Sani menghembuskan napas kasar untuk kesekian kalinya. Matanya menatap langit-langit kamar dengan frustasi. Jam di dinding sudah menunjukkan pukul 23.55, tapi rasa kantuk seolah enggan datang. Yang ada justru dorongan aneh di dalam dirinya—keras dan semakin mendesak. Martabak keju. Sani memejamkan mata, mencoba mengabaikan keinginan akan martabak keju, berharap ia bisa tertidur dan melupakannya. Tapi semakin ia menolak, semakin kuat keinginan itu mencengkeram pikirannya. Sani bisa membayangkan jelas—lapisan adonan renyah, lelehan keju yang melimpah, s**u kental manis yang mengkilap, dan aroma hangat yang menyeruak dari wajan panas. Sani mengelus perutnya pelan seraya menghela napas panjang. “Ini pasti maunya anak mama ya.” Sani sempat mempertimbangkan untuk memesan lewat aplikasi, tapi

