Panggilan Telepon

1122 Words

Kini suasana kafe terasa lebih lengang. Musik instrumental yang lembut mengalun dari speaker di sudut ruangan, menyatu dengan aroma kopi dan kayu manis yang menguar samar di udara. Rachel—dengan antusias khasnya—baru saja menyeret Sani keluar menuju supermarket di seberang jalan. Katanya, hanya sebentar. Tapi baik Dominic, Robby, maupun Luke tahu, jika Rachel yang bicara “sebentar”, artinya bisa lebih dari satu jam. Dominic duduk bersandar di sofa, jari-jarinya mengetuk pelan sisi cangkir kopi yang sudah tinggal setengah. Tatapannya santai, seolah tak menyadari dua pasang mata sedang mengamati dirinya dengan intens. Robby akhirnya tak bisa menahan diri. Ia bersandar ke depan, kedua siku bertumpu di atas meja. “Jelaskan padaku dan Luke,” katanya dengan nada tak main-main. “Kenapa kau tib

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD