Entah kenapa belakangan ini mood Aksa terlihat sekali memburuk. Laki-laki yang memang sejak awal memang pendiam itu, kini bahkan tidak menyahuti candaan teman-temannya sama sekali. Sibuk sendiri berkutat dengan buku ataupun ponsel, tanpa ada senyum terpatri. Bahkan ketika seisi kelas dibuat terbahak-bahak melihat kelakuan konyol Raka yang tiada habisnya. Fiona menyadari benar perubahan tersebut.
"Untuk soal nomor 22 & 23," gumam guru matematikanya mulai mengedarkan pandangan ke sekitar. Memilih siapa yang akan maju mengerjakan soal yang sudah ditulis di papan tulis. "Aksa dan Fiona, silahkan kerjakan ke depan."
Samar terdengar bagaimana Yola menghela napas lega, sebab dirinya nyaris sekali dipanggil. Tatapan guru matematika mereka tadi memang tertuju cukup lama pada mereka yang kebetulan hari ini dapat giliran di barisan paling ujung belakang. Posisi paling rawan menjadi sasaran mengerjakan soal, sebab biasanya para guru meragukan anak yang duduk di baris belakang benar-benar fokus mengamati. Sebuah kekhawatiran yang tidak sepenuhnya salah, sebab dari balik buku yang ia berdirikan Yola sedang menonton sebuah film tanpa suara. Hanya mengandalkan subtitle yang ada.
Teman-teman mereka yang sedaritadi di panggil maju satu persatu, akan melempar canda atau keluhan kepada satu sama lain. Namun, majunya Fiona dan Aksa terasa sepi sekali. Aksa tidak mengatakan apa-apa, langsung meraih spidol dan mulai mengerjakan soal. Fiona menipiskan bibir, merasa tidak nyaman akan sikap Aksa yang terasa dingin. Mencoba fokus mengerjakan soal.
"plus, minusnya jangan lupa diubah."
Melalui sudut matanya, Fiona melirik. Menyadari bahwa Aksa sedikit memperhatikan hasil pekerjaannya sebelum kembali lanjut mengerjakan. Bisikan Aksa barusan, otomatis membuatnya mundur beberapa langkah. Mencoba memahami maksud dari kalimat Aksa, lantas tersadar bahwa dia melewatkan satu langkah dalam penyelesaian soal. Ketika dirinya hendak mencari penghapus papan tulis, tanpa basa-basi Aksa menyodorkan penghapus tersebut. Masih dengan mulut yang terkunci rapat, dan kelas yang hening. Seolah ikut terbawa oleh suasana dingin nan canggung yang terasa dari dua orang tersebut.
Fiona menerima penghapus tersebut, lantas buru-buru membenarkan jawabannya. Bersamaan dengan Aksa yang menyelesaikan jawabannya. Pemuda itu tersenyum tipis, kala guru mereka memberitahu bahwa jawabannya benar. Tak lama Fiona ikut selesai, dan diacungi jempol oleh sang guru.
"Lo berdua kenapa deh?" Wilsa dan Davina yang duduk tepat di depan Fiona dan Yola, buru-buru menoleh ke belakang. Ujung mata mereka lantas mengarah pada sosok Aksa yang duduk di sisi lain kelas. "Sumpah, suasananya berubah canggung gitu."
"Lo berdua nggak berantem, perkara tugas fisika waktu itu kan?" tanya Yola ikut penasaran. "Tapi ya, menurut gue belakangan ini si Aksa emang berubah deh. Moodnya kayak jelek gitu."
Entah kenapa Wilsa dan Fiona jadi saling melirik satu sama lain. Sebenarnya tau alasan kenapa Aksa terlihat menahan kesal selama ini. Wilsa hendak buka mulut, memberi tau apa yang ia dan Fiona saksikan beberapa hari lalu namun langsung menutup mulut rapat-rapat. Menyadari bahwa Fiona memberi kode agar ia tidak menceritakan hal tersebut.
Pandangan Fiona lantas teralih pada Aksa yang menatap lurus papan tulis dengan pandangan tak berminat. Sesuatu yang jarang sekali terlihat dari si jenius.
***
“Sa, kantin bareng?”
Aksa berdecak pelan, kala Oji sudah mendekat kearahnya sembari merangkul Rasha. Ia bisa melihat bagaimana Rasha yang tersenyum ramah, seolah-olah tak terjadi apapun diantara mereka beberapa hari lalu. Mengingat Rasha memang mewanti-wanti Aksa untuk tidak membiarkan banyak orang tau mengenai kedekatan mereka selama ini. Sebagai seseorang yang taua apa yang terjadi Radi menatap waspada Aksa, takut kalau temannya itu menunjukkan sikap sinis dan menyinggung Oji yang mudah terpancing emosi. Tidak mau terjadi pertengkaran tidak berdasar di koridor sekolah yang sedang ramai oleh murid-murid lain.
“Nggak dulu,”balas Aksa pendek, meletakkan buku-buku tebalnya ke dalam loker yang memang disediakan tepat di luar kelas mereka. Oji mengernyit tumben sekali Aksa menolak ajakannya, walau tidak sedekat dengan teman-temannya yang lain. Hubungan Oji dan Aksa masih tergolong akrab mengingat mereka berasal dari SMP yang sama dulu. “Ayolah nggak bosen apa lo ngadepin buku mulu. Hafi sama Adit udah duluan ke kantin kan? Ganti suasana dong, bro.”
Aksa meraih beberapa buku latihannya sembari tersenyum miring. “Sori, gue sibuk belajar buat menata masa depan.” Nada suara pemuda tersebut jelas sekali begitu sinis sebelum dirinya bergegas kembali masuk ke dalam kelas.
Meninggalkan Oji yang sedikit terperangah mendengar kalimat Aksa yang seakan menyindirnya. Seolah-olah ia mengganggu jalan pemuda itu menuju masa depannya. Memangnya mengajak ke kantin, bisa menghalangi masa depan seseorang? Tidak kan?
“Sori ya Ji, lagi marah-marah mulu dia belakangan ini.” Radi berbohong sembari memasang ekspresi tidak enak, berusaha agar Oji tidak merasa tersinggung dan membuat masalah makin panjang. ”Terlalu stress buat masuk PTN jadi begitu tuh. Lo pahamlah Ji, tekanan yang Aksa punya,” tambahnya terkekeh sebentar.
“Oh, oke. Mau ke kantin juga Rad?” ajak Oji yang kembali bersemangat, melupakan sikap sinis Aksa tadi.
“Ayo Di, ada Bila juga loh.” Kini giliran Rasha yang ikut mengajak Radi masih dengan senyum ramahnya. Seolah tidak tau bahwa dirinyalah alasan dari perubahan sikap Aksa beberapa hari ini. Radi menghela napas lantas mengangguk, “Oke ayo.”
Radi menutup pintu kelasnya yang benar-benar sepi. Hanya ada Aksa yang duduk ditempatnya dengan ekspresi datar. Dan untuk kali ini Radi bersyukur, karena kelasnya selalu sepi saat jam istirahat. Sehingga tidak ada seorang pun yang akan menyadari tatapan penuh amarah di mata murid teladan itu.
***
Aksa tidak bisa konsentrasi.
Amarahnya yang masih menggelegak, membuatnya tidak bisa mengerjakan satu soal pun dari buku latihannya. Padahal ia terbiasa mengerjakan satu halaman hanya dalam waktu 10 menit, tapi konsentrasinya seolah terengut begitu saja. Dan itu karena seorang Rasha.
Seorang gadis yang berhasil masuk kedalam hatinya, membuatnya mengejarnya selama 3 tahun, dan dicampakkan hanya karena ‘ada yang lebih asyik’ ketimbang dirinya. Ia akui ia memang cowok membosankan yang selalu terpaku pada buku latihannya. Bahkan di kelas 10 ia sudah mulai membedah buku persiapan masuk perguruan tinggi negeri. Lebih memilih mempersiapkan masa depannya, dibanding membuang waktunya dengan nongkrong di cafe atau mall. Kegiatan yang bagus, tapi dianggap membosankan bagi para remaja. Namun, Aksa bisa apa? Dengan segala tekanan untuk selalu menjadi yang terbaik, membuat Aksa mau tak mau mengurangi waktunya melakukan hal yang dirasa tak perlu.
Aksa berdecak kesal, melepas kacamatanya dan mengurut pangkal hidungnya. Mencoba mengumpulkan konsentrasinya kembali. Hingga sebungkus permen karet berbentuk stik dilemparkan ke atas bukunya secara sengaja.
“Kalau mau konsentrasi, coba makan permen karet.” Fiona mendudukkan dirinya ke atas meja Adin yang bersebelahan dengan meja Aksa. Di tangannya yang lain ada sebotol minuman isotonik dingin. Sadar bahwa Aksa melempar tatapan bingung ke arahnya, ia menunjuk permen karet tersebut dengan dagunya seraya berujar,“Tenang gratis kok.”
Aksa memasukkan permen itu ke dalam sakunya dengan ekspresi enggan yang begitu ketara, tangannya yang lain menutup bukunya. “Makasih,”gumamnya terlalu malas untuk berinteraksi dengan siapapun, walau itu adalah Fiona sekalipun.
“Dimakan. Bukan disimpan, doang” ujar Fiona memberi tatapan sedikit kesal. Tidak ingin mendengar banyak protes, Aksa merobek bungkus permen itu. Mengeluarkan satu buah permen dan melahapnya dengan cepat. Malas untuk berdebat.
“Mau cerita?” tawar Fiona setelah fokus Aksa tertuju padanya sepenuhnya. Seolah memberi tau bahwa dia menyadari ada yang salah dari sikap Aksa beberapa hari ini.“Kalau dipendam terus jadi penyakit jantung loh ntar. Mau masih muda udah jantungan?”
Tak ada jawaban, tapi Fiona tahu jelas amarah itu masih tersisa jelas dimatanya. Fiona menjentikkan jarinya ke depan mata Aksa. “Ayolah cerita. Sa, jangan bengong aja.” Fiona semakin gencar memaksa Aksa menceritakan keresahannya, bukan dia bermaksud kepo. Tapi ini demi pemuda itu sendiri. Amarah yang terpendam itu bisa menjadi bom yang meledak kapan saja. Bukan tak mungkin kalau emosi itu mendadak meledak di depan umum, dan citra Aksa sebagai murid teladan jelas akan sedikit tercoreng.
“Fi.”
Fiona berhenti, kala Aksa memanggilnya dengan nada memperingatkan. Pemuda itu melepas pelan tangan Fiona yang tadi mengguncang bahunya. “Lo baru deket sama gue beberapa hari ini kan? Dan lo nggak berhak buat tau masalah gue, karena kita cuman teman sekelas. Jadi jangan melangkahi batas dari seorang teman sekelas bisa lakukan. Paham?”
Tajam. Menusuk. Dingin. 3 hal yang Fiona rasakan secara bersamaan saat Aksa mengucapkan kata-kata itu. Tanpa sadar, tangannya jatuh ke samping badannya masih tak percaya akan apa yang baru saja dirinya dengar. Melihat hal tersebut, Aksa segera beranjak dari suasana kelas yang mendadak terasa dingin dan mencekam.
“Hei.”
Tangan Aksa yang sudah meraih gagang pintu terhenti, dan ia menoleh pada Fiona yang sudah bisa mengontrol ekspresinya. Seolah-olah tidak terjadi apa pun beberapa detik yang lalu. Gadis itu turun dari meja yang ia duduki dan menatap Aksa serius.
“Gue sudah melangkahkan kaki gue melewati batas itu dan masuk ke wilayah ‘Teman’, jadi kapan pun lo mau cerita sama gue lo bisa cerita.” Fiona terdiam sesaat.
“Tapi, kalau lo nggak mau melewati batas itu. Maka tetap disana, karena gue yang akan menarik lo melewati batas itu sendiri.”