Enam: Keanehan

1805 Words
“Thanks buat traktirannya ya.” Fiona meraih tasnya di kursi belakang, saat mobil Aksa sudah berhenti sempurna di depan rumahnya. Bersamaan dengan Nuga yang keluar dari rumah sembari menenteng kantong sampah, yang tak terlihat khawatir sama sekali walaupun sang adik pulang saat langit sudah menggelap. Ia justru langsung urung keluar dari dalam rumah, kembali masuk ke dalam. “Lain kali giliran lo ya.”Tahan Aksa membuat Fiona mengurungkan niatnya untuk membuka pintu. Ia menatap Aksa tak mengerti. “Ceritain kenapa lo nangis ketika Oji suka sama orang lain, padahal lo yang minta putus duluan,” lanjutnya seolah bisa membaca pikiran Fiona. “Ya, dan nggak mau.” Fiona membuka pintu mobil Aksa lalu menutupnya. “Enggak untuk sekarang.” “Thanks ya Sa,” ucap Fiona sekali lagi sebelum berlari masuk ke dalam rumahnya. Sementara itu Aksa meraih ponselnya di atas dashboard dan melihat satu pesan masuk ke dalam ponselnya yang hanya dalam mode getar. Ia menghembuskan nafas kasar saat melihat sederet pesan yang diterimanya. Entah kenapa merasa kesal membaca informasi baru yang dibawakan oleh sahabatnya itu. Radi Panduaji: Oji tadi kerumah gue, dia minta tolong buat bagiin undangan pesta ulang tahun Rasha. Semua teman sekelas kita diundang, kecuali Fiona. Di sisi lain, Fiona memasuki rumahnya dengan perasaan riang. Langkahnya ringan, sampai ia dibuat terkejut kala menyadari sang kakak bersembunyi di balik pintu. Masih dengan kantong sampah yang ia letakkan asal di lantai. Sesuatu yang jelas akan memancing ibu mereka marah besar. "Bang, lo ngagetin gue aja deh!" "Menurut gue aura si Aksa lebih baik daripada mantan lo waktu itu." Tanpa aba-aba Nuga mengeluarkan keluh kesahnya. Masih mengintip mobil Aksa yang hendak beranjak pergi dari area depan rumahnya. "Lo kenapa nggak sama dia aja sih dari awal?" "Bang apa sih? Nggak jelas banget deh tiba-tiba ngomong gitu." Otomatis Fiona mendelik, menunjukkan tatapan kesal yang berbanding terbalik dengan pipinya yang mulai memerah malu. "Jangan salah paham, gue sama dia cuman temen." "Kemarin juga waktu sama si Oji, lo bilangnya cuman temen," sahut Oji tak mau kalah. "Ujungnya lo jadian kan." "Kalau sama Aksa nggak bakal mungkin." Kening Oji kini mengkerut, bingung akan maksud dari ucapan sang adik barusan. "Kenapa emangnya?" "Ya modelan murid teladan kayak dia nggak mungkin pacaran." Fiona menghela napas, lantas menatap kakaknya serius. "Fokus belajar pasti, apalagi udah mau ujian gini." Ucapan Fiona barusan bisa dimengerti. Tanpa banyak protes, Nuga mengangguk-anggukan kepalanya. Paham maksud yang ingin disampaikan sang adik. "Bener juga, lagian kalau lo ke terima di Paris pasti putus juga kan? Lo soalnya nggak mau punya hubungan jarak jauh kan." Nuga lantas meraih kantong sampah yang ia abaikan, kemudian membuka pintu. "Awas baper aja sih." "Nggak akan, Bang." *** Bagaimana rasanya di tengah-tengah euforia kegembiraan semua orang, tapi hanya kita yang tidak merasakan euforia itu? Aneh? Atau justru tak enak? Itulah yang dirasakan Fiona saat ini. Seisi kelasnya sedang menikmati euforia perasaan senang karena diundang ke acara sweet seventeen Keysha, si kapten cheers yang baru melengserkan diri kemarin. Ia tak paham, kenapa hanya dia yang tak menerima undangan tersebut sementara seluruh temannya diundang. Apalagi gadis itu mengundang satu angkatan, yang berarti seharusnya ia juga diundang. Merasakan keanehan itu, Davina langsung berdecak pelan. “Gue nggak datang.” Untuk kesekian kali, sahabat Fiona satu itu berdecak kesal. “Nggak selama Fiona juga nggak ikut. Gila ya tuh cewek, kenapa cuman Fiona yang nggak diundang?!” “Mungkin dia takut,” timpal Zahra yang biasanya semangat saat ada acara apa pun, kini menatap selembar undangan di tangan dengan wajah tak berminat. “Fiona kan mantan Oji. Atau justru Oji yang nyuruh dia buat nggak usah undang Fio?” “Bahkan Cila, cewek aneh dari kelas IPS itu. Diundang juga sama dia. Heran deh, ogah dateng gue!” balas Aurel tak kalah sewot. “Emang lo masih deketin Oji apa Fi? Enggak kan? Suka aneh deh tuh orang, kayaknya emang mau mancing keributan.” “Lo semua harus dateng,”ucap Fiona tak terlihat sedih ataupun kecewa sama sekali. “Apalagi lo Yol, Rizky kan temen baik Keysha ya lo harus dateng buat nemenin dia.” “Temen baik Rizky. Bukan gue.” Sahutan itu disampaikan Yola dengan nada kesal, benar-benar enggan untuk datang. “Lo gak ikut, kita semua gak ikut. Final.” Keenam temannya mengangguk setuju. “Kalau lo mau belain gue, dateng kesana. Jangan jadi anak kecil yang gampang terprovokasi karena hal kecil ini.” Fiona menatap keenam temannya serius. “Dateng kesana, dan sindir dia habis-habisan. Oke?” tambah Fiona tersenyum licik, yang diikuti keenam temannya yang ikut tersenyum licik. Jika Keysha bisa berbuat demikian pada Fiona, maka hal yang wajar membalasnya dengan bersikap sama kan? “Cerdas.” Wilsa mengacungkan kedua jempolnya penuh semangat. “Gak heran, kalau kita bisa jadi temen.” “Hai beb, hari Minggu dateng sama siapa?” Davina melotot kearah Raka yang mendadak menghampiri mereka sembari diikuti Alex dari belakang. Setelah mereka dihukum karena tidak mengumpulkan tugas tepat waktu, Raka menjadi sering memanggil Davina dengan sebutan Beb, Sayang, hingga Cintaku. Pokoknya tiada hari tanpa teriakan Davina yang jijik mendengar hal itu, dan jangan harap Davina akan baper karena dia masih terpaku pada adik kelas yang disukainya dan merupakan deretan cogan di sekolah mereka. Lagipula buaya seperti Raka memang tidak seharusnya ditanggapi serius. Interaksi Raka dan Davina jelas menjadi hiburan tersendiri. “Pergi jauh-jauh lo, setan!” Usir Davina galak, berpindah tempat ke sisi dinding. Menatap jijik Raka seolah-olah ia adalah makhluk aneh yang mendadak muncul di depannya. “Gua bacain do’a nih biar lo enyah!” Reaksi Davina hanya dibalas Raka dengan tersenyum jahil, kemudian menyadari bahwa hanya Fiona yang tidak memegang sama sekali undangan berwarna pink itu. “Loh Fi, undangan lo mana?” “Gue bakar.” Pertanyaan itu dibalas Fiona dengan nada bercanda. “Enggak, gue nggak diundang.” “Gile, serius lo gak diundang Fi?” respon Alex tak percaya, sedikit mengalihkan pandang dari layar ponselnya “Anjir, parah amat. Tapi lo nggak papa kan? Masa karena lo mantan Oji sih? Mantan Oji pas kelas satu, diundang kok sama Keysha.” “Biasa aja sih, bodo amat lah gue.” Fiona merespons semua itu dengan tenang. “Mungkin dia ngira gue bakal ngerusak pesta ultahnya. Taulah, seorang mantan selalu dicap buruk bukan?” “Tapi ini nggak adil, Fi. Biarin gue protes sama Oji ya, kekanak-kanakan tuh orang.” Raka yang walaupun jahil tapi memang loyal ke siapapun, sedikit tidak terima melihat Fiona diperlakukan demikian. “Gak usah, biar-“ “Lo pergi sama gue.” Entah dari mana datangnya, Aksa sudah berdiri di dekat Fiona. Cowok bertubuh tinggi itu menatap lurus Fiona yang terkejut di tempatnya. “Gue gak diundang-“ “Sebagai pasangan gue.” Dan yang berikutnya Fiona dengar hanyalah seruan dari seisi teman sekelasnya. Baru menyadari bahwa pria itu mengungkapkannya lantang-lantang. Dari sudut matanya ia bisa melihat Oji yang mengernyitkan dahi tak mengerti. *** “Kebanyakan ngerjain soal bikin lo jadi gila ya?” Fiona menatap Aksa heran. Sementara pemuda itu hanya bersandar pada tembok koridor dekat ruang Komdis yang jarang dilewati. Sang puan menepuk pipinya yang memerah malu karena seruan menggoda seisi kelasnya tadi, sebelum ia menarik Aksa keluar dari dalam kelas. “Lo nggak ada niatan buat jadiin gue pacar bohongan kan?”tanya Fiona menatap Aksa horror. Pemuda itu menoyor pelan kepala Fiona. “Kebanyakan nonton sinetron lo.” “Enggak sih, gue lebih suka drama korea.” sanggah Fiona masih sempatnya menyelipkan candaan sebelum kembali menatap Aksa serius. “Terus kenapa lo ngomong itu di depan satu kelas?” “Gue gak ngomong ke satu kelas kok.” Aksa menatapnya aneh. “Gue kan ngomong di depan lo, enggak di depan semua orang.” “Tapi dengan suara lantang. Itu sama aja pinter,” sindir Fiona sarkatis. “Terima kasih atas pujiannya,” balas Aksa enteng, yang justru membuat Fiona kesal. “Itu bukan pujian,Aksa!” geram Fiona. “Gue mau lo dateng kesana,dan buktiin ke mereka kalau lo bukan ‘mantan’ yang akan merusak acara seseorang hanya karena cemburu.”Aksa mencubit pipi Fiona cukup kencang, hingga gadis itu berteriak kesakitan. “Lo temen gue kan? Dan gue gak bakal biarin temen gue dianggap remeh. Oke?” tambahnya sembari tersenyum. Pipi Fiona kembali memerah, bukan karena cubitan Aksa. Melainkan kata-kata Aksa dan senyumnya yang membuatnya jadi salah tingkah. s**l, kenapa cowok ini jadi ganteng banget sih. *** “Seriously? Aksa?” Davina tertawa terbahak-bahak saat Fiona kembali membengkap wajahnya dengan bantal milik Davina. Ia meraih toples kue bawangnya, dan mulai melahap isinya. Fiona, masih dengan balutan seragamnya, mengangkat wajahnya dari bantal sembari menatap Davina bingung. “Gue harus gimana ya Vin? Dia ganteng banget tadi.” Fiona berseru heboh, memegangi dadanya dengan tatapan horror. “Dan jantung gue, degupannya nggak normal.” Terakhir kali Davina melihat Fiona salah tingkah seperti ini, adalah saat Fiona ditembak Oji. Ia masih ingat jelas, bagaimana sahabatnya itu datang ke rumahnya dan langsung menyembunyikan dirinya dalam selimut sembari menendang-nendang. Sekarang Davina melihat kembali sisi itu, setelah sekian lama Fiona sibuk berkutat pada kegemarannya dan menjadi sedikit dingin. Ya kalau soal urusan cinta, mereka berdua bisa dibilang paling klop. “Jatuh cinta itu.” Davina menyahut santai, kembali melahap kue bawangnya. “Apalagi kalau bukan jatuh cinta?” “Gue gak jatuh cinta Vin!” Fiona menolak mentah-mentah tuduhan yang dilayangkan sang sahabat. “Terlalu cepat buat gue jatuh cinta, padahal gue juga nggak yakin udah lupain Oji.” Davina memutar bola matanya malas. “Gak usah bawa Oji deh, eneg gue denger namanya.” Perempuan itu mendorong kursinya mendekat ke tempat tidur. “Dan seinget gue, lo hanya akan se-salting ini saat lo suka sama seseorang. Dan sejauh ini hanya ‘si ogeb’ dan Aksa yang buat lo kayak gini.” Pipi Fiona kembali memerah, membuat Fiona kembali menenggelamkan wajahnya ke bantal. Tak memperdulikan sesak yang ia rasakan, karena panas di pipinya lebih terasa. Ia kemudian mendadak bangkit, dan menggeleng keras-keras. “Enggak, gue cuman kagum sama dia Vin. Bukan suka.” Kalau sudah begi Davina hanya bisa menghela nafas, terlalu malas untuk berdebat. “ Yah, terserah lo mau nganggepnya apa. Tapi yang pasti kalau lo suka beneran sama dia, gua bakal beneran mukul lo. Dasar nggak jelas,” ejek Davina tajam, mendorong kursinya lagi menuju meja belajarnya. “Lo sendiri? Cemburu karena Ray deket sama junior lo kan? Siapa namanya? Sasha? Sesil?” Kini giliran Fiona meledek, yang langsung membuat Davina tersedak saat meminum jus jeruknya. Davina menatap Fiona kesal. “Sialan.” “Your language, Dav.” Fiona memperingatkan seraya tertawa terbahak-bahak melihat wajah sebal Davina. “Wah, junior lo pasti kaget kalau tau Wakil Ketua Komdis mereka suka menyumpah kayak tadi.” “It’s not fair, Fi.” Davina menatap sebal Fiona. “Gue gak bahas Keysha tadi.”gerutunya sementara Fiona tersenyum lebar. “It’s fair, Davina Larasati.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD