Dira menatap kosong ke langit-langit kamar kosnya. Meski dua hari sudah berlalu, rasa takut itu seperti tak mau pergi. Hatinya masih berdegup cepat setiap kali ia teringat kejadian tempo hari. Tangannya kadang gemetar sendiri tanpa alasan, dan matanya terasa panas karena terlalu sering menangis diam-diam. Ia mengambil cuti dari tempat kerja, bukan sekadar untuk memulihkan tubuh yang letih, tetapi juga jiwanya yang masih terguncang hebat. Sunyi membungkus ruangan kecil itu, hanya suara detak jam dinding yang terdengar. Dira memeluk lututnya di tepi ranjang, mencoba meyakinkan diri bahwa ia aman… bahwa semuanya sudah berakhir. Namun setiap kali ia memejamkan mata, bayangan itu kembali datang, membuat dadanya sesak. Tiba-tiba—Tok… tok… tok… Ketukan pelan terdengar dari pintu. Napas Dira te

