Tujuh: Kejutan

1101 Words
Hari Sabtu pun tiba, hari dimana Rasha berulang tahun. Jangan tanya betapa semangatnya Fiona untuk menampakkan diri di depan wajah Rasha dan Oji, dia bahkan menyiapkan hadiah khusus walaupun merupakan hasil patungan antara dia dan Aksa. Tidak, dia tidak sedendam itu karena tidak diundang. Hanya saja ia ingin membuktikan bahwa ia tak serendah yang mereka berdua pikir. Dan menjadi pasangan Aksa untuk pergi, bukan hal yang buruk juga. “Yuk berangkat.” Ajak Fiona menghampiri Aksa yang duduk diteras rumahnya sembari memainkan ponselnya. Aksa melirik sebentar, sebelum kembali fokus pada layar ponselnya. “Bentar.” Fiona menatap pakaian yang dikenakan Aksa hari ini. Sebuah kemeja berwarna biru navy yang dikeluarkan, jeans hitam, dan sneakers hitam. Simple tapi rapi, lagian pesta yang diadakan Rasha bertema garden party jadi memang lebih enak memakai pakaian simple seperti itu. “Lo yakin mau pake baju itu?” Aksa menatap Fiona serius. Fiona menatap penampilannya yang menurutnya baik-baik saja. Sebuah baju berwarna abu-abu, skirt rok selutut berwarna krem, tas sandang coklat, serta flatshoes berwarna coklat muda. Ia balik menatap Aksa bingung, tidak ada yang terlihat berlebihan. “Rok lo.” Aksa menunjuk rok Fiona sebelum menatapnya masam. “Gak kependekan?” “Enggak lah, emang segini. Udah deh, telat nanti kita.”Ujar Fiona menyerahkan kotak kado kepada Aksa yang menerimanya. “Tunggu, gimana penampilan gue? Cakep gak?” Aksa mengamati Fiona dari atas sampai bawah, yang sudah memutar badannya penuh percaya diri. “Jelek.” Fiona menghentikan gerakannya dan merengut. “Tapi gak malu-maluin dibawain ke pesta.” “Sopan sekali Aksa.” Sarkas Fiona tersenyum lebar, tapi terlihat jelas niat-niatnya untuk membunuh pria di depannya. Aksa hanya tersenyum lebar, menunjuk mobilnya di depan pagar. “Jadi, siap memberi kejutan?” ****** Puas. Satu kata yang mewakili semua perasaan Fiona saat ini. Ia tersenyum ramah, diam-diam menikmati wajah terkejut Rasha dan Oji saat ia dan Aksa muncul di hadapan keduanya. Walaupun terlihat jelas keterkejutan mereka lebih terarah pada dirinya yang seharusnya tidak datang ke pesta. “Selamat ulang tahun Rasha.” Fiona menyerahkan kotak kado yang ia bawa. “Ini kado dari gue sama Aksa.” Rasha menerima kado itu dengan kaku. “Thanks..”Ucapnya melirik Aksa yang tersenyum seolah tak terjadi apa-apa.“Gue Fiona.” Fiona menjabat tangan Rasha penuh keramahan, siapapun yang melihatnya pasti akan mengira bahwa ia benar-benar orang yang ramah. “Tapi, kayaknya lo udah tau nama gue ya. Walaupun ini kali pertama kita bertemu seperti ini.” Fiona merendahkan suaranya. “Karena lo sampai inget, untuk mengecualikan gue dalam daftar orang yang lo undang.” “Kalau lo udah tau gak diundang...” Oji kini angkat bicara, menatap dingin Fiona yang justru membuat gadis itu ikut membalasnya tak kalah dingin. “Kenapa lo masih dateng kesini? Gak malu-“ “Dia pasangan gue. Kan diundangannya juga ngizinin kalau mau ajak pasangan kan?”Potong Aksa meraih tangan Fiona dan mengamitnya di lengannya. “Jadi dia masih punya malu.” “Pasangan?” Oji menatap Aksa tak percaya. Berharap tadi ia salah dengar. “Lo berdua?” “Iya, apa perlu gue jelasin secara detail arti “Pasangan” itu?” Balas Aksa dengan nada menantang. Oji menggertakkan giginya, hendak maju menghajar Aksa. Tapi langsung ditahan Rasha cepat-cepat. “Makasih udah dateng ya Sa, gue harap lo suka sama pestanya.” Rasha melirik Fiona enggan. “Lo juga Fi...” “Walaupun gue gak pernah berharap lo dateng.” ****** “Ngapain sih lo?” Davina menatap jengah Raka yang sedari tadi membuntutinya. Raka mencomot satu potong apple pie dari piring Davina, yang langsung dibalasa pelototan tajam gadis itu. “Lo liat Kira gak?” Tanya Raka meraih sebuah gelas berisi soda. “Rokok gue sama dia.” “Kalau pacar lo udah nyita rokok lo, ya berarti lo gak boleh ngerokok lah.” Davina mengambil sepotong brownies coklat keatas piringnya dengan penjepit makanan. “Eh kalau orang kayak lo mah gakpapa kali ya. Biar cepet mati sekalian.” “Kejamnya.” Raka geleng-geleng kepala. “Sekalian ambilin burgernya, gue mau.” Gumam Raka merebut penjepit ditangan Davina dan mengambil burger disana. “Ish, ganggu nafsu makan aja lo!”Kesal Davina segera berjalan pergi sebelum piringnya terkontaminasi makanan yang diambil Raka. “Belum ngambil minum lagi...” “Nih Kak...” Davina terkesiap saat Ray mendadak sudah berada di dekatnya sembari menyodorkan segelas jus kearahnya. Tanpa bisa dicegah, pipi Davina memerah. Duh, kenapa Ray ganteng banget malam ini. Batin Davina kegirangan. “Makasih ya..”Gumam Davina meraih gelas tersebut. “Gue kira, lo gak diundang...” “Ya kali cowok ganteng kayak saya gak diundang” Ray menyugar rambutnya sembari tersenyum lebar. Tak menyadari Davina menahan nafas melihatnya. “Dateng sama siapa Kak?” “Ah, bareng temen-temen gue.” Davina melirik teman-temannya yang duduk di depan sebuah meja bundar. “Mau ikut gabung? Kalau lo gak ada temen.” Ray mengangguk. “Ayo kak, biar saya yang bawain piringnya.” Setujunya mengambil alih piring Davina dan berjalan terlebih dahulu ke sana. Diam-diam Davina menggigit bibir bawahnya, berusaha agar senyumnya tidak terlalu lebar, menyembunyikan letupan bahagia dalam dirinya. ****** “Gimana puas?” Aksa menoleh kearah Fiona saat dia sudah memarkirkan mobilnya di depan rumah gadis itu. Fiona mengangguk semangat, hingga wangi parfumnya kembali tercium. Ia mengacungkan kedua jempolnya kearah Aksa. “Puas banget, akting lo keren.” “Tapi Sa,” Fiona menatap Aksa heran. “Bukannya lo suka sama Rasha ya? Rasha bisa membenci lo, karena buat orang yang ia paling hindari datang ke pestanya.” Aksa menatap lurus jalanan perumahan yang sedikit lengang, hanya ada beberapa orang yang duduk di rumahnya masing-masing. “Gue rasa lebih baik gue lupain perasaan itu.” Ia menoleh kembali kearah Fiona sembari tersenyum. “Buang-buang waktu juga kalau stuck sama dia, saat dia bahagia sama yang lain kan?” Fiona ikut tersenyum miris. “Sayangnya gue masih ada penyesalan ke Oji, mungkin itu alasan gue masih stuck sama dia.” Aksa menatap Fiona lurus. “You know? Harusnya gue denger penjelasan dia waktu itu. Sebelum dia benci sama gue, dan jadiin gue tokoh jahat diceritanya.” Lanjutnya masih tersenyum miris. “Mau sampai kapan lo gak cerita?” Aksa mengacak pelan rambut Fiona. “Lo yang bilang kalau sesama teman harus saling cerita masalahnya masing-masing. Tapi lo sendiri, gak cerita ke gue.” Fiona memalingkan wajahnya, menyembunyikan fakta bahwa dia tersipu malu. Pemuda itu terlalu membuatnya nyaman, dan itu membuat degup jantungnya menggila. Mau tak malu, suka tidak suka Fiona harus mengakui perkataan Davina. Karena ia sangat mengenali degup jantungnya, dan ini melebihi ketika dia bersama Oji.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD