11. The Meeting (1)

1172 Words
Sepanjang jalan sebelum Raphael sampai di gedung apartemen Andrew ia membaca berita tentang kebocoran gas yang menimpa Angelic Mall melalui portal berita online di ponselnya. “Apa kau sudah tahu yang terjadi di Angelic Mall hari ini, Bernardo?” tanya Raphael sambil mencari nomor ponsel Juan di ponselnya. “Si, Senor? Saya tahu. Tapi karena tidak ada kerugian yang terjadi. Saya memutuskan untuk tidak memberitahu Anda.” Bernardo tanpa sedikitpun membalas tatapannya dari spion tengah. Raphael mendengus. “Dan kau mengira dengan memberitahuku tentang Andrew membuatku lebih bahagia? Bernardo, kau memang benar. Tapi aku tidak ingin adik laki-laki yang lain membenciku juga.” Ia lalu menempelkan ponselnya ke telinga. Pada deringan ketiga Juan mengangkat teleponnya. “Hermano!” “Juan, apa kau sama sekali tidak ingin mengabariku tentang kejadian di Angelic?” “Semua baik-baik saja. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan dan tidak ada korban jiwa. Mungkin sedikit kerugian. Tapi...” Raphael memijat pangkal hidungnya sejenak. “Kau sendiri apa tidak apa-apa?” Seperti biasa Juan tergagap setiap kali Raphael menunjukkan perhatian padanya. “Aku baik-baik saja, sungguh. Aku datang ke sana ketika para petugas pemadam kebakaran sudah mengatasi masalahnya.” “Baguslah. Tidak apa-apa dengan sedikit kerugian selama tidak ada korban jiwa yang perlu kita urus. Tapi mungkin pendapatku tidak sama dengan para manager pemilik tenant di sana, kan?” Lalu setelah itu Raphael mendengar apa yang Juan lakukan pada para manager yang marah itu. Memberi pria muda itu dukungan yang diperlukan. “Beritahu aku jika terjadi apa-apa lagi di sana, oke?” “Si, Hermano. Dan bagaimana keadaanmu? Apa kau baik-baik saja?” Raphael menatap keluar jendela mobil ketika ia berkata, “Aku baik-baik saja, gracias. Kau sudah bekerja keras hari ini, Juan. Kau berhak untuk beristirahat.” Lalu sambungan telepon berakhir. Raphael selalu merasakan sekat yang ada di antaranya dan Juan. Ia menyadari betul setelah kepergian Andrew adik laki-lakinya yang lain itu berusaha keras untuk menggantikan tempatnya di hati Raphael. Namun Raphael yang sudah terlalu patah hati itu menghiraukannya hingga ia sendiri merasa hubungannya dengan Juan malah makin merenggang. Lalu pandangan mata Raphael jatuh keluar jendela. Ia mengamati dengan dahi mengerut daerah Manhattan yang sedang mereka masuki itu sebelum berseru, “Ingatanku mungkin salah – tapi itu jarang sekali terjadi – ini bukannya daerah yang sama dengan daerah yang dulu Andrew tempati tinggal ketika kita menemukan jasad ibunya?” Raphael membungkuk ke celah antara jok penumpang di sebelah kursi pengemudi dan Bernardo. “Si, Senor. Ia bahkan berhasil mendapatkan apartemen yang sama hari itu.” Raphael berdecak. “Aku tahu Andrew sentimental. Namun aku tidak mengira ia jauh lebih parah dariku.” Walau begitu Raphael sempat lupa seberapa jauh ia harus menaiki tangga untuk sampai ke apartemen itu. Kakinya yang cidera memperlambat jalannya. Bernardo mengikutinya dengan sabar di belakangnya. Menunggunya dua tangga di bawah selama ia menarik napas dan mengumpat pelan. Begitu ia sampai di lantai yang sesuai Ia tidak mengira akan mendapat Andrew sedang duduk di luar apartemennya bersama seorang gadis yang cukup muda untuk dikatakan sebagai adiknya. Raphael yang masih memegang lututnya untuk mengatur napas. Itu akhirnya berdiri cukup tegak untuk menatap ke melewati tubuh Andrew untuk menegur gadis yang baru saja ikut berdiri itu. “Oh, apa aku mengganggu sesuatu? Aku harap tidak.” Raphael melirik ke arah Andrew. Memberinya isyarat untuk memperkenalkan dirinya. Andrew menggeleng sambil memeletotinya. Namun Raphael sudah memberinya senyum yang biasa ia berikan kepada adik-adiknya ketika mereka berbuat nakal... “Naya, ini Senor Raphael Suarez. Raphael, ini Naya Miller.” Andrew dengan suara yang sangat malas. “Dan pria tanpa rambut di sana itu namanya Bernardo.” Andrew menunjuk ke arah tas bahu Raphael. Raphael menyeret kakinya untuk mendekat ke arah gadis itu. Ia merasakan tatapan Andrew yang sangat tajam dan ia jelas ingin menahan Raphael mendekat. Namun Naya dengan berbaik hati maju mendekat lebih dulu. Menjulurkan tangannya. Raphael mengamati wajah gadis itu cukup lama. Menyambut uluran tangan itu dan mencium punggung tangannya. “Rambut cokelat yang bagus, Miss.” Andrew dengan cepat mendorong Naya ke belakang. “Ambil buku sketsamu, Naya. Dan pergi tidur atau apa. Aku punya urusan dengan abangku ini.” “Ia abangmu?” Mata Naya melebar dan ia menunuk Raphael dengan jempolnya. Tapi Andrew sudah memungut buku sketsa dan pensil dari lantai. Mendorongnya ke pelukan gadis itu sebelum menarik pergelangan tangan gadis itu dan membukakan pintu apartemen di depan mereka dan menjejalkan gadis itu masuk. Naya masih sempat melambai ke arah Raphael sebelum Andrew membanting pintu menutup di hadapannya. “Kasar sekali, Andrew. Aku tidak ingat kalau aku pernah mengajarimu memperlakukan wanita seperti itu.” Raphael sekarang menggenggam kepala beruang tongkatnya dnegan dua tangan di depan tubuh. “Kau dan “Perdon Girl”-mu, Raphael.” Sekarang satu tangan itu pindah ke depan tubuhnya. “Aku memperlakukan mereka dengan baik, Andrew. Tidak pernah ada keluhan dari mereka tentang aku, ingat?” Andrew sekarang berkacak pinggang. Sedangkan Raphael menghela napas panjang sambil mengedarkan pandangan. “Aku bahkan tidak terkejut ketika Bernardo berkata kau kembali ke gedung apartemen ini. Apa pertemuanmu denganku hari itu sebegitu berharganya untukmu?” Kepala Raphael miring ke samping. Ia tahu ia telah menyulut api dalam darah Andrew. Karena ia tahu betul dari tiga adiknya yang lain Andrew adalah yang paling berdarah dingin. Mungkin setelah ia adalah Gabriella... “Apa yang kau inginkan, Raphael?” “Aku hanya penasaran sebenarnya. Kau sudah pergi cukup jauh ke New Hampton sana? Lalu kenapa kembali? Apa daerah elit di sana tidak memberimu cukup adrenalin? Aku tahu kau senang memegang senjata, Andrew. Menembak seseorang, lebih tepatnya.” Kesakitan itu. Raphael melihatnya dengan sangat jelas di mata biru yang tidak sejalan dengan warna kulit Andrew itu. “Apa kau tidak pernah bertanya-tanya bagaimana kau bisa lulus semua ujian kepolisian itu dengan sangat baik? Apa kau yakin hidupmu yang ini bersih dari campur tanganku?” Andrew melepaskan tangannya dari pinggang. “Hermano...” “Aku tidak bilang kau harus kembali sekarang, Andrew. Detective Hades Todd adalah partner yang sesuai untukmu. Aku tahu kau ingin melakukan sesuatu yang benar. Jadi lakukanlah.” Raphael membawa dirinya maju agar ia bisa berdiri saling berhadapan dengan Andrew yang sekitar tiga inci lebih tinggi darinya. Tongkat berkepala beruangnya berada di tengah-tengah mereka “Aku tahu semua hal tentangmu, Raphael. Kau memberitahuku sendiri.” Andrew balas menatap Raphael. “Oh kalau begitu semoga beruntung, Detective Andrew Kwon. Aku harap kita tidak bertemu dalam waktu dekat ini.” Raphael menyeringai. Menepuk-nepuk lengan atas Andrew lalu menghela napas panjang. “Well, aku sudah mengobati kerinduanku.” Ia lau berbalik berkata kepada Bernardo yang masih berdiri menunggu di puncak teratas tangga. “Bernardo, apa kau mau menggendongku turun? Aku rasa aku tidak akan kuat turun dengan kaki ini lagi. Kau tahu, seseorang telah membuatku menderita seperti ini selama bertahun-tahun dan sampai sejauh ini ia sama sekali tidak mengatakan apapun tentangnya...” Raphael menghitung dalam hati sebelum ia mendengar Andrew berseru, “Aku berharap kau tidak makan banyak taco seperti dulu.” “Aku tidak mau digendong denganmu kalau bukan bridal style!”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD