Van Putih

1250 Words

Dominic memasuki kamarnya dengan raut lelah, langkahnya berat tapi penuh keteguhan. Malam ini terlalu banyak kejutan, terlalu banyak kenyataan yang akhirnya terkuak—dan juga terlalu banyak pertanyaan baru yang muncul. Jas hitam yang tadi membalut tubuh tegapnya telah dia lepas sejak di ruang tamu, kini tergantung rapi di sandaran kursi. Tapi kemeja putih itu masih menempel di tubuhnya, dengan dua kancing teratas terbuka, memperlihatkan leher yang basah oleh sisa keringat. Rambutnya sedikit berantakan, mencerminkan betapa pikirannya tak pernah berhenti bekerja. Dengan satu gerakan pelan, Dominic duduk di tepi ranjang, tangan kanannya langsung meraih ponsel dari saku celana. Jemarinya gesit, seolah tahu pasti ke mana harus menuju. Nama itu sudah begitu familiar baginya—Leon. Orang kepercay

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD