Lima: Seorang Teman

1718 Words
Satu tahun lalu Berbeda dari Aksa, sesungguhnya Fiona adalah seseorang yang mudah sekali diajak sebagai seorang teman Entah bagaimana perempuan satu itu, selalu bisa menyesuaikan dirinya akan segala macam topik pembicaraan. Wawasannya yang luas, membuatnya cocok berbincang dengan Hafi yang gemar berdebat dengan orang-orang untuk bertukar pola pikir yang ia miliki. Kesukaannya mendengarkan musik, membuatnya kerap dimintai rekomendasi lagu oleh Raka dan kawan-kawan ketika mereka sedang memainkan gitar di ujung kelas. Fiona banyak menonton film, itulah kenapa pilihannya kerap dipilih ketika satu kelas hendak menonton film bersama melalui proyektor saat jam kosong atau bahkan berdiskusi asyik ketika ada sebuah serial televisi yang sedang terkenal di kalangan remaja seperti mereka. Berbeda dengannya, Fiona selalu bisa menyesuaikan diri dengan siapapun. Kepribadian Aksa yang serius, membuat orang-orang sudah enggan duluan mendekatinya. Apalagi ketika mereka menyadari bahwa Aksa berbeda dari remaja kebanyakan. Ia lebih sering menghabiskan waktu berkutat dengan soal, atau bahkan menonton film bertema sains ilmiah. Kasarnya, Aksa adalah orang yang membosankan. Fakta bahwa Hafi dan Radi bisa menjadi sahabat dekatnya, tak lebih karena mereka berbagi ambisi yang sama perihal pendidikan. Tapi kedua sahabatnya itu masih bisa menikmati hal-hal yang umum dilakukan anak remaja seperti pergi menonton festival musik atau bahkan berkencan dengan seseorang. Aksa dituntut untuk selalu menjadi yang terbaik, sehingga meskipun nilainya selama ini mengesankan. Ia tetap tidak diperkenankan menghabiskan waktu pada kegiatan-kegiatan tidak berguna bagi kedua orang tuanya. "52." Ucapan itu jelas membuat Aksa mengalihkan fokus dari soal yang sedang ia kerjakan, menoleh ke asal suara. Mendapati Fiona sudah berdiri di dekat kursi, dengan mata tertuju pada buku tulisnya. Tangannya memegang satu cone es krim paduan coklat dan vanilla. Sadar bahwa Aksa kini menatapnya tak mengerti, Fiona memberanikan diri menunjuk salah satu soal yang baru saja dikerjakan teman sekelasnya itu. "Lo ada salah hitung itu, coba cek lagi." Aksa mengernyitkan dahi sesaat, sebelum menurut. Menghitung ulang hasil perhitungannya untuk soal yang ditunjuk oleh Fiona. Walau dalam hati heran juga, mengingat Fiona adalah satu dari sekian banyak teman sekelas yang belum pernah ia ajak bicara hingga mereka duduk di bangku kelas dua seperti saat ini. Perkataan Fiona benar, ada satu titik di mana Aksa justru menjumlahkan angka yang padahal seharusnya ia melakukan perkalian. Bergegas Aksa menulis ulang jawabannya. "Makasih loh." Tak ada jawaban, Fiona mengerjapkan matanya sesaat lantas beralih ke mejanya yang ada tepat di sebelah bangku Aksa. Mengeluarkan sebuah buku besar dari dalam laci meja, lalu meletakkannya ke atas meja Aksa. Ia tersenyum lebar, "Gue juga punya buku persiapan ini soalnya." Tanpa diminta, Fiona langsung memutar kursi milik Hafi yang berada di depan meja Aksa. Kemudian membuka-buka beberapa lembar. "Lo halaman 14 nomor 18 udah ngerjain belum? Gue bingung deh." Dan itulah bagaimana, untuk pertama kalinya Fiona dan Aksa berinteraksi. Sejak saat itu, keduanya kerap bertanya satu sama lain perihal tugas ataupun hasil ujian. Fiona yang unggul di bidang biologi serta kimia kerap ditanyai oleh Aksa yang tidak begitu menguasai kedua mata pelajaran tersebut. Begitu pun Fiona yang tak unggul di bidang matematika dan fisika, kerap bertanya pada Aksa. Itulah kenapa urutan peringkat mereka yang sejak awal sudah saling balap-membalap satu sama lain semakin intens. "Fiona, pacaran sama Oji." Jangan salah paham, Aksa tidak cemburu sama sekali mendengar kabar itu. Dia memang sadar Fiona memang terlihat begitu dekat dengan salah satu teman sekelas mereka belakangan ini. Lagipula dia juga sedang dekat dengan seseorang, meski tak banyak orang tau mengenai kedekatan mereka saat ini. Hanya saja Aksa mengira dia dan Fiona memiliki kesamaan di satu titik. Ambisi dalam mempertahankan prestasi mereka. Fakta bahwa Fiona tetap bisa menjadi orang yang menyenangkan dan menikmati kehidupan selayaknya remaja normal membuat Aksa iri. Ia harus mengorbankan begitu banyak keseruan di masa remaja akibat tuntutan untuk menjadi yang terbaik. Fakta bahwa Fiona kini berkencan dengan seseorang dan masih bisa fokus pada pendidikannya membuat Aksa tersadar. Bahwa sejak awal mereka memang tidak cocok satu sama lain. Ia dan Fiona selalu berlawanan dalam banyak hal. Itulah kenapa hubungannya dengan Fiona sedikit meregang hingga mereka masuk ke kelas 3. Saat itu juga dia mendapat kabar bahwa Fiona putus dengan Oji, dan langsung menjalani hubungan dengan Keysha. Perempuan yang ia dekati diam-diam. Aksa kecewa, tapi dia tidak bisa membiarkan perasaan kecewa itu membuatnya hilang fokus terlebih saat dirinya berada di bangku akhir SMA. Melihat bagaimana Fiona patah hati sedemikian hebat, Aksa tak bisa menahan diri untuk tidak mengirim pesan. Memberi semangat pada Fiona yang terlihat lesu belakangan ini. Sebab kali ini, mereka memiliki nasib yang sama. *** Fiona sedang berjalan menyusuri koridor sembari mengetikkan sesuatu di ponsel. Mengirimkan pesan pada sang kakak, bahwa dia sudah pulang dan siap menunggu Nuga menjemput. Namun, belum sempat ia menekan tombol kirim, secara tiba-tiba ponselnya direbut begitu saja. Sang puan sempat tersentak, sebelum akhirnya menoleh. Mendapati Aksa lah pelaku dari ponselnya yang mendadak dirampas. "Pulang sama gue." Itu bukan kalimat tawaran, melainkan sebuah perintah. Tanpa sadar sudut bibir Fiona terangkat ke atas, tidak bisa menahan diri untuk tidak tersenyum. Sejak awal sudah yakin bahwa pada akhirnya Aksa akan mengalah. Melangkah lebih dulu melewati garis batas sebagai seorang teman yang membatasi mereka selama ini. "Lo nggak lagi nyari teman pulang baru, karena Tari punya pacar sekarang kan?" ledek Fiona mengambil kembali ponselnya. Teringat bahwa adik dari Aksa sudah beberapa hari ini berangkat dan pulang bersama murid lain. Tidak lagi bersama sang kakak. "Dan seinget gue kita nggak sedekat itu untuk bisa pulang bareng?" Aksa tersenyum tipis, tau betul bahwa Fiona sedang membalas ucapannya tempo hari. "Lo masih marah sama gue?" "Siapa yang duluan coba?!" "Jadi nggak mau nih dengerin cerita gue?" ledek Aksa sembari menaik turunkan alisnya. "Padahal gue udah mau melewati 'garis' loh." "Ternyata luluhnya cepat juga ya." Untuk beberapa saat Fiona menyalakan layar ponselnya, melihat tanggal berapa hari ini. "Padahal baru beberapa hari lewat loh." "Nggak mungkin juga kan gue nolak, kalau ada orang yang mau mengenal gue lebih jauh sebagai seorang teman?" *** Tempat yang Aksa pilih adalah sebuah book cafe yang terletak sedikit jauh dari sekolah mereka berada. Para pengunjung kafe lebih didominasi oleh murid dari sekolah lain, yang sempat menatap mereka. Mungkin bingung kenapa murid dari SMA Bhakti Negara rela jauh-jauh ke tempat ini. Padahal kafe-kafe viral dan unik begitu menjamur di area mereka. Jelas tidak sebanding dengan book cafe yang mereka datangi ini. Aksa mengajaknya untuk mengobrol di lantai 2 saja, area yang tidak begitu ramai. "Kita di dalam aja, bagian balkon khusus buat area merokok. Lo nggak begitu suka asap rokok kan?" ujarnya seraya meletakkan baki berisi pesanan mereka ke atas salah satu meja. "Nggak ada yang suka asap rokok, Sa," sahut Fiona lantas mendudukkan diri tepat di hadapan Aksa. "Cuman, kalau gue pulang bau rokok udah pasti Bang Nuga ngomel." Sebagai seorang kakak, Aksa paham. Tidak ada seorang kakak yang senang adiknya pulang dengan bau rokok tercium. Walau mereka yakin adik-adiknya tak mungkin menyentuh barang nikotin tersebut. Itulah kenapa Aksa maklum akan fakta Nuga bisa saja mengomel panjang kalau adiknya pulang dalam keadaan bau rokok. Apalagi setelah bepergian dengannya. Satu hal yang Fiona tangkap saat cowok itu bercerita adalah rasa kecewa yang begitu besar. Jatuh cinta pada Keysha karena teman sebangku saat MOS, bersahabat, dekat, dan akhirnya Oji yang merebut hati Keysha. Awalnya dia mengira Aksa tidak pernah mengajak Keysha untuk berpacaran dan hanya mengatakan suka padanya, tapi nampaknya dia salah besar. Cowok itu mengajaknya, berpuluh-puluh kali malah tapi Keysha selalu menolak. “Gue masih belum kenal lo sedekat itu”, alasan yang selalu diulang Rasha berkali-kali. Memberi harapan-harapan kosong bahwa suatu hari nanti hubungannya dengan Aksa akan menjadi lebih dari seorang teman. Sayangnya hanya dengan satu ajakan dari Oji, membuat posisi Aksa tersingkir. Dari yang paling dekat menjadi orang yang paling dihindari Keysha saat ini. “Lo gak perlu natap gue kasihan juga kali,” gumam Aksa tanpa sekalipun menatap ke arah Fiona, ia hanya menatap ke arah sepiring mie goreng yang hanya diaduk-aduknya asal sementara es tehnya sudah lama mencair tanpa tersentuh sama sekali. Fiona mengalihkan pandangannya, beralih menatap ke arah jendela kafe. Menunjukkan langit senja yang mulai berubah warna seiring matahari kembali ke peraduannya. “Makan dulu deh, sayang banget dianggurin." Aksa menurut mulai mencecapi rasa pedas dari mie goreng yang ia pesan. “Pengumaman seleksi lo kapan?” Sesaat Fiona menyeka es krim yang mengotori sudut bibirnya. “Habis ulangan akhir semester ini.” “Lama banget.” Aksa mengernyitkan dahi. “Emang banyak banget ya yang ikut?” tanyanya polos. “Ya iyalah. Seleksi kelas Internasional, gimana nggak banyak coba? Kan bukan cuman dari Indonesia aja, seluruh dunia.” Fiona menatap Aksa serius. “Lo pasti ngincer UI ya. Jurusan apa?” "Orang tua gue nyuruh masuk kedokteran. Ngikutin langkah mereka." Benar juga, Fiona jadi teringat kalau Aksa ini berasal dari keluarga yang berkarir di bidang kesehatan. Ayah dan ibunya adalah dokter subspesialis di sebuah rumah sakit besar. Bahkan kalau tak salah dengar, orang-orang selalu berebut untuk bisa mendapat jadwal temu dengan mereka. Wajar saja, jika Aksa akan menempuh jalur yang sama. "Kalau pilihan lo?" Untuk kesekian kali Aksa dibuat terdiam. Tak menyangka bahwa akan ada orang yang bertanya apa pilihannya. Selama ini, mereka yang tau bahwa dia berasal dari keluarga dokter sudah menyimpulkan sendiri bahwa ia akan menempuh jalur yang sama. Aksa mengalihkan pandang, lantas menatap Fiona tenang. "Maksudnya?" "Kedokteran itu pilihan orang tua lo kan?" Fiona kembali menyendokkan satu suap besar es krim ke dalam mulut. "Kalau lo sendiri mau masuk mana?" Cukup lama Aksa terdiam, sebelum ia akhirnya menjawab dengan nada teramat kecil. "...politik" "Hah? Apa? Kencengan dong, gue nggak denger Sa." Keluhan Fiona tidak sepenuhnya salah. Kalimat Aksa terlalu kecil untuk bisa ia dengar, apalagi ditengah kondisi kafe yang semakin ramai. "Lo ngomong apa?" "Gue mau masuk politik sebenarnya." Kini kalimat Aksa disuarakan dengan nada lebih jelas. Sudah berekspektasi bahwa Fiona akan menatapnya sembari menahan senyum. Namun, ia justru mendapati Fiona melayankan tatapan penuh keseriusan. "Orang tua gue nggak akan ngizinin." "Udah ditanya?" tanya Fiona balik, masih mempertahankan nada tenangnya. "Atau itu cuman perkiraan lo aja?" "Kalau gue mau masuk politik, itu berarti gue harus masuk lewat jalur ujian. Nggak bisa pakai jalur undangan." Aksa mengigit bibir entah kenapa terlihat tidak nyaman. "Ortu gue nggak-" Seolah sadar bahwa ia akan kehilangan kendali atas emosinya jika topik pembicaraan tak kunjung berubah. Aksa menghela napas, lantas mengalihkan pandang. Tidak lagi mau melanjutkan pembicaraan mereka. Membiarkan Fiona diliputi rasa penasaran. Perihal apa yang sebenarnya Aksa sembunyikan selama ini.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD