Sembilan: Yang Tidak Diketahui

1253 Words
“Oy, Ji tumben baru dateng!” Aksa yang baru saja mengalahkan Alex dalam pertandingan PES ikut menoleh. Oji meletakkan beberapa kotak donat yang Aksa yakini merupakan pesanan Rizky, si tuan rumah. Alih-alih menjawab pertanyaan Dino yang menyambutnya tadi, Oji justru menghempaskan badannya ke sofa. “Berantem sama Rasha lagi gue.” Gumamnya singkat. Teman-teman sekelasnya hanya tertawa mengejek melihat mood Oji yang benar-benar buruk saat ini. “Perasaan gue, lo baru pacaran sama dia berapa minggu deh. Tapi kayaknya berantem mulu.” Alex mengunyah donatnya sesaat. “Masalah apa sih?” Oji bangkit dari posisi tidurnya dan duduk tegak. Teman-temannya memang hanya tau Rasha dan dirinya berpacaran sejak pesta ulang tahun Rasha, tapi faktanya mereka sudah berpacaran jauh sebelum itu. “Gara-gara Fio.”Oji menatap tajam Aksa yang tak peduli dan justru asyik memakan kacangnya. Menyimak seolah-olah masalah Oji bukanlah hasil perbuatannya. “Harusnya lo gak ngajak Fiona ke pesta Rasha, Sa. Lo kan temen deket Rasha, sebelum gue deket sama dia masa lo gak tau alasan kenapa Fiona cuman gak ngundang dia saat satu angkatan diundang.” “Come on, Ji. Emang sejahat apasih Fiona, sampai lo sama Rasha anti banget. Lagian lo lihat kan kemarin dia gak ngacau pesta Rasha, walaupun lo berdua baru ngasih tau ke satu angkatan kalau kalian pacaran.” Aksa menatap teman-temannya serius. “Dan selama kita kenal dia 3 tahun ini, Fiona gak pernah bersikap ‘barbar’ yang kayak lo bayangin.” “Aksa bener Ji.” Kali ini Rizky yang angkat bicara. “Karena kalian udah jadi mantan, bukan berarti lo jadi anti sama dia. Bukannya belain karena dia temen pacar gue ya. Tapi menurut gue, lo yang kelewatan sekarang.” “Lo gak tau dia yang sebenernya Ky.” Oji berdecak pelan. “Lo semua tau kan, alasan gue pura-pura selingkuh biar diputusin Fiona?! Dan sekarang, lo semua belain dia?” “Gue emang gak tau kenapa lo berdua putus. Karena waktu itu gue gak ikut ngumpul kayak gini.” Aksa menatap Oji sembari tersenyum miring. “Tapi yang pasti, ada kesalah pahaman disini.” “Udahlah, kenapa jadi pada bahas cewek sih.” Lerai Juan sebelum perdebatan ini semakin runyam dan menimbulkan adu jotos. “Ayo lah, tanding lagi kita.” ******* “Suami gue ngelive!!” “Apaan lo, suami gue itu!!” Dena tak memperdulikan keributan yang disebabkan oleh Wilsa dan Zahra dan sibuk mengunyah keripik singkongnya. Begini nih, kalau cewek jomblo ngumpul disaat malam minggu. Berisiknya bisa ngalahin arisan ibu-ibu, belum lagi tingkat halusinasi yang meningkat tajam seiring makin larut. Cowok sekelas Manurios, Greyson Chance, sampai bapak ganteng Francisco Lachowski pun bisa mereka khayal sebagai suami mereka. Maklum hanya 2 makhluk itu yang dalam posisi tidak punya gebetan ataupun pacar saat ini. Ckck. Drt Drt Drt Fiona meraih ponsel disebelahnya, dengan mata masih fokus kearah TV yang menayangkan film yang dicopy dari laptop Yola. Tanpa melihat Id caller tersebut, ia langsung menerima telpon tersebut. “Halo...” “Loh ini bukannya nomor Davina? Kok lo yang ngangkat Fi?” Fiona mengernyit dan melihat nama ‘Setan’ di layar ponsel yang dipegangnya. Baru menyadari kalau ponsel yang ia ambil milik Davina yang juga berada disebelahnya. “Emang kenapa? Lo mau ngapelin dia? Dikutuk tujuh turunan, kalau lo ganggu dia sekarang. Lagi sensi.” “Dih ogah banget gue ngapelin nenek lampir. Lagian gue juga mau ngomong soal lo, kebetulan lo yang ngangkat.” “Tau darimana lo gue bareng Davina?” Fiona mencium bau-bau kejahilan sekarang. “Lo gak ada niatan ngisengin gue kan?” “Yaallah, senista itukah image gue dimata kalian? Heran deh gue, saat anak kelas lain pada memuja ketampanan gue cuman temen sekelas gue yang menatap gue nista.” “Gue tutup ya Ka. Jijik tau gak.” Fiona berdecak sebal. “Buruan apaan?” “Lo sama Aksa ada hubungan apa? Kok lo bisa bikin dia belain lo mulu sih?” Fiona mengerutkan dahinya tak mengerti. “Hubungan apaan sih, temen doang. Lagian kenapa sih lo kepo banget,emang dia belain apa?” “Oji tadi ngeluh gara-gara berantem sama Rasha mulu belakangan ini. Katanya sih gara-gara lo dateng ke pesta kemarin pas lo gak diundang. Lebay juga si Rasha, kalau cuman soal lo dateng.” “Takut kebongkar rahasianya kali.” Ucap Fiona tanpa sadar mengucapkan apa yang ada di benaknya. “Rahasia?” “Enggak. Gue ngomong sama Davina tadi.” Davina yang mendengar namanya disebut, menoleh kearah Fiona dengan pandangan aneh. Davina menatapnya dengan pandangan bertanya kenapa ponselnya dipakai untuk menelpon. “Lanjut Ka.” “Ya gitu deh, Si Aksa belain lo di depan anak-anak. Tau sendiri, cowok kan agak ogah kalau bahas soal cewek dan sifat anehnya. Apalagi Aksa yang biasanya ogah ikut campur urusan orang.” “Cowok dan egonya.” Ucap Fiona malas. “ Udah itu doang? Gak tonjok-tonjokkan?” “Lo berharap mereka tonjok-tonjokkan? Emang lo siapa mereka bodoh.” “Lah lo sendiri? Sejak kapan kepo sama hubungan orang?” Balas Fiona mengejek. “Udah ah, gue cuman temen sama Aksa. Gak lebih.” “Gak lebih atau bel-“ PIP ***** Raka sekuat tenaga menahan tawanya saat mendengar suara sambungan telpon yang terputus sebelum dia menyelesaikan perkataannya. Entah kenapa melihat ataupun mendengar orang yang kesal karena tingkahnya, menjadi hiburan tersendiri. Dia memasukkan ponselnya ke dalam saku celananya, dan melirik kearah teras dimana Aksa dan Radi sedang saling berbicara. Perlahan sebuah senyum jahil muncul diwajahnya. “Temen? Gue yakin cuman bertahan beberapa bulan lagi.” Gumamnya penuh senyum mengejek. “Karena disini sedang ada yang jatuh cinta Fi...” “Ngapain lo Ka, nguping Aksa sama Radi.” Baik Raka, Aksa maupun Radi tersentak saat Alex mendadak memanggil mereka dengan suara cukup nyaring. Raka menatap sebal Alex yang membongkar persembunyiannya. “Gak nguping kok gue. Serius gak denger apa-apa.” “Mau lo denger atau gak.” Radi melirik Aksa yang hanya memasang wajah biasa saja. “Jangan bilang ke siapapun, sampai cowok bodoh ini ngaku sendiri.” ******* “Si Raka ngapain nelpon Fi?” Fiona melemparkan sembarang ponsel Davina yang menatapnya melotot karena tingkahnya. Ia hanya nyengir tanpa rasa bersalah dan melahap kembali browniesnya yang belum habis. “Nanya gue ada hubungan apa sama Aksa...” “Lah emang lo ada hubungan apa sama si titisan einstein?”Aurel yang memang tak terlalu peduli akan hal-hal berbau suka,cinta dan semacamnya memang tak tau kalau Fiona sedang dekat dengan Aksa belakangan ini menatap bingung teman-temannya. “Gue kelewatan apa nih?” “Makanya, kalau kita lagi ngegosip di line itu dibaca. Jangan cuman buka terus lo keluarin.” Sindir Yola menatap Aurel tak habis pikir. “Jangan sibuk sama COC lo doang. Berasa temenan sama cowok, kalau bareng lo.” “Tumben Raka kepo. Biasanya kan ogah dia nanya hal begituan.” Zahra ikut berkomentar. “Kecuali buat bahan ejekan, tentunya.” “Oji ngeluh gitu, gara-gara berantem sama Rasha mulu. Dia nuduh gue, penyebabnya karena dateng ke pesta waktu itu.” Fiona melahap suapan terakhir browniesnya. “Terus Aksa belain gitu.” “Dan si Raka percaya aja kalau gue sama dia cuman temenan. Padahal kan gue diem-diem suka sama Aksa.” Menyadari bahwa ia sudah keceplosan, Fiona melotot ikut kaget. Dan saat ia mendongak menatap teman-temannya, keenamnya sudah tersenyum devil. Terutama Wilsa yang sedang memegang ponselnya,niat awalnya merekam untuk masuk Insta-storynya justru menjadi bukti pengakuan tiba-tiba Fiona. “Post gak nih?” Wilsa tersenyum jahil, menunjukkan hasil rekamannya. Yang lainnya kecuali Fiona mengangguk setuju. “Post aja.” “JANGAN WOY!!!!”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD