1918 Words
Jadi Andrew dan Hades melewati koridor yang penuh dengan anak-anak yang bersiap berpindah ke kelas selanjutnya. Sang Kepala Sekolah memimpin jalan, berjalan membelah para remaja dengan tas di pundak menatap mereka dengan pandangan ingin tahu. Ada yang terang-terangan berbisik-bisik sambil menunjuk tanda pengenal yang tergantung di leher Andrew. Sang Kepala Sekolah akhirnya memanggil sebuah nama. Seorang anak laki-laki Afrika-Amerika langsung berjengit. Membanting pintu lokernya menutup sebelum berlari menjauh. Sang Kepala Sekolah berseru memanggil namanya lagi. Namun anak itu sudah menghilang di belokan. “Memangnya ia bisa ke mana?” Hades bertanya sangat tenang kepada Sang Kepala Sekolah. Karena Hades dan Andrew sudah memperingatkan kepada sang satpam untuk menutup semua akses pintu sebelum mereka pergi mencari teman korban mereka. Dan benar saja. Remaja pria dengan jaket hoodie lusuh dan sepatu usang itu mencoba mendobrak pintu menuju ke tangga darurat yang telah terkunci. Pintu yang seharusnya tidak pernah terkunci dalam waktu apapun. Andrew memperingatkan dirinya untuk memastikan pintu itu tidak terkunci lagi setelah mereka mendapatkan apa yang mereka perlukan. “Kami hanya ingin menanyakanmu soal temanmu...” Hades mengangkat kedua tangan kemudian menyebut nama. “...Oke?” Sang Kepala Sekolah memilih untuk mundur. Membairkan Hades dan Andrew mengambil-alih. “Kenapa dengannya? Apa kalian menahannya?” tanya bocah tanggung itu dengan kedua tangannya masih di gerendel pintu, menatap ketiganya dengan curiga. “Tidak, ia tewas.” Itu Andrew sama sekali tidak memperhalus maksudnya. “Di sebuah gang sempit semalam. Kelebihan dosis.” Hades memberinya lirikan tidak setuju. Namun Andrew sudah terlalu lelah untuk berbasa-basi. Kepalanya mulai sakit dan ia lapar. Ia ingin semua omong kosong ini cepat berakhir. Berada di sekolah menengah lagi membuatnya tidak nyaman. Terlalu banyak kenangan menyakitkan... Si Kembar.... Bocah itu menatap nanar keduanya sebelum menggeleng. “Bukan dia, oke? Semuanya bukan berawal dari dia! Pacar ibunya yang melakukannya!” Andrew mengerjap. Hades sudah mendekat, berjongkok di depan anak yang sekarang bergetar ketakutan itu. “Pacar ibunya memberinya agar ia bisa tetap tenang. Kau tahu, ia agak... banyak tingkah? Ia sudah tidak menginginkannya lagi sejak lama.” Ia mulai memegang kepalanya dengan kedua tangan. “Saya akan menelepon orangtuanya.” Sang Kepala Sekolah berkata dan melangkah menjauh. “Namun ia tidak tahu dengan siapa bisa meminta tolong. Seluruh orang dewasa tidak ada yang mempercayainya atau mau mendengarnya. Bahkan ibunya tidak.” Bocah itu mulai terisak. Andrew merasakan tubuhnya membeku, sensasi air dingin menuruni punggungnya. Hades sudah memeluk bocah itu erat. Membiarkan pundak pakaiannya basah dengan air mata. Hades keudian menggandeng bocah itu kembali ke ruang kepala sekolah. Butuh waktu lama Andrew bisa menguasai dirinya kembali dan mengikuti jauh di belakang. Berusaha menutup telinganya dari dengung percakapan khas remaja disekelilingnya. Karena jelas membuatnya gelisah dan tidak mampu berpikir jernih. Di sana mereka dengan sabar menunggu orangtua sang sahabat dan menjelaskan semuanya. Ibunya – dengan seragam diner dan jaket wol itu datang tergopoh-gopoh - awalnya tampak murka menyadari anaknya masih berteman dengan seorang anak bermasalah walau sudah ia peringatkan sebelumnya “Ia tidak mungkin meninggalkan sahabat dekatnya menderita sendirian.” Andrew membela anak itu dengan senyum kurang meyakinkan. “Anda seharusnya bangga padanya.” Hades menatapnya dengan mata menyipit, namun Andrew berusaha keras untuk tetap memusatkan perhatian bocah yang memberinya senyum penuh terimakasih itu. Hades kemudian mengambil-alih. Berkata mereka mungkin masih memerlukan kesaksian sang bocah untuk kasus tersebut. Sang ibu yang menyembunyikan putranya di balik tubuhnya selama Hades menjelaskan bocah itu jelas perlu dampingan ibunya selama wawancara berlangsung. Setelah itu mereka mohon pamit. Andrew mengikuti rapat Hades yang mengambil rute terjauh dengan memutar kembali ke pintu darurat. Hades mengacungkan jempol pada satpam yang kembali membuka kunci itu kembali. Kemudian pria itu mengambil ponsel dan menaruhnya di telinga. “Daisy, tolong cari tahu siapa pacar ibu korban kita, oke?” Hanya itu saja sebelum Hades menyelipkan ponselnya kembali ke saku celananya. “Ayo, kita keluar dari sini. Aku lapar sekali.” Ia menadahkan tangan. Andrew tahu itu artinya ia meminta kunci mobilnya kembali... ***   “Bagaimana? Apa kau mendapatkan seseorang yang Anda sukai, Senor?” Xavier bertanya dari balik konter bar dengan sedikit berteriak di antara suara riuh-rendah lagu yang dimainkan DJ sekarang . “Oh, Xavier. Jangan mulai.” Raphael memicingkan mata ke arahnya melalui atas bahu, berteriak sama kerasnya. Ia sekarang memutar tubuh menghadap ke arah lantai dansa yang penuh sesak diiringi dengan lampu warna-warni. Suara siulan dan seruan menggema di seluruh ruangan Jumat malam. Beberapa wanita mengerling menggoda kepada Raphael, baik yang baru saja lewat atau yang sedang berada di lantai dansa. Raphael hanya balas menyeringai. Tidak sengaja ia mendapati Gabriella yang sedang berbicara dengan sang DJ dilantai dua. Sang DJ mengangguk-angguk. Saat itu juga lagu berganti dengan ballad merdu. Beberapa pengunjung sedikit terkejut, namun mereka menyukainya. Dari gerak dansa cepat sensual berubah menjadi dansa tenang yang memabukkan. Perbuatan itu membuat Raphael berdecak sambil menggeleng. Gabriella sudah turun dari lantai dua dengan senyum puas. Mereka bertukar pandang dan Gabriella jelas berjalan menuju ke arahnya. Mencondongkan tubuhnya di atas bar station tepat di samping Raphael. Membuat beberapa pria di balik tubuhnya memandanginya dengan tertarik.  “Masih tidak ada yang menarik perhatianmu?” Gabriella memesan cosmo pada Xavier lalu menoleh ke arah Raphael dengan kepala sedikit miring. Raphael hanya mengedikkan bahu. “Bagaimana kalau kau ceritakan padaku apa yang terjadi tadi pagi? Bernardo bilang ada kejadian...” Raphael membuat tanda petikan dengan kedua tangannya. “...Lucu?” Gabriella memutar bola matanya. “Kau ingat dengan polisi bernama Bly Ahiga, kan? Sekitar setahun yang lalu ia nyaris menggagalkan kiriman kita di pelabuhan? Well, entah siapa yang memberitahunya kalau hari ini kita juga punya kiriman. Untungnya mereka memulai penguntitan dari warehouse.” Gabriella mendapatkan minumannya dan mengucap terimakasih pada Xavier. “Aku yakin Bernardo sudah tahu siapa dalam beberapa jam lagi.” Karena pria berkepala plontos itu memang menghilang. Dan Raphel tahu jika Bernardo menghilang itu berarti sesuatu yang berhubungan dengan kiriman spesial mereka dari perbatasan. Jadi sekarang Raphael dan Gabriella kembali menghadap ke lantai dansa. Hingga mata Raphael tertuju pada dua sosok yang dilihatnya dari balik tubuh-tubuh yang sedang berdansa Jenny, salah seorang Perdon Girl seniornya terlihat sedang berbisik-bisik di telinga Ellie – gadis barunya - dan gadis itu tengah mengangguk-angguk.  “Apakah gadis yang bersama Jenny adalah gadis baru kita? Siapa namanya?” Gabriella malah bertanya kepada Xavier. Raphael-lah yang menjawab. “Ellie.” Ia langsung mengambil tongkat jalannya. Tanpa menoleh berjalan lurus ke arah kedua wanita itu ketika Jenny sedang mengenalkan Ellie kepada seorang pria. Jenny langsung menyadari kehadiran Raphael. Raphael tanpa kata mengalungkan lengannya di bahu mungil Ellie yang tersentak. “Maaf, Sir...” Raphael tersenyum “penuh permintaan maaf” kepada para pria itu. Matanya menyapu pesanan yang ada di atas meja mereka. Pilihan minuman mereka cukup bagus jadi Raphael memilih untuk melembutkan maksudnya.“Tapi malam ini Gadis ini milikku.” Ellie menoleh ke arahnya, terperangah. Gadis itu memang mungil sekali dalam dekapan Raphael. Dan harum... Tapi Raphael sudah berbalik badan dengan membawa Ellie dalam dekapannya. Di balik tubuhnya ia mendengar Jenny terbata memberi penjelasan. Raphael sadar betul ada semburat merah dipipi Ellie di bawah bayang sinar lampu yang gemerlapan. “Ayo, Ellie. Temani aku sebentar.” Tangan Raphael berpindah meraih tangan mungil gadis itu dan menautkan jemarinya di jemari Ellie yang dingin. “Tapi aku harus meminta izin kepada Jenny! Itu aturannya dan ia adalah mentorku!” Ellie melepaskan tautan jari mereka sebelum berkata keras, “Jadi apakah aku bisa pergi dengan Senor Suarez, Sis?” Baik Raphael dan pria-pria yang ada di meja itu sekarang tercengang. Jenny menatap Raphael takut-takut sebelum menjawab, “Yeah, tentu saja. Bersenang-senanglah!” Raphael memutar bola matanya. Ia kembali menautkan jemarinya pada tangan gadis itu. Membawanya menembus kerumunan manusia. Raphael hanya berhenti sebentar di depan bar station untuk mengambil jaketnya yang tertinggal. Gabrilella jelas memberi Ellie tatapan menilai dari atas sampai bawah di atas kursi yang ditinggalkan Raphael tadi sebelum berkata,  “Kau “Perdon Girl” baru, kan?” Manis dan hati-hati. Gabriella bisa seperti itu jika ia mau. Ellie melirik Raphael sekilas sebelum menjawab. “Si, Senora.” Gabriella mengibaskan tangannya, acuh. “Gabriella atau Gab saja, jangan terlalu formal.” Kemudian wanita itu menadahkan tangan ke arah Ellie. “Mana ponselmu?” Ellie mengernyit tidak mengerti sebelum menuruti permintaan Gabriella. Ia menyerahkan ponselnya pada wanita itu. Gabriella mengotak-atiknya sebentar sebelum ia tempelkan ke telinganya sendiri.  Kemudian ia mengembalikannya. “Kalau Raphael mencoba melakukan suatu hal yang kau rasa akan melukai keselamatan jiwamu, segera hubungi aku.” Raphael mengusap kedua pelipisnya. Bahkan Xavier menahan tawanya dengan menundukkan kepala dalam-dalam. Gabriella meneriakkan perpisahan ketika Raphael menarik Ellie pergi. Begitu sampai di pintu keluar, Raphael meminta si penjaga pintu untuk menghentikan taksi. Raphael menyebutkan tujuannya kepada si sopir dengan berbisik. Si Sopir mengangguk menyanggupi. “Kita akan kemana, Senor?” Tanya Ellie hati-hati. “Ke tempat favoritku di malam hari. Dan seperti Gabriella. Tolong, panggil saja aku Raphael.” Dan tempat favorit Raphael di malam hari itu adalah tempat dimana biasanya orang-orang menikmati pemandangan East River. Sisi barat Brooklyn Bridge dengan pemandangan kota Manhattan. Ellie terlihat terperangah dengan pilihan lokasi Raphael itu. “Tidak biasanya aku mengajak orang lain ke sini.” Raphael menjelaskan setelah mereka keluar dari taksi, menunggu Ellie agar berlajalan di sisinya dengan bersandar di tongkatnya. Ternyata ada banyak pasangan juga di sana. Dan mungkin gadis yang disebelah Raphael itu tidak sadar ia beringsut merapat sambil menggosok-gosok lengan atasnya. “Kau jelas kedinginan. Maafkan aku karena langsung menyeretmu pergi seperti tadi” Raphael langsung melepas mantelnya dan dipakaikan di atas bahu Ellie. Gadis itu langsung tenggelam dalam mantelnya. “Thanks,” gumam Ellie dengan kepala menunduk. Mereka berjalan seperti itu. Menikmati malam dan angin yang meniup wajah mereka. Langit gelap bertabur bintang. Dan Raphael menikmati kediaman itu lebih dari biasanya. Karena biasanya ia benci dengan diam dan keheningan.  “Aku suka di sini Dulu, sebenarnya. Sebelum adik-adikku pindah meninggalkanku.” Raphael memecahkan keheningan. “Kau sepertinya benar-benar menyayangi mereka.” Ellie pelan. “Pria bernama Juan itu adikmu juga, kan?” Raphael mendengus geli, mengangguk. “Sangat menyayangi mereka, malah.” Raphael lalu membawa Ellie duduk di salah satu kursi taman di bawah sinar lampu. Raphael baru akan mengajukan pertanyaannya sendiri, namun ia sudah dipotong oleh Ellie dengan, “Apakah salah satu dari adik-adikmu yang membuatmu bersedih seperti ini?” Raphael mengulum bibirnya rapat, terenyak dengan pertanyaan itu. “Apa sejelas itu?” tanya Raphael setelah mendapatkan kembali suaranya. Ellie mengangguk lalu menundukkan kepalanya dalam-dalam. “Sejelas itu. Karena ketika aku bertanya pada Jenny tentangmu ia berkata bahwa kau baru saja ditinggal oleh adik kesayanganmu.” Sudah cukup aku harus membahasnya dengan Gabriella dan Juan. Ia tidak ingin membahasnya lagi dengan Ellie. “Tidak baru saja sebenarnya. Tapi aku rasa kau sudah cukup banyak tahu.” Ellie mengedikkan bahu dibalik mantel Raphael yang kebesaran itu. “Aku bisa di sini semalaman jika kau menginginkannya. ” Entah kenapa pernyataan itu membuat Raphael terganggu. “Dan kenapa kau bisa berakhir menjadi wanita malam, Senora? Apa kau kekurangan uang? Kau tampak seperti gadis baik-baik yang terjun di dunia yang salah.” Ellie masih tenang. Ketenangannya malah membuat Raphael makin gelisah. “Apa itu penting? Malam ini aku hanya bertugas menemanimu, bukan untuk diwawancarai olehmu.” Ellie mungkin kecil, imut, dan menggemaskan, pikir Raphael. Tapi ia juga bisa menyebalkan, ternyata. Dan Raphael tidak terbiasa dibalas seperti itu oleh seseorang yang bukan keluarganya. Raphael kemudian menyambar pergelangan tangan Elllie, membawa gadis itu berdiri. “Kalau kau memang bertugas menemaniku, kau harus ikut ke suatu tempat lagi. Malam ini kau milikku, ingat?”  ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD