“Loh Ji, tumben dateng pagi-pagi.”
Oji yang sedang menyembunyikan wajahnya di lipatan tangannya mau tak mau mendongak. Ia bisa melihat Yola yang baru masuk kelas, sembari menenteng goodie bag kecil yang Oji yakini berisi laptop yang akan dipakai untuk presentasi nanti.
“Ngehindarin Rasha ya..”Terka Yola, meletakkan goodie bagnya ke kolong meja. Cowok itu hanya tersenyum masam. “Males, berantem pagi-pagi.” Kemudian hening sesaat.
“Percaya gak kalau gue bilang, Rasha tokoh jahat di kisah lo dan bukan Fiona?”
Yola menatap serius Oji yang sesaat terpaku di tempatnya. Oji kemudian mendengus kasar. “Lo tau sendiri Fiona yang selingkuh duluan kan? Gue cuman membalasnya dengan selingkuh biar dia mutusin gue dan gue yang terlihat jahat di mata-“
“Yang gue bicarakan adalah Fiona di mata lo.” Potong Yola tegas. “Sebagian besar orang emang taunya lo yang jahat, tapi di mata lo dia yang jahat kan?”
“Pembicaraan ini mengarah kemana sih?” Oji menatap risih Yola yang mengangkat topik yang tak ingin ia bahas. “Apa pentingnya dia jahat atau gak di mata gue Yol.”
“Biar lo tau siapa yang seharusnya lo percaya. Lo sama sekali gak nanya ke Fiona siapa cowok di video itu kan?” Melihat Oji yang terdiam, Yola kembali melanjutkan. “Lo yang menyimpulkan, dan mengambil tindakan sendiri.”
“Kenapa gak sekalian aja lo kasih tau gue apa yang gue salah liat. Apa gue salah marah, liat pacar gue bilang ‘cinta’ sama cowok lain. Apa itu salah?” Gumam Oji dingin. “Kalau lo merasa bener karena bela Fiona. Kenapa gak lo kasih tau gue, apa yang gue salah simpulkan.”
Yola menggeleng. “Enggak. Lo harus cari tau sendiri.”
“Karena percuma apapun yang gue katakan, lo pasti akan tetap percaya Rasha.”
********
Aksa diam-diam melirik Fiona yang berbaris disebelahnya. Cewek itu beberapa kali memiringkan badannya agar bisa melihat proses upacara bendera yang merupakan rutinitas setiap hari senin ini. Pikiran Aksa melayang, mengingat perkataan Radi malam itu. Ketika Raka, yang tak tau mendengar atau tidak pembicaraannya.
Flashback On
“Gue rasa lo suka sama Fiona deh...”
Aksa yang sedang meneguk air putihnya langsung tersedak mendengar perkataan tiba-tiba Radi.Sahabatnya sejak kelas 2 SMP itu sedikit terkekeh melihat reaksinya yang sedikit berlebihan. Radi mendudukkan dirinya di kursi kayu yang ada di teras rumah Rizky, dan menatap Aksa penuh ejekan.
“Gue gak suka sama dia lah.” Aksa menggeleng pelan, mencoba menormalkan degup jantungnya yang masih terkejut akan pernyataan tadi. “Gue sama dia cuman temen, kayak lo sama gue.”
“Seinget gue,lo gak pernah tuh ngajak jalan gue apalagi ditraktir. Dan seinget gue lo juga gak bersikap kayak gitu ke Aira.” Radi menyugar rambutnya sesaat. “Berarti Fiona temen ‘spesial’ kan? Mau sampai kapan sih lo ngelak, kita kenal udah 4 tahun loh.”
“Gue serius.”Aksa meneguk kembali air putihnya, meredakan tenggorokannya yang gatal karena tersedak tadi. “Gue belain dia karena gue yakin dia gak salah.”
“Dan lo bisa mutusin itu darimana?”Balas Radi tak mau kalah. “Lo bahkan gak tau alasan awal mereka putus apa, kenapa Oji pura-pura selingkuh biar di putusin. Kenapa lo segitu yakin dia gak salah?”
“Karena...” Aksa memutar bola matanya berusaha mencari alasan. “Karena dia terlalu gampang ditebak.” Ia membuat gerakan seperti membuka buku. “Seperti buku yang terbuka, lo bisa tau dia sedang berbohong atau tidak.Bahkan ketika dia mencoba menyembunyika kesedihannya melewati senyuman, itu bisa terlihat jelas. Dan orang seperti itu gak mungkin ngecewain seseorang.”
“Dengerin gue ya Sa.” Radi bangkit, dan menepuk pelan pundak Aksa.
“Coba lakuin hal ini. Lo boleh terus mengelak perasaan lo, tapi coba lo tatap Fiona selama 3 detik. Kalau lo sampai senyum dan deg-deg an lo harus mengakui kalau lo ada perasaan lebih ke dia.” Tantang Radi serius.
“Ngapain lo Ka, nguping Aksa sama Radi.”
Dan Aksa langsung mengurungkan niatnya untuk membalas saat suara Alex terdengar.
Back to Reality
“Aduh hari ini kok panas banget sih.”
Fiona berusaha mengipasi wajahnya yang mulai kepanasan dengan tangannya. Ia berdecak kesal, karena Kepala sekolah mereka masih belum selesai menyampaikan pidatonya. Rasanya ia ingin cepat-cepat ke kelasnya, yang ber-AC dan tak pernah beranjak dari sana. Merasa diperhatikan Fiona menoleh dan sedikit mendongak, menatap balik Aksa.
1 detik
2 detik
“Lo ngapain ngeliatin gue?”Bisik Aksa mengalihkan pandangannya kearah lain, menyembunyikan wajahnya yang akan berubah merah. “Nyeremin tau gak.”
“Lo sendiri? Ngapain ngeliatin gue?!” Balas Fiona tak kalah salting, dan memandang lurus ke depan. “Awas lo ngeliatin gue lagi.”
“Ogah juga gue ngeliatin lo.”
********
“Hafi, bisa ajarin gue yang ini gak?”
Hafi yang sedang seru mengobrol tentang game dengan Adit langsung menoleh kala Fiona menyodorkan buku latihannya kearahnya. Ia menoleh kearah meja Aksa yang sudah dikerubungi oleh anak perempuan sekelasnya yang juga menanyakan hal sama seperti Fiona. Soal Matematika. Padahal Hafi adalah orang kedua yang jago matematika sesudah Aksa. Perlu digaris bawahi, Hafi hanya pandai Matematika bukan pelajaran lain jadi jangan heran kalau ia hanya berada di urutan 15 besar.
“Kenapa gak minta tolong Aksa?” Heran Hafi meraih pensil dan buku yang diacungkan Fiona. “Temen-temen lo juga nanya sama dia kan.”
Fiona menarik sebuah bangku di dekatnya dan mendudukinya. “Enggak ah, udah banyak yang nanya sama dia. Kasihan kalau gue ikutan nanya.”
“Kasihan, atau malu?” Ledek Radi yang entah darimana sudah menimbrung. Seolah tersadar sesuatu, Hafi meletakkan kembali pensil Fiona di bukunya dan menatap jahil Fiona. “Tanya dia aja lah, biar gue yang ngajarin yang lain.”
“Udah Haf, lo aja ih..”Rengek Fiona menahan Hafi yang sudah akan beranjak menghampiri Aksa yang duduk di deretan belakang. “Si Radi gak usah lo dengerin deh.” Tambahnya menatap sebal Radi yang tak peduli.
“Aksa!!” Panggil Hafi cukup kencang, hingga Aksa mendongak dari buku dihadapannya. Yang sialnya, juga mengakibatkan beberapa temannya yang mengerumuni Aksa ikut menoleh. Termasuk Wilsa dan Davina yang ikut mengerumuni untuk bertanya pada Aksa.
“Mau tukeran gak?” Tawar Hafi, melirik Fiona yang sudah menyumpah serapahi Hafi dengan suara pelan ditempatnya. “Gue ngajarin mereka, lo ngajarin Fiona.”
“Apaan sih lo.” Decak Aksa pura-pura tak mengerti akan seringai bodoh Hafi yang terlihat jelas. “Bisa-bisa diamuk massa gue, kalau tukeran sama lo.”
“Gak papa, gue hampir lupa harusnya ada yang lebih dulu diajarin dibanding kita.” Ledek Davina yang justru membuat pipi Fiona semakin memerah.
“Emang Aksa sama Hafi ada hubungan apa?” Tanya Okta mewakili anak perempuan lainnya yang tak paham apa yang terjadi.
“Loh kalian gak tau? Aksa sama-“
“Yaudah ayo tukeran.”Sahut Aksa langsung memotong perkataan Wilsa sebelum kupingnya panas oleh seruan ledekan teman-temannya. “Jangan nyebarin gosip apa lo!” Wilsa hanya nyengir, sedikit minggir agar Aksa bisa lewat dan berganti tempat.
Hafi melirik tangan Fiona yang masih memegangi pergelangan tangannya. “Elah, gak usah malu-malu kucing deh lo. Lepasin.” Fiona melepas cengkramannya dan menatap sebal Hafi. “Bodo. Kesel gue.” Hafi tak menjawab hanya terkekeh sembari bergegas ke belakang.
Tak butuh waktu lama hingga Aksa duduk di tempat Hafi, dan mengambil alih pensil Fiona. “Mana yang gak ngerti?”
“Aku gak ngerti kenapa aku selalu deg-deg an deket kamu Sa...”Ledek Radi yang langsung dibalas pelototan mematikan dari Fiona. Hanya Adit yang tak ikut campur dan hanya tertawa melihat tingkah laku malu-malu Fiona.
“Pergi gak lo Di. Tampol nih tampol.”Ancam Fiona sudah mengacungkan tempat pensil milik Hafi seolah-olah mengacungkan katana. Radi hanya tertawa keras melihatnya. “Ayo Dit, tinggalin aja mereka.” Ajaknya segera beranjak menuju Hafi.
“Ish, mereka itu malu-maluin aja sih.” Gerutu Fiona meletakkan kembali tempat pensil Hafi, dan mengipasi wajahnya yang sudah bersemu merah. “Padahal kita cuman temen juga.”
Aksa tak menjawab, dan hanya mengacak pelan rambut Fiona. “Udah gak usah dihirauin, yang mana mau ditanya?”
“CIEEEEEEE”
Aksa tak tau saja, kalau tindakan kecilnya tadi menimbulkan sorakan riuh oleh teman sekelasnya. Rasanya Fiona benar-benar berharap Bu Susi akan muncul dan menenggelamkannya seperti jargonnya yang terkenal itu. Bahkan Juan yang baru kembali dari Koperasi, ikut bersorak walaupun tak tau apa yang disoraki.
Hanya satu orang yang tak bereaksi sama sekali. Justru terlihat tidak suka melihatnya. Siapa lagi kalau bukan Oji yang matanya sudah menatap dingin kearah Aksa dan Fiona.