Sani menghembuskan napas dalam-dalam, berkali-kali. Ia mencoba menahan tangis yang masih mengganjal di dadanya, berusaha agar air mata itu tak lagi jatuh. Matanya sudah cukup bengkak—ia tak ingin membuatnya semakin parah.
Hatinya memang hancur, tapi hidup harus terus berjalan. Seberapapun sakitnya, Sani tahu bahwa ia tetap harus bekerja. Ia tidak punya pilihan lain. Jika sampai absen tanpa alasan, bukan tak mungkin pekerjaannya akan dipertaruhkan.
“Kamu minta libur dulu aja, San,” saran Lita lembut, masih memegang tangan sahabatnya. “Kamu lagi nggak baik-baik aja, dan itu wajar.”
Sani menggeleng pelan, matanya menatap kosong ke lantai. “Waktu liburku udah habis, Lit,” ucapnya lirih. “Kamu tahu sendiri, kan... beberapa bulan lalu aku pulang ke desa. Kalau sekarang aku minta libur lagi, aku bisa dipecat.”
Sani menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan suaranya yang mulai bergetar. “Aku nggak mau dipecat... Kamu tahu sendiri, kan, zaman sekarang cari kerja itu susahnya minta ampun.”
Lita terdiam. Ia tahu Sani sedang berada di titik terendah dalam hidupnya, dan tetap memilih berdiri meskipun rapuh. Dalam hatinya, ia merasa bangga sekaligus sedih pada sahabatnya itu.
“Terus kalau aku diam di kos terus, yang ada nanti aku malah kepikiran Reno terus dan nangis terus,” ujar Sani pelan, suaranya nyaris pecah. “Lebih baik aku kerja... menyibukkan diri. Biar pelan-pelan aku bisa lupa sama dia.”
Sani tahu, melupakan Reno tidak akan semudah membalikkan telapak tangan. Sepuluh tahun bukan waktu yang singkat, dan kenangan tentang Reno terlalu melekat dalam hidupnya. Tapi ia juga sadar, mau tidak mau, ia harus bisa. Karena sekuat apa pun ia bertahan, Reno akan menjadi milik orang lain—akan menjadi suami dari perempuan yang bukan dirinya. Dan kenyataan itu, sesakit apa pun, harus ia terima.
Sani menghapus sisa air mata di pipinya, lalu menarik napas panjang untuk menenangkan diri.
Ia berdiri perlahan dari tempat duduknya, lalu berjalan menuju lemari kecil di pojok kamar.
“Aku mau siap-siap dulu, Lit,” ucapnya sambil membuka pintu lemari. “Jam masukku sore ini, tapi aku mau berangkat lebih awal. Biar bisa jalan pelan-pelan.”
Lita mengangguk, menatap sahabatnya dengan iba dan kagum sekaligus. “Ya udah, aku tungguin kamu sampai siap. Aku temenin sampai kamu berangkat, ya?”
Sani tersenyum kecil—tipis, namun tulus. “Terima kasih, Lit. Aku nggak bisa bayangin gimana jadinya aku kalau nggak ada kamu.”
“Sebagai sahabat, aku bakal selalu ada buat kamu, San,” ucap Lita lembut.
Setelah bersiap-siap selama kurang lebih dua puluh menit, akhirnya Sani siap untuk berangkat ke restoran tempatnya bekerja. Ia memilih berjalan kaki seperti biasa. Jarak antara kos dan restoran memang tidak terlalu jauh, jadi Sani lebih senang berjalan sambil menikmati udara luar meski hatinya masih terasa sesak.
Langkah demi langkah ia tapaki dengan tenang, meski pikirannya masih dipenuhi bayang-bayang Reno. Tapi setidaknya, berjalan membuatnya sedikit lebih kuat—mengingat bahwa hidupnya tidak berhenti hanya karena seseorang memutuskan pergi.
“Mata kamu kenapa, San?” tanya Ratih, rekan kerja Sani, begitu melihat mata Sani yang tampak bengkak.
Kini mereka sedang berada di ruang khusus karyawan, tempat biasa para pegawai bersiap sebelum mulai bekerja. Ratih menghampiri Sani dengan wajah cemas, suaranya penuh kekhawatiran.
Sani terdiam sejenak, lalu mencoba tersenyum tipis. “Nggak apa-apa. Cuma kurang tidur,” jawabnya pelan, berusaha terdengar tenang.
Tapi Ratih tidak mudah percaya. Ia tahu betul kalau rekan kerjanya itu sedang menyimpan sesuatu. “Kamu yakin? Soalnya matamu kelihatan bengkak banget, kayak habis nangis semalaman.”
Sani menunduk, tak sanggup rasanya menjawab langsung. Ia hanya menarik napas panjang. “Aku benar-benar nggak apa-apa, Ratih,” ucap Sani sambil tersenyum tipis, meski sorot matanya belum sepenuhnya bisa menyembunyikan luka.
Tanpa menunggu respons, Sani segera merapikan seragamnya dan mengambil catatan pesanan di meja. “Aku ke depan dulu, mau langsung antar pesanan,” lanjutnya cepat, lalu berjalan keluar dari ruang karyawan.
Ratih hanya bisa memandangi punggung Sani yang perlahan menjauh.
Dengan telaten, Sani mengantar setiap makanan dan minuman ke meja para pengunjung. Seperti biasa, ia menyapa ramah, tersenyum lebar, dan memastikan semuanya merasa nyaman. Senyum itu, meski sedang dipaksakan, tetap ia pertahankan. Ia ingin terlihat profesional, meskipun hatinya belum sepenuhnya pulih.
Namun senyum Sani perlahan memudar saat matanya menangkap sosok yang begitu ia kenal. Reno. Bersama Putri.
Mereka baru saja memasuki restoran, berjalan berdampingan, terlihat begitu akrab dan bahagia. Reno bahkan tertawa kecil saat Putri membisikkan sesuatu di telinganya.
Langkah Sani terhenti sejenak. Napasnya tercekat. Dunia seperti berhenti berputar untuk sesaat.
Dengan langkah cepat, Sani segera berlalu, menundukkan wajahnya seolah tengah sibuk dengan tugas lain. Ia tidak ingin terlihat oleh Reno, atau Putri—atau mungkin sebenarnya ia tidak sanggup melihat mereka bersama.
Hatinya kembali terasa sesak, seperti diremas perlahan dari dalam. Seberapa pun ia mencoba kuat, nyatanya pertemuan yang tak terduga ini tetap mengguncang dirinya.
Sani menyelinap ke balik sekat dapur, berpura-pura mencari nampan atau daftar pesanan, padahal ia hanya butuh waktu sejenak untuk menenangkan diri.
“Tenang, San... kamu bisa,” bisiknya lirih pada diri sendiri, berusaha mengatur napas yang mulai memburu.
Winda, rekan kerja Sani yang biasanya jarang berbicara dengannya, tiba-tiba menghampiri saat Sani berdiri termenung di balik sekat dapur.
“Sani…” panggil Winda pelan, nada suaranya lebih lembut dari biasanya.
Sani menoleh, sedikit terkejut melihat Winda mendekat. Mereka memang tidak terlalu akrab—selama ini hanya sebatas bertukar sapa saat pergantian shift atau berbagi tugas.
Winda ragu sejenak, tapi akhirnya memberanikan diri berkata, “Aku lihat... ada pacarmu di depan. Dia bersama seorang wanita.”
Sani tentu tidak pernah memperkenalkan Reno kepada Winda. Hubungan mereka memang bukan sesuatu yang ia ceritakan secara terbuka di tempat kerja. Tapi Winda tahu siapa Reno, karena pria itu cukup sering datang ke restoran—mengantar atau menjemput Sani sepulang kerja.
Dari sanalah Winda mulai mengenal wajah Reno. Bahkan, beberapa kali ia melihat sendiri bagaimana tatapan Reno pada Sani—hangat dan penuh perhatian. Setidaknya, dulu begitu.
“Aku... tahu dia pacarmu karena sering lihat dia jemput kamu di sini,” ujar Winda pelan, seolah membaca isi hati Sani.
Sani hanya tersenyum kecil, senyum yang penuh kepedihan. “Dulu, iya. Sekarang... bukan siapa-siapa lagi.”
“Ohhh... aku kira kalian berdua masih pacaran. Maaf, aku nggak tahu kalau kalian udah putus,” ucap Winda dengan nada sungguh-sungguh, sedikit kikuk karena merasa bersalah.
Sani hanya tersenyum kecil, kali ini tanpa berkata apa-apa. Ia tahu Winda tak bermaksud menyakitinya—itu hanya ketidaktahuan.
“Kalau begitu…” lanjut Winda pelan, “biar aku saja yang melayani meja mereka. Kamu istirahat dulu ya, San.”
Tanpa menunggu jawaban, Winda segera berlalu, meninggalkan Sani sendirian di balik sekat dapur. Hanya suara denting alat makan dan hiruk-pikuk ringan restoran yang mengisi ruang hening di sekitar Sani.
Sani menarik napas panjang, menatap ke arah pintu dapur yang baru saja dilewati Winda. Dalam hatinya, ia benar-benar bersyukur—bahkan dalam luka, masih ada yang peduli.