Sani menatap pantulan dirinya di cermin kecil yang tergantung di sudut kamar kosnya. Gaun sederhana berwarna krem pucat membalut tubuhnya dengan anggun, walaupun bukan gaun mahal atau hasil rancangan desainer ternama, namun tetap mampu memancarkan pesona alami dari dirinya. Rambut hitam Sani diikat rapi ke belakang, dihiasi dengan jepit tipis berwarna emas kusam—hadiah lama dari ibunya yang masih disimpan olehnya dan dirawat dengan hati-hati. Ia memoles wajahnya sekadarnya, hanya untuk menghapus sisa-sisa kelelahan dan sembab yang masih samar tersisa. Keputusan Sani untuk datang ke acara pernikahan Reno dan Putri adalah keputusan yang paling impulsif sekaligus paling menyakitkan yang pernah ia ambil. Ia tidak memberitahu siapa pun, terutama Lita. Bukan karena ia tidak percaya pada sahab

