“Fi, boleh bicara sebentar.”
Fiona yang baru saja keluar dari perpustakaan, mendongak saat mendapati Rasha sudah berdiri di depannya pagi ini. Ia sengaja datang ke perpustakaan pagi-pagi, karena hari Senin adalah jadwal piketnya di kepengurusan perpustakaan. Fiona melirik ke dalam perpustakaan yang hanya terisi beberapa adik kelasnya yang sibuk menyusun buku.
“Bicara disini aja.” Fiona menatap datar Rasha. “Apa yang mau lo omongin?”
“Lo beneran pacaran sama Aksa?” Tanya Rasha menatap Fiona tak kalah datar. “Kalau enggak, bisa gak lo jauhin dia aja.”
Fiona mengangkat sebelah alisnya tinggi-tinggi. “Seinget gue lo udah nolak Aksa. Dan lo udah punya Oji,apa hak lo ngelarang gue deketin dia?” Fiona menatap aneh Rasha. “Setelah mengantungkan Aksa selama 3 tahun, dan kemudian lo campakkin dia. Sekarang lo mau larang semua orang buat ngedeketin dia juga?”
“Lo gak akan bisa, bikin dia membalikkan hatinya ke lo.” Rasha menatap Fiona angkuh. “Gue cuman gak mau, orang yang kecewa karena gue suka sama orang yang bahkan masih ngarepin mantannya.”
“Gue gak ngarepin Oji.” Fiona geleng-geleng kepala tak habis pikir. “Oke, gua akuin ketika gue denger lo sama dia ‘deket’ gue nangis. Tapi sekarang perasaan itu udah hilang.”
“Dan lo mencoba berpindah ke Aksa dengan sandiwara bodoh ini?” Rasha berdecak. “Jangan bercanda.”
“Malam itu, gue emang dateng sebagai pasangan Aksa. Hanya malam itu.” Fiona tersenyum. “Gue gak pacaran sama Aksa. Lebih tepatnya belum.” Tambahnya kini tersenyum penuh percaya diri.
“Oji taunya gue pemeran jahat dikisah ini kan?” Rasha sedikit tersentak. “Kalau dia tau, lo lah pemeran jahat itu. Apa lo pikir dia tetep mempertahankan lo?”
“Dia gak akan percaya.” Rasha tersenyum licik. “Karena dia cuman percaya sama gue.”
“Kak Fi...”
Fiona menoleh ke dalam perpustakaan dan mendapati Kahfi menunjukkan papan data buku ditangannya, seolah bertanya akan data tersebut. Fiona memberi isyarat untuk menunggu sebentar sebelum menatap kearah Rasha lagi.
“Lo boleh merasa diatas angin. Karena saat itu lo berhasil buat Oji lebih percaya lo ketimbang gue.” Fiona menatap balik ketua cheers idola sekolahnya dengan tajam. “Aksa bukan siapa-siapa lo lagi Sha. Jadi biarin dia, jangan jadi cewek serakah yang ingin dicintai 2 cowok.”
“Dan soal Oji, gue gak bakal rebut dia dari lo lagi kok. Karena dia adalah sebuah kesalahan yang pernah gue perbuat. Sebuah kesalahan yang hanya bisa dikenang penuh penyesalan, dan tidak mungkin untuk diulang lagi.”
******
“Aduh ngebul otak gue.”
Wilsa dan Zahra menempelkan pipinya ke gelas es teh manis mereka masing-masing. Hari pertama uts saja, sudah membuat otak mereka panas. Kenapa pelajaran paling susah harus diletakkan di hari pertama dan kedua, yang bukannya bikin murid lega justru kelabakan.
“Matematika sih masih mending.” Yola meletakkan gelas es tehnya dengan sedikit kasar. “Bahasa sunda iniloh, gak ada dibuku paket sama sekali yang keluar. Mana Bu Epin ngasih tau kisi-kisinya cuman PG 30 Uraian 5, itu disebut kisi-kisi?”
“Bodo amatlah gue sama tuh nenek-nenek.” Zahra tak kalah kesal. “Bisa-bisa kena stroke gue ladenin dia.”
“Lo mah enak ya Fi..” Dena melirik Fiona yang fokus pada ponselnya. “Masuk universitas bener-bener ngandelin bakat sama kemampuan bahasa inggris doang. Gak kayak kita kalau mau ikut SNMPTN mesti bagus nilai raportnya.”
“Apaan!” Sergah Fiona tak terima. “Lo mending tau apa yang mesti dikejar. Lah gue? Mesti nguras ide, kalau lolos tahap desain. Mesti ngerjainnya hingga wujud jadi, dan jarak dari pengumuman tahap desain ke pengumpulannya cuman 2 minggu. Dan itu butuh waktu 3 hari buat barang itu sampai ke panitia. Itu lo sebut enak?”
“Berarti cuman sama lo ya, kita bakal jarang ketemu.” Aurel memangku wajahnya dengan sebelah tangan. “Paris- Indonesia, baru sadar kalau jauh.”
“Melow banget lo!” Sindir Fiona memukul pelan bahu Aurel. “Lagian gue belum tentu lolos kok. Jadi peluang gue kuliah disini, masih cukup besar.”
Teman-temannya hanya tersenyum lebar, dan kembali terdiam. 8 bulan lagi, masih cukup lama tapi begitu mereka khawatirkan. Khawatir kalau setelah 8 bulan itu, mereka tidak bisa lagi berkumpul seperti ini. Berkumpul dan sibuk menggosipkan para murid hitz di sekolah mereka, jalan-jalan, berebutan kuliner. Sebuah kebiasaan yang mereka takutkan akan hilang karena kesibukan. Dan jika Fiona lolos, itu berarti walaupun mereka masih bisa berkumpul tetap saja tidak akan terasa sama.
*****
“Ngapain kesini?”
Fiona menoleh kearah Aksa yang mulai melepas seatbeltnya. Pemuda itu baru saja memarkirkan mobilnya di parkiran SMA Pramudya yang terlihat ramai karena sedang menyelenggarakan bazaar. Tadi saat UTS mereka berakhir, cowok itu langsung menghadangnya dan memaksanya pulang bersama. Tak seperti Aksa yang biasa.
“Gue mau ketemu teman gue disini, ada yang mau gue ambil.” Aksa meraih tas Fiona di kursi belakang dan menyerahkannnya. “Ayo, sekalian refreshing habis UTS. Kan udah 2 minggu kita gak main bareng.”
Fiona hanya mengangguk, mengambil ikat rambut di saku almamaternya dan mengikat rambutnya menjadi satu. “Siap, tapi hari ini traktir gue jajan ya.” Aksa hanya mengangguk sebelum keluar dari mobilnya.
“Tungguin gue di stand itu ya, temen gue ada di ruang kelas.” Aksa menunjuk sebuah stand topi yang tak jauh dari panggung ditengah lapangan. “Itu standnya pacar temen gue, lo bilang aja temen gue. Nanti dia bakal nemenin lo ngobrol kok.
Fiona hanya mengangguk malas. “Jangan lama-lama lo ya.” Aksa mengacak rambut Fiona, hingga beberapa helai keluar dari ikatannya. “Iya bawel.”
“Ish Aksa!”
******
“Lo adalah cewek kedua yang Aksa bawa kesini.”
Fiona menatap tak mengerti Aira yang menyodorkannya sekaleng minuman dari cooler box. Aira menyeret sebuah kursi untuk ia duduki di dekat Fiona. “Gue, Aksa sama Rico udah temenan dari SMP. Dan pas kita di SMA, cowok itu sering ngajakin si Rasha itu.” Aira meneguk sedikit sodanya. “Gue agak seneng sih tau kalau dia bawa lo kesini dan bukan si Rasha.”
“Kenapa emang?” Fiona menangkap nada tak suka di dalam perkataan Aira tadi. “Dulu kan Aksa suka sama dia, ya wajar dia bawa dia mulu kesini.”
Aira berdecak. “Kalau dia suka, gak bakal dia gantung Aksa pas cowok itu udah nembak.”
“Disini ada stand yang jual makanan gak sih?” Tanya Fiona menganti topik, sesekali mengelus perutnya yang mulai keroncongan. “Laper.”
“Ada, anak PKK buka stand makanan. Lo mau apa? Takoyaki? Bakwan? Tteokbokki? Atau justru nasi mie goreng?” Aira langsung berseru semangat.
“Ayo kebetulan gue juga laper.”
******
Sret
“Sa...” Rengek Fiona menatap sebal Aksa yang memakan gulalinya tanpa izin. Dan melahapnya bukan bagian kecil, sangat banyak hingga mulut laki-laki itu sedikit menggembung. “Pelit dasar.” Ejek Aksa kembali mengacak-acak rambut Fiona.
“Sa! Seneng banget sih ngacakkin rambut gue!” Fiona menepis tangan Aksa sebelum rambutnya semakin kusut. “Udah lama nungguinnya, untung aja ditemenin Aira tadi.”
“Seru gak bazaarnya?” Tanya Aksa memindahkan tasnya ke pangkuan. “Maaf, si Rico ngajak ngobrol dulu tadi.”
“Terakhir kali gua ke Bazaar, pas Oji nembak gue.”
Tangan Aksa yang sedang membuka resleting tasnya terhenti, dan mengurungkan niatnya untuk membuka tas. Ia menyandarkan punggungnya pada kursi yang ia duduki. “Oji?”
“Iya, dia nembak gue di bazaar.” Fiona merobek gulalinya dan memasukannya kedalam mulut. “Dan pake gulali ini. Lucu kan?”
“Putus.”
Fiona menoleh dan menatap Aksa bingung. “Kalau lo sama dia bisa mulai hubungan dengan cara manis, kenapa lo berdua putus?” Tanya Aksa serius.
Fiona tak menjawab, ia bangkit dan menunjuk sebuah stand makanan. “Mau Takoyaki...” Pintanya penuh harap. Aksa menghembuskan nafas geli, ia menyandang tasnya kebelakang dan merangkul Fiona .
“Ayo, gue laper...”
Dan semburat merah itu muncul lagi.