Di sebuah kafe bernuansa hijau dengan interior estetika yang hangat, dua pria duduk berhadapan di dekat jendela besar yang menghadap ke jalanan kota. Aroma kopi dan kayu manis samar tercium di antara percakapan mereka. Suasana santai dan cahaya yang temaram menambah kehangatan sore itu, namun raut wajah keduanya tampak serius. Robby menyesap cappuccino-nya pelan, membiarkan rasa pahit-manis itu mengendap di lidahnya. Di seberangnya, Luke memainkan sendok kecil dalam cangkirnya, menciptakan bunyi berdenting yang berulang, seolah jadi pelampiasan dari pikiran yang tak kunjung selesai. “Sampai sekarang aku masih tidak percaya kalau Dominic akan menikah,” gumam Luke, akhirnya membuka suara. Tatapannya kosong ke arah jalanan yang ramai, dahi mengernyit. “Rasanya seperti mimpi.” Robby mendeng

